ログインPadepokan Bayu Medang Agung berdiri di atas bukit barat kota.
Di bawah: pasar, gang, bau rempah dan kehidupan. Di atas: batu-batu ukiran ratusan tahun, pohon beringin yang akarnya menyatu dengan dinding, dan udara yang lebih berat, penuh konsentrasi Bayu yang mengalir lebih deras di sini dari manapun di kota.
Arka berjalan ke sana pagi-pagi. Bagas sudah menunggu di gerbang.
"Siap?" tanya Bagas.
"Iya."
"Bohong."
"Iya."
...
Halaman depan sudah ramai. Ratusan siswa baru, semua sudah Awakening, angka-angka mengambang di atas kepala mereka, kebanyakan 2 dan 3, beberapa 4, satu dua yang 5.
Arka masuk ke kerumunan.
Angka 1 di atas kepalanya tidak bisa disembunyikan.
Efeknya langsung.
Bukan bisik-bisik halus. Tapi cukup keras untuk didengar:
"Eh, itu Laras 1?"
"Serius? Ngapain ke sini?"
"Kasian deh."
Arka berjalan terus. Tidak menoleh.
Tapi telinganya menangkap semuanya.
Di sisi kanan halaman, seorang siswa Laras 4 menepuk bahu temannya dan menunjuk ke arah Arka dengan dagu, gerakan kecil yang tidak berusaha disembunyikan. Temannya melihat, lalu tertawa pelan.
Arka menatap ke depan.
Catat, katanya ke dirinya sendiri. Catat semuanya.
Di tengah kerumunan, dua orang yang langsung dia perhatikan.
Pertama,perempuan yang berdiri terpisah, sendirian tapi seperti pilihan bukan keterpaksaan. Angka 5 di atas kepalanya bercahaya tenang. Melirik ke arah Arka satu detik, lalu mengalihkan pandangan seperti melihat sesuatu yang tidak relevan.
"Dyah Arum," bisik Bagas. "Laras 5. Keluarga Wiku tiga generasi."
Kedua — pemuda di sisi kanan. Tinggi, rapi, berdiri tegak dengan cara yang terasa bukan usaha tapi memang standar. Angka 5 di atas kepalanya, dan orang-orang di sekitarnya memberi ruang jauh lebih lebar.
Pramodawardhana Wiryatama. Putra Ketua Agung asosiasi Wiku tertinggi di Medang Agung. Laras 5 di usia empat belas.
Matanya menyapu halaman, mencatat, menilai, lanjut. Saat sapuan itu melewati area Arka berdiri
Tidak ada yang berubah di wajahnya.
Seperti Arka tidak ada.
Lebih buruk dari diremehkan, pikir Arka. Dianggap tidak eksis.
...
Pembagian kelas datang cepat.
"Laras 4 dan 5 di kelas Garudha. Laras 2 dan 3 di kelas Naga. Laras 1... di kelas Macan."
Tidak ada yang perlu bicara. Reaksi kerumunan sudah cukup, tawa kecil di sana sini, tatapan yang tidak berusaha disembunyikan, satu suara yang cukup keras:
"Kelas Macan masih ada?"
"Kayaknya iya. Tapi biasanya kosong."
Bagas mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Arka menyentuh lengannya pelan, singkat.
Jangan.
...
Kelas Macan di gedung paling timur paling jauh, paling tua, paling terlupakan.
Arka berdiri di depan pintunya dan memahami semuanya dalam satu pandangan.
Delapan meja. Empat di antaranya berdebu seperti sudah lama tidak disentuh. Kristal Bayu untuk latihan di sudut ruangan retak di dua tempat dan permukaannya buram. Jendela di sisi timur tidak bisa dibuka penuh karena engselnya berkarat.
Bukan fasilitas yang rusak secara teknis.
Tapi fasilitas yang sudah lama tidak dianggap perlu diperbaiki.
Karena tidak ada yang diharapkan dari sini, pikir Arka.
Delapan siswa duduk dalam keheningan yang berbeda dari keheningan kelas lain — bukan hening yang menunggu sesuatu dimulai, tapi hening orang-orang yang sudah mulai mempertanyakan keputusan mereka ada di sini.
Pengajar mereka, Wiku Sambada, datang terlambat tujuh menit dengan baju kancingnya tidak sejajar.
"Kalian di kelas Macan," katanya tanpa basa-basi. "Kalian tahu artinya. Kurikulum kalian berbeda, fokus kontrol dan presisi. Bukan seberapa besar kekuatan, tapi seberapa tepat penggunaannya."
Siswi di baris depan angkat tangan.
"Ada alumni kelas Macan yang berhasil jadi Wiku aktif?"
Jeda terlalu panjang.
"Ada. Tiga. Dalam dua puluh tahun terakhir."
Ruangan hening sepenuhnya.
Tiga orang. Dua puluh tahun. Dari berapa total yang pernah duduk di kursi-kursi berdebu ini.
Tidak ada yang mau menghitungnya.
...
Asesmen pertama setiap siswa tunjukkan Olah Rasa dasar.
Giliran Arka. Dia maju. Angkat tangan
Fwip. Fwip. Fwip.
Tiga kali. Tanpa jeda. Tanpa aba-aba.
"Cukup," kata Wiku Sambada.
Dia menulis lebih lama dari siswa lain. Lalu menatap Arka dengan cara yang berbeda.
"Tidak ada jeda."
"Tidak ada."
"Tidak ada aba-aba juga."
"Tidak ada."
Wiku Sambada menutup catatannya. Tidak bilang apapun lagi. Hanya, "Duduk."
Di sudut ruangan, siswa bertubuh besar menatap Arka. Bukan bermusuhan.
Penasaran.
...
Pulang sore itu, di gerbang keluar Arka berpapasan dengan tiga siswa kelas Garudha.
Mereka tidak minggir.
Arka yang harus minggir, atau berhenti.
Dia berhenti.
Salah satu dari mereka menatap angka 1 di atas kepala Arka, lalu ke wajahnya, lalu ke temannya. Tersenyum.
"Eh, ini yang Laras 1 itu ya?" Nada suaranya santai, terlalu santai, dengan cara yang lebih menyakitkan dari amarah. "Serius masuk padepokan? Bukannya lebih baik langsung bantu orang tua di rumah?"
Temannya tertawa.
Arka menatap mereka satu per satu.
Tidak marah. Tidak bicara.
Hanya menatap dengan cara yang membuat tawa itu pelan-pelan berhenti sendiri.
Lalu dia berjalan melewati mereka.
Di belakangnya salah satu bergumam: "Lebay."
Arka tidak menoleh.
Tapi tangannya mengepal di sisi tubuh dan di dalam genggaman itu, Bayu-nya mengalir. Pelan. Konstan.
Tidak habis.
Tidak pernah habis.
Catat, katanya lagi ke dirinya sendiri. Catat semuanya. Gunakan nanti.
Malam setelah kembali dari titik itu, Rengganis tidak langsung bicara.Menyalakan tungku. Membuat teh. Duduk di lantai dengan cara yang sama seperti selalu — tapi ada sesuatu yang berbeda di cara dia duduk malam ini. Lebih berat. Lebih seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu yang sudah lama ditunda.Arka menunggu."Catatan Damar Wangi," kata Rengganis akhirnya. "Aku tidak bilang aku tidak tahu di mana — aku bilang kita perlu mencarinya.""Bedanya?"
