LOGIN
Namanya dipanggil urutan dua belas.
Arka melangkah ke tengah lingkaran batu Awakening dengan kepala tegak. Sekitar dua ratus orang menonton, teman sekelas, keluarga yang ikut, beberapa Wiku senior yang tugasnya mencatat. Di atas kepala semua siswa yang sudah dipanggil sebelumnya, angka-angka mengambang dalam cahaya emas.
3. 4. 2. 3. 4. 5.
Bagas berteriak dari kerumunan. "ARKA GILIRAN MU!"
Beberapa orang tertawa. Arka tidak menoleh.
Dia berdiri di tengah lingkaran. Menarik napas.
Sesuatu bergerak di dalam dadanya, seperti pintu yang selama ini tertutup tiba-tiba terbuka. Hangat. Asing tapi familiar, seperti mengenali sesuatu yang sudah lama ada tapi tidak pernah diperhatikan.
Bayu. Energi yang selama tujuh belas tahun tidur di dalam tubuhnya, akhirnya bangun.
Di atas kepalanya, cahaya mulai terbentuk.
Satu angka.
Arka membuka matanya.
...
Keheningan datang lebih dulu dari angkanya.
Bukan hening yang sopan. Tapi hening yang canggung, tiba-tiba, seperti semua orang di lapangan itu serentak tidak tahu harus bernapas bagaimana.
Di atas kepala Arka, angka 1 mengambang dalam cahaya yang hampir tidak ada.
Redup. Kecil. Seperti lilin yang hampir padam.
Di sebelahnya, siswa yang dipanggil sebelumnya masih berdiri dengan angka 4 bercahaya terang di atas kepalanya. Kontrasnya terlalu jelas untuk diabaikan.
Seseorang di kerumunan tertawa pelan, bukan tawa jahat, lebih ke tawa orang yang tidak tahu harus bereaksi apa dan memilih yang paling mudah.
Beberapa orang lain ikut.
Arka berdiri di tengah lingkaran itu dan merasakan semuanya masuk ke kulitnya satu per satu.
Tawa itu. Bisik-bisik itu. Dan yang paling berat, keheningan Bagas di suatu tempat di kerumunan sana, yang tadi paling keras berteriak dan sekarang tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Seorang Wiku pengawas berdeham. "Nomor urut dua belas. Arka Prawirasuta." Penanya berhenti di atas kertas. "Laras... satu."
Diucapkan seperti pertanyaan. Seperti dia sendiri tidak yakin yang dilihatnya benar.
Wiku senior di ujung lapangan, yang sudah mencatat ratusan Awakening dalam hidupnya melangkah maju. Matanya menyipit ke arah angka di atas kepala Arka.
"Ulangi prosedurnya," katanya pelan.
"Tapi sudah...."
"Ulangi."
Prosedur diulang. Bayu mengalir lagi. Angka terbentuk lagi.
1.
Sama.
Tapi kali ini Wiku muda yang mengoperasikan batu Awakening itu berhenti menulis. Menatap angkanya lebih lama. Ada sesuatu yang aneh, bukan di angkanya, tapi di caranya berdiri.
Angka Laras 1 biasanya redup dan bergetar. Tidak stabil, seperti nyala lilin di tempat berangin.
Angka di atas kepala Arka redup. Tapi tidak bergetar.
Tidak berkedip. Tidak goyah.
Hanya berdiri di sana, kecil dan redup tapi solid seperti batu.
"Aneh," bisik Wiku muda itu, terlalu pelan untuk disengaja, tapi lapangan yang sudah hening membuat kata itu terdengar sampai baris pertama kerumunan.
Wiku senior menatap Arka satu detik lebih lama dari yang seharusnya. Sesuatu di matanya. Bukan kasihan, bukan meremehkan. Lebih ke sesuatu yang tidak punya nama yang tepat.
Lalu dia berbalik. Memanggil nama berikutnya. Selesai.
...
Arka berjalan keluar dari lingkaran dengan kaki yang terasa seperti milik orang lain.
Bagas menemukannya di tepi lapangan. Tidak berteriak kali ini. Hanya berdiri di sana dengan muka yang tidak tahu harus jadi apa.
"Ark..."
"Nggak apa-apa," kata Arka.
