Accueil / Fantasi / Kebangkitan Rank Terendah / BAB 5 — Lapangan Utama

Share

BAB 5 — Lapangan Utama

Auteur: Noobunagi
last update Date de publication: 2026-05-06 09:46:24

Lapangan utama padepokan berbeda dari lapangan kecil di ujung timur.

Lantai batu hitam dipoles licin, tribun batu bertingkat yang bisa menampung seluruh civitas padepokan, dan empat tiang ukiran naga di sudut-sudutnya yang konon berpendar sesuai kekuatan Olah Rasa yang digunakan.

Arka berdiri di tepi lapangan, menatap tiang-tiang itu.

Belum pernah dia ke sini. Kelas Macan tidak punya jadwal penggunaan lapangan utama.

"Besar juga," kata Wira.

"Iya."

"Gugup?"

"Tidak." Jeda. "Sedikit."

"Sama."

...

Tribun sudah penuh. Kelas Garudha di tribun barat paling dekat area demonstrasi. Kelas Naga di timur dan utara. Kelas Macan menemukan dirinya di pojok tribun paling ujung.

Tidak ada yang secara resmi menyuruh mereka ke sana.

Mereka hanya menemukan dirinya di situ.

Saat Arka dan Wira berjalan ke pojok itu, beberapa kepala menoleh dari tribun Garudha, lalu berbisik ke tetangganya. Arka tidak perlu dengar isinya.

"Yang Laras 1 itu mau tampil juga?"

"Serius?"

"Mau lihat apa yang dia bisa."

Nada terakhir itu bukan antusias. Tapi seperti orang yang mau menonton sesuatu gagal.

Bagas menerobos dari tribun Naga, duduk di sebelah Arka. "Aku pindah sebentar."

"Kamu harusnya di tribun Naga."

"Harusnya kamu tidak ikut evaluasi ini. Kita abaikan kata 'harusnya' hari ini."

...

Garudha tampil duluan.

Siswa Laras 4 barrier dua meter, solid biru, bertahan hampir dua menit. Tiang timur berpendar. Tribun bertepuk.

Siswa Laras 5 berikutnya angin berputar membentuk puting beliung terkontrol sempurna. Dua tiang berpendar.

Lalu:

"Pramodawardhana Wiryatama."

Seluruh tribun duduk lebih tegak serentak.

Pramodawardhana berjalan ke tengah. Tidak terburu-buru. Berdiri dan Bayu mengalir darinya dengan cara yang berbeda dari siapapun sebelumnya. Lapangan di bawah kakinya retak dalam pola teratur, cahaya putih keluar membentuk mandala raksasa yang hampir memenuhi seluruh lapangan.

Keempat tiang berpendar putih serentak.

Tribun hening sepuluh detik penuh.

Lalu meledak.

Pramodawardhana berjalan kembali ke tempatnya tidak menoleh, tidak memberi gesture. Tapi saat melewati area tribun Naga, matanya sekilas ke arah pojok tempat Arka duduk.

Satu detik.

Lalu lanjut.

...

Kelas Naga tampil. Bagas urutan ketujuh, bola api stabil empat puluh detik. Bersih, terkontrol. Tribun bertepuk cukup hangat.

"Bagus," kata Arka saat Bagas kembali.

"Aku tahu." Bagas mengambil napas. "Sekarang giliran kamu."

...

"Kelas Macan."

Bisikan langsung pecah di tribun.

"Laras 1 mau tampil?"

"Ini yang katanya bisa bikin distorsi?"

"Mau lihat." nada yang sama seperti tadi. Menunggu sesuatu gagal.

Wira berdiri duluan. Arka mengikuti.

Wira tampil lebih dulu. Api kecil di tangannya, tiga menit penuh tanpa bergetar. Tepukan dari tribun tulus, tapi singkat.

Lalu giliran Arka.

...

Dia berjalan ke tengah lingkaran demonstrasi.

Di tribun barat, Pramodawardhana duduk tegak matanya ke lapangan secara umum. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dari tadi postur tubuhnya terlalu controlled. Seperti seseorang yang sedang memperhatikan dengan sangat seksama tapi tidak mau terlihat melakukannya.

Dyah Arum dua bangku darinya. Menatap Arka langsung.

Arka menarik napas. Angkat tangan. Mulai.

Fwip.

Percikan pertama kecil, redup.

Tawa kecil dari tribun barat.

Fwip. Fwip. Fwip

Dia percepat. Tidak memberi jeda. Ritme yang sudah masuk ke otot, ke napas.

Sepuluh detik. Bisik-bisik masih ada.

Dua puluh detik, distorsi mulai terbentuk. Kecil.

"Apa itu?" suara dari tribun Naga.

Tiga puluh detik, lebih besar. Bisik-bisik mulai berhenti.

