LOGINRian terhuyung mundur, napasnya tersengal-sengal dengan seringai licik yang masih melekat di bibirnya. Ia mendongak, mengira jika entitas yang ia panggil akan tunduk dan melenyapkan Sakakala di hadapannya.Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sakakala mengabaikan rasa nyeri yang membakar dari luka bakar di tangan kanannya. Mata kirinya menyala merah Banaspati. Dalam sepersekian detik, ia mampu membaca titik simpul energi pada dada siluet raksasa tersebut.Dengan satu lompatan kilat, Sakakala menerjang maju, mengarahkan pisau ber-rajah tepat ke jantung sang entitas gaib.Ledakan energi spiritual berbalik menghantam ruangan. Siluet raksasa itu menjerit sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi debu hitam yang mengepul di udara.Gelombang kejut dari hancurnya entitas tersebut menyapu seluruh ruangan. Rian, yang berdiri paling dekat dengan pusat ledakan, terpental dengan keras menghantam tumpukan konsol besi yang runtuh.Brak!Rian terjatu
"Aku tidak akan melaporkanmu, tapi aku ingin melihat seberapa lama kau bisa hidup dalam ketakutan."Kalimat itu menusuk jauh lebih tajam daripada sebilah pisau komando. Selama bertahun-tahun, Rian membangun reputasinya di Biro Pengawas Gaib dengan kerja keras, intrik, kedisiplinan, dan kepatuhan pada para petinggi. Ia merasa berhak atas posisi, kehormatan, dan sanjungan. Namun, semua itu hancur seketika di tangan Sakakala. Seorang pemuda desa yang datang entah dari mana dan tiba-tiba merampas segalanya.Rian melangkah ke sudut ruangan, membuka laci paling bawah yang terkunci rapat. Dengan jemari yang gemetar, ia meraba-raba bagian dalam laci hingga menyentuh sebuah benda berbalut kain hitam. Kemudian ia menarik benda itu keluar.Itu adalah sebuah jimat tua berbentuk koin logam kehitaman dengan ukiran aksara kuno yang tidak dikenal oleh standar operasional biro. Sebuah artefak terlarang yang ia peroleh secara diam-diam dari informan jaringan bawah tanah beberapa bulan lalu. Konon
Mentari merayap pelan menembus kabut tipis di atas gedung utama Biro Pengawas Gaib. Di dalam ruang kerjanya yang berbau tembakau dan tumpukan kertas arsip kuno, Komandan Sektor Pusat mengetukkan jari-jarinya di atas meja kayu jati dengan irama yang monoton. Di hadapannya, Sakakala berdiri tegak dalam balutan seragam. Tidak ada upacara penyambutan, tidak ada medali kehormatan yang disematkan di dada. Di mata birokrasi BPG, misi Ciremai hanyalah sebuah insiden pemulihan segel standar yang hampir berujung pada bencana korban jiwa."Laporanmu terlalu ringkas, Sakakala?" suara sang komandan memecah keheningan, matanya menatap tajam lewat kacamata berbingkai kawat. "Hanya menyebutkan kegagalan modul penstabil akibat anomali alam, tanpa ada catatan khusus mengenai kerusakan jaringan luar. Kau yakin tidak ada hal lain yang perlu dicatatkan di sini?"Sakakala menatap ke depan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tangan kanannya yang dibalut perban tipis, rasa panas yang sesekali masih berdenyut d
Gema sepatu milik Sakakala yang menapak di lantai pualam koridor markas Sektor Khusus terdengar berat dan menghanyutkan keheningan dini hari. Tidak ada senyum di wajahnya, tidak ada sapaan bagi agen piket yang berlalu-lalang.Yang tertinggal hanya sisa debu vulkanik Ciremai di pundaknya dan pendar merah terang yang berdenyut tajam di balik kelopak mata kirinya.Ia tidak langsung menuju ruang komandan untuk menyerahkan laporan resmi. Tujuannya satu: Ruang Arsip dan Logistik Utama, tempat di mana para pengecut menyembunyikan kebusukan mereka di balik tumpukan formulir.Pintu kayu ruang arsip itu tidak terkunci. Dari celah pintu yang terbuka selebar beberapa senti, cahaya lampu meja kuning temaram memantulkan bayangan seseorang yang sedang mengetik dengan cepat di atas mesin ketik mekanik.Sakakala mendorong pintu tersebut tanpa suara.Di dalam ruangan yang berbau tinta cetak itu, Rian terperanjat dari kursinya. Lembaran-lembaran kertas laporan palsu yang sedang ia susun berhamburan jatu
"Bertahan! Jangan biarkan formasi pecah!" teriak Sakakala lantang, suaranya hampir tenggelam di bawah deru angin dan raungan makhluk tidak kasat mata yang memenuhi udara.Di tengah kekacauan itu, bayangan siluet Nyi Kirana melesat cepat di atas kepala mereka, mengibaskan payung peraknya untuk menangkis terjangan cakar banaspati liar yang menyambar dari kabut. Namun, tekanan dari dalam Segel Kedelapan terlampau kuat. Retakan demi retakan bercahaya merah di atas permukaan batu altar semakin melebar, mengeluarkan bau belerang yang menyesakkan dada."Agen Sakakala, Pasak penstabil energi! Cepat pasang sebelum retakannya menyebar ke seluruh kawah!" seru salah satu agen lini depan sambil memberondongkan tembakan peluru ber-rajah ke arah bayangan hitam yang merayap turun.Sakakala bergegas mendekati altar batu pusat segel. Napasnya memburu, peluh dingin bercampur debu vulkanik melumasi wajahnya. Ia merogoh ranselnya, menarik keluar pasak penstabil utama yang dibawanya dari logistik biro.Na
"Ancaman macam apa lagi ini, Senior Rian?" tanya Sakakala tenang. Matanya melirik menatap cengkeraman Rian."Itu bukan ancaman, itu kenyataan!" bentak Rian, suaranya pecah oleh amarah yang tidak tertahankan. Ia merogoh saku jaketnya, menarik keluar sebuah pisau komando kecil berlapis rajah usang, lalu melemparkannya ke atas meja tepat di depan Sakakala. "Kakekmu dulu mungkin berhasil turun dari Ciremai dengan selamat, tapi dia meninggalkan trauma yang membuat mental para agen biro ini hancur. Dan kau...." Rian menunjuk wajah Sakakala dengan jari telunjuknya. "Kau hanyalah domba bodoh yang digiring ke tempat pembantaian untuk menebus dosa para leluhurmu!"Sakakala melirik sekilas pisau komando yang tergeletak di hadapannya, lalu kembali menatap Rian dengan tatapan yang justru membuat sang senior merasa tegang."Terima kasih atas perhatiannya pada silsilah keluargaku, Senior," ujar Sakakala datar, suaranya terdengar begitu tenang. "Tapi jika urusanmu sudah s







