Masuk
Malam yang hening dan gelap gulita, di saat semua orang sedang terlelap di tidurnya, tapi tidak dengan Li Yue yang mana waktu malam merupakan waktu dia bekerja.
Malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya bagi Li Yue, karena malam ini merupakan malam yang ditunggu-tunggunya.
Malam ini dia akan membalaskan dendam yang sudah dia tahan bertahun- tahun.
Dia akan membunuh Fuan Gu dan istrinya, mafia ternama di kotanya sekaligus pembunuh ayah angkatnya.
Fuan Gu adalah orang tua yang keji, bahkan dia sanggup membunuh anak kecil, maupun bayi. Tidak terhitung berapa kepala sudah dia habisi demi keserakahannya.
Rumah megah yang terletak di samping hutan dengan penjagaan yang ketat menjadi tantangan sulit yang harus dihadapinya.
Bermodalkan belati kecil, bahan peledak, pisau lipat, pistol dan beberapa alat hasil rakitannya sendiri yang Li Yue tampung di tas punggung kecilnya untuk memudahkan rencana. Malam ini, akan menjadi malam yang panjang.
Li Yue mulai mencari jalan masuk ke rumah sang mafia, mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh para penjaga. Langkah kakinya begitu ringan, bergantian menapak kaki tanpa meninggalkan suara seolah ia mengambang di atas angin.
Sesampainya di dalam rumah, cahaya dari lampu gantung kristal yang berpendar menyambut Li Yue. Perempuan berusia 21 tahun itu berdiri bergeming di balik bayangan pilar. Matanya yang sedingin es memindai lorong, membaca ritme sunyi bangunan megah tempatnya berdiri.
Ketukan selop yang ritmis masuk ke indra pendengaran. Seorang pelayan melintas seraya membawa nampan. Tanpa suara, Li Yue melesat dari balik pilar. Sebelum pelayan itu menyadari, telapak kanan Li Yue mengayun keras, menghantam titik saraf di tengkuk pelayan itu.
Li Yue menyeret tubuh yang pingsan itu ke dalam gudang penyimpanan makanan. Di tempat itu, Li Yue menanggalkan seragam pelayan, lalu mengenakannya ke tubuhnya sendiri. Ditambah dengan alat make up yang dibawanya, ia merubah hampir keseluruhan wajahnya, agar menyerupai wajah pelayan tersebut. Sosoknya kini sudah berganti, kini ia menjadi seorang pelayan rumah.
"Dari mana saja kau?!" sentak salah seorang pelayan yang melihatnya keluar dari gudang penyimpanan makanan.
"Saya dari gudang penyimpanan makanan, tadi saya memeriksa beberapa bahan makanan, apakah masih layak untuk dimakan atau tidak," jawab Li Yue.
"Ohh... ini sudah saatnya Tuan Besar makan malam, dan Tuan Besar ingin makan di dalam kamarnya."
'Waktu yang pas untuk bertemu dengan malaikat mautmu,' batin Li Yue.
"Kenapa kau diam saja? Cepat siapkan makanan Tuan Besar. Jangan lupa juga untuk memberikan Tuan Besar obat seperti perintah Nyonya. Ingat, obatnya ada di lemari atas samping kiri botol yang berwarna kuning," jelas pelayan tersebut panjang lebar kemudian pergi meninggalkan Li Yue yang sedang tersenyum penuh kemenangan sendirian di dapur.
Saat menyiapkan makanan, Li Yue menambahkan sedikit obat yang membuat siapapun yang mengkonsumsinya akan bisu sementara ke dalam makanan yang akan dihidangkannya.
Menyiapkan minuman serta mencari obat yang akan diminum oleh calon korbannya malam ini.
Setelah menemukan obat yang dicari, Li Yue menukar obat-obatan yang ada dengan obat-obatan yang racikannya sendiri yang akan mengakibatkan peminumnya akan merasakan panas di setiap aliran darahnya.
Mulanya ini hanya rencana cadangan, niatnya untuk langsung membunuh sang korban tidak jadi karena ketatnya penjagaan yang ada.
Tapi ternyata dewa sedang berpihak kepadanya, dengan membuatnya menjadi pelayan yang akan menyiapkan makanan terakhir untuk calon korban. Rupanya dewa juga ingin calon korbannya cepat tiada di dunia ini, pikir Li Yue.
Berjalan dengan cepat, agar tugasnya juga cepat selesai. Li Yue sampai di depan kamar Fuan Gu yang dijaga ketat oleh dua orang berbadan besar, berpakaian hitam.
"Makan malam Tuan Besar sudah siap," ucap Li Yue.
Sejujurnya Li Yue muak memanggil Tuan Besar kepada calon korbannya itu, tapi apa pun cara akan dia lakukan supaya semuanya lancar.
"Masuklah."
