LOGIN"Obat Anda, Tuan," ucap Li Yue cepat. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
Fuan Gu yang baru saja minum setelah makanannya habis, pun langsung mengkonsumsi obat yang disodorkan oleh Li Yue.
Sambil membereskan peralatan makanan, Li Yue melihat Fuan Gu yang sedang berjalan menuju pembaringannya. Wajah pria itu mulai memerah, menandakan bahwa racun yang tadi ditelannya bereaksi.
Urat lehernya mengencang, kemudian berubah warna. Fuan Gu membuka mulutnya lebar. Pria itu ingin teriak, tapi usahanya itu sia-sia. Hanya erangan lirih saja yang keluar.
Melihat itu, Li Yue tersenyum kecut. "Kasihan," cibirnya. Ia melangkah mendekat ke arah korbannya yang sedang meregang nyawa.
"Tuan baik - baik saja? " tanya Li Yue dengan nada polos yang dibuat-buatnya.
Fuan Gu mengerang, tangannya mencoba meraih Li Yue, tapi, perempuan itu langsung memundurkan badannya.
"Astaga! Tentu saja Tuan tidak baik - baik saja," ucapnya sembari menepuk kepalanya seakan ia melupakan sesuatu. "Anda kan sudah memakan racun yang ada di makanan itu. Belum lagi obat yang sebenarnya racun yang tadi Anda minum."
Li Yue berjongkok. "Kita akan bermain," ucapnya lalu membuka tas yang sudah diambil dari balik troli makanan, dan mengambil tali yang ada.
Diikatnya kencang Fuan Gu agar tidak meronta kesana kemari, membekap mulut Fuan Gu, dan memulai permainannya.
"Cukup dengan bahasa formalnya. Perkenalkan, putri angkat dari Kao Hu, pedagang senjata gelap yang kau bunuh dua tahun lalu, jika kau ingat. Kurasa perkenalannya sudah cukup. Ayo kita mulai permainannya, kau pasti tidak sabar." Seringai kejam Li Yue langsung tercetak jelas di wajahnya.
"Untuk mafia yang terkenal dengan kekejamannya, kukumu itu terlalu cantik. Aku minta ya?" Tak ingin menunggu, Li Yue mulai mencongkel satu persatu kuku tangan Fuan Gu, dimulai dari tangan kanan, berlanjut ke tangan kiri. Cairan merah pun mulai bercucuran membasahi lantai yang terbuat dari marmer mahal itu.
"Kau tahu, saat aku kecil dulu aku suka sekali menggambar, walaupun hanya garis abstrak saja. Tapi karena aku baik hati, aku akan memperlihatkan gambarku padamu, tapi tidak ada kertas disini, jadi aku akan menggambar di tubuhmu."
Li Yue membuat goresan panjang di kedua tangan dan kakinya.
"Hhmmppttt," ronta Fuan Gu
"Sshhtt diam! Sudah aku katakan jika aku hanya bisa menggambar garis-garis saja, jadi hanya itu yang akan aku gambar."
Li Yue menggores leher, kaki, punggung , dan tangan, bahkan wajah pun tidak lupa di goresnya.
Air mata Fuan Gu mulai keluar, karena tidak sanggup menahan rasa sakit, apalagi ketika Li Yue menabur garam ke lukanya.
"Cup cup cup jangan menangis." Li Yue berkata dengan nada lembut yang sarat akan kebohongan.
"Kau sudah selesai!!" Teriak penjaga di luar kamar.
Li Yue bangkit dan berjalan mendekati pintu.
"Sebentar! Tuan Besar mengatakan jika badannya pegal, dan beliau menyuruh saya untuk memijatnya," dusta Li Yue
"Kalau begitu cepatlah, Nyonya akan sampai disini."
"Baik."
Li Yue menutup pintu dan masuk kembali ke kamar, sampai di depan Fuan Gu, Li Yue menjambak rambutnya membuat kepalanya terangkat paksa.
"Sayang sekali permainan kita harus sampai disini."
"Oh ya, tolong kirimkan salam terima kasihku kepada dewa ya, karena sudah memperlancar balas dendamku, uppss! maksudku permainan kita," pinta Li Yue. " Selamat tinggal."
Craasshh!!!
Darah langsung mengalir deras dari urat leher Fuan Gu, Li Yue kejam? Memang, tapi bukan dia yang menginginkannya, melainkan keadaan yang membuatnya begini.
