LOGIN_o0o_
"Apa kau masih menyimpan daun yang kupinta, Ye Lin?"
"Daun yang kau gunakan untuk mengobati lukamu?" tanya Ye Lin memastikan.
"Iya."
"Tentu, aku menyimpannya di dalam kotak bening yang ada di tasmu."
Setelah mendengar jawaban Ye Lin, Li Yue langsung membuka tasnya, guna mencari daun untuk salep lukanya.
"Ye Lin bisa kau tumbukkan aku daun ini lagi?"
"Tentu."
"Kau masih ingat dengan apa yang harus dicampurkan ke dalamnya kan?"
"Iya, aku tentu mengingatnya, dicampurkan dengan ini kan?" Ye Lin mengangkat salah satu toples kecil yang isinya adalah dedaunan kering yang menjadi campuran obat Li Yue.
"Kau benar."
"Baiklah, kau duduk saja, aku akan menumbuknya untukmu."
Li Yue memperhatikan Ye Lin yang sedang asyik dengan kegiatan menumbuknya. Sebentar lagi, ya, lebih tepatnya dua hari lagi dia akan sampai ke tempat di mana Zhang Li Yue hidup dengan kemalangan. Tapi tidak lagi, wanita yang diberi julukan Permaisuri Zhang itu sudah tenang di alam sana, lebih tepatnya akan tenang saat dia berhasil membalaskan dendam atas kematian Zhang Li Yue dengan adiknya.
Tok tok tok
Suara ketukan menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
"Biar aku saja yang keluar, kau lebih baik mulai mengobati lukamu, tumbukannya sudah selesai," ucap Ye Lin lalu keluar.
"Makanan?" tanya Li Yue setelah melihat Ye Lin yang kembali dengan sepiring makanan yang cukup untuk dua orang, beserta teko kecil lengkap dengan gelasnya sebagai tempat minum.
"Iya, yang tadi mengetuk adalah pelayan Tuan Dong Lan. Tuan Dong Lan memerintahkannya untuk membawakan kita makanan dan minuman."
"Tuan Dong Lan sangat baik."
"Ya, kau benar, Li Yue. Jarang sekali ada bangsawan yang baik hati seperti tuan Dong Lan," puji Ye Lin tulus.
"Kau mau makan atau mengobati lukamu dulu?" tanya Ye Lin yang melihat Li Yue belum mengoleskan salep buatannya.
"Aku mau mengobati lukaku dulu. Bisakah kau membantu mengangkat lengan baju ini?"
"Tentu." Ye Lin menggulung lengan hanfu Li Yue secara perlahan takut jika mengenai lukanya.
Li Yue mulai membuka lipatan kain yang dijadikannya perban untuk menutup lukanya, membersihkan luka dari sisa salep yang sebelumnya dia gunakan, lalu berlanjut dengan mengoleskan salep yang baru saja selesai ditumbuk oleh Ye Lin. Setelah rata, Li Yue menyobek sedikit kain yang digunakannya untuk membungkus tasnya, yang dijadikannya perban baru untuk lukanya.
"Selesai, mari makan, Li Yue," ucap Ye Lin, girang yang dibalas dengan anggukan kepala lagi oleh Li Yue.
_o0o_
Roda kereta yang mereka tumpangi semakin pelan sampai berhenti di depan gerbang masuk kota, ada banyak prajurit yang berjaga disini, mereka bertugas menjaga dan juga mengatur para warga yang ingin keluar ataupun masuk ke dalam kota.
"Mari kita pergi ke Tuan Dong Lan terlebih dahulu, Li Yue." Ajakan Ye Lin kepada Li Yue saat mereka sudah keluar dari kereta.
Li Yue menoleh dan mengangguk, mengiyakan ajakan Ye Lin.
Mereka berjalan mendekati rombongan Tuan Dong Lan. Di sana ada Dong Ju dan beberapa pelayan, juga para pria yang nantinya akan bertugas mengangkut barang.
"Tuan Dong Lan," ucap Li Yue memanggil tuan Dong Lan.
"Ya nona Yuan?"
"Saya ingin mengucapkan terima kasih, atas kebaikan Anda yang sudah memberi kami tumpangan dan juga makanan."
"Anda tidak perlu sungkan Nona, Saya ikhlas membantu Anda."
"Baiklah Tuan Dong Lan, Saya juga ingin pamit pergi."
"Anda ingin pergi? Secepat ini?" sahut Dong Ju cepat.
"Iya Tuan. Saya takut jika terlalu lama, ayah saya akan khawatir," dusta Li Yue.