"Tunggu!" kata salah satu penjaga menghentikan dia masuk ke dalam.
"Ada apa?"
"Apa itu?" tanya sang penjaga sambil menunjuk botol kuning yang dibawanya.
"Ini adalah obat Tuan besar, Nyonya memerintahkan kami para pelayan untuk memberikan obat ini pada Tuan," jawabnya lancar agar tidak dicurigai oleh penjaga.
Seakan tak percaya akan penjelasan Li Yue, penjaga itu memanggil seorang pelayan yang melintas. "Hei kau, kemari."
"Iya, ada apa?"
"Apa benar, ini adalah obat Tuan Besar?" Penjaga itu menunjuk botol kuning yang berisikan kepingan obat buatan Li Yue.
"Benar, itu adalah obat Tuan Besar, kami diperintahkan oleh Nyonya untuk memberikannya kepada Tuan Besar," jelas pelayan.
"Baiklah kau boleh pergi, dan kau silahkan masuk, mungkin Tuan Besar sudah menunggu."
"Permisi," pamit Li Yue masuk ke dalam kamar calon korbannya.
Tiba di dalam ruangan pribadi sang mafia, Li Yue melihat calon korbannya itu sedang berbaring dengan nyenyak di peraduan.
"Tuan, waktunya anda makan malam setelah itu minum obat dari Nyonya," ucap Li Yue yang membuat calon korbannya bangun.
"Hm, siapkan makanannya disana," tunjuknya ke deretan sofa mewah dengan meja kecil di tengahnya.
"Baik, Tuan," pamit Li Yue sambil mendorong troli yang digunakannya.
Sembari menyiapkan makanan dan peralatannya, Li Yue mulai mengamati situasi sekitarnya.
Kamar yang megah, di dominasi warna coklat kayu bercampur dengan warna emas di setiap ukiran perabot kayu yang ada dan warna merah maroon di tirai-tirai kamar membuatnya menjadi lebih mewah.
Di dalam mewahnya kamar ini dia harus membunuh pemiliknya, membalaskan dendamnya dan juga ratusan nyawa yang melayang karena ketamakannya.
Mengingat banyaknya penjagaan di rumah megah ini dan juga beberapa penjaga di luar kamar, Li Yue harus hati-hati mengambil langkah.
'Pasti ada senjata tersembunyi disini, tidak mungkin tua bangka ini hanya mengandalkan para penjaga, aku harus berhati-hati,' batin Li Yue.
"Semuanya sudah siap, Tuan. Silahkan nikmati," ' makanan terakhirmu,' lanjutnya dalam hati.
"Kau boleh keluar," usir Fuan Gu.
"Tapi, Tuan. Nyonya memerintahkan saya untuk memastikan anda meminum obat," dusta Li Yue.
'Mana mungkin aku keluar dan tidak melihatmu tersiksa'
"Wanita tua itu… ya sudah kalau begitu," gerutu Fuan Gu.
Pria paruh baya yang terkenal akan kekejamannya itu mulai makan dengan lahap, tanpa adanya rasa curiga sedikitpun.
'Ckckck, andai kau tahu makanan yang kau makan itu beracun, sudahlah, nikmati saja saat-saat terakhir dari hidupmu.'
_o0o_Li Yue terbangun saat matahari sudah condong ke arah barat. Sudah lama dia tidak tidur senyenyak tadi. Saat membuka mata, dia melihat Ye Lin sedang merapikan sebuah baju."Ye Lin, kau sedang apa?"Ye Lin ."Kau sudah bangun Li Yue, aku sedang merapikan baju yang nanti akan kau kenakan""Oh." Li Yue bangkit, lalu duduk di pinggir ranjangnya. Matanya menjelajahi seisi ruangan. Saat dia sampai disini, dia tidak bisa melihat seisi ruangan sesukanya, karena ada"Kau ingin mandi atau makan dulu, Li Yue?"