Mereka berangkat keesokan paginya sebelum langit terang.Bukan karena perlu terburu-buru, tapi karena Rengganis bilang bahwa di Rimba yang sedang berubah, subuh adalah waktu paling stabil. Bayu bergerak paling dapat diprediksi di antara gelap dan terang, sebelum sesuatu yang lebih besar mulai aktif."Seberapa jauh?" tanya Arka saat mereka berjalan keluar."Enam jam kalau jalur biasa. Lima kalau lewat jalur yang aku tahu.""Lebih cepat, tapi tidak nyaman. Akar lebih tinggi, pohon lebih rapat, dan ada bagian yang harus dilalui di bawah air setinggi lutut.""Jalur itu," kata Arka.Rengganis hanya berjalan....Dua jam pertama terasa lebih mudah daripada perjalanan ke Akar Wangi.Bukan karena medannya berbeda, tapi karena Arka sudah tahu cara membaca Rimba. Cara memilih langkah, membiarkan niat terbaca, dan berada di tempat ini tanpa melawannya.Yang berubah adalah Rimba itu sendiri.Makhluk-makhluk yang biasan
Perjalanan kedua ke Rimba Dayak Batin terasa berbeda dari yang pertama.Bukan karena jalannya berubah. Jalan besar yang sama, jalan tanah yang sama, desa kecil yang sama di perbatasan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara Arka berjalan di dalamnya — lebih sedikit memperhatikan hal-hal yang dulu perlu dia perhatikan, lebih banyak ruang di kepalanya untuk memperhatikan hal-hal yang baru.Seperti perbedaan antara pertama kali masuk ruangan gelap dan kali kedua — gelap yang sama, tapi mata yang sudah tahu cara mulai membacanya....Di warung per
Bulan ketiga pengobatan Prawira dimulai dengan kabar yang tidak Arka antisipasi.Tabib itu datang sendiri ke rumah — tidak menunggu jadwal kunjungan rutin. Duduk di ruang tamu dengan wajah yang tidak menunjukkan kabar buruk tapi juga tidak menunjukkan kabar baik. Hanya wajah seseorang yang punya sesuatu untuk disampaikan dan ingin menyampaikannya dengan benar.Arka, ibunya, dan Prawira duduk di hadapannya.Sari diusir ke kamar — dengan protes yang cukup keras untuk terdengar dari dua pintu."Siklus kedua," kata tabib itu, "meresp
Surat kedua dari Rengganis datang di akhir bulan kedua.Arka membacanya di teras pagi itu, sebelum sarapan, dengan kopi yang belum habis di tangannya."Rimba berubah lebih cepat dari yang aku perkirakan. Bukan di tepi — di bagian dalam. Senggelong yang biasanya tinggal di sana sudah tidak ada. Bajang Akar di sungai kecil sudah pergi sejak dua minggu lalu. Makhluk yang sudah jadi bagian Rimba selama ratusan tahun tidak pergi tanpa alasan.Bayu di bagian dalam mulai tidak stabil — bergerak dengan pola yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Surat dari Rengganis datang di awal bulan kedua.Pendek seperti selalu. Tapi kali ini isinya berbeda dari yang sebelumnya
Subuh hari pertama, Rengganis membangunkan Arka sebelum langit terang.Hanya berdiri di dekat tikarnya sampai Arka terbangun sendiri, entah karena kehadirannya atau karena Rimba punya cara sendiri untuk membangunkan orang."Bangun," katanya. Sudah ada dua cangkir teh di mej
Malam itu Arka tidak langsung tidur.Dia duduk di tepi ranjangnya, menatap catatannya yang sudah penuh. Semua tentang bertahan. Semua tentang menahan.Tapi ada satu kalimat Wiku Sambada yang terus berputar:"Kamu perlu lebih dari distorsi udara dan satu batu yang berhenti."Arka menutup bukunya. Me
Tiga minggu.Arka menulisnya di sudut catatannya bukan dengan tinta, hanya dengan kuku. Goresan kecil yang tidak akan dilihat siapapun kecuali dia sendiri.21 hari.Dia menutup catatannya dan mulai....Minggu pertama untuk satu pertanyaan: apa batasnya?Bukan batas Bayu-nya itu sudah jelas. Tapi b







