Share

Bab 3

Author: KarenW
Sudut Pandang Karina.

“Karina! Mana sarapannya?” Suara Arya melengking seperti lecutan cambuk.

Aku mengerjap bangun. Masih dalam keadaan linglung, aku melihat dia berdiri di ambang pintu dengan rasa jengkel yang sudah terlihat di wajahnya.

“Jadi ini caramu bekerja keras di rumah? Kau bahkan nggak bisa menyiapkan sarapan sekarang?”

Aku begadang semalaman, mengisi formulir untuk misi Dokter Lintas Batas ke Afrika.

“Cepatlah,” gumamnya, dan langsung berbalik.

Aku menghela napas, menyingkirkan selimut, dan bangkit.

Aku sebenarnya sempat ingin memberi tahu Arya tentang program itu. Tetapi, kemudian aku berpikir bahwa dia tidak akan pernah membiarkanku pergi begitu saja, pasti akan ada perlawanan.

Jadi, aku memutuskan lebih baik memainkan peran ini sampai saat aku menyelipkan surat cerai yang sudah ditandatangani itu ke mejanya.

Sampai saat itu, aku akan menjadi istri yang dia inginkan dan mama yang ditoleransi Kiano.

Aku mencuci muka, mengikat rambutku, dan menuju ke dapur.

Aku pun membawakan sarapan ke meja seperti biasanya. Dan hari ini, Vina juga ada di sana. Sekretaris itu duduk di meja makan seolah-olah dia adalah pemilik rumah.

Arya tampaknya tidak keberatan sekretarisnya duduk di kursi utama, begitu juga dengan Kiano. Mereka terlalu sibuk tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan Vina.

“Tante Vina, bagaimana Tante bisa tahu banyak hal?” Kiano tersenyum lebar padanya seolah-olah dia adalah pusat dunia.

Vina mengusap rambutnya dengan gemas. “Belajar yang rajin, Sayang. Kamu pasti juga bisa berhasil nanti.”

“Belajarlah dari Tante Vina,” tambah Arya, sambil meletakkan lengannya dengan santai di belakang kursi Vina. “Dia sangat membantuku.”

Untuk sesaat, aku berdiri di sana seperti orang asing di rumahku sendiri.

Suamiku menganggapku sebagai beban. Dan, anakku malu padaku.

Dan Vina? Dia telah menggantikan posisiku tanpa rasa bersalah.

Jari-jariku mencengkeram erat tepi celemekku. Hanya beberapa hari lagi, Karina, kamu pasti bisa melakukannya.

...

Setelah sarapan, Vina dan Arya tidak langsung meninggalkan rumah. Mereka bersiap-siap untuk pesta pertemuan para bos mafia tahunan malam ini.

Arya sempat mengamuk tadi, kembali frustrasi soal gaun yang rusak itu, dan mengomel tentang bagaimana aku telah suasana hatinya. Dia menyuruhku mencari gaun lain, seolah-olah aku punya seseorang yang siap menjahitkan gaun dalam satu malam. Aku tidak punya, dan dia tahu itu. Dia mengatakannya hanya untuk membuatku merasa kecil dan terhina.

Tok, tok!

Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban.

“Maaf,” kata Vina dengan nada terlalu manis. “Arya bilang aku bisa menggunakan ruang riasmu untuk bersiap-siap.”

Aku menyingkir. “Silakan.”

Dia masuk, diikuti oleh tim kecil penata rias. Mereka langsung menuju ke ruang rias.

Aku masih teringat suara Arya pada hari kami pindah ke sini. “Ini akan menjadi ruang riasmu, Karina. Kau akan menjadi istri bos mafia yang paling menakjubkan di kota ini. Aku akan mengajakmu ke setiap pertemuan agar para bos lainnya merasa iri.”

Aku tidak pernah menggunakannya sama sekali.

Sekarang Vina yang duduk di meja rias itu, tertawa riang saat para penata rias memoles bibirnya dan menata rambutnya, sementara aku hanya berdiri mengamati di lorong.

Mungkin memang masuk akal kalau Arya lebih memilih untuk membawanya. Ataupun, jika orang-orang salah mengira kalau dia adalah istrinya Arya.

Dia tampak seperti itu, bahkan mungkin memang lebih pantas.

Sedangkan aku? Aku menatap tanganku yang tampak keriput karena bertahun-tahun membersihkan rumah. Pakaianku bernoda dan lusuh karena pekerjaan rumah yang membuatku tidak sempat menggantinya. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mengenakan sesuatu yang pas di tubuhku.

Aku tidak bisa bersaing dengan orang seperti dia.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari aku juga tidak menginginkannya lagi.

Pada akhirnya, Vina membawa gaunnya sendiri. Itu langsung membuatnya mendapat pujian dari Arya.

“Dibandingkan dengan seseorang yang bisanya hanya menimbulkan masalah ....” katanya dengan tenang. “Kau sudah menyelamatkan malam ini lagi. Terima kasih, Vina.”

Saat dia berbalik, aku melihat sekilas senyum di bibirnya, lalu hilang sebelum aku yakin apakah senyum itu benar-benar ada.

“Oh, Bos, jangan begitu.” Vina berkata dengan lembut. “Karina sudah banyak membantu di rumah. Aku yakin dia nggak bermaksud jahat karena sudah mencoba gaunku, kan?”

Matanya melirik ke arahku.

Aku tidak menjawab.

Arya menoleh, tatapannya tajam dan penuh peringatan.

“Maaf,” kataku sambil memaksakan senyum. “Soal gaun itu.”

Vina tampak berseri-seri. Dia meraih ke belakangnya dan mengeluarkan sebuah tas pakaian. “Arya bilang kau sangat menyukai gaun itu. Jadi, aku mengirimkannya ke penjahitku dan minta agar ukurannya disesuaikan denganmu.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

Pipiku memerah saat menerimanya. Sikap itu memang tampak murah hati, bahkan perhatian. Namun, aku tahu maksudnya yang sebenarnya.

Caranya yang cermat dengan menekankan pada bagian ukuran. Cara dia menyajikannya seperti sebuah kebaikan. Sebuah kebaikan yang tidak punya pilihan selain kuterima.

Gaun yang tak pernah menjadi milikku … dirusak sendiri olehku. Kini dikembalikan kepadaku setelah dibentuk ulang dan diperbaiki.

Aku tak tahu apakah harus merasa bersyukur … atau malu.

“Gimana kalau kau memakainya dan ikut bersama kami malam ini, Karina?” tanya Vina dengan ringan.

“Nggak!”

“Nggak ....”

Suara kami saling tumpang tindih. Tetapi suara Arya terdengar lebih cepat, bahkan lebih tajam dan hampir panik.

Vina membeku.

“Dia belum pernah ke pesta seperti itu,” kata Arya cepat. “Dia nggak akan tahu bagaimana cara menghadapinya.”

Lalu dia menoleh kepadaku. “Kenapa kau masih berdiri di sana? Pergi dan simpan hadiah dari Vina itu. Baju-bajumu yang jelek itu bisa ditambahkan dengan sesuatu yang cantik.”

Jari-jariku mencengkeram erat tas tersebut.

Aku hampir saja berbicara. Hampir saja. Namun, aku sudah tak punya kekuatan untuk mendengarkan ceramahnya lagi.

Jadi pada akhirnya, aku hanya mengangguk dan berjalan kembali ke kamarku.

Pintu tertutup di belakangku.

Aku menjatuhkan tas itu ke lantai. Gaun itu tumpah keluar, sutra lembutnya terhampar di lantai.

Aku membiarkannya di sana untuk beberapa saat. Lalu, berlutut dan mengambilnya.

Gaun itu sangat indah, bahkan gaun terindah yang pernah kulihat dalam beberapa tahun terakhir.

Aku berdiri di depan cermin dan memegang gaun itu di depanku.

Bahkan setelah diubah ukurannya pun, gaun itu masih terasa bukan milikku.

Bayanganku di cermin menatap balik, terlihat sebuah wajah polos, rambut tak tertata, seorang wanita yang tampak lusuh karena bertahun-tahun diabaikan. Dan tiba-tiba, pikiranku kembali melayang ke kejadian semalam.

Betapa bodoh dan sombongnya aku karena sempat percaya, walaupun untuk sesaat, bahwa gaun itu mungkin memang dimaksudkan untukku.

Gaun itu tidak pernah menjadi milikku. Bahkan ... juga kehidupan yang selama ini aku coba pertahankan dengan susah payah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 11

    Sudut Pandang Karina.Setengah tahun telah berlalu seperti hembusan lembut angin.Lidia dan aku menjadi pemimpin senior. Aura dan Andri berhasil menyelesaikan program mereka dan kembali ke negara asal mereka. Jonan juga sudah menyelesaikan programnya.Pada hari kepergiannya, dia menemukanku di bawah pohon ara tua di belakang kompleks rumah sakit. Dia tampak gugup untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.“Karina,” katanya lembut. “Aku menyukaimu. Tapi kau nggak perlu memberiku jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku sabar, tapi juga keras kepala. Begitu aku jatuh hati pada seseorang, aku nggak akan mudah menyerah. Jadi, gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan … aku akan tetap menunggumu.”Aku tidak memberinya jawaban. Namun, aku juga tidak menolaknya.Bukan karena aku tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri, tetapi justru karena aku tahu.Jonan tidak seperti pria mana pun yang pernah kukenal. Dia penuh hormat, berkuasa, namun tetap rendah hati. Buatku, dia teguh ibarat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 10

    Sudut Pandang Karina.Aku menegakkan tubuh, nada suaraku tegas. “Ini tempat kerjaku. Aku harap kalian berdua cukup menghormatiku dan pergi dari sini.”“Papa!” Kiano merengek.Arya melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Pergi bermain dulu di luar sebentar. Papa mau bicara dengan Mama dulu, oke? Papa akan membujuk Mamamu untuk pulang bersama kita.”Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, seolah hidupku masih menjadi miliknya sehingga bisa dinegosiasikan.Kiano bergumam dan berlari keluar.Arya berbalik menatapku, keraguan terlintas di wajahnya. “Karina, aku ....”“Arya,” kataku dengan tenang, memotong perkataannya. “Aku sudah sangat jelas waktu itu. Aku tinggal di sini sekarang, aku nggak mau kau tiba-tiba muncul dan mengganggu hidupku.”Dia mendengus, rasa frustrasi terpancar dari sorot matanya. “Kau nggak bisa menyebut ini hidup. Lihat tempat ini, ini lebih mirip seperti tempat sampah. Aku memberimu dua rumah setelah perceraian kita. Kau bisa hidup nyaman di salah satunya. Bukann

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 9

    Sudut Pandang Karina.Jonan melirikku sekali. Aku tidak berbicara.Dia kembali menoleh ke depan tanpa ekspresi. “Aku nggak akan mengulanginya lagi,” katanya. “Pergi sekarang, atau aku akan menyuruh anak buahku mengantarmu keluar secara pribadi.”“Tapi ....”Jonan mendesak lebih lanjut. “Kurasa kau nggak mau ayahku sampai tahu perilaku seperti apa yang kau tunjukkan malam ini. Terutama ketika kau masih harus bernegosiasi dengan dia.”Setelah hening sejenak, Arya akhirnya menarik pergelangan tangan Vina dan menghilang ke dalam kerumunan. Mereka meninggalkan pesta tanpa menoleh lagi.Musik kembali dimainkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Lidia mencondongkan tubuh dan berbisik, “Aku akan menunggumu di sana.” Lalu, menyelinap pergi.Dan, kemudian hanya tinggal aku ... dan Jonan.Aku benci mengungkit-ungkit masa lalu. Terutama di sini, di depan seseorang yang bahkan tidak kukenal.“Maaf soal tadi,” kataku pelan. “Mantan suamiku memang agak ....”Aku tergagap, tidak yakin bagaimana mengga

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 8

    Sudut Pandang Karina.Beberapa hari kemudian, tepat saat aku sedang melihat laporan pasien, Lidia mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia. “Kau sudah dengar? Pria yang kau selamatkan itu? Dia itu putranya Haryo Winata.”Aku berkedip. “Haryo Winata?” Nama itu tidak kukenal.Lidia tersentak. “Haryo Winata yang itu. Kepala faksi tentara bayaran yang ditempatkan di sini.”Tetap saja, aku memberinya tatapan kosong.Dia memutar bola matanya, sorot matanya berbinar-binar penuh gosip. “Dia mendanai rumah sakit tempat kita bekerja dan membangun setengah dari jalan dan sekolah di wilayah ini. Kau tahu kan bagaimana penduduk lokal membenci tentara bayaran? Tapi mereka nggak pernah membenci Haryo Winata. Penduduk lokal bahkan memujinya. Dia itu lebih seperti bangsawan di Doklas. Aku nggak percaya kalau kau belum pernah mendengar namanya!”Aku mengulangi nama itu perlahan, lalu menggeleng. “Nggak, aku benar-benar belum pernah mendengar nama itu.”Lidia menyenggol bahuku, menggoda, “Aku

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 7

    Sudut Pandang Karina.Ketika aku mendarat di Doklas, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat sedikit.Lidia, salah satu koordinator lokal, menjemputku di bandara. Dia bisa berbahasa Andes dengan fasih, senyumnya tampak tulus.“Kau pasti Karina,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Kau datang lebih awal.”Aku menjabat tangannya. “Iya, aku berangkat lebih dulu dari jadwal.”Dia penuh energi, kami mengobrol santai saat berjalan menuju tempat parkir. Dia berbicara tentang program di sana, kompleks tempat tinggal, para dokter, bahkan penampakan satwa liar sesekali. Antusiasmenya membuat segalanya di sana tampak jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan.“Aku sangat menikmati bekerja dengan tim ini,” katanya. “Semuanya orang baik, jadi jangan gugup.”Tetapi, kenyataannya aku memang sedikit gugup.“Aku sudah lama nggak bekerja di lingkungan formal.” Aku mengakui. “Aku hanya berharap semoga nggak menghambat siapa pun.”Lidia memberiku pelukan singkat yang menenangkan. “Jangan

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 6

    Sudut Pandang Karina.Aku bahkan belum membuka pintu ketika mendengar suara tawa yang menggema dari balik pintu.“Apa Tante akan menjadi mama baruku?” Suara Kiano terdengar ceria dan antusias.Tanganku terhenti di gagang pintu.“Kau bisa memanggilku Mama kalau mau,” Vina tertawa. “Meskipun aku ragu teman-temanmu akan memercayainya karena aku terlihat terlalu muda.”“Aku nggak peduli. Aku ingin Tante menjadi Mamaku. Mama, Mama, Mama!”Kiano belum pernah memanggilku seperti itu, dan sekarang dia memanggil orang lain seperti itu.Aku menarik napas perlahan dan mendorong pintu hingga terbuka.Ketiganya sedang duduk di sofa. Vina mendongak sambil tersenyum, rapi dan sopan, tetapi senyum itu tidak sampai terpancar di matanya. Arya nyaris tidak menoleh ke arahku, seolah aku telah mengganggu sesuatu yang lebih penting. Kiano tampak kecewa, seolah aku telah merusak momennya.“Aku langsung pulang seperti yang kau minta,” kataku sambil masuk.Aku pun duduk di seberang mereka.Arya mengulurkan dok

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 5

    Sudut Pandang Karina.Aku sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar mandi, berharap air bisa membersihkan semua perasaan yang tidak ingin kurasakan.Aku baru saja keluar ketika mendengar suara langkah kaki di lorong.“Apa yang kau pikirkan?” Suara Arya menggema di ruangan bahkan sebelum aku sempat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 4

    Sudut Pandang Karina.Aku mulai mengemas pakaian yang rencananya akan kubawa ke Afrika.Tidak banyak, hanya cukup untuk mengisi satu koper kecil.Dan meskipun sudah tertutup rapat di dekat pintu, lemari pakaianku tampak tak tersentuh. Gaun-gaun yang pernah dibelikan Arya untukku masih tergantung di

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 2

    Sudut Pandang Karina.“Iya, aku memang bilang untuk menunda karirmu demi mengurus rumah dan keluarga. Tapi maksudku bukan seperti ini. Apa kau bisa bayangkan apa yang akan dikatakan teman-temanku sesama bos mafia kalau aku membawamu ke pesta sekarang? ‘Di mana kau menemukannya, Arya? Di penampungan

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 1

    Sudut Pandang Karina.Suamiku, Sang Bos Besar Mafia, telah mengabaikanku selama sepuluh tahun. Tanpa kusadari, aku telah menjadi istri tak berharga yang hanya tinggal di rumah dan mengerjakan urusan rumah tangga, sementara suamiku selalu mengajak sekretarisnya ke setiap acara, dan memperkenalkannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status