Share

Kebangkitan Kembali Sang Phoenix
Kebangkitan Kembali Sang Phoenix
Author: Vanilatte733

Chapter. 1

Author: Vanilatte733
last update publish date: 2026-06-17 17:28:45

Malam yang hening dan gelap gulita, di saat semua orang sedang terlelap di tidurnya, tapi tidak dengan Li Yue yang mana waktu malam merupakan waktu dia bekerja.

Malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya bagi Li Yue, karena malam ini merupakan malam yang ditunggu-tunggunya.

Malam ini dia akan membalaskan dendam yang sudah dia tahan bertahun- tahun.

Dia akan membunuh Fuan Gu dan istrinya, mafia ternama di kotanya sekaligus pembunuh ayah angkatnya.

Fuan Gu adalah orang tua yang keji, bahkan dia sanggup membunuh anak kecil, maupun bayi. Tidak terhitung berapa kepala sudah dia habisi demi keserakahannya.

Rumah megah yang terletak di samping hutan dengan penjagaan yang ketat menjadi tantangan sulit yang harus dihadapinya.

Bermodalkan belati kecil, bahan peledak, pisau lipat, pistol dan beberapa alat hasil rakitannya sendiri yang Li Yue tampung di tas punggung kecilnya untuk memudahkan rencana. Malam ini, akan menjadi malam yang panjang.

Li Yue mulai mencari jalan masuk ke rumah sang mafia, mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh para penjaga. Langkah kakinya begitu ringan, bergantian menapak kaki tanpa meninggalkan suara seolah ia mengambang di atas angin.

Sesampainya di dalam rumah, cahaya dari lampu gantung kristal yang berpendar menyambut Li Yue. Perempuan berusia 21 tahun itu berdiri bergeming di balik bayangan pilar. Matanya yang sedingin es memindai lorong, membaca ritme sunyi bangunan megah tempatnya berdiri.

Ketukan selop yang ritmis masuk ke indra pendengaran. Seorang pelayan melintas seraya membawa nampan. Tanpa suara, Li Yue melesat dari balik pilar. Sebelum pelayan itu menyadari, telapak kanan Li Yue mengayun keras, menghantam titik saraf di tengkuk pelayan itu.

Li Yue menyeret tubuh yang pingsan itu ke dalam gudang penyimpanan makanan. Di tempat itu, Li Yue menanggalkan seragam pelayan, lalu mengenakannya ke tubuhnya sendiri. Ditambah dengan alat make up yang dibawanya, ia merubah hampir keseluruhan wajahnya, agar menyerupai wajah pelayan tersebut.  Sosoknya kini sudah berganti, kini ia menjadi seorang pelayan rumah.

"Dari mana saja kau?!" sentak salah seorang pelayan yang melihatnya keluar dari gudang penyimpanan makanan.

"Saya dari gudang penyimpanan makanan, tadi saya memeriksa beberapa bahan makanan, apakah masih layak untuk dimakan atau tidak," jawab Li Yue.

"Ohh... ini sudah saatnya Tuan Besar makan malam, dan Tuan Besar ingin makan di dalam kamarnya."

'Waktu yang pas untuk bertemu dengan malaikat mautmu,' batin Li Yue.

"Kenapa kau diam saja? Cepat siapkan makanan Tuan Besar. Jangan lupa juga untuk memberikan Tuan Besar obat seperti perintah Nyonya. Ingat, obatnya ada di lemari atas samping kiri botol yang berwarna kuning," jelas pelayan tersebut panjang lebar kemudian pergi meninggalkan Li Yue yang sedang tersenyum penuh kemenangan sendirian di dapur.

Saat menyiapkan makanan, Li Yue menambahkan sedikit obat yang membuat siapapun yang mengkonsumsinya akan bisu sementara ke dalam makanan yang akan dihidangkannya.

Menyiapkan minuman serta mencari obat yang akan diminum oleh calon korbannya malam ini.

Setelah menemukan obat yang dicari, Li Yue menukar obat-obatan yang ada dengan obat-obatan yang racikannya sendiri yang akan mengakibatkan peminumnya akan merasakan panas di setiap aliran darahnya.

