Share

Bab 447

Author: Darrel Gilvano
Siapa sih yang sebodoh itu, menghabiskan 2 miliar hanya untuk pesan printer?

"Bukan printer." Yaniel menjelaskan, "Ini alat yang bisa meniru tulisan tangan manusia, hasilnya sama persis. Yang beginian butuh teknologi juga."

Begitu mendengar penjelasan Yaniel, ekspresi beberapa orang langsung berubah. Jimmy segera memberi isyarat dengan mata agar Yaniel berhenti berbicara.

Yahya berdiri dengan napas berat, wajahnya pucat karena marah. "Wanita bermarga Sucipto yang menyuruh kalian membuat robot it
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 450

    Di rumah Zisel, Jimmy baru saja selesai memeriksa kondisi Yahya, ketika tiba-tiba menerima telepon dari Laura.Begitu mendengar penjelasan Laura, ekspresi Jimmy langsung berubah drastis."Ada apa?" Zisel melihat ekspresinya yang tidak beres dan segera bertanya dengan cemas."Ikut aku! Bibimu terluka!" jawab Jimmy dengan singkat, lalu menarik Zisel dan berlari keluar.Baru setelah mereka pergi dengan mobil, Marcus dan istrinya serta Yahya sadar, lalu segera menyusul menuju rumah Laura.Jarak kedua rumah tidak jauh. Hanya dalam beberapa menit, Jimmy dan Zisel sudah lebih dulu sampai.Melihat Ervina tergeletak dalam genangan darah, Zisel langsung menutup mulutnya."Jimmy, tolong selamatkan ibuku! Tolong ... selamatkan ibuku!" Begitu melihat Jimmy, Laura langsung menangis histeris, memohon tanpa arah."Aku cek dulu!" Situasi mendesak. Jimmy tidak sempat menanyakan apa yang terjadi, langsung maju memeriksa kondisi Ervina.Setelah pemeriksaan singkat, ekspresi Jimmy menjadi serius. Dia seger

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 449

    Jimmy memang harus pergi memeriksa kondisi Yahya. Orang tua itu malam ini benar-benar marah besar, jangan sampai terjadi apa-apa.Setelah mengantar mereka pergi, pandangan Andra kembali tertuju pada putrinya. Dengan penuh kekecewaan, dia menghela napas panjang. "Laura, aku nggak jadi cerai dengan ibumu. Kamu urus dirimu sendiri dengan baik."Tidak ada bentakan, bahkan tidak ada satu kata keras pun. Bukan berarti Andra tidak marah, bukan berarti dia tidak ingin meluapkan emosi. Namun, dia juga sadar apa yang dilakukan putrinya tidak lepas dari rencananya untuk bercerai.Anaknya salah. Sebagai ayah, dia juga salah. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah membatalkan niat cerai. Dia berharap Laura tidak lagi tertekan oleh hal ini dan bisa benar-benar mengintrospeksi diri. Soal apakah Yahya akan memaafkannya, itu tergantung Laura sendiri.Setelah berkata demikian, Andra keluar dengan hati yang berat. Entah sejak kapan, dia mulai merasa enggan berada di rumah ini.Laura masih berlutut di sa

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 448

    Tamparan itu langsung membuat Laura terpaku. Andra dan Ervina juga terdiam.Sejak kecil, Laura sangat disayangi oleh Yahya. Sebelum ada masalah dengan Jimmy, Yahya bahkan tidak pernah berkata keras padanya. Hari ini, dia malah langsung menamparnya?Bahkan saat mengetahui perbuatan Laura yang tidak tahu balas budi, Yahya pun tidak pernah main tangan dengannya!Laura memegang pipinya dengan ekspresi kosong, menatap Yahya dengan bingung. "Kenapa?" Suara wanita itu bergetar, merasa sangat terzalimi."Kenapa? Kamu masih berani tanya kenapa?" Yahya benar-benar marah. Dia membentak, "Kamu pikir nggak ada yang tahu apa yang kamu lakukan?""Aku ... aku melakukan apa?" Laura menangis."Masih mau menyembunyikannya dariku?" Yahya semakin murka dan kembali mengangkat tangan hendak memukul.Jimmy sigap, segera menahan tangan Yahya."Ayah? Sebenarnya ada apa ini?" Andra panik. "Laura melakukan apa sampai membuatmu semarah ini?""Baiklah, aku beri tahu kalian apa yang dia lakukan!" Yahya gemetar karen

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 447

    Siapa sih yang sebodoh itu, menghabiskan 2 miliar hanya untuk pesan printer?"Bukan printer." Yaniel menjelaskan, "Ini alat yang bisa meniru tulisan tangan manusia, hasilnya sama persis. Yang beginian butuh teknologi juga."Begitu mendengar penjelasan Yaniel, ekspresi beberapa orang langsung berubah. Jimmy segera memberi isyarat dengan mata agar Yaniel berhenti berbicara.Yahya berdiri dengan napas berat, wajahnya pucat karena marah. "Wanita bermarga Sucipto yang menyuruh kalian membuat robot itu ... jangan-jangan namanya Laura?""Eh, kalian saling kenal?" Yaniel terkejut.Selesai sudah! Ternyata benar Laura!Jimmy hanya bisa tersenyum pahit dalam hati. Memang ada saja kebetulan seperti ini di dunia!"Kita pulang!" Yahya menggertakkan gigi dan berkata dengan marah, lalu langsung berjalan ke luar."Ini ... ini sebenarnya ada apa sih?" Zisel tersenyum pahit, lalu buru-buru menyusul.Melihat mereka pergi tanpa pamit, Yaniel dan Cheryl langsung panik."Ini bukan urusan kalian, lanjut makan

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 446

    Zisel tidak memahami maksud Jimmy, tetapi Yahya memahaminya dengan jelas.Dalam hati, Yahya terus merasa kagum pada kelapangan hati Jimmy. Laura dan ibunya sudah melakukan begitu banyak hal yang tidak tahu balas budi, tetapi Jimmy sama sekali tidak mempermasalahkannya.Kalau itu dirinya, jelas tidak akan bisa melupakan begitu saja. Mungkin, ini yang disebut perbedaan tingkatan. Atau mungkin juga, mereka memang belum pantas membuat Jimmy repot-repot memikirkan mereka.Meskipun begitu, Yahya tetap menyetujuinya.Jimmy sudah begitu memikirkan dirinya dan menghargainya. Kalau dia masih tidak menerima, itu benar-benar tidak pantas.Setelah Yahya setuju, Zisel pun kembali untuk menjemputnya. Sementara itu, Jimmy langsung membawa mereka berdua ke Resor Scene.Begitu Jimmy tiba, para karyawan langsung berlari menghampiri, memastikan dia baik-baik saja. Setelah itu, barulah mereka kembali bekerja.Lumayan. Masih punya hati nurani. Masih peduli pada bos mereka. Berarti uang yang dikeluarkan tida

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 445

    Jimmy menoleh, ternyata itu Yaniel dan Cheryl. Begitu melihat Jimmy, mereka berdua langsung berlari kecil mendekat."Kak Jimmy, ternyata benar-benar kamu!" Yaniel berkata dengan gembira, "Tadi Cheryl bilang punggung ini mirip kamu, aku masih ragu, ternyata memang benar kamu!"Jimmy tersenyum dan mengangguk, lalu bertanya, "Kalian ini ... jangan-jangan setelah dapat uang, langsung datang ke sini buat upgrade perlengkapan?""Bukan, bukan!" Yaniel buru-buru menggeleng. "Kami datang beli beberapa komponen, buat robot.""Robot?" Jimmy terkejut. "Kamu bisa bikin robot juga?"Datang ke sini buat beli komponen robot?Yaniel langsung menyadari bahwa Jimmy salah paham, lalu buru-buru menjelaskan. Robot yang dia maksud bukan seperti yang dibayangkan Jimmy, seperti Transformer. Yang dia buat itu robot kecil, bahkan tidak berbentuk manusia.Lebih ke mesin kecil yang cerdas. Digunakan untuk menggantikan pekerjaan manusia. Hanya saja, di kalangan mereka, semua hal seperti itu memang disebut robot.Se

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 182

    Setelah menutup telepon dari pihak kepolisian, mereka sekeluarga bergegas menuju kantor kepolisian kota. Bahkan kalau polisi tidak menelepon, mereka pasti juga akan melapor.Sesampainya di sana, baru mereka sadar bukan hanya mereka yang datang, Melisa dan yang lain juga ada di sana. Orang-orang dari

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 176

    Keesokan pagi, saat Jimmy sedang memeriksa potensi bahaya keamanan di perusahaan, Cahyo menelepon. Ada orang lagi yang datang ke perusahaan mencarinya.Jimmy pergi ke ruang keamanan, baru sadar bahwa yang datang mencarinya ternyata adalah Ramos, sopir Andra."Paman Ramos, kok bisa ke sini?" tanya Ji

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 155

    Rubah Perak menahan ekspresinya, lalu berkata dengan nada serius, "Aku baru saja menerima kabar. Keluarga Tanoewan akan melakukan gerakan besar. Sepertinya mereka bersiap menyerang Keluarga Kusuma, bahkan ingin menyingkirkan Keluarga Kusuma dari Bataram!""Keluarga Kusuma? Keluarga Kusuma yang mana?

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 151

    Zisel juga tidak ingin diperlakukan seperti hewan tontonan. Dia segera membayar, lalu buru-buru membawa Jimmy pergi.Di perjalanan pulang, saat teringat kejadian malam ini, Zisel tak kuasa menghentikan mobil. Dia menunduk, bersandar di setir, lalu tertawa terbahak-bahak."Apa sih yang kamu tertawaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status