LOGIN_o0o_
Di kediaman Ibu Suri Kekaisaran Feng, kedua prajurit penjaga pintu kamar menghentikan seorang pelayan yang berlari tergesa menuju kamar Ibu Suri.
![]()
_o0o_Saat ini, Istana Kekaisaran Feng berada dalam kondisi ricuh. Penyerangan tiba-tiba yang terjadi di kediaman Selir Tang dan dilakukan oleh sekelompok orang membuat para penghuni Istana kalang kabut.Terlebih, penyerangan itu membuat Selir Tang yang merupakan Putri Pertama Menteri Tang menghilang karena diculik oleh penyerang. Tak hanya itu saja, prajurit penjaga serta pelayan yang ada banyak tak sadarkan diri, bahkan sampai ada yang meregang nyawa dengan keadaan yang mengenaskan."Para prajurit sudah berjaga di semua pintu keluar.
_o0o_Di kediaman Ibu Suri Kekaisaran Feng, kedua prajurit penjaga pintu kamar menghentikan seorang pelayan yang berlari tergesa menuju kamar Ibu Suri."Kau tidak boleh masuk ke kamar Ibu Suri sembarangan," ujar salah satu prajurit penjaga itu."Saya harus masuk. Terjadi serangan di kediaman Selir Tang, Selir Tang diculik. Prajurit mengatakan bahwa penyerang itu masih berada di istana dan saat ini Putri Lu Si tidak ada di kediamannya, Putri Lu Si menghilang.""Apa?!" seru Ibu Suri Kekaisaran Feng. "Apa maksudmu tadi ha
"Kalian tidak mengajakku?" Feng Wu Lan berdiri menatap ketiga orang yang sedang asyik menikmati manisan buah di kamarnya."Kakak sudah datang.""Kakak Feng lama sekali."Baru datang dan ia sudah mendapat teguran dari adik-adiknya."Aku hanya memanggil Permaisuri. Kenapa kalian juga datang?" Feng Wu Lan mengambil manisan buah di tangan Lu Si dan langsung memakannya."Kakak!" seru Lu Si, tak terima manisannya diambil."Kakak ipar memanggil kami," ujar Huang Ji."Kakak ipar hanya memanggilku jika kau lupa," ucap Lu Si, mengambil manisan, lalu melotot saat melihat tangan kakak Feng-nya ingin mengambil m
_o0o_"Pijat lebih kuat! Kau ini lemas sekali," gerutu Fei Ning pada pelayan yang memijat kakinya.Saat ini, Putri dari Menteri Tang itu tengah menikmati pijatan kaki dari dua pelayannya, ditemani teh hijau serta beberapa camilan yang dikirimkan sang ayah. Fei Ning sangat menikmati malamnya."Aku harus mengunjungi Yang Mulia besok pagi agar Yang Mulia bisa melihat bekas tamparan ini. Saat melihatnya, Yang Mulia pasti langsung iba padaku," gumam Fei Ning sembari melihat wajahnya di kaca kecil yang ia genggam.
_o0o_"Makan!" Huang Ji memberikan sekotak manisan buah kepada adiknya."Ini apa?" Lu Si mengamati kotak itu; tidak tahu apa isinya."Kau bodoh ya? Kalau ingin tahu isinya, kau tinggal membuka kotaknya."Bibir Lu Si mencebik. Tidak bisa apa kakaknya ini tidak mengejeknya sehari? "Aku malas membukanya!" Lu Si mengembalikan kotak kayu itu pada kakaknya dengan kasar."Kau ini, apa kau tidak bisa menghargaiku? Aku ini kakakmu!" Huang Ji kesal. Ia sudah susah payah mencari manisan bu
_o0o_Waktu berlalu dengan cepat. Kini, matahari sudah hampir terbenam, dan Xia Yu serta saudarinya, Xia Yi, sudah ada di tempat Xing He. Tentunya, mereka ke sini lewat jalan rahasia yang sudah dirancang oleh Li Yue. Putra dari mantan Perdana Menteri Huo itu, Huo Li, diam-diam memiliki bakat yang menakjubkan, yaitu bisa menemukan serta merancang jalan rahasia."Ini pertama kalinya aku masuk ke istana," ujar Xia Yu, takjub.Xia Yi mengangguk menyetujui perkataannya karena Xia Yi pun sama, sama-sama menginjakkan kaki pertama kali ke sini.