Bohong. Tapi Bagas tidak membantah.
Di sekelilingnya, orang-orang mulai membubarkan diri, mengobrol, tertawa, membandingkan angka satu sama lain dengan bangga. Kehidupan berlanjut untuk semua orang dengan cara yang terasa sangat tidak adil untuk seseorang yang baru saja berdiri di tengah lingkaran itu.
Arka menatap tangannya.
Bayu masih mengalir, dia bisa merasakannya. Tipis, seperti benang yang tidak mau putus. Tapi anehnya —
Tidak berhenti.
Semua orang di sekitarnya mulai merasakan Bayu mereka mengendap setelah Awakening selesai, menstabilkan diri ke titik barunya. Normal. Seperti yang seharusnya.
Bayu Arka tidak mengendap.
Masih mengalir. Masih bergerak. Pelan, konstan, seperti sungai kecil yang tidak tahu cara berhenti.
Dia tidak tahu apa artinya.
Waktu itu, dia pikir itu tidak penting.
Dia salah.
Tiga hari berikutnya, Arka hampir tidak tidur.Bukan karena tidak bisa. Tapi karena setiap kali dia menutup mata, pikirannya langsung lari ke tempat yang sama ke tangan yang terangkat, ke titik di udara yang menunggu, ke pertanyaan yang tidak bisa dia tunda sampai besok.Bayu Dorong. Lemah Pukul. Kilat Cilik.Berapa besar? Berapa kuat?...Bayu Dorong dorongan angin dasar Laras 1. Normalnya seperti kipas kecil. Cukup membelokkan kertas, menggeser lilin yang menyala.Malam pertama, bengkel ayahnya.Lima ratus cast ke satu titik di depan pintu.Angin yang terbentuk bukan lagi dorongan lembut serbuk kayu di lantai berputar-putar, lap kain di dinding berayun keras. Arka merasakan anginnya di kulitnya sendiri, lebih dingin dari yang dia ekspektasikan, lebih nyata.Oke. Lima ratus.Seribu cast...Pintu bengkel yang tidak dikunci bergetar.Lalu terbuka sendiri BRAK terlempar ke luar dengan suara yang terlalu keras untuk malam yang seharusnya sunyi.Arka langsung hentikan cast.Jantungnya ber
Malam itu Arka tidak langsung tidur.Dia duduk di tepi ranjangnya, menatap catatannya yang sudah penuh. Semua tentang bertahan. Semua tentang menahan.Tapi ada satu kalimat Wiku Sambada yang terus berputar:"Kamu perlu lebih dari distorsi udara dan satu batu yang berhenti."Arka menutup bukunya. Membukanya lagi di halaman kosong terakhir. Menulis satu pertanyaan:Kalau lapisan bisa menumpuk jadi pertahanan kenapa tidak serangan?...Tengah malam, dia kembali ke bengkel.Spell pertama - Geni Cilik, bola api dasar Laras 1. Normalnya sebesar kelereng, padam dalam dua detik.Dia cast ke satu titik di udara. Terus, tanpa henti.Tiga ratus cast bola api sebesar kepalan tangan. Bertahan lima detik.Seribu cast sebesar kepala manusia. Panas terasa dari dua meter. Cahayanya menerangi seluruh bengkel, orange kemerahan yang membuat bayangan menari di dinding. Bertahan dua puluh detik.Arka mundur dari panasnya.Ini baru seribu cast. Baru Geni Cilik.Masih ada Bayu Dorong, Lemah Pukul, Kilat Cili
Tiga minggu.Arka menulisnya di sudut catatannya bukan dengan tinta, hanya dengan kuku. Goresan kecil yang tidak akan dilihat siapapun kecuali dia sendiri.21 hari.Dia menutup catatannya dan mulai....Minggu pertama untuk satu pertanyaan: apa batasnya?Bukan batas Bayu-nya itu sudah jelas. Tapi batas lapisan itu sendiri. Seberapa banyak cast untuk menahan batu kecil? Seberapa banyak untuk yang lebih besar? Seberapa banyak untuk sesuatu yang lebih berat dari itu?Dia catat semuanya — buku kecil berkertas kecoklatan yang hampir penuh dalam seminggu. Cast ke-berapa lapisan mulai terbentuk. Cast ke-berapa mulai solid. Cast ke-berapa bisa menahan tekanan nyata.Polanya tidak linear.Seratus cast pertama membangun fondasi. Dua ratus cast berikutnya membangun lebih cepat. Tiga ratus lebih cepat lagi. Seperti setiap lapisan baru tidak hanya menambah ketebalan, tapi memperkuat semua lapisan yang sudah ada sebelumnya."Bunga majemuk," kata Bagas saat Arka jelaskan suatu pagi. "Makin banyak mo
Arka membuka surat itu di lorong keluar lapangan.Tulisannya rapi terlalu rapi untuk sesuatu yang ditulis terburu-buru. Artinya sudah disiapkan. Artinya ada yang sudah tahu apa yang akan terjadi di lapangan sebelum itu terjadi.Isinya pendek:"Saudara Arka Prawirasuta diminta hadir di ruang Dewan Pengajar besok pagi, pukul tujuh."Wira membaca dari sampingnya. "Cepat.""Iya.""Demonstrasi baru selesai sepuluh menit lalu.""Iya." Arka melipat surat itu. "Artinya mereka sudah antisipasi ini dari sebelum aku tampil."Wira diam sebentar. "Pramodawardhana."Bukan pertanyaan....Di koridor menuju gerbang, Arka melewati kelompok siswa Naga yang berhenti bicara saat dia lewat.Bukan karena tidak suka.Tapi karena memperhatikan dengan cara yang berbeda dari kemarin. Bukan tatapan meremehkan. Tapi tatapan orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak masuk di kepala mereka dan belum tahu harus bereaksi bagaimana.Salah satu memberanikan diri: "Hei, tadi itu beneran? Batu itu beneran berhenti
Lapangan utama padepokan berbeda dari lapangan kecil di ujung timur.Lantai batu hitam dipoles licin, tribun batu bertingkat yang bisa menampung seluruh civitas padepokan, dan empat tiang ukiran naga di sudut-sudutnya yang konon berpendar sesuai kekuatan Olah Rasa yang digunakan.Arka berdiri di tepi lapangan, menatap tiang-tiang itu.Belum pernah dia ke sini. Kelas Macan tidak punya jadwal penggunaan lapangan utama."Besar juga," kata Wira."Iya.""Gugup?""Tidak." Jeda. "Sedikit.""Sama."...Tribun sudah penuh. Kelas Garudha di tribun barat paling dekat area demonstrasi. Kelas Naga di timur dan utara. Kelas Macan menemukan dirinya di pojok tribun paling ujung.Tidak ada yang secara resmi menyuruh mereka ke sana.Mereka hanya menemukan dirinya di situ.Saat Arka dan Wira berjalan ke pojok itu, beberapa kepala menoleh dari tribun Garudha, lalu berbisik ke tetangganya. Arka tidak perlu dengar isinya."Yang Laras 1 itu mau tampil juga?""Serius?""Mau lihat apa yang dia bisa."Nada ter
Nama lengkapnya Wira Dananjaya.Ayahnya petani di pinggiran Medang Agung lahannya kebetulan di atas tanah berkonsentrasi Bayu tinggi. Tidak ada riwayat Wiku di keluarganya. Laras 1, sama seperti Arka.Tapi alasannya berbeda."Aku mau jadi penjaga desa," katanya suatu pagi. Rutinitas latihan subuh bersama sudah terbentuk tanpa kesepakatan resmi. "Di desaku sering ada gangguan demit dari hutan barat. Wiku yang datang bayarannya mahal. Kalau aku bisa handle sendiri, desa tidak perlu nombok terus.""Dengan Laras 1?""Dengan apa yang aku punya." Wira mengangkat bahu. "Memangnya ada pilihan lain?"Arka tidak menjawab.Karena tidak ada....Hari kesepuluh, Bagas muncul di lapangan kecil mereka.Dengan klepon. Tentu saja."Aku bawain sarapan," katanya, duduk di rumput. Menatap api kecil stabil di telapak tangan Wira. "Wah. Api?""Sedikit," kata Wira."Keren. Aku Bagas. Teman gilanya si Arka.""Wira. Teman warasnya."Bagas tertawa. "Aku suka kamu.""Baru kenal sepuluh detik.""Aku cepat memutu







