Beranda / Fantasi / Kebangkitan Rank Terendah / BAB 3 — Laras Satu Tidak Perlu ke Sini

Share

BAB 3 — Laras Satu Tidak Perlu ke Sini

Penulis: Noobunagi
last update Tanggal publikasi: 2026-05-06 09:46:14

Minggu pertama di padepokan mengajarkan Arka satu hal:

Diabaikan lebih melelahkan dari diserang.

Serangan bisa dilawan. Tapi ketika sistem sendiri yang menempatkanmu di sudut paling jauh, memberimu fasilitas paling tua, dan tidak mengharapkan apapun darimu tidak ada yang bisa dilawan. Hanya ada pilihan untuk menerima atau membuktikan.

Arka tidak pernah belajar cara menerima.

...

Hari keempat, dia tiba di lapangan latihan sebelum subuh.

Fwip. Fwip. Fwip

Tidak berhenti. Satu cast habis langsung ganti. Bayunya mengalir, digunakan, kembali — terus, seperti sungai yang tidak tahu cara berhenti.

Seratus cast. Dua ratus.

Dan di suatu titik yang tidak dia catat, percikan di cast ketiga ratus terasa berbeda dari cast pertama.

Lebih padat. Lebih solid.

Arka berhenti mendadak.

Mengulangi, lebih lambat kali ini, benar-benar memperhatikan setiap cast.

Fwip.

Percikan muncul. Tapi tidak langsung padam, bertahan setengah detik lebih lama dari biasanya. Lalu padam.

Fwip.

Lagi. Setengah detik lebih.

Fwip fwip fwip

Arka menghentikan napasnya.

Ada sesuatu yang menumpuk. Dia tidak tahu apa. Belum punya namanya. Tapi terasa seperti setiap cast meninggalkan jejak, dan jejak itu tidak menghilang.

...

"Kamu dari tadi di sini?"

Arka menoleh.

Wira, siswa bertubuh besar dari asesmen kemarin berdiri di pintu lapangan dengan tas di bahu dan ekspresi terkejut sungguhan.

"Sejam lalu," jawab Arka.

"Subuh buta?" Wira masuk, menaruh tasnya. "Namaku Wira."

"Tahu. Arka."

"Juga tahu." Wira duduk di rumput, menatap Arka. "Bayumu nggak habis."

Bukan pertanyaan.

"Darimana kamu..."

"Asesmen kemarin." Wira memotong. "Cast tiga kali tanpa rehat, mukamu nggak berubah sama sekali. Laras 1 normal harusnya sudah pucat setelah dua kali." Dia menatap Arka langsung. "Berapa kali tadi kamu cast?"

"Lebih dari tiga ratus."

Wira diam.

Bukan diam biasa. Diam orang yang sedang memproses sesuatu yang tidak masuk ke dalam kotak manapun yang dia punya.

"Tiga ratus," ulangnya pelan. "Dan Bayu-mu masih ada."

"Sama persis seperti sebelum mulai."

Wira menatap tangan Arka. Lalu ke angka 1 di atas kepalanya. Lalu kembali ke tangan Arka.

"Itu..." Dia berhenti. Menggeleng pelan. "Itu tidak seharusnya mungkin."

"Tahu."

"Bahkan untuk Laras 5 sekalipun, tiga ratus cast berturut-turut akan menguras sebagian besar cadangan Bayu."

"Tahu."

"Tapi kamu Laras 1."

"Tahu, Wira."

Wira berdiri. Berjalan ke posisi latihan api kecil muncul di telapak tangannya, stabil, terkontrol. Tapi matanya masih ke Arka.

"Dan tadi kamu bilang ada yang berbeda di cast ketigaAtusan."

"Percikannya lebih padat. Lebih lama bertahan."

"Seperti menumpuk?"

Kata itu mendarat tepat di sesuatu yang belum punya nama di kepala Arka.

"Ya," katanya. "Seperti menumpuk."

Wira tidak bilang apa-apa lagi. Tapi ekspresinya berubah dari terkejut ke sesuatu yang lebih dekat ke penasaran yang serius.

"Lanjut latihanmu," katanya akhirnya. "Aku mau lihat."

...

Sore itu, di koridor antara gedung Naga dan lapangan utama, Arka berpapasan lagi dengan siswa kelas Garudha dari kemarin.

Kali ini ada lima orang.

"Eh, yang Laras 1." Suaranya santai, tapi matanya tidak. "Masih betah di sini?"

Arka berjalan terus.

"Hei, diajak ngomong."

Arka berhenti.

Bukan karena takut. Tapi karena ada sesuatu yang berbeda hari ini bara yang kemarin diam, hari ini lebih panas.

Dia berbalik.

Menatap siswa itu langsung ke matanya, tidak ke angka 4 di atas kepalanya, tidak ke seragamnya yang lebih baru dari punya Arka.

"Kasian," kata siswa itu lagi. Kata yang sama dari kemarin, dengan senyum yang sama. "Laras 1 mau jadi Wiku. Lucu juga."

Teman-temannya tertawa.

Arka tidak bergerak.

Di dalam dadanya sesuatu yang tidak lagi redup. Bukan amarah yang meledak. Tapi bara yang sudah cukup panas untuk dirasakan di ujung jari.

"Kamu benar," kata Arka akhirnya suaranya datar, tapi matanya tidak. "Laras 1 memang tidak seharusnya bisa jadi Wiku."

Siswa itu tersenyum lebih lebar.

"Tapi," lanjut Arka, "'tidak seharusnya' dan 'tidak akan' itu berbeda."

Dia berbalik. Berjalan.

Di belakangnya sunyi, tidak ada tawa kali ini.

...

Malam itu di bengkel ayahnya, bara itu tidak padam.

Fwip fwip fwip fwip

Lebih cepat dari sebelumnya. Lebih intens. Bayu-nya mengalir digunakan, kembali ke satu, digunakan lagi.

Lima ratus cast.

Dan di cast kelima ratus itu  sesuatu terjadi yang membuat Arka berhenti sepenuhnya.

Percikan yang muncul tidak padam.

Bukan setengah detik lebih lama. Bukan satu detik.

Bertahan, satu, dua, tiga, empat, lima detik solid, bergetar sedikit tapi tidak padam, seperti sesuatu yang berusaha mempertahankan dirinya sendiri.

Enam detik.

Tujuh 

Lalu padam.

Arka menatap telapak tangannya. Tidak ada bekas apapun.

Tapi dia merasakannya ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sesuatu yang bukan hanya satu percikan biasa. Sesuatu yang terasa seperti

Lapisan.

Kata itu muncul dari dalam, bukan dari luar.

Satu percikan bukan satu percikan. Ratusan percikan yang menumpuk, yang melebur menjadi sesuatu yang lebih dari jumlah bagian-bagiannya.

Fwip.

Satu cast lagi dan kali ini Arka benar-benar merasakannya. Bukan hanya melihat percikan. Tapi merasakan cara percikan itu menyentuh sesuatu yang sudah ada di sana dari cast-cast sebelumnya.

Seperti menempa besi di atas besi yang sudah ada.

Ya Sang Hyang.

Arka menurunkan tangannya perlahan.

Di luar bengkel, langit Medang Agung penuh bintang. Sunyi.

Dan di dalam dadanya bara yang tadi panas karena marah, sekarang panas karena sesuatu yang sama sekali berbeda.

Karena baru saja, untuk pertama kalinya..

Dia melihat ke mana ini semua akan pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 44 — Catatan Damar Wangi

    Malam setelah kembali dari titik itu, Rengganis tidak langsung bicara.Menyalakan tungku. Membuat teh. Duduk di lantai dengan cara yang sama seperti selalu — tapi ada sesuatu yang berbeda di cara dia duduk malam ini. Lebih berat. Lebih seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu yang sudah lama ditunda.Arka menunggu."Catatan Damar Wangi," kata Rengganis akhirnya. "Aku tidak bilang aku tidak tahu di mana — aku bilang kita perlu mencarinya.""Bedanya?"

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 43 — Titik

    Mereka berangkat keesokan paginya sebelum langit terang.Bukan karena perlu terburu-buru, tapi karena Rengganis bilang bahwa di Rimba yang sedang berubah, subuh adalah waktu paling stabil. Bayu bergerak paling dapat diprediksi di antara gelap dan terang, sebelum sesuatu yang lebih besar mulai aktif."Seberapa jauh?" tanya Arka saat mereka berjalan keluar."Enam jam kalau jalur biasa. Lima kalau lewat jalur yang aku tahu.""Lebih cepat, tapi tidak nyaman. Akar lebih tinggi, pohon lebih rapat, dan ada bagian yang harus dilalui di bawah air setinggi lutut.""Jalur itu," kata Arka.Rengganis hanya berjalan....Dua jam pertama terasa lebih mudah daripada perjalanan ke Akar Wangi.Bukan karena medannya berbeda, tapi karena Arka sudah tahu cara membaca Rimba. Cara memilih langkah, membiarkan niat terbaca, dan berada di tempat ini tanpa melawannya.Yang berubah adalah Rimba itu sendiri.Makhluk-makhluk yang biasan

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 42 — Kembali ke Rimba

    Perjalanan kedua ke Rimba Dayak Batin terasa berbeda dari yang pertama.Bukan karena jalannya berubah. Jalan besar yang sama, jalan tanah yang sama, desa kecil yang sama di perbatasan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara Arka berjalan di dalamnya — lebih sedikit memperhatikan hal-hal yang dulu perlu dia perhatikan, lebih banyak ruang di kepalanya untuk memperhatikan hal-hal yang baru.Seperti perbedaan antara pertama kali masuk ruangan gelap dan kali kedua — gelap yang sama, tapi mata yang sudah tahu cara mulai membacanya....Di warung per

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 41 — Bulan Ketiga

    Bulan ketiga pengobatan Prawira dimulai dengan kabar yang tidak Arka antisipasi.Tabib itu datang sendiri ke rumah — tidak menunggu jadwal kunjungan rutin. Duduk di ruang tamu dengan wajah yang tidak menunjukkan kabar buruk tapi juga tidak menunjukkan kabar baik. Hanya wajah seseorang yang punya sesuatu untuk disampaikan dan ingin menyampaikannya dengan benar.Arka, ibunya, dan Prawira duduk di hadapannya.Sari diusir ke kamar — dengan protes yang cukup keras untuk terdengar dari dua pintu."Siklus kedua," kata tabib itu, "meresp

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 40 — Balasan

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 39 — Surat Kedua

    Surat kedua dari Rengganis datang di akhir bulan kedua.Arka membacanya di teras pagi itu, sebelum sarapan, dengan kopi yang belum habis di tangannya."Rimba berubah lebih cepat dari yang aku perkirakan. Bukan di tepi — di bagian dalam. Senggelong yang biasanya tinggal di sana sudah tidak ada. Bajang Akar di sungai kecil sudah pergi sejak dua minggu lalu. Makhluk yang sudah jadi bagian Rimba selama ratusan tahun tidak pergi tanpa alasan.Bayu di bagian dalam mulai tidak stabil — bergerak dengan pola yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 5 — Lapangan Utama

    Lapangan utama padepokan berbeda dari lapangan kecil di ujung timur.Lantai batu hitam dipoles licin, tribun batu bertingkat yang bisa menampung seluruh civitas padepokan, dan empat tiang ukiran naga di sudut-sudutnya yang konon berpendar sesuai kekuatan Olah Rasa yang digunakan.Arka berdiri di te

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 4 — Kawannya Si Angka Satu

    Nama lengkapnya Wira Dananjaya.Ayahnya petani di pinggiran Medang Agung lahannya kebetulan di atas tanah berkonsentrasi Bayu tinggi. Tidak ada riwayat Wiku di keluarganya. Laras 1, sama seperti Arka.Tapi alasannya berbeda."Aku mau jadi penjaga desa," katanya suatu pagi. Rutinitas latihan subuh b

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 2 — Selamat Datang di Padepokan

    Padepokan Bayu Medang Agung berdiri di atas bukit barat kota.Di bawah: pasar, gang, bau rempah dan kehidupan. Di atas: batu-batu ukiran ratusan tahun, pohon beringin yang akarnya menyatu dengan dinding, dan udara yang lebih berat, penuh konsentrasi Bayu yang mengalir lebih deras di sini dari manap

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 1 — Anak Pandai Besi

    Tiga hari setelah Awakening, Arka sudah bosan bersedih.Bukan karena sudah ikhlas. Tapi karena sedih tidak mengubah angka di atas kepalanya. Sudah dicoba. Tidak ada efeknya.Jadi dia bangun, cuci muka, dan mulai lagi....Pagi itu dia duduk di tepi ranjang dengan tangan terangkat, mencoba sesuatu y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status