"Oh, kalau begitu biar saya menemani anda Nona Yuan," tawar Dong Ju, dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan.
"Tidak usah tuan Dong Ju, Saya tidak ingin merepotkan lagi."
"Tidak Nona Yuan, benar kata Dong Ju. Biarkan dia menemani kalian, tidak baik jika hanya kalian berdua yang pergi. Bagaimana jika nanti ada orang yang berniat jahat pada kalian," ujar Tuan Dong Lan panjang lebar.
"Tapi-"
"Saya tidak keberatan, Nona," sela Dong Ju, kukuh ingin mengantar Li Yue.
"Sebaiknya diterima saja, Li Yue. daripada nanti semuanya curiga," bisik Ye Lin tepat ditelinga Li Yue agar hanya dia yang mendengarnya.
Setelah mendengar saran dari Ye Lin, akhirnya Li Yue setuju untuk ditemani oleh Dong Ju.
"Baiklah."
"Kalau begitu mari, Nona," sahut Dong Ju penuh semangat.
Sepanjang perjalanan, Dong Ju tidak ada hentinya berbicara, mulai dari cerita saat dia pertama kali bepergian bersama sang ayah sampai dengan kejadian lucu Dong Ju bersama adiknya yang hanya dibalas dengan gumaman oleh Li Yue.
Ye Lin yang melihat semua itu hanya bisa menahan tawa, ketika melihat wajah tuannya yang sudah jengah mendengar semua cerita dari Dong Ju.
"Dan kau tahu siapa yang memenangkannya?" Li Yue menggeleng setengah hati.
"Tentu saja aku, karena tidak mungkin adikku menghabiskan sebakul mantou, sementara badannya saja sekecil jari kelingkingku," cerita Dong Ju panjang. Sekarang dia sudah tidak sungkan lagi kepada Li Yue.
"Oh,"
"Di mana rumah Anda, Nona Yuan?" Pertanyaan Dong Ju sontak membuat Li Yue dan Ye Lin berhenti melangkah. Tak mungkin mereka berkata jujur bahwa mereka akan ke istana.
"Sampai disini saja. Tuan bisa mengantar kami sampai di sini saja," ucap Li Yue cepat ditambah dengan anggukan kepala dari Ye Lin.
"Bagaimana bisa aku mengantarmu sampai di sini, Nona Yuan," sahut Dong Ju sambil mengernyit.
"Tentu bisa, karena saya ada keperluan yang harus dikerjakan. Selamat tinggal, Tuan," ujar Li Yue, lalu berlari pergi sambil menyeret Ye Lin agar mengikutinya.
_o0o_
Li Yue dan Ye Lin berhenti berlari dengan napas terengah-engah. Li Yue menoleh ke belakang melihat ke sekeliling, berharap Dong Ju tidak mengikutinya.
"Sudah aman." Li Yue menghembuskan napas lega, karena ternyata Dong Ju tidak mengikuti.
"Sekarang kita akan ke mana, Ye Lin?"
"Tentu saja harus ke istana," jawab Ye Lin bingung mengapa tuannya ini memberinya pertanyaan yang tidak masuk akal?
"Ah iya, aku lupa." Ucapan Li Yue membuat Ye Lin semakin bingung. Mengapa tuannya bersikap seperti ini? Ye Lin tak ingin jika nanti semakin bingung, lebih baik sekarang dia mencari kereta yang bisa ditumpangi untuk mengantarnya dan juga Li Yue ke istana.
"Aku pergi mencari kereta dulu, kau tunggu di sini, dan ingatlah untuk menutup wajahmu, aku takut nanti ada orang suruhan Selir Utama Xi yang mengenalimu."
"Baiklah."
Li Yue menatap Ye Lin yang mulai melangkah jauh. Selama ini tidak ada orang yang pernah mengkhawatirkannya setelah ayah angkatnya meninggal.
Tapi Ye Lin, Li Yue baru saja mengenalnya, mendapatkan perhatiannya membuat Li Yue terharu, walau dia tahu bahwa perhatian itu bukanlah tertuju untuknya, tapi untuk Zhang Li Yue.
Lama Li Yue melamun, sampai tidak sadar bahwa Ye Lin sudah kembali.
"Li Yue," ucap Ye Lin setengah teriak. "Dari tadi aku memanggilmu, aku sudah menemukan keretanya."
"Ah, iya." Li Yue bangkit dan mulai berjalan mengikuti Ye Lin.
_o0o_
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt
Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.
Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny
_o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di
Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.







