공유

Bab 4

작가: KarenW
Sudut Pandang Karina.

Aku mulai mengemas pakaian yang rencananya akan kubawa ke Afrika.

Tidak banyak, hanya cukup untuk mengisi satu koper kecil.

Dan meskipun sudah tertutup rapat di dekat pintu, lemari pakaianku tampak tak tersentuh. Gaun-gaun yang pernah dibelikan Arya untukku masih tergantung di tempatnya semula. Perhiasan itu tetap berada di dalam kotak beludru, tak terganggu.

Aku tak akan butuh semua itu.

Sepuluh tahun di rumah ini, dan satu-satunya yang berhak kubawa … hanyalah satu koper.

Ponselku berdering: [Aku meninggalkan amplop penting di ruang kerjaku. Bersiaplah dan bawakan itu ke Hotel Bintang.]

Pesan lain datang setelahnya: [Pastikan kau berpakaian dengan pantas. Aku nggak mau ada yang berpikir istriku hanya ibu rumah tangga yang berpakaian lusuh dan nggak tahu cara bersosialisasi.]

Aku menghela napas.

Mengabaikan pesan Arya hanya akan mengundang rentetan penghinaan lagi ketika dia pulang nanti. Dan amplop itu, apa pun isinya, pasti sangatlah penting karena Arya tidak pernah meminta bantuan. Tapi malam ini, dia melakukannya.

Untuk menghindari masalah lebih lanjut, aku memilih untuk pergi.

Aku mengenakan gaun yang diberikan Vina kepadaku, satu-satunya pakaian indah di lemariku yang masih muat.

Aku pun duduk di meja rias, merasa ragu.

Apa aku perlu memakai riasan? Toh, aku juga tidak akan menjadi tamu. Aku hanya akan masuk, menyerahkan amplop itu kepada Arya, dan langsung pergi.

Namun, aku meraih alas bedak. Hanya lapisan tipis dan sapuan lipstik yang lembut. Aku menyanggul rambutku rendah.

Aku bukan wanita yang berbeda, tapi aku terlihat cantik sekarang.

Aku menemukan amplop itu di ruang kerja Arya, menyelipkannya dengan hati-hati ke dalam tasku, dan menuju ke Hotel Bintang.

…

Hotel itu lebih ramai dari yang kukira.

Aku selalu membayangkan pertemuan para bos mafia itu sebagai acara yang elegan dan eksklusif, mungkin maksimal hanya dihadiri lima puluh orang saja. Namun, begitu aku melangkah masuk, aku menyadari betapa salahnya dugaanku itu.

Ada sekitar lima ratus tamu, bahkan mungkin lebih. Semua mengenakan gaun sutra dan setelan jas, berlian berkilauan seperti bintang di bawah lampu gantung sebesar mobil.

Aku mencoba menelepon Arya berkali-kali, tetapi dia tidak menjawab.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyelinap ke ruang pesta untuk mencarinya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah suara menggema dari pengeras suara. “Mari kita sambut pria termuda dan tersukses malam ini, Arya Sudiro, untuk naik ke panggung!”

Detik berikutnya, seseorang menabrakku dengan keras dari belakang.

Aku tersandung dan jatuh ke lantai dansa dengan keras, lututku tergores marmer yang mengkilap.

Tawa meledak di sekitarku.

“Siapa ini?”

“Ya Tuhan, gaunnya ....”

Aku melihat ke bawah.

Gaunnya robek sepenuhnya. Benang-benangnya terurai seperti dijahit dengan lem murahan. Dalam hitungan detik, gaun itu hancur berkeping-keping di sekitarku. Yang tersisa hanyalah dalaman tipis berwarna krem yang kukenakan di baliknya.

Tawa mereka semakin keras.

“Apa gaunnya baru saja hancur?”

“Astaga, siapa yang memakai barang tiruan ke pesta ini?”

“Panggil petugas keamanan!”

Aku memaksakan diri untuk mengangkat dagu.

Arya berdiri di atas panggung, menatapku.

Dia tampak marah, tetapi tetap tidak bergerak. Dia bertingkah seolah-olah tidak mengenalku sama sekali.

Seseorang di kerumunan bertanya, “Ini tamu siapa?”

Tidak ada yang menjawab. Keheningan yang menyusul bahkan lebih buruk daripada suara tawa.

Seorang wanita mencibir, “Siapa yang akan mengaku membawa barang tiruan ke pesta terpenting tahun ini?”

Lalu, “Karina?”

Itu suara Vina.

Dia bergegas mendekat, kekhawatiran terpancar di wajahnya. Tetapi ketika dia menoleh, aku bisa melihat kilatan senyum yang coba dia sembunyikan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan suara melengking.

Aku berdiri perlahan, lututku terasa sakit, lalu menyerahkan amplop itu padanya.

“Arya mengirim pesan. Katanya amplop penting ini tertinggal di rumah.”

Seseorang berbisik, “Siapa dia?”

Lalu dengan suara lebih keras. “Nyonya Sudiro?”

Dan tawa pun pecah. “Bos Arya yang menawan ternyata punya istri rahasia?”

“Bukan ....” Arya turun dari panggung.

“Bukan,” katanya lagi, kali ini bahkan lebih tegas. “Dia pembantu di rumah. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ....”

“Dia pikir ada sesuatu yang terlupa.” Vina menyela dengan lancar. “Jadi, dia membawakannya ke sini. Itu saja.”

Kata-kata Vina cukup samar untuk memberi penonton cerita yang bisa mereka putarbalikkan.

Seseorang tertawa di balik gelas sampanye. “Kami hampir mengira dia itu istri rahasiamu, Arya. Bayangkan skandalnya nanti.”

Arya melangkah maju, suaranya kuat dan terlatih. “Istri rahasiaku? Dia?”

Dia menatapku, menyeret perlahan dan sengaja. “Mana mungkin istriku seperti … itu?”

“Jadi, siapa orangnya?”

“Vina!”

“Jadi, apakah tahun ini kau akan menjadikan Vina istrimu, Arya?”

“Menjadi Nyonya Sudiro!”

Arya menatapku sekali, sunyi dan sulit ditebak. Lalu, akhirnya kembali menatap lautan wajah di sekitarnya.

“Aku berharap bisa merahasiakan ini,” katanya dengan lancar. “Setidaknya sampai aku menerima jawaban yang pantas dari Vina. Tapi karena kalian semua bersikeras ....”

Dia menoleh pada Vina, dan berlutut. “Apa kau mau menikah denganku dan menjadi istriku?”

Sorak sorai terdengar di sekitar mereka.

Aku membungkuk, mengumpulkan sisa-sisa gaunku yang robek, dan melangkah mundur ke dalam bayangan. Aku tidak yakin mengapa aku menoleh ke belakang, tetapi aku melakukannya.

“Iya,” kata Vina, terengah-engah dan tersenyum. “Iya, aku mau, Arya.”

Dia memeluk Arya erat. Arya pun memeluknya balik dengan erat. Dan untuk sesaat, matanya sempat bertemu dengan mataku.

Tidak ada permintaan maaf, hanya ketidakpedulian. Dan mungkin, terpendam di baliknya, secercah rasa iba.

Kupikir hatiku sudah hangus menjadi abu. Namun ternyata, hatiku masih bisa merasakan sakit.

Bagi Arya, aku hanyalah sehelai benang yang terlepas, sesuatu yang tidak sedap dipandang yang harus disembunyikan dari dunia yang ingin dia buat terkesan.

Dan selama sepuluh tahun, aku cukup bodoh untuk percaya bahwa dia akan membawaku ke dunia itu, memanggilku istrinya dan berdiri di sisiku di hadapan mereka semua.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 11

    Sudut Pandang Karina.Setengah tahun telah berlalu seperti hembusan lembut angin.Lidia dan aku menjadi pemimpin senior. Aura dan Andri berhasil menyelesaikan program mereka dan kembali ke negara asal mereka. Jonan juga sudah menyelesaikan programnya.Pada hari kepergiannya, dia menemukanku di bawah pohon ara tua di belakang kompleks rumah sakit. Dia tampak gugup untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.“Karina,” katanya lembut. “Aku menyukaimu. Tapi kau nggak perlu memberiku jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku sabar, tapi juga keras kepala. Begitu aku jatuh hati pada seseorang, aku nggak akan mudah menyerah. Jadi, gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan … aku akan tetap menunggumu.”Aku tidak memberinya jawaban. Namun, aku juga tidak menolaknya.Bukan karena aku tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri, tetapi justru karena aku tahu.Jonan tidak seperti pria mana pun yang pernah kukenal. Dia penuh hormat, berkuasa, namun tetap rendah hati. Buatku, dia teguh ibarat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 10

    Sudut Pandang Karina.Aku menegakkan tubuh, nada suaraku tegas. “Ini tempat kerjaku. Aku harap kalian berdua cukup menghormatiku dan pergi dari sini.”“Papa!” Kiano merengek.Arya melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Pergi bermain dulu di luar sebentar. Papa mau bicara dengan Mama dulu, oke? Papa akan membujuk Mamamu untuk pulang bersama kita.”Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, seolah hidupku masih menjadi miliknya sehingga bisa dinegosiasikan.Kiano bergumam dan berlari keluar.Arya berbalik menatapku, keraguan terlintas di wajahnya. “Karina, aku ....”“Arya,” kataku dengan tenang, memotong perkataannya. “Aku sudah sangat jelas waktu itu. Aku tinggal di sini sekarang, aku nggak mau kau tiba-tiba muncul dan mengganggu hidupku.”Dia mendengus, rasa frustrasi terpancar dari sorot matanya. “Kau nggak bisa menyebut ini hidup. Lihat tempat ini, ini lebih mirip seperti tempat sampah. Aku memberimu dua rumah setelah perceraian kita. Kau bisa hidup nyaman di salah satunya. Bukann

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 9

    Sudut Pandang Karina.Jonan melirikku sekali. Aku tidak berbicara.Dia kembali menoleh ke depan tanpa ekspresi. “Aku nggak akan mengulanginya lagi,” katanya. “Pergi sekarang, atau aku akan menyuruh anak buahku mengantarmu keluar secara pribadi.”“Tapi ....”Jonan mendesak lebih lanjut. “Kurasa kau nggak mau ayahku sampai tahu perilaku seperti apa yang kau tunjukkan malam ini. Terutama ketika kau masih harus bernegosiasi dengan dia.”Setelah hening sejenak, Arya akhirnya menarik pergelangan tangan Vina dan menghilang ke dalam kerumunan. Mereka meninggalkan pesta tanpa menoleh lagi.Musik kembali dimainkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Lidia mencondongkan tubuh dan berbisik, “Aku akan menunggumu di sana.” Lalu, menyelinap pergi.Dan, kemudian hanya tinggal aku ... dan Jonan.Aku benci mengungkit-ungkit masa lalu. Terutama di sini, di depan seseorang yang bahkan tidak kukenal.“Maaf soal tadi,” kataku pelan. “Mantan suamiku memang agak ....”Aku tergagap, tidak yakin bagaimana mengga

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 8

    Sudut Pandang Karina.Beberapa hari kemudian, tepat saat aku sedang melihat laporan pasien, Lidia mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia. “Kau sudah dengar? Pria yang kau selamatkan itu? Dia itu putranya Haryo Winata.”Aku berkedip. “Haryo Winata?” Nama itu tidak kukenal.Lidia tersentak. “Haryo Winata yang itu. Kepala faksi tentara bayaran yang ditempatkan di sini.”Tetap saja, aku memberinya tatapan kosong.Dia memutar bola matanya, sorot matanya berbinar-binar penuh gosip. “Dia mendanai rumah sakit tempat kita bekerja dan membangun setengah dari jalan dan sekolah di wilayah ini. Kau tahu kan bagaimana penduduk lokal membenci tentara bayaran? Tapi mereka nggak pernah membenci Haryo Winata. Penduduk lokal bahkan memujinya. Dia itu lebih seperti bangsawan di Doklas. Aku nggak percaya kalau kau belum pernah mendengar namanya!”Aku mengulangi nama itu perlahan, lalu menggeleng. “Nggak, aku benar-benar belum pernah mendengar nama itu.”Lidia menyenggol bahuku, menggoda, “Aku

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 7

    Sudut Pandang Karina.Ketika aku mendarat di Doklas, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat sedikit.Lidia, salah satu koordinator lokal, menjemputku di bandara. Dia bisa berbahasa Andes dengan fasih, senyumnya tampak tulus.“Kau pasti Karina,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Kau datang lebih awal.”Aku menjabat tangannya. “Iya, aku berangkat lebih dulu dari jadwal.”Dia penuh energi, kami mengobrol santai saat berjalan menuju tempat parkir. Dia berbicara tentang program di sana, kompleks tempat tinggal, para dokter, bahkan penampakan satwa liar sesekali. Antusiasmenya membuat segalanya di sana tampak jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan.“Aku sangat menikmati bekerja dengan tim ini,” katanya. “Semuanya orang baik, jadi jangan gugup.”Tetapi, kenyataannya aku memang sedikit gugup.“Aku sudah lama nggak bekerja di lingkungan formal.” Aku mengakui. “Aku hanya berharap semoga nggak menghambat siapa pun.”Lidia memberiku pelukan singkat yang menenangkan. “Jangan

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 6

    Sudut Pandang Karina.Aku bahkan belum membuka pintu ketika mendengar suara tawa yang menggema dari balik pintu.“Apa Tante akan menjadi mama baruku?” Suara Kiano terdengar ceria dan antusias.Tanganku terhenti di gagang pintu.“Kau bisa memanggilku Mama kalau mau,” Vina tertawa. “Meskipun aku ragu teman-temanmu akan memercayainya karena aku terlihat terlalu muda.”“Aku nggak peduli. Aku ingin Tante menjadi Mamaku. Mama, Mama, Mama!”Kiano belum pernah memanggilku seperti itu, dan sekarang dia memanggil orang lain seperti itu.Aku menarik napas perlahan dan mendorong pintu hingga terbuka.Ketiganya sedang duduk di sofa. Vina mendongak sambil tersenyum, rapi dan sopan, tetapi senyum itu tidak sampai terpancar di matanya. Arya nyaris tidak menoleh ke arahku, seolah aku telah mengganggu sesuatu yang lebih penting. Kiano tampak kecewa, seolah aku telah merusak momennya.“Aku langsung pulang seperti yang kau minta,” kataku sambil masuk.Aku pun duduk di seberang mereka.Arya mengulurkan dok

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 3

    Sudut Pandang Karina.“Karina! Mana sarapannya?” Suara Arya melengking seperti lecutan cambuk.Aku mengerjap bangun. Masih dalam keadaan linglung, aku melihat dia berdiri di ambang pintu dengan rasa jengkel yang sudah terlihat di wajahnya.“Jadi ini caramu bekerja keras di rumah? Kau bahkan nggak bi

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 2

    Sudut Pandang Karina.“Iya, aku memang bilang untuk menunda karirmu demi mengurus rumah dan keluarga. Tapi maksudku bukan seperti ini. Apa kau bisa bayangkan apa yang akan dikatakan teman-temanku sesama bos mafia kalau aku membawamu ke pesta sekarang? ‘Di mana kau menemukannya, Arya? Di penampungan

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 1

    Sudut Pandang Karina.Suamiku, Sang Bos Besar Mafia, telah mengabaikanku selama sepuluh tahun. Tanpa kusadari, aku telah menjadi istri tak berharga yang hanya tinggal di rumah dan mengerjakan urusan rumah tangga, sementara suamiku selalu mengajak sekretarisnya ke setiap acara, dan memperkenalkannya

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 5

    Sudut Pandang Karina.Aku sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar mandi, berharap air bisa membersihkan semua perasaan yang tidak ingin kurasakan.Aku baru saja keluar ketika mendengar suara langkah kaki di lorong.“Apa yang kau pikirkan?” Suara Arya menggema di ruangan bahkan sebelum aku sempat

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status