Share

Bab 2

Author: KarenW
Sudut Pandang Karina.

“Iya, aku memang bilang untuk menunda karirmu demi mengurus rumah dan keluarga. Tapi maksudku bukan seperti ini. Apa kau bisa bayangkan apa yang akan dikatakan teman-temanku sesama bos mafia kalau aku membawamu ke pesta sekarang? ‘Di mana kau menemukannya, Arya? Di penampungan tunawisma, ya?’ Itu yang akan mereka katakan.”

Namun, Arya tidak berhenti di situ.

“Selama bertahun-tahun, aku sudah memberikanmu segalanya,” kata Arya dengan suara tajam. “Rumah. Uang. Stabilitas. Yang kuinginkan sebagai imbalan hanyalah seorang istri yang bisa berdiri di sisiku, berguna dan cantik.”

Dia menggelengkan kepala. “Aku sudah bilang akan memperkenalkanmu sebagai istriku, dan suatu hari nanti, aku akan membawamu ke duniaku. Tapi lihat dirimu sekarang, apa kau benar-benar berpikir aku bisa melakukan itu?”

Matanya menyapu tubuhku. “Rambut berminyak, wajah tanpa ekspresi, dan tubuh gemuk. Kau berpakaian seperti tak punya semangat hidup. Apa seperti itu caramu menghormati janji yang kita buat satu sama lain? Atau kau hanya ingin mempermalukanku?”

“Aku nggak punya waktu untuk berdandan. Aku sudah terlalu sibuk ....”

Arya bahkan tidak membiarkanku menyelesaikan ucapanku. Dengan tawa getir, dia menambahkan, “Kalau aku tahu tinggal di rumah akan membuatmu seperti ini, aku pasti akan menyuruhmu untuk terus mengejar mimpimu menjadi dokter. Setidaknya saat itu, kau mungkin masih enak dipandang.”

Kata-kata itu terasa seperti sebuah tamparan.

Arya mengamati gaun itu sekali lagi, lalu mencibir. “Gaun itu sudah rusak. Carikan sesuatu yang baru untuk Vina besok, kalau nggak aku akan menyalahkanmu atas semua kejadian malam ini.”

Dia pun pergi dengan amarah.

Keheningan yang menyusul terasa lebih berat daripada kemarahannya. Aku menoleh ke arah meja. Makan malam perayaan ulang tahun pernikahan yang telah kusiapkan selama berjam-jam kini sudah dingin dan tak tersentuh. Lilin-lilin berkedip, terlupakan.

Mengapa harus malam ini? Dari semua malam, mengapa aku masih berpikir dan berharap ... kalau malam ini mungkin akan berbeda?

“Ma?”

Aku menoleh.

Kiano, putraku, sedang berdiri di tepi ruangan sambil mengerutkan kening.

Suaranya kecil tapi menusuk. “Kenapa Mama berpakaian seperti … orang aneh?”

Orang aneh.

Aku menelan ludah, rasa malu merayap di tenggorokanku.

“Maaf ya,” gumamku. “Gaunnya nggak pas, Mama baru saja mau ganti pakaian.”

Aku pun berpaling, tidak ingin dia melihat wajahku.

Sebelum aku sempat meninggalkan ruang tamu, suara Kiano mengikutiku ... terlalu dekat dan jelas.

“Ma ... aku harap Mama bisa berusaha lebih keras untuk membuat diri Mama lebih ... pantas.” Dia sempat ragu-ragu, lalu melanjutkan, “Coba Mama lihat sendiri. Itu sebabnya aku nggak mau memperkenalkan Mama ke teman-temanku. Aku nggak mau mereka berpikir kalau Mamaku hanyalah pembantu gemuk yang jelek.”

Setiap kata diucapkan dengan hati-hati dan sengaja.

“Papa mengajak Tante Vina ke pertemuan orang tua dan guru,” lanjutnya. “Semua orang merasa iri karena tante terlihat luar biasa. Apa Mama bisa ... belajar dari dia?”

Jika kata-kata Arya telah menghancurkan hatiku, maka kata-kata Kiano telah berhasil membuatnya menjadi debu.

Bertahun-tahun aku selalu menjaga rumah ini tetap berjalan. Setiap malam tanpa tidur nyenyak, setiap makanan yang dimasak dengan penuh perhatian, setiap baju yang dilipat dengan rapi ... namun, semuanya tidak berarti.

Bagi mereka, aku hanyalah sebuah aib.

Aku menyeka air mata perlahan. “Jangan khawatir,” kataku. “Mama akan berusaha lebih keras.”

Kali ini, aku berkata untuk diriku sendiri.

Aku hampir tidak tidur.

Beberapa saat sebelum fajar, suara-suara lembut terdengar dari lorong.

“Diam,” gumam Arya. “Jangan sampai wanita bodoh itu mendengar kita.”

Aku membuka pintu sedikit.

Arya dan Vina ada di sana, mereka saling menempel di lorong yang remang-remang, tangan mereka bergerak bebas, bibir mereka saling bertautan seolah milik satu sama lain.

Untuk sesaat, semua yang ada di dalam diriku terasa membeku.

Aku tidak berteriak ataupun keluar.

Aku menutup pintu, berjalan kembali ke tempat tidur, dan melakukan satu panggilan.

“Iya, ini Karina Rusanto,” kataku dengan tenang. “Saya ingin menerima undangan kantor Anda bersama Dokter Lintas Batas di Afrika.”

Sebelum menikah dengan Arya, aku memiliki masa depan di bidang kedokteran. Aku telah meninggalkan semua itu untuknya, demi keluarga ini.

Yang tidak pernah dia ketahui, bahkan yang tidak diketahui oleh mereka semua adalah ... bahwa aku tidak pernah benar-benar berhenti. Aku telah menjadi sukarelawan secara diam-diam selama bertahun-tahun.

Tahun ini, mereka menawarkan posisi kepadaku di kantor baru mereka di Afrika.

Awalnya, aku menolak karena tidak tega meninggalkan keluargaku.

Tetapi sekarang, mereka telah memilih untuk meninggalkanku, jadi apa arti kesetiaanku selama ini?

Jadi, aku akan memilih diriku sendiri sekarang, dan aku akan meninggalkan semua yang sebenarnya bukan milikku sejak awal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 11

    Sudut Pandang Karina.Setengah tahun telah berlalu seperti hembusan lembut angin.Lidia dan aku menjadi pemimpin senior. Aura dan Andri berhasil menyelesaikan program mereka dan kembali ke negara asal mereka. Jonan juga sudah menyelesaikan programnya.Pada hari kepergiannya, dia menemukanku di bawah pohon ara tua di belakang kompleks rumah sakit. Dia tampak gugup untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.“Karina,” katanya lembut. “Aku menyukaimu. Tapi kau nggak perlu memberiku jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku sabar, tapi juga keras kepala. Begitu aku jatuh hati pada seseorang, aku nggak akan mudah menyerah. Jadi, gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan … aku akan tetap menunggumu.”Aku tidak memberinya jawaban. Namun, aku juga tidak menolaknya.Bukan karena aku tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri, tetapi justru karena aku tahu.Jonan tidak seperti pria mana pun yang pernah kukenal. Dia penuh hormat, berkuasa, namun tetap rendah hati. Buatku, dia teguh ibarat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 10

    Sudut Pandang Karina.Aku menegakkan tubuh, nada suaraku tegas. “Ini tempat kerjaku. Aku harap kalian berdua cukup menghormatiku dan pergi dari sini.”“Papa!” Kiano merengek.Arya melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Pergi bermain dulu di luar sebentar. Papa mau bicara dengan Mama dulu, oke? Papa akan membujuk Mamamu untuk pulang bersama kita.”Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, seolah hidupku masih menjadi miliknya sehingga bisa dinegosiasikan.Kiano bergumam dan berlari keluar.Arya berbalik menatapku, keraguan terlintas di wajahnya. “Karina, aku ....”“Arya,” kataku dengan tenang, memotong perkataannya. “Aku sudah sangat jelas waktu itu. Aku tinggal di sini sekarang, aku nggak mau kau tiba-tiba muncul dan mengganggu hidupku.”Dia mendengus, rasa frustrasi terpancar dari sorot matanya. “Kau nggak bisa menyebut ini hidup. Lihat tempat ini, ini lebih mirip seperti tempat sampah. Aku memberimu dua rumah setelah perceraian kita. Kau bisa hidup nyaman di salah satunya. Bukann

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 9

    Sudut Pandang Karina.Jonan melirikku sekali. Aku tidak berbicara.Dia kembali menoleh ke depan tanpa ekspresi. “Aku nggak akan mengulanginya lagi,” katanya. “Pergi sekarang, atau aku akan menyuruh anak buahku mengantarmu keluar secara pribadi.”“Tapi ....”Jonan mendesak lebih lanjut. “Kurasa kau nggak mau ayahku sampai tahu perilaku seperti apa yang kau tunjukkan malam ini. Terutama ketika kau masih harus bernegosiasi dengan dia.”Setelah hening sejenak, Arya akhirnya menarik pergelangan tangan Vina dan menghilang ke dalam kerumunan. Mereka meninggalkan pesta tanpa menoleh lagi.Musik kembali dimainkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Lidia mencondongkan tubuh dan berbisik, “Aku akan menunggumu di sana.” Lalu, menyelinap pergi.Dan, kemudian hanya tinggal aku ... dan Jonan.Aku benci mengungkit-ungkit masa lalu. Terutama di sini, di depan seseorang yang bahkan tidak kukenal.“Maaf soal tadi,” kataku pelan. “Mantan suamiku memang agak ....”Aku tergagap, tidak yakin bagaimana mengga

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 8

    Sudut Pandang Karina.Beberapa hari kemudian, tepat saat aku sedang melihat laporan pasien, Lidia mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia. “Kau sudah dengar? Pria yang kau selamatkan itu? Dia itu putranya Haryo Winata.”Aku berkedip. “Haryo Winata?” Nama itu tidak kukenal.Lidia tersentak. “Haryo Winata yang itu. Kepala faksi tentara bayaran yang ditempatkan di sini.”Tetap saja, aku memberinya tatapan kosong.Dia memutar bola matanya, sorot matanya berbinar-binar penuh gosip. “Dia mendanai rumah sakit tempat kita bekerja dan membangun setengah dari jalan dan sekolah di wilayah ini. Kau tahu kan bagaimana penduduk lokal membenci tentara bayaran? Tapi mereka nggak pernah membenci Haryo Winata. Penduduk lokal bahkan memujinya. Dia itu lebih seperti bangsawan di Doklas. Aku nggak percaya kalau kau belum pernah mendengar namanya!”Aku mengulangi nama itu perlahan, lalu menggeleng. “Nggak, aku benar-benar belum pernah mendengar nama itu.”Lidia menyenggol bahuku, menggoda, “Aku

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 7

    Sudut Pandang Karina.Ketika aku mendarat di Doklas, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat sedikit.Lidia, salah satu koordinator lokal, menjemputku di bandara. Dia bisa berbahasa Andes dengan fasih, senyumnya tampak tulus.“Kau pasti Karina,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Kau datang lebih awal.”Aku menjabat tangannya. “Iya, aku berangkat lebih dulu dari jadwal.”Dia penuh energi, kami mengobrol santai saat berjalan menuju tempat parkir. Dia berbicara tentang program di sana, kompleks tempat tinggal, para dokter, bahkan penampakan satwa liar sesekali. Antusiasmenya membuat segalanya di sana tampak jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan.“Aku sangat menikmati bekerja dengan tim ini,” katanya. “Semuanya orang baik, jadi jangan gugup.”Tetapi, kenyataannya aku memang sedikit gugup.“Aku sudah lama nggak bekerja di lingkungan formal.” Aku mengakui. “Aku hanya berharap semoga nggak menghambat siapa pun.”Lidia memberiku pelukan singkat yang menenangkan. “Jangan

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 6

    Sudut Pandang Karina.Aku bahkan belum membuka pintu ketika mendengar suara tawa yang menggema dari balik pintu.“Apa Tante akan menjadi mama baruku?” Suara Kiano terdengar ceria dan antusias.Tanganku terhenti di gagang pintu.“Kau bisa memanggilku Mama kalau mau,” Vina tertawa. “Meskipun aku ragu teman-temanmu akan memercayainya karena aku terlihat terlalu muda.”“Aku nggak peduli. Aku ingin Tante menjadi Mamaku. Mama, Mama, Mama!”Kiano belum pernah memanggilku seperti itu, dan sekarang dia memanggil orang lain seperti itu.Aku menarik napas perlahan dan mendorong pintu hingga terbuka.Ketiganya sedang duduk di sofa. Vina mendongak sambil tersenyum, rapi dan sopan, tetapi senyum itu tidak sampai terpancar di matanya. Arya nyaris tidak menoleh ke arahku, seolah aku telah mengganggu sesuatu yang lebih penting. Kiano tampak kecewa, seolah aku telah merusak momennya.“Aku langsung pulang seperti yang kau minta,” kataku sambil masuk.Aku pun duduk di seberang mereka.Arya mengulurkan dok

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 5

    Sudut Pandang Karina.Aku sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar mandi, berharap air bisa membersihkan semua perasaan yang tidak ingin kurasakan.Aku baru saja keluar ketika mendengar suara langkah kaki di lorong.“Apa yang kau pikirkan?” Suara Arya menggema di ruangan bahkan sebelum aku sempat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 4

    Sudut Pandang Karina.Aku mulai mengemas pakaian yang rencananya akan kubawa ke Afrika.Tidak banyak, hanya cukup untuk mengisi satu koper kecil.Dan meskipun sudah tertutup rapat di dekat pintu, lemari pakaianku tampak tak tersentuh. Gaun-gaun yang pernah dibelikan Arya untukku masih tergantung di

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 3

    Sudut Pandang Karina.“Karina! Mana sarapannya?” Suara Arya melengking seperti lecutan cambuk.Aku mengerjap bangun. Masih dalam keadaan linglung, aku melihat dia berdiri di ambang pintu dengan rasa jengkel yang sudah terlihat di wajahnya.“Jadi ini caramu bekerja keras di rumah? Kau bahkan nggak bi

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 1

    Sudut Pandang Karina.Suamiku, Sang Bos Besar Mafia, telah mengabaikanku selama sepuluh tahun. Tanpa kusadari, aku telah menjadi istri tak berharga yang hanya tinggal di rumah dan mengerjakan urusan rumah tangga, sementara suamiku selalu mengajak sekretarisnya ke setiap acara, dan memperkenalkannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status