Empat puluh detik, tiang timur berpendar. Redup. Sangat redup.

"Tiang menyala?"

"Untuk Laras 1?"

Satu menit. Distorsi berlapis-lapis, tepinya lebih jelas. Terasa ada bahkan dari tribun.

Arka berhenti.

Ambil batu dari kantong. Lempar ke distorsi.

Batu mengenai lapisan...

Berhenti.

Tidak tembus. Tidak membelok.

Berhenti.

Tribun meledak, bukan tepukan biasa. Suara orang yang tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat.

"Batu itu berhenti!"

"Laras 1 bisa bikin barrier?!"

"Itu tidak mungkin!"

Di tribun Naga, beberapa siswa berdiri dari bangkunya bukan untuk bertepuk, tapi untuk melihat lebih jelas. Seperti tidak percaya jarak yang ada memperlihatkan hal yang benar.

Di tribun Garudha, diam. Bukan diam kagum. Diam orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada dan belum tahu harus bereaksi bagaimana.

Satu siswa Garudha Laras 4, yang tadi pagi masih bilang "mau lihat apa yang Laras 1 bisa" dengan nada menunggu sesuatu gagal sekarang duduk dengan tangan terkepal di lutut. Tidak bertepuk. Tidak berkomentar.

Hanya diam dengan wajah yang tidak enak dilihat.

Di pojok tribun paling ujung kelas Macan yang delapan orang sesuatu berubah.

Lastri, yang paling pendiam di antara mereka, berdiri perlahan. Tidak berteriak, tidak melambai. Hanya berdiri dengan cara seseorang yang baru saja memutuskan sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Diikuti satu orang lagi. Lalu satu lagi.

Sampai semua delapan siswa kelas Macan berdiri.

Tidak ada yang melihat ini kecuali Bagas yang sudah berdiri duluan sejak batu itu berhenti, kedua tangan melambai, berteriak sesuatu yang tidak bisa didengar jelas di tengah keramaian.

Tapi Arka melihat.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk padepokan ini — ada sesuatu di dadanya yang bukan bara amarah, bukan tekad keras kepala.

Sesuatu yang lebih hangat dari itu.

Di tribun barat, Pramodawardhana menatap balik langsung, penuh, dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari meremehkan:

Ancaman yang baru saja menjadi nyata.

Dan Dyah Arum dua bangku darinya duduk diam dengan ekspresi retak di sudut keyakinannya yang selama ini solid seperti batu.

Arka berjalan kembali ke tepi lapangan. Kepala tidak menunduk.

Tapi sebelum sampai ke pinggir petugas memotong langkahnya. Menyerahkan surat kecil terlipat.

"Dari Dewan Pengajar." Singkat. Lalu pergi.

Arka menatap surat itu.

Di belakangnya, tribun masih riuh. Nama "Laras 1" disebut berulang bukan dengan nada meremehkan seperti pagi tadi.

Tapi dengan nada yang berbeda.

Nada orang yang baru saja tidak yakin dengan apa yang mereka pikir mereka tahu.

Surat itu belum dibuka. Tapi Arka sudah tahu isinya akan berisi sesuatu yang tidak menyenangkan karena surat yang menyenangkan tidak dikirim secepat ini, tidak oleh petugas yang wajahnya sengaja dibuat tidak menunjukkan apapun.

Dia menatap angka 1 yang masih mengambang di atas kepalanya.

Redup. Tidak bergetar.

Bagus, pikirnya. Baru mulai.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 27 — Keputusan Verifikasi

    Dua minggu setelah malam di bengkel itu, surat dari Paguyuban Empu datang.Bukan diantar utusan kali ini datang langsung ke tangan Arka melalui anggota yang sudah dia kenal, pria tua dengan jubah tanpa lambang yang selalu sudah ada sebelum orang lain tiba. Mereka bertemu di kedai teh yang sama di kota bawah.Cangkir teh. Dua orang. Surat di meja di antara mereka."Baca dulu," kata pria tua itu.Arka mengambil surat itu....Isinya panjang lebih panjang dari yang Arka bayangkan untuk sebuah keputusan. Penuh dengan bahasa formal Paguyuban yang berlapis-lapis, tapi intinya ada di paragraf keempat:Teknik Lapisan Bayu dan Irama Ganda, sebagaimana didemonstrasikan oleh Arka Prawirasuta dalam proses verifikasi yang berlangsung selama tiga bulan, dinyatakan VALID sebagai teknik Olah Rasa yang sah. Pengembangan lebih lanjut diizinkan dan didokumentasikan sebagai preseden pertama dalam kategori teknik berbasis akumulasi iteratif.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 26 — Tiga Bulan

