Share

BAB 6 — Surat

Author: Noobunagi
last update publish date: 2026-05-07 07:00:49

Arka membuka surat itu di lorong keluar lapangan.

Tulisannya rapi terlalu rapi untuk sesuatu yang ditulis terburu-buru. Artinya sudah disiapkan. Artinya ada yang sudah tahu apa yang akan terjadi di lapangan sebelum itu terjadi.

Isinya pendek:

"Saudara Arka Prawirasuta diminta hadir di ruang Dewan Pengajar besok pagi, pukul tujuh."

Wira membaca dari sampingnya. "Cepat."

"Iya."

"Demonstrasi baru selesai sepuluh menit lalu."

"Iya." Arka melipat surat itu. "Artinya mereka sudah antisipasi ini dari sebelum aku tampil."

Wira diam sebentar. "Pramodawardhana."

Bukan pertanyaan.

...

Di koridor menuju gerbang, Arka melewati kelompok siswa Naga yang berhenti bicara saat dia lewat.

Bukan karena tidak suka.

Tapi karena memperhatikan dengan cara yang berbeda dari kemarin. Bukan tatapan meremehkan. Tapi tatapan orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak masuk di kepala mereka dan belum tahu harus bereaksi bagaimana.

Salah satu memberanikan diri: "Hei, tadi itu beneran? Batu itu beneran berhenti?"

"Beneran," jawab Arka tanpa berhenti berjalan.

Dia dengar bisik-bisik pecah lagi di belakangnya saat dia membelok di ujung koridor.

Rumor sudah bukan rumor lagi.

...

Malam itu Sari menunggunya di teras.

"Kak Arka pulaaaaang."

"Harusnya sudah tidur. kok belum tidur?"

"Belum ngantuk." Sari duduk di sebelahnya menyandarkan kepala ke lengan Arka dengan cara anak kecil yang tidak tahu cara meminta izin. "Tadi ibu dapat kabar dari tetangga. Katanya Kak Arka bikin sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain."

Arka menoleh. "Tetangga yang mana?"

"Yang jualan tempe. Anaknya di padepokan atas." Sari mendongak. "Emang beneran?"

Arka menatap langit sebentar.

"Belum," jawabnya. "Tapi sedang menuju ke sana."

Sari mengangguk serius menerima jawaban apapun dari kakaknya sebagai kebenaran absolut.

"Kereeeen. Nanti kalau sudah beneran, beliin Sari jajan ya kak."

Arka tidak bisa tidak tersenyum. "Iyaaa."

...

Pukul tujuh tepat keesokan paginya.

Ruang Dewan Pengajar, tiga Wreda Wiku berjajar di balik meja panjang. Wreda Wiku Darwasih di tengah. Dan di sudut ruangan, duduk dengan postur yang terlalu tegak untuk pagi-pagi

Pramodawardhana.

Arka berhenti satu detik saat melihatnya lalu masuk dan duduk.

"Demonstrasimu kemarin menarik," mulai Wreda Wiku Darwasih. Nada suaranya datar, terlalu datar, seperti seseorang yang sudah memutuskan kesimpulan sebelum percakapan dimulai. "Tapi ada kekhawatiran yang perlu kami klarifikasi."

"Kekhawatiran apa?"

"Kondisi Bayu-mu yang tidak normal." Wreda Wiku di sebelah kiri menyambung suaranya lebih tajam. "Bayu yang tidak pernah habis bukan karakteristik alami. Ini bisa mengindikasikan ketidakstabilan yang belum terdeteksi. Atau..." dia berhenti sebentar, "....sesuatu yang lebih serius."

"Lebih serius seperti apa?"

"Seperti kontaminasi Bayu eksternal."

Arka menatapnya. "Kamu menuduh aku menggunakan Bayu dari sumber lain."

"Kami tidak menuduh." Wreda Wiku Darwasih menyela lebih halus, tapi tidak lebih ramah. "Kami mempertanyakan. Ada bedanya."

"Arka." Pramodawardhana bicara untuk pertama kalinya suaranya tenang, dan justru karena itu terasa lebih dingin dari yang lain. "Aku ingin kamu mengerti bahwa ini bukan tentang kemampuanmu."

Dia berdiri dari kursinya di sudut. Berjalan pelan ke arah meja tidak duduk, hanya berdiri di sisinya. Posisi yang terasa seperti seseorang yang menjelaskan sesuatu ke anak kecil.

"Kemarin kamu berhasil menghentikan sebuah batu kecil." Nadanya tidak meremehkan justru itu yang berbahaya. Terdengar seperti pujian. "Itu pencapaian yang... tidak biasa, untuk kondisimu. Dan aku menghargai usahamu."

"Tapi Arka... kamu perlu mengerti posisimu di sini." Matanya menatap langsung bukan kebencian, tapi dengan cara menyampaikan fakta yang menurutnya tidak bisa dibantah. "Laras 1 dengan anomali Bayu bukan bukti kekuatan. Ini adalah ketidaknormalan yang belum dipahami. Dan ketidaknormalan yang tidak dipahami berbahaya. Bukan hanya untukmu, tapi untuk semua orang di sekitarmu."

Dia kembali ke kursinya.

"Aku tidak menghentikanmu. Aku melindungi lingkungan belajar yang sehat untuk semua siswa termasuk kamu." Satu detik. "Termasuk teman-temanmu di kelas Macan yang mungkin akan ikut terbawa kalau situasi ini tidak ditangani dengan benar."

Kalimat terakhir itu mendarat berbeda dari yang lain.

Bukan ancaman langsung. Tapi cukup jelas ikut terbawa. Wira. Lastri. Tujuh orang lain di kelas Macan yang tadi berdiri di tribun.

Arka menatapnya.

Diam tiga detik.

"Tiga - empat minggu evaluasi medis," kata Pramodawardhana, kembali ke nada prosedural. "Selama itu demonstrasi resmi ditangguhkan."

"Dan teknik yang aku kembangkan?"

"Belum mendapat status resmi." Kali ini Wreda Wiku Darwasih yang menjawab. "Untuk mendapat pengakuan, perlu proses verifikasi. Enam bulan sampai satu tahun."

Enam bulan sampai satu tahun.

Arka menatap meja di depannya.

Sistem tidak menyerangnya secara langsung. Tidak perlu. Cukup memperlambat dengan prosedur, dengan pertanyaan yang terdengar masuk akal, dengan kekhawatiran yang tidak bisa langsung dibantah.

"Selama evaluasi medis," kata Arka, "aku masih bisa berlatih?"

"Boleh."

"Baik." Arka berdiri. "Aku tidak keberatan dievaluasi. Tapi tolong catat hasilnya tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi di lapangan kemarin."

Dia berjalan ke pintu.

"Arka."

Arka berhenti. Tidak berbalik.

"Aku tidak menentangmu secara personal," kata Pramodawardhana suaranya masih tenang, masih terukur. "Aku hanya memastikan prosedur dijalankan dengan benar. Demi semua orang."

Arka diam tiga detik.

Keluar.

...

Wiku Sambada menunggunya di koridor.

"Sudah dengar?"

"Baru saja."

Wiku Sambada berjalan di sebelahnya tidak ke ruang kelas, tapi ke arah yang lebih sepi. "Ada jalur lebih cepat dari satu tahun," katanya pelan. "Evaluasi besar akhir semester. Tiga bulan lagi. Dihadiri Wreda Wiku dari distrik lain, perwakilan Paksa Senapati Bayu, dan tahun ini ada anggota Paguyuban Empu yang hadir."

"Kalau aku tampil di sana..."

"Kalau kamu tampil dengan sesuatu yang tidak bisa diabaikan proses verifikasi bisa dipercepat." Wiku Sambada berhenti. Menatapnya. "Tapi Arka Kamu perlu sesuatu yang membuat mereka tidak punya pilihan selain mengakui."

Arka mengangguk.

"Satu hal lagi." Wiku Sambada menurunkan suaranya. "Ada Empu tua di kota bawah. Namanya Empu Sardulo. Kalau kamu serius tentang Kawruh Tunggal Jati..."

Arka menoleh tajam. "Bapak tahu tentang Kawruh Tunggal Jati?"

Wiku Sambada tidak langsung menjawab.

"Pergi ke sana," katanya akhirnya. "Temukan sendiri jawabannya."

Dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Arka di koridor yang sunyi dengan satu pertanyaan baru yang lebih besar dari semua pertanyaan sebelumnya:

Kalau Wiku Sambada tahu tentang Kawruh Tunggal Jati...

Mengapa selama ini dia tidak berkata apa-apa?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 9 — Tiga Spell Lainnya

    Tiga hari berikutnya, Arka hampir tidak tidur.Bukan karena tidak bisa. Tapi karena setiap kali dia menutup mata, pikirannya langsung lari ke tempat yang sama ke tangan yang terangkat, ke titik di udara yang menunggu, ke pertanyaan yang tidak bisa dia tunda sampai besok.Bayu Dorong. Lemah Pukul. Kilat Cilik.Berapa besar? Berapa kuat?...Bayu Dorong dorongan angin dasar Laras 1. Normalnya seperti kipas kecil. Cukup membelokkan kertas, menggeser lilin yang menyala.Malam pertama, bengkel ayahnya.Lima ratus cast ke satu titik di depan pintu.Angin yang terbentuk bukan lagi dorongan lembut serbuk kayu di lantai berputar-putar, lap kain di dinding berayun keras. Arka merasakan anginnya di kulitnya sendiri, lebih dingin dari yang dia ekspektasikan, lebih nyata.Oke. Lima ratus.Seribu cast...Pintu bengkel yang tidak dikunci bergetar.Lalu terbuka sendiri BRAK terlempar ke luar dengan suara yang terlalu keras untuk malam yang seharusnya sunyi.Arka langsung hentikan cast.Jantungnya ber

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 8 — Bukan Hanya Bertahan

    Malam itu Arka tidak langsung tidur.Dia duduk di tepi ranjangnya, menatap catatannya yang sudah penuh. Semua tentang bertahan. Semua tentang menahan.Tapi ada satu kalimat Wiku Sambada yang terus berputar:"Kamu perlu lebih dari distorsi udara dan satu batu yang berhenti."Arka menutup bukunya. Membukanya lagi di halaman kosong terakhir. Menulis satu pertanyaan:Kalau lapisan bisa menