MasukUdara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas. Lima pria berjas hitam dari Sekte Gagak Hitam mengepung dari berbagai sudut, mengunci setiap celah. Pendaran merah dari bilah keris modern di tangan mereka memantul di dinding putih ruangan.
"Kalian siapa? Apa mau kalian?!" geram Sakakala, memposisikan pisau lipatnya di depan dada dan mengambil kuda-kuda.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut pria berjas hitam di tengah. "Serahkan Mata Banaspati, atau kami akan mengulitimu hidup-hidup."
Tanpa peringatan, dua pria di sisi kiri dan kanan menerjang maju secara bersamaan. Gerakan mereka begitu presisi dan cepat, mengayunkan keris mereka membentuk silangan tajam yang mengincar leher dan perut Sakakala.
Berkat dorongan Refleks Tubuh lebih dari 20% yang Sakakala serap sebelumnya, persepsi Sakakala terhadap gerakan musuh terasa sedikit lambat.
Ia membungkukkan badan secara refleks, merasakan desiran angin tajam dari bilah keris yang nyaris menyambar helai rambutnya. Sakakala berguling ke bawah ranjang besi, lalu menendang kaki sebuah kursi hingga menghantam lutut salah satu penyerang.
"Aghh!" Penyerang itu terhuyung mundur. Sakakala memanfaatkan celah itu untuk bangkit dan mengayunkan pisau lipatnya yang telah terlapisi Senjata Racun Mistis.
Bilah beracun hijau pekat itu berhasil menggores lengan sang penyerang. Seketika, cairan hijau itu meresap ke dalam daging.
Pembuluh darah di lengan pria itu membiru, menegang tajam, lalu meluas cepat ke arah lehernya. Pria itu memuntahkan darah hitam sebelum akhirnya roboh tidak berkutik di lantai, racun mistis mematikan itu melumpuhkan sarafnya dalam hitungan detik.
"Sialan! Senjatanya dilapisi racun rawa iblis!" seru penyerang lain dengan kedua mata yang membelalak sempurna. "Jangan beri dia ruang. Gunakan Formasi Kurung!"
Tiga penyerang tersisa segera melompat ke atas ranjang dan lemari, melilitkan rantai gaib berwarna hitam yang muncul dari balik jas mereka.
Sakakala terdesak ke sudut ruangan dekat jendela kaca besar. Udara makin menyesakkan, aura dingin dari keris-keris itu mulai mengikis staminanya.
'Hanya tiga orang lagi, tapi tenagaku mulai habis,' batin Sakakala.
Napasnya memburu naik turun, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Jika aku terus bertarung dengan jarak dekat, aku pasti bisa tertangkap. Aku harus bisa memanfaatkan Mata Banaspati!"
Sakakala memfokuskan pandangan mata kirinya. Retakan garis-garis merah gaib kembali merebak di sekeliling penglihatannya.
Melalui Mata Banaspati, ia melihat bahwa tiga orang ini terhubung oleh satu garis energi gaib tipis yang memusat pada pria pemimpin berjas hitam di tengah, pria yang memegang keris paling bersinar.
'Pria itu pusat formasinya!' batin Sakakala menyadari titik lemah musuh.
"Mati kau, Bocah!" pemimpin Gagak Hitam menerjang dari depan, mengayunkan kerisnya dan mengincar jantung Sakakala, sementara dua anak buahnya melempar rantai gaib untuk mengunci kedua tangan Sakakala.
Rantai gaib berhasil melilit lengan kanan Sakakala, menarik pisaunya hingga terlepas dan jatuh ke lantai.
Pemimpin Gagak Hitam tersenyum licik, menyadari Sakakala kini tidak bersenjata. Bilah keris merahnya tinggal beberapa senti lagi merobek dada Sakakala.
"Aku tidak butuh senjata untuk menghancurkanmu!" teriak Sakakala.
Bukannya menghindar, Sakakala justru maju menyongsong bahaya. Tangan kirinya yang lepas bebas langsung mencengkeram pergelangan tangan sang pemimpin.
Sementara mata kiri Sakakala berkedip memancarkan pendar merah menyala yang dahsyat.
WUSH!
Gumpalan api merah Banaspati meledak kecil dari bola mata kiri Sakakala, merambat cepat menyusuri lengan sang pemimpin. Api itu tidak membakar kain jas, melainkan langsung memanggang jiwa dan energi gaib di dalam tubuh pria tersebut.
"AAARGHH! MATAKU... JIWAKU TERBAKAR!" teriak lantang pemimpin Gagak Hitam. Keris di tangannya terlepas, hancur menjadi abu saat energi gaibnya terputus secara paksa.
Karena pusat formasi hancur, dua penyerang lain yang memegang rantai gaib terkena dampak backlash energi gaib. Mereka terpental keras menghantam dinding hingga pingsan dengan mulut berbusa.
Pemimpin Gagak Hitam berlutut di depan Sakakala, gemetar hebat saat mata kiri Banaspati mulai menyerap sisa-sisa energi kutukan dari tubuhnya.
[ Kutukan Gagak Hitam Terserap. Peningkatan Karakteristik: Ketahanan Fisik lebih dari 15%. Aura Takut (Passive) Unlocked ]
Pria itu terkulai lemas di lantai, tidak berdaya. Sakakala menyapu pandangan ke sekeliling ruangan, empat penyerang tumbang dengan kondisi yang mengenaskan, sementara satu lagi masih tergeletak pingsan di dekat pintu.
Napas Sakakala terengah-engah. Rasa panas di mata kirinya perlahan menyusut, menyisakan denyut hangat yang kini terasa lebih menyatu dengan tubuhnya.
Ia berjalan pelan, memungut pisau lipat kakeknya yang tergeletak di lantai, lalu mengelap sisa darah di kain jas musuh sebelum melipatnya kembali.
Namun, belum sempat Sakakala menarik napas lega, bunyi sirine ambulans dan mobil polisi terdengar memecah keheningan dari luar gedung rumah sakit.
Lampu-lampu darurat di koridor tiba-tiba menyala merah, disertai suara pengumuman dari pengeras suara gedung yang bergema panik.
Dari balik kegelapan koridor luar yang sepi, terdengar suara langkah sepatu high heel yang tenang dan berirama tajam. Berjalan mendekati kamar rawat Sakakala.
Suara itu terasa teratur, namun memancarkan intimidasi yang jauh lebih pekat daripada lima pria berjas hitam tadi.
Sakakala memegang gagang pisaunya dengan erat, memasang kuda-kuda bertarung sambil menatap lurus ke arah pintu yang terbuka lebar.
Seorang wanita bergaun hitam elegan dengan payung kertas bernuansa kuno berdiri di ambang pintu. Separuh wajah cantiknya tertutup cadar tipis, tetapi mata kanannya yang berwarna perak berkilau dingin menatap Sakakala.
"Pertunjukan yang mengesankan untuk seorang wadah mentah," ucap wanita itu dengan suara merdu namun sedingin es. Ia melangkah masuk tanpa mempedulikan mayat-mayat di lantai. "Ikut denganku sekarang, Sakakala, sebelum sekte utama meratakan rumah sakit ini menjadi tanah."
Rian terhuyung mundur, napasnya tersengal-sengal dengan seringai licik yang masih melekat di bibirnya. Ia mendongak, mengira jika entitas yang ia panggil akan tunduk dan melenyapkan Sakakala di hadapannya.Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sakakala mengabaikan rasa nyeri yang membakar dari luka bakar di tangan kanannya. Mata kirinya menyala merah Banaspati. Dalam sepersekian detik, ia mampu membaca titik simpul energi pada dada siluet raksasa tersebut.Dengan satu lompatan kilat, Sakakala menerjang maju, mengarahkan pisau ber-rajah tepat ke jantung sang entitas gaib.Ledakan energi spiritual berbalik menghantam ruangan. Siluet raksasa itu menjerit sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi debu hitam yang mengepul di udara.Gelombang kejut dari hancurnya entitas tersebut menyapu seluruh ruangan. Rian, yang berdiri paling dekat dengan pusat ledakan, terpental dengan keras menghantam tumpukan konsol besi yang runtuh.Brak!Rian terjatu
"Aku tidak akan melaporkanmu, tapi aku ingin melihat seberapa lama kau bisa hidup dalam ketakutan."Kalimat itu menusuk jauh lebih tajam daripada sebilah pisau komando. Selama bertahun-tahun, Rian membangun reputasinya di Biro Pengawas Gaib dengan kerja keras, intrik, kedisiplinan, dan kepatuhan pada para petinggi. Ia merasa berhak atas posisi, kehormatan, dan sanjungan. Namun, semua itu hancur seketika di tangan Sakakala. Seorang pemuda desa yang datang entah dari mana dan tiba-tiba merampas segalanya.Rian melangkah ke sudut ruangan, membuka laci paling bawah yang terkunci rapat. Dengan jemari yang gemetar, ia meraba-raba bagian dalam laci hingga menyentuh sebuah benda berbalut kain hitam. Kemudian ia menarik benda itu keluar.Itu adalah sebuah jimat tua berbentuk koin logam kehitaman dengan ukiran aksara kuno yang tidak dikenal oleh standar operasional biro. Sebuah artefak terlarang yang ia peroleh secara diam-diam dari informan jaringan bawah tanah beberapa bulan lalu. Konon
Mentari merayap pelan menembus kabut tipis di atas gedung utama Biro Pengawas Gaib. Di dalam ruang kerjanya yang berbau tembakau dan tumpukan kertas arsip kuno, Komandan Sektor Pusat mengetukkan jari-jarinya di atas meja kayu jati dengan irama yang monoton. Di hadapannya, Sakakala berdiri tegak dalam balutan seragam. Tidak ada upacara penyambutan, tidak ada medali kehormatan yang disematkan di dada. Di mata birokrasi BPG, misi Ciremai hanyalah sebuah insiden pemulihan segel standar yang hampir berujung pada bencana korban jiwa."Laporanmu terlalu ringkas, Sakakala?" suara sang komandan memecah keheningan, matanya menatap tajam lewat kacamata berbingkai kawat. "Hanya menyebutkan kegagalan modul penstabil akibat anomali alam, tanpa ada catatan khusus mengenai kerusakan jaringan luar. Kau yakin tidak ada hal lain yang perlu dicatatkan di sini?"Sakakala menatap ke depan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tangan kanannya yang dibalut perban tipis, rasa panas yang sesekali masih berdenyut d
Gema sepatu milik Sakakala yang menapak di lantai pualam koridor markas Sektor Khusus terdengar berat dan menghanyutkan keheningan dini hari. Tidak ada senyum di wajahnya, tidak ada sapaan bagi agen piket yang berlalu-lalang.Yang tertinggal hanya sisa debu vulkanik Ciremai di pundaknya dan pendar merah terang yang berdenyut tajam di balik kelopak mata kirinya.Ia tidak langsung menuju ruang komandan untuk menyerahkan laporan resmi. Tujuannya satu: Ruang Arsip dan Logistik Utama, tempat di mana para pengecut menyembunyikan kebusukan mereka di balik tumpukan formulir.Pintu kayu ruang arsip itu tidak terkunci. Dari celah pintu yang terbuka selebar beberapa senti, cahaya lampu meja kuning temaram memantulkan bayangan seseorang yang sedang mengetik dengan cepat di atas mesin ketik mekanik.Sakakala mendorong pintu tersebut tanpa suara.Di dalam ruangan yang berbau tinta cetak itu, Rian terperanjat dari kursinya. Lembaran-lembaran kertas laporan palsu yang sedang ia susun berhamburan jatu
"Bertahan! Jangan biarkan formasi pecah!" teriak Sakakala lantang, suaranya hampir tenggelam di bawah deru angin dan raungan makhluk tidak kasat mata yang memenuhi udara.Di tengah kekacauan itu, bayangan siluet Nyi Kirana melesat cepat di atas kepala mereka, mengibaskan payung peraknya untuk menangkis terjangan cakar banaspati liar yang menyambar dari kabut. Namun, tekanan dari dalam Segel Kedelapan terlampau kuat. Retakan demi retakan bercahaya merah di atas permukaan batu altar semakin melebar, mengeluarkan bau belerang yang menyesakkan dada."Agen Sakakala, Pasak penstabil energi! Cepat pasang sebelum retakannya menyebar ke seluruh kawah!" seru salah satu agen lini depan sambil memberondongkan tembakan peluru ber-rajah ke arah bayangan hitam yang merayap turun.Sakakala bergegas mendekati altar batu pusat segel. Napasnya memburu, peluh dingin bercampur debu vulkanik melumasi wajahnya. Ia merogoh ranselnya, menarik keluar pasak penstabil utama yang dibawanya dari logistik biro.Na
"Ancaman macam apa lagi ini, Senior Rian?" tanya Sakakala tenang. Matanya melirik menatap cengkeraman Rian."Itu bukan ancaman, itu kenyataan!" bentak Rian, suaranya pecah oleh amarah yang tidak tertahankan. Ia merogoh saku jaketnya, menarik keluar sebuah pisau komando kecil berlapis rajah usang, lalu melemparkannya ke atas meja tepat di depan Sakakala. "Kakekmu dulu mungkin berhasil turun dari Ciremai dengan selamat, tapi dia meninggalkan trauma yang membuat mental para agen biro ini hancur. Dan kau...." Rian menunjuk wajah Sakakala dengan jari telunjuknya. "Kau hanyalah domba bodoh yang digiring ke tempat pembantaian untuk menebus dosa para leluhurmu!"Sakakala melirik sekilas pisau komando yang tergeletak di hadapannya, lalu kembali menatap Rian dengan tatapan yang justru membuat sang senior merasa tegang."Terima kasih atas perhatiannya pada silsilah keluargaku, Senior," ujar Sakakala datar, suaranya terdengar begitu tenang. "Tapi jika urusanmu sudah s







