Mag-log inTiga hari setelah Awakening, Arka sudah bosan bersedih.
Bukan karena sudah ikhlas. Tapi karena sedih tidak mengubah angka di atas kepalanya. Sudah dicoba. Tidak ada efeknya.
Jadi dia bangun, cuci muka, dan mulai lagi.
...
Pagi itu dia duduk di tepi ranjang dengan tangan terangkat, mencoba sesuatu yang sudah dia baca di buku teori dasar Olah Rasa, teknik mengalirkan Bayu ke telapak tangan.
Fwip.
Percikan kecil. Sebesar biji kedelai. Padam.
Dia coba lagi.
Fwip.
Sama.
Dia coba dua puluh kali. Tiga puluh. Hasilnya sama semua. Percikan kecil yang padam sebelum sempat jadi apa-apa. Wajar untuk Laras 1. Itulah batasnya.
Tapi ada yang aneh.
Setelah tiga puluh cast berturut-turut. Bayu-nya masih ada. Sama persis seperti sebelum mulai. Tidak berkurang sedikit pun.
Arka menurunkan tangannya.
Dia cast lagi. Lima puluh kali. Tidak berhenti.
Cek.
Masih ada.
Itu tidak normal.
Bahkan untuk Laras 3 pun, cast sebanyak itu harusnya menguras sebagian cadangan Bayu. Harusnya ada rasa lelah, kepala sedikit berat, tangan mulai tidak presisi.
Arka tidak merasakan apapun dari itu.
Dia menatap tangannya lama.
Lalu cast lagi. Seratus kali, tanpa henti, secepat yang dia bisa.
Selesai. Cek.
Masih ada. Penuh. Seperti baru mulai.
...
Di meja makan, Sari sudah duluan dengan tampang mengantuk dan tempe di tangannya.
"Kak Arka, tadi ada kucing hitam di depan. Aku kasih ikan tapi kabur."
"Mm."
"Kak Arka dengerin nggak?"
"Dengerin. Kucing hitam. Kabur."
"Mukanya kayak orang habis ketabrak gerobak."
Ibunya tertawa dari dapur. Arka tidak bisa tidak ikut senyum tipis.
Ayahnya masuk dari belakang, tangan hitam bekas arang, baju yang sama dari kemarin, duduk dan langsung makan tanpa banyak proses. Di tengah sarapan dia menaruh sendok.
"Kamu masuk padepokan minggu depan?"
"Rencananya."
"Bagus."
Itu saja. Sendoknya bergerak lagi.
Arka menatap ayahnya menunggu lanjutan yang tidak datang. Tidak ada "tapi Laras-mu cuma 1" atau "yakin mau lanjut?" Hanya bagus, lalu lanjut makan seperti tidak ada yang perlu dibahas lebih jauh.
Tenggorokan Arka terasa aneh.
Bukan sedih. Lebih ke, kaku. Seperti ada sesuatu yang mau keluar tapi tidak tahu caranya.
Dia makan diam-diam dan tidak membahasnya.
...
Bagas datang siang itu tanpa diundang ya yang memang tidak pernah dia lakukan karena menunggu undangan bukan bagian dari kepribadiannya. Dua bungkus klepon, tampang yang berusaha terlihat santai tapi tidak berhasil sepenuhnya.
"Gimana?" tanyanya begitu duduk.
"Ada yang aneh."
Bagas mengerutkan dahi. "Aneh gimana?"
"Bayu-ku tidak habis." Langsung ke intinya. "Aku cast seratus kali tadi pagi. Cek. Sama persis seperti sebelum mulai."
"Mungkin salah cek?"
"Diulang tiga kali. Hasilnya sama."
Bagas diam. Klepon di tangannya tidak jadi dimakan.
"Itu... normal untuk Laras 1?"
"Tidak normal untuk Laras apapun."
Mereka berdua diam sebentar. Di luar suara pasar siang, tawar-menawar, anak kecil yang ribut, suara gerobak di jalan batu. Dunia yang jalan terus tidak peduli ada yang baru saja sadar sesuatu aneh ada di dalam tubuhnya.
"Kamu tetap mau masuk padepokan?" tanya Bagas.
"Iya."
"Dengan Laras 1 yang Bayu-nya tidak habis."
"Iya."
Bagas mengangguk pelan. Bukan anggukan "oke terserah kamu" tapi anggukan orang yang baru memutuskan sesuatu di dalam kepalanya sendiri.
"Aku juga masuk kalau gitu."
"Kamu emang udah mau masuk dari awal."
"Iya tapi sekarang dengan alasan yang lebih menarik."
...
Malam itu, bengkel ayahnya.
Arka duduk di lantai, punggung bersandar ke kaki meja kerja, tangan terangkat ke udara.
Fwip. Fwip. Fwip...
Dua ratus cast. Tiga ratus. Tidak berhenti.
Bayunya tidak habis. Itu sudah dia konfirmasi berkali-kali. Tapi ada sesuatu lain yang mulai dia perhatikan malam ini, sesuatu yang belum ada di hari-hari sebelumnya.
Percikan di cast ke tiga ratus terasa berbeda dari percikan pertama.
Bukan lebih terang. Bukan lebih besar. Tapi lebih padat. Lebih solid. Seperti ada sesuatu yang menumpuk pelan-pelan di titik yang sama, dan setiap cast baru menambahkan sesuatu ke atas yang sudah ada.
Arka berhenti.
Menatap tangannya.
Cast lagi, tapi kali ini lebih lambat, benar-benar memperhatikan setiap percikan yang keluar.
Fwip.
Muncul. Padam.
Fwip.
Muncul. Padam.
Tapi sebelum padam, setengah detik, mungkin kurang. Ada sesuatu di udara itu yang terasa seperti... sisa. Seperti bekas. Seperti percikan itu pergi tapi tidak sepenuhnya.
Dari dalam rumah, suara ibunya: "Arka! Sudah malam!"
Dia tidak langsung bergerak.
Menatap titik di udara di depan tangannya, tidak ada yang kelihatan. Tidak ada yang bisa disentuh. Tapi dia bisa merasakannya di telapak tangannya, tipis seperti hangat yang tersisa setelah api padam.
Ada sesuatu di sini, pikirnya.
Belum tahu apa. Belum tahu ke mana.
Tapi ada.
Malam setelah kembali dari titik itu, Rengganis tidak langsung bicara.Menyalakan tungku. Membuat teh. Duduk di lantai dengan cara yang sama seperti selalu — tapi ada sesuatu yang berbeda di cara dia duduk malam ini. Lebih berat. Lebih seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu yang sudah lama ditunda.Arka menunggu."Catatan Damar Wangi," kata Rengganis akhirnya. "Aku tidak bilang aku tidak tahu di mana — aku bilang kita perlu mencarinya.""Bedanya?"
Mereka berangkat keesokan paginya sebelum langit terang.Bukan karena perlu terburu-buru, tapi karena Rengganis bilang bahwa di Rimba yang sedang berubah, subuh adalah waktu paling stabil. Bayu bergerak paling dapat diprediksi di antara gelap dan terang, sebelum sesuatu yang lebih besar mulai aktif."Seberapa jauh?" tanya Arka saat mereka berjalan keluar."Enam jam kalau jalur biasa. Lima kalau lewat jalur yang aku tahu.""Lebih cepat, tapi tidak nyaman. Akar lebih tinggi, pohon lebih rapat, dan ada bagian yang harus dilalui di bawah air setinggi lutut.""Jalur itu," kata Arka.Rengganis hanya berjalan....Dua jam pertama terasa lebih mudah daripada perjalanan ke Akar Wangi.Bukan karena medannya berbeda, tapi karena Arka sudah tahu cara membaca Rimba. Cara memilih langkah, membiarkan niat terbaca, dan berada di tempat ini tanpa melawannya.Yang berubah adalah Rimba itu sendiri.Makhluk-makhluk yang biasan
Perjalanan kedua ke Rimba Dayak Batin terasa berbeda dari yang pertama.Bukan karena jalannya berubah. Jalan besar yang sama, jalan tanah yang sama, desa kecil yang sama di perbatasan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara Arka berjalan di dalamnya — lebih sedikit memperhatikan hal-hal yang dulu perlu dia perhatikan, lebih banyak ruang di kepalanya untuk memperhatikan hal-hal yang baru.Seperti perbedaan antara pertama kali masuk ruangan gelap dan kali kedua — gelap yang sama, tapi mata yang sudah tahu cara mulai membacanya....Di warung per
Bulan ketiga pengobatan Prawira dimulai dengan kabar yang tidak Arka antisipasi.Tabib itu datang sendiri ke rumah — tidak menunggu jadwal kunjungan rutin. Duduk di ruang tamu dengan wajah yang tidak menunjukkan kabar buruk tapi juga tidak menunjukkan kabar baik. Hanya wajah seseorang yang punya sesuatu untuk disampaikan dan ingin menyampaikannya dengan benar.Arka, ibunya, dan Prawira duduk di hadapannya.Sari diusir ke kamar — dengan protes yang cukup keras untuk terdengar dari dua pintu."Siklus kedua," kata tabib itu, "meresp
Surat kedua dari Rengganis datang di akhir bulan kedua.Arka membacanya di teras pagi itu, sebelum sarapan, dengan kopi yang belum habis di tangannya."Rimba berubah lebih cepat dari yang aku perkirakan. Bukan di tepi — di bagian dalam. Senggelong yang biasanya tinggal di sana sudah tidak ada. Bajang Akar di sungai kecil sudah pergi sejak dua minggu lalu. Makhluk yang sudah jadi bagian Rimba selama ratusan tahun tidak pergi tanpa alasan.Bayu di bagian dalam mulai tidak stabil — bergerak dengan pola yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Surat dari Rengganis datang di awal bulan kedua.Pendek seperti selalu. Tapi kali ini isinya berbeda dari yang sebelumnya
Subuh hari pertama, Rengganis membangunkan Arka sebelum langit terang.Hanya berdiri di dekat tikarnya sampai Arka terbangun sendiri, entah karena kehadirannya atau karena Rimba punya cara sendiri untuk membangunkan orang."Bangun," katanya. Sudah ada dua cangkir teh di mej
Malam itu Arka tidak langsung tidur.Dia duduk di tepi ranjangnya, menatap catatannya yang sudah penuh. Semua tentang bertahan. Semua tentang menahan.Tapi ada satu kalimat Wiku Sambada yang terus berputar:"Kamu perlu lebih dari distorsi udara dan satu batu yang berhenti."Arka menutup bukunya. Me
Tiga minggu.Arka menulisnya di sudut catatannya bukan dengan tinta, hanya dengan kuku. Goresan kecil yang tidak akan dilihat siapapun kecuali dia sendiri.21 hari.Dia menutup catatannya dan mulai....Minggu pertama untuk satu pertanyaan: apa batasnya?Bukan batas Bayu-nya itu sudah jelas. Tapi b