Mulanya ini hanya rencana cadangan, niatnya untuk langsung membunuh sang korban tidak jadi karena ketatnya penjagaan yang ada.

Tapi ternyata dewa sedang berpihak kepadanya, dengan membuatnya menjadi pelayan yang akan menyiapkan makanan terakhir untuk calon korban. Rupanya dewa juga ingin calon korbannya cepat tiada di dunia ini, pikir Li Yue.

Berjalan dengan cepat, agar tugasnya juga cepat selesai. Li Yue sampai di depan kamar Fuan Gu yang dijaga ketat oleh dua orang berbadan besar, berpakaian hitam.

"Makan malam Tuan Besar sudah siap," ucap Li Yue.

Sejujurnya Li Yue muak memanggil Tuan Besar kepada calon korbannya itu, tapi apa pun cara akan dia lakukan supaya semuanya lancar.

"Masuklah."

"Tunggu!" kata salah satu penjaga menghentikan dia masuk ke dalam.

"Ada apa?"

"Apa itu?" tanya sang penjaga sambil menunjuk botol kuning yang dibawanya.

"Ini adalah obat Tuan besar, Nyonya memerintahkan kami para pelayan untuk memberikan obat ini pada Tuan," jawabnya lancar agar tidak dicurigai oleh penjaga.

Seakan tak percaya akan penjelasan Li Yue, penjaga itu memanggil seorang pelayan yang melintas. "Hei kau, kemari."

"Iya, ada apa?"

"Apa benar, ini adalah obat Tuan Besar?" Penjaga itu menunjuk botol kuning yang berisikan kepingan obat buatan Li Yue.

"Benar, itu adalah obat Tuan Besar, kami diperintahkan oleh Nyonya untuk memberikannya kepada Tuan Besar," jelas pelayan.

"Baiklah kau boleh pergi, dan kau silahkan masuk, mungkin Tuan Besar sudah menunggu."

"Permisi," pamit Li Yue masuk ke dalam kamar calon korbannya.

Tiba di dalam ruangan pribadi sang mafia, Li Yue melihat calon korbannya itu sedang berbaring dengan nyenyak di peraduan.

"Tuan, waktunya anda makan malam setelah itu minum obat dari Nyonya," ucap Li Yue yang membuat calon korbannya bangun.

"Hm, siapkan makanannya disana," tunjuknya ke deretan sofa mewah dengan meja kecil di tengahnya.

"Baik, Tuan," pamit Li Yue sambil mendorong troli yang digunakannya.

Sembari menyiapkan makanan dan peralatannya, Li Yue mulai mengamati situasi sekitarnya.

Kamar yang megah, di dominasi warna coklat kayu bercampur dengan warna emas di setiap ukiran perabot kayu yang ada dan warna merah maroon di tirai-tirai kamar membuatnya menjadi lebih mewah.

Di dalam mewahnya kamar ini dia harus membunuh pemiliknya, membalaskan dendamnya dan juga ratusan nyawa yang melayang karena ketamakannya.

Mengingat banyaknya penjagaan di rumah megah ini dan juga beberapa penjaga di luar kamar, Li Yue harus hati-hati mengambil langkah.

'Pasti ada senjata tersembunyi disini, tidak mungkin tua bangka ini hanya mengandalkan para penjaga, aku harus berhati-hati,' batin Li Yue.

"Semuanya sudah siap, Tuan. Silahkan nikmati," ' makanan terakhirmu,' lanjutnya dalam hati.

"Kau boleh keluar," usir Fuan Gu.

"Tapi, Tuan. Nyonya memerintahkan saya untuk memastikan anda meminum obat," dusta Li Yue.

'Mana mungkin aku keluar dan tidak melihatmu tersiksa'

"Wanita tua itu… ya sudah kalau begitu," gerutu Fuan Gu.

Pria paruh baya yang terkenal akan kekejamannya itu mulai makan dengan lahap, tanpa adanya rasa curiga sedikitpun.

'Ckckck, andai kau tahu makanan yang kau makan itu beracun, sudahlah, nikmati saja saat-saat terakhir dari hidupmu.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 202

    Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 201

    _o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 200

    Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 199

    Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 198

    _o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 197

    Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status