    Bulan pertama.Verifikasi dimulai dua minggu setelah pernyataan dukungan resmi keluar.Tidak seperti yang Arka bayangkan, tidak ada lapangan besar, tidak ada penonton. Hanya ruangan kecil di sayap timur gedung Paguyuban Empu sementara yang dibuka khusus di Medang Agung, tiga meja, dua pengamat dari Paguyuban, dan satu pencatat yang menulis setiap kata dengan tinta yang tidak pernah habis.Setiap tiga hari, Arka datang. Mendemonstrasikan. Menjawab pertanyaan yang kadang terasa seperti jebakan dan kadang terasa seperti percakapan biasa. Lalu pulang.Lahan bekas pertanian tetap jadi tempat latihan. Empu Sardulo tetap di bangku kayunya. Cangkir teh tetap ada dua, kadang tiga kalau Dyah Arum datang, kadang empat kalau Wira mampir sebelum jadwal Paksa Senapatinya.Wira belum menjawab tawaran itu secara resmi. Tapi dia masih datang ke lahan.Arka tidak bertanya. Wira tidak menjelaskan....Rumah tidak berubah.Ibu memasak. Sari cerewet. Ayahnya bekerja di bengkel sebelum fajar dan selesai set

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 25 — Satu-satunya

    Arka menemui anggota Paguyuban Empu itu sore harinya.Bukan di bengkel Empu Sardulo, di kedai teh kecil di kota bawah yang ternyata sudah jadi tempat pertemuan tidak resmi bagi orang-orang yang tidak mau pertemuan mereka tercatat di arsip manapun. Pria tua itu sudah ada di sana saat Arka tiba, cangkir tehnya sudah setengah, sepertinya dia tidak pernah benar-benar menunggu, hanya selalu sudah ada.Arka duduk di depannya."Kamu perlu menyatakan dukungan resmi sebelum Wiryatama bergerak," kata Arka langsung. "Kalau tidak, tiga anggota Paguyuban yang sudah dia hubungi bisa override posisi Bapak."Pria tua itu tidak terkejut. Hanya menatap cangkir tehnya sebentar."Dari mana kamu tahu ini?""Dari seseorang yang mempelajari aturan Paguyuban Empu kemarin malam.""Siapa?"Arka tidak menjawab itu.Pria tua itu menatapnya lalu mengangguk pelan. Tidak mendesak."Kalau aku menyatakan dukungan resmi sekarang," katanya, "Wiryatama akan tahu dari mana informasi ini bocor. Dan konsekuensinya tidak ha

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 24 — Lahan Terbuka

    Mereka duduk di tanah.Bukan karena ada yang menyuruh hanya karena berdiri terlalu lama terasa seperti sedang bersiap untuk sesuatu yang belum tentu perlu disiapkan. Pramodawardhana duduk dengan cara yang tidak persis sama dengan cara dia duduk di tribun padepokan yang sedikit kurang tegak, sedikit lebih manusia.Arka duduk di sebelahnya dengan jarak yang cukup untuk tidak terasa sengaja.Tidak ada yang bicara dulu.Di sekeliling mereka, lahan bekas pertanian itu diam, pohon-pohon tua di tepi, tanah yang penuh bekas latihan, langit pagi yang belum sepenu

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 23 — Pramodawardhana Datang

    Tiga hari setelah evaluasi besar, Pramodawardhana datang ke lahan bekas pertanian itu.Bukan dengan utusan. Bukan dengan surat. Dia datang sendiri, pagi-pagi, saat Arka baru mulai latihan dan Empu Sardulo baru setengah cangkir teh pertamanya.Arka dengar langkahnya dari jauh. Tidak ada pengawal. Tidak ada siswa Garudha lain. Bahkan tidak ada lambang padepokan di bajunya pagi itu, hanya baju biasa yang ternyata membuat dia terlihat lebih muda dari yang biasanya.Dia datang sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai simbol apapun.Bukan karena berisik, tapi ka

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 22 — Tiga Bulan

    Kabar verifikasi resmi Paguyuban Empu beredar sebelum siang.Arka tidak tahu bagaimana mungkin dari utusan yang tadi pagi pergi dari bengkel Empu Sardulo, mungkin dari jaringan informasi yang tidak pernah tidur di kota seperti Medang Agung. Tapi saat dia tiba di padepokan untuk kelas siang, beberapa orang sudah menatapnya dengan cara yang berbeda dari kemarin.Bukan seperti menonton sesuatu yang menarik.Seperti menghitung sesuatu....Bagas menemukannya di koridor sebelum kelas.Tanpa klepon, yang berarti situasinya cukup serius untuk Bagas melupakan kebiasaannya."Verifikasi resmi," kata Bagas langsung. "Tiga bulan. Dipimpin anggota Paguyuban Empu.""Wiryatama sudah mengajukan keberatan resmi ke Dewan Padepokan tadi pagi."Arka menoleh. "Secepat itu?""Dia sudah siapkan dari sebelum e

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status