Li Yue sesegera mungkin mengganti pakaiannya dengan yang tadi digunakannya agar memudahkan dirinya kabur nanti.
Ditinggalkannya jasad sang korban, Li Yue berjalan ke dekat tembok yang memisahkan kamar dengan pintu masuk.
Dia tahu jika target selanjutnya datang, di saat istri Fuan Gu hendak berbelok Li Yue langsung membekap mulut dan menyeretnya ke tempat Fuan Gu berada.
"Hmmmppptthh!!!" Istri Fuan Gu menjerit dalam bengkaman Li Yue karena melihat kondisi sang suami yang dikelilingi oleh darah.
"Tenang, kau juga akan segera menyusulnya." Li Yue berkata dengan nada dingin yang sarat akan ancaman.
Istri Fuan Gu meronta, membuat Li Yue kewalahan.
"Diamlah keparat!!" umpat Li Yue
Li Yue tidak menyadari jika kaki istri Fuan Gu telah menekan tombol darurat rahasia yang ada di tiang ranjang bawah.
"Sial!"
Mendengar suara peringatan, Li Yue langsung mengambil pisau dan langsung membunuh sang korban.
Crasshh!!
Bau anyir dari darah kembali menguar di dalam kamar mewah tersebut.
Terdengar langkah kaki dari penjaga kediaman Fuan Gu mendekat, secepatnya Li Yue mengambil tasnya lalu berlari ke arah jendela yang ada dan langsung melompat dari lantai 2.
Kreekk
Suara tulang Li Yue patah, tepatnya di tulang selangka, sakit memang tapi diacuhkan oleh Li Yue.
Para penjaga keluar dan langsung berlarian mengejarnya.
Dor! Dor! Dor!
Bunyi peluru yang saling bersahutan tidak membuat Li Yue gemetar ketakutan atau menengok ke belakang, dia hanya perlu menghindar dengan gesit, agar ia berhasil kabur.
Sampai salah satu peluru itu menggores dalam lengannya, membuat darah Li Yue mulai berjatuhan keluar.
"Ahh! Sial!!" umpat Li Yue
Kecepatan larinya melambat karena luka-luka yang dideritanya. Tidak ada pilihan lain kecuali masuk ke hutan belantara itu.
Sampai di gerbang besi tua yang menjadi jalan keluar, Li Yue dengan cepat memanjat gerbang, langsung melompat ke bawah dan kabur dari sana.
Di hutan, Li Yue dihadang oleh seorang penjaga yang berhasil mengejarnya, penjaga itu langsung menyerang Li Yue dengan katana.
Li Yue menghalau katana yang akan menggores lehernya dengan belati hitam yang tadi ia gunakan untuk membunuh Fuan Gu dan istrinya.
Penjaga itu menyerang kembali, kali ini penjaga itu langsung melayangkan katana-nya pada Li Yue, tapi Li Yue berhasil menahan laju katana itu dengan belati yang ada di tangan kanannya, langsung saja ia menendang dada Penjaga, yang membuat penjaga itu tersungkur.
Tidak ingin membuang waktu Li Yue langsung menancapkan belatinya ke jantung Penjaga yang membuat penjaga itu mati seketika.
Li Yue menarik napas dengan rakus, tubuhnya sudah sangat lelah, tenaganya terkuras habis karena berlari, belum lagi luka-luka yang dideritanya.
Berlari dengan tertatih-tatih, Li Yue melihat sebuah pondok tua, kemudian bersembunyi di sana.
Bunyi bising dari langkah kaki para penjaga, membuat Li Yue langsung bangkit dan keluar dari pintu belakang pondok tua.
"Dia pasti tidak jauh disini, cepat berpencar temukan dan bawa dia hidup atau mati," perintah ketua Penjaga.
Mendengar banyaknya suara langkah kaki, Li Yue yakin dia tidak bisa menghadapi semuanya.
"Periksa pondok tua itu!"
Derap langkah kaki yang mendekat membuat Li Yue otomatis berjalan mundur tak menyadari ada sebuah sumur tua yang tertutupi oleh semak belukar di belakangnya.
Li Yue yang tidak sengaja menginjak sebuah batu kecil yang licin membuat dia terjengkang ke belakang dan masuk ke sumur tua.
Li Yue hanya bisa mendengar suara bising mendekat ke arah dia terjatuh, kemudian kegelapan menyergapnya.
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt
Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.
Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny
_o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di
Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.