Saat ini, Li Yue dan Ye Lin telah sampai di istana. Mereka tengah berdiri di depan gerbang istana yang kokoh. Ye Lin dan Li Yue hendak melangkah masuk ke istana, tapi terhenti karena Prajurit yang berjaga di gerbang mencegat mereka."Kalian dilarang masuk," ucap dua prajurit tersebut sambil menyilangkan tombak yang mereka bawa."Lancang sekali kalian mencegat kami, Apa kalian tidak tahu siapa yang kalian cegat, hah!" Ye Lin berang terhadap dua orang prajurit di hadapannya ini. Bagaimana bisa mereka menghadang tuannya yang seorang permaisuri?"Kami diperintahkan untuk melarang orang asing masuk, Nona, jadi pergilah.""Orang asing, kau bilang! Kau tidak tahu bahwa orang yang kau cegat adalah Permaisuri dari Kekaisaran ini""Per
_o0o_"Apa kau masih menyimpan daun yang kupinta, Ye Lin?""Daun yang kau gunakan untuk mengobati lukamu?" tanya Ye Lin memastikan."Iya.""Tentu, aku menyimpannya di dalam kotak bening yang ada di tasmu."Setelah mendengar jawaban Ye Lin, Li Yue langsung membuka tasnya, guna mencari daun untuk salep lukanya."Ye Lin bisa kau tumbukkan aku daun ini lagi?""Tentu.""Kau masih ingat dengan apa yang harus dicampurkan ke dalamnya kan?""Iya, aku tentu mengingatnya, dicampurkan dengan ini kan?" Ye Lin mengangkat salah satu toples kecil yang isinya adalah dedaunan kering yang menjadi campuran obat Li Yue."Kau benar.""Baiklah, kau duduk saja, aku akan menumbuknya untukmu."Li Yue memperhatikan Ye Lin yang sedang asyik dengan kegiatan menumbuknya. Sebentar lagi, ya, lebih tepatnya dua hari lagi dia akan sampai ke tempat di mana Zhang Li Yue hidup dengan kemalangan. Tapi tidak lagi, wanita yang diberi julukan Permais
_o0o_'Menunggu' adalah kegiatan yang paling dibenci Li Yue.Saat ini Li Yue ada di pinggir hutan, dia sedang menunggu Ye lin yang pergi ke pasar membelikannya sebuah pakaian untuk dipakai sementara waktu.Li Yue tidak ingin menjadi pusat perhatian karena pakaiannya yang tidak sesuai dengan zaman ini. Karena itu, semalam dia memerintahkan Ye Lin untuk membelikannya sebuah pakaian.Duduk menyelonjorkan kaki sambil bersandar di salah satu pohon besar, dan menghela nafas kasar, itulah kegiatan yang dilakukan Li Yue ketika menunggu.Derap langkah kaki terdengar, membuat Li Yue waspada. Dengan cepat dia mengeluarkan belati kecil yang diselipkan di pinggang rampingnya. Langkah kaki itu kian mendekat, Li Yue bersikap tenang untuk mengelabui orang yang ada di belakangnya.Sebuah tangan terjulur di belakang, hendak menyentuh bahunya. Dengan cepat Li Yue mencengkeram lalu memelintir tangan itu."Aakkhh!""Siapa ka–
Sesampainya di dalam gua, Li Yue langsung duduk mengistirahatkan tubuhnya, melihat sekeliling.Benar kata Ye Lin, gua ini memang tersembunyi karena pintu masuk gua yang tertutupi oleh rimbunnya dedaunan.Gua ini juga berbeda dari gua- gua yang ada. Kebanyakan gua itu berada di kaki gunung atau bukit, tapi gua ini berada di bawah tanah datar yang dipijak. Jadi saat masuk tadi Li Yue dan Ye Lin harus berhati-hati karena tempat berpijaknya sedikit curam.Sembari menunggu Ye Lin yang sedang mengumpulkan kayu kering untuk membakar ubi, Li Yue memikirkan bagaimana nasibnya kelak jika dia berhasil membalaskan dendam Zhang Li Yue.Apa dia akan kembali ke zamannya atau tetap disini? Seharusnya ia sudah meninggal karena terjatuh kedalam sumur tua, tapi karena doa dari Zhang Li Yue, membuat dia berpindah ke zaman ini, Li Yue pusing memikirkannya."Permaisuri," panggil Ye Lin.Lamunan Li Yue terhenti ketika Ye Lin memanggilnya."Ya?" sambil menengok cepat ke arah Ye Lin"Hamba perhatikan, seharia
Setelah arwah Zhang Li Yue pergi, Li Yue langsung mencari jasad Zhang Xiu Ran, adiknya Zhang Li Yue, dan jasadnya berada tidak jauh dari jasad Zhang Li Yue.Dengan susah payah Li Yue membawa jasad Zhang Xiu Ran dan meletakkannya di dekat Zhang Li Yue, kemudian menggali tanah dan mengubur kedua kakak beradik itu."Semoga kalian tenang disana, aku akan membalas semua ketidakadilan yang kalian dapatkan, aku berjanji," ucap Li Yue setelah memberi penghormatan terakhir, lalu pergi mencari jalan ke danau tempat pelayan Zhang Li Yue menunggu.Tidak mudah mencari jalan keluar di hutan yang lebat ini, terkadang Li Yue bertemu dengan anjing liar, tapi dengan satu tangan dan sebuah belati dia dengan mudah mengalahkannya, beruntung hanya anjing liar yang dia temui, bukan sang raja hutan.Li Yue juga beruntung, selama perjalanan dia menemukan beberapa tanaman herbal yang sulit didapatkan tapi sangat bermanfaat.Li Yue juga menemukan tanaman beracun hemlock, bunganya berwarna putih berukuran kecil,







