بيت / Fantasi / Kebangkitan Rank Terendah / BAB 1 — Anak Pandai Besi

مشاركة

BAB 1 — Anak Pandai Besi

مؤلف: Noobunagi
last update تاريخ النشر: 2026-05-05 19:40:55

Tiga hari setelah Awakening, Arka sudah bosan bersedih.

Bukan karena sudah ikhlas. Tapi karena sedih tidak mengubah angka di atas kepalanya. Sudah dicoba. Tidak ada efeknya.

Jadi dia bangun, cuci muka, dan mulai lagi.

...

Pagi itu dia duduk di tepi ranjang dengan tangan terangkat, mencoba sesuatu yang sudah dia baca di buku teori dasar Olah Rasa, teknik mengalirkan Bayu ke telapak tangan.

Fwip.

Percikan kecil. Sebesar biji kedelai. Padam.

Dia coba lagi.

Fwip.

Sama.

Dia coba dua puluh kali. Tiga puluh. Hasilnya sama semua. Percikan kecil yang padam sebelum sempat jadi apa-apa. Wajar untuk Laras 1. Itulah batasnya.

Tapi ada yang aneh.

Setelah tiga puluh cast berturut-turut. Bayu-nya masih ada. Sama persis seperti sebelum mulai. Tidak berkurang sedikit pun.

Arka menurunkan tangannya.

Dia cast lagi. Lima puluh kali. Tidak berhenti.

Cek.

Masih ada.

Itu tidak normal.

Bahkan untuk Laras 3 pun, cast sebanyak itu harusnya menguras sebagian cadangan Bayu. Harusnya ada rasa lelah, kepala sedikit berat, tangan mulai tidak presisi.

Arka tidak merasakan apapun dari itu.

Dia menatap tangannya lama.

Lalu cast lagi. Seratus kali, tanpa henti, secepat yang dia bisa.

Selesai. Cek.

Masih ada. Penuh. Seperti baru mulai.

...

Di meja makan, Sari sudah duluan dengan tampang mengantuk dan tempe di tangannya.

"Kak Arka, tadi ada kucing hitam di depan. Aku kasih ikan tapi kabur."

"Mm."

"Kak Arka dengerin nggak?"

"Dengerin. Kucing hitam. Kabur."

"Mukanya kayak orang habis ketabrak gerobak."

Ibunya tertawa dari dapur. Arka tidak bisa tidak ikut senyum tipis.

Ayahnya masuk dari belakang, tangan hitam bekas arang, baju yang sama dari kemarin, duduk dan langsung makan tanpa banyak proses. Di tengah sarapan dia menaruh sendok.

"Kamu masuk padepokan minggu depan?"

"Rencananya."

"Bagus."

Itu saja. Sendoknya bergerak lagi.

Arka menatap ayahnya menunggu lanjutan yang tidak datang. Tidak ada "tapi Laras-mu cuma 1" atau "yakin mau lanjut?" Hanya bagus, lalu lanjut makan seperti tidak ada yang perlu dibahas lebih jauh.

Tenggorokan Arka terasa aneh.

Bukan sedih. Lebih ke, kaku. Seperti ada sesuatu yang mau keluar tapi tidak tahu caranya.

Dia makan diam-diam dan tidak membahasnya.

...

Bagas datang siang itu tanpa diundang ya yang memang tidak pernah dia lakukan karena menunggu undangan bukan bagian dari kepribadiannya. Dua bungkus klepon, tampang yang berusaha terlihat santai tapi tidak berhasil sepenuhnya.

"Gimana?" tanyanya begitu duduk.

"Ada yang aneh."

Bagas mengerutkan dahi. "Aneh gimana?"

"Bayu-ku tidak habis." Langsung ke intinya. "Aku cast seratus kali tadi pagi. Cek. Sama persis seperti sebelum mulai."

"Mungkin salah cek?"

"Diulang tiga kali. Hasilnya sama."

Bagas diam. Klepon di tangannya tidak jadi dimakan.

"Itu... normal untuk Laras 1?"

"Tidak normal untuk Laras apapun."

Mereka berdua diam sebentar. Di luar suara pasar siang, tawar-menawar, anak kecil yang ribut, suara gerobak di jalan batu. Dunia yang jalan terus tidak peduli ada yang baru saja sadar sesuatu aneh ada di dalam tubuhnya.

"Kamu tetap mau masuk padepokan?" tanya Bagas.

"Iya."

"Dengan Laras 1 yang Bayu-nya tidak habis."

"Iya."

Bagas mengangguk pelan. Bukan anggukan "oke terserah kamu" tapi anggukan orang yang baru memutuskan sesuatu di dalam kepalanya sendiri.

"Aku juga masuk kalau gitu."

"Kamu emang udah mau masuk dari awal."

"Iya tapi sekarang dengan alasan yang lebih menarik."

...

Malam itu, bengkel ayahnya.

Arka duduk di lantai, punggung bersandar ke kaki meja kerja, tangan terangkat ke udara.

Fwip. Fwip. Fwip...

Dua ratus cast. Tiga ratus. Tidak berhenti.

Bayunya tidak habis. Itu sudah dia konfirmasi berkali-kali. Tapi ada sesuatu lain yang mulai dia perhatikan malam ini, sesuatu yang belum ada di hari-hari sebelumnya.

Percikan di cast ke tiga ratus terasa berbeda dari percikan pertama.

Bukan lebih terang. Bukan lebih besar. Tapi lebih  padat. Lebih solid. Seperti ada sesuatu yang menumpuk pelan-pelan di titik yang sama, dan setiap cast baru menambahkan sesuatu ke atas yang sudah ada.

Arka berhenti.

Menatap tangannya.

Cast lagi, tapi kali ini lebih lambat, benar-benar memperhatikan setiap percikan yang keluar.

Fwip.

Muncul. Padam.

Fwip.

Muncul. Padam.

Tapi sebelum padam, setengah detik, mungkin kurang. Ada sesuatu di udara itu yang terasa seperti... sisa. Seperti bekas. Seperti percikan itu pergi tapi tidak sepenuhnya.

Dari dalam rumah, suara ibunya: "Arka! Sudah malam!"

Dia tidak langsung bergerak.

Menatap titik di udara di depan tangannya, tidak ada yang kelihatan. Tidak ada yang bisa disentuh. Tapi dia bisa merasakannya di telapak tangannya, tipis seperti hangat yang tersisa setelah api padam.

Ada sesuatu di sini, pikirnya.

Belum tahu apa. Belum tahu ke mana.

Tapi ada.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 20 — Setelah Lapangan

    Saat Arka kembali ke tribun Macan, Bagas sudah berdiri di tepi tangga menunggunya.Tidak ada klepon kali ini. Tidak ada teriakan. Hanya Bagas yang berdiri dengan tangan di saku dan senyum yang berbeda dari senyum-senyumnya yang lain, lebih kecil, lebih dalam."Dari awal," katanya pelan saat Arka sampai. "Aku tahu kamu yang bakal jadi nomor satu.""Aku tidak dapat nomor satu.""Kamu dapat sesuatu yang lebih susah dicapai dari nomor satu." Bagas menepuk bahunya sekali, tidak dramatis, tidak panjang. "Pengakuan."

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 19 — Lapangan Utama, Babak Dua

    Pagi hari evaluasi besar, langit Medang Agung cerah tanpa awan.Sari muncul dari pintu rumah dengan rambut belum disisir saat Arka mau berangkat."Kak Arka mau ke mana?""Padepokan.""Beli jajan ya."Arka tidak bisa tidak tersenyum. "Iya."...Di gerbang padepokan, Bagas sudah menunggu."Paguyuban Empu sudah di tribun sejak subuh," katanya langsung saat Arka sampai. "Tiga orang. Yang satu pernah catat kasus Bayu tidak habis lima puluh tahun lalu.""Bagus," kata Arka.Bagas menatapnya sebentar. Lalu memutuskan tidak perlu bertanya lebih jauh....Lapangan utama sudah penuh.Garudha di tribun barat, Naga di timur dan utara. Di tribun selatan, Wreda Wiku dari distrik lain, perwakilan Paksa Senapati Bayu, dan di sudut paling ujung: tiga orang tua dengan jubah tanpa lambang institusi apapun.Paguyuban Empu.Arka menatap mereka sebentar. Lalu ke tribun Garudha.Pramodawardhana, postur tegak, cara menatap lapangan yang terlalu terkontrol. Seseorang yang sudah menyiapkan banyak hal dan sedang

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 18 — Sebelum Badai

    Dua minggu berikutnya, Arka tidak berhenti mencoba.Bukan karena yakin berhasil tapi karena setiap kali gagal, titik kegagalannya bergeser sedikit lebih jauh.Percobaan kedua runtuh di cast ke lima puluh dua. Empat belas cast lebih jauh dari pertama.Percobaan kelima runtuh di cast ke tujuh puluh delapan. Sebelum kolaps, ada jendela tiga detik di mana keduanya berjalan bersamaan dengan bersih, Geni Cilik membesar di kanan, Lapisan Bayu menebal di kiri, dua ritme yang tidak saling mengganggu. Lalu Arka menyadarinya. Lalu semuanya runtuh.Percobaa

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 17 — Irama Ganda

    Tiga minggu sebelum evaluasi besar.Pagi itu lahan bekas pertanian masih sepi. Kabut tipis menggantung rendah di atas tanah keras yang penuh bekas latihan.Empu Sardulo belum keluar dari bengkelnya. Wira ada kelas pagi. Dyah Arum belum datang.Arka duduk sendirian di tengah lahan dengan buku catatan di pangkuannya.Sudah beberapa hari terakhir dia menyadari sesuatu yang aneh.Tangannya bergerak. Spell terbentuk. Ritme tetap stabil.Tapi pikirannya kadang baru menyusul setelahnya.Awalnya dia kira itu cuma efek kelelahan karena cast ribuan kali setiap hari.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 16 — Dyah Arum

    Keesokan paginya, Dyah Arum kembali ke lahan itu.Kabut pagi masih menggantung rendah di atas lahan bekas pertanian itu.Di sisi utara, bekas sambaran Kilat Cilik semalam masih hitam — tiga garis terbakar yang memanjang dari satu titik ke tiga arah, seperti bintang yang jatuh ke tanah dan tidak mau pergi.Empu Sardulo sudah duduk di bangku kayunya saat langkah kaki terdengar dari arah jalan tanah. Cangkir teh di tangannya. Tangan satunya terlipat di dada. Menatap kedatangan Dyah Arum dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apapun — tapi juga tidak menunjukkan keterkejutan.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 15 — Lapangan Baru

    Pagi setelah Kilat Cilik meledak ke tiga arah sekaligus, Empu Sardulo duduk di bangku kayunya seperti biasa.Cangkir teh. Tangan terlipat. Menatap kerusakan semalam bekas hangus berbentuk bintang di tanah, batu yang jatuh dari tembok, pohon di sudut yang kulit kayunya masih berserakan di rumput.Arka berdiri di hadapannya. Menunggu."Lahan ini tidak cukup besar," kata Empu Sardulo akhirnya."Kamu yang bilang itu sekarang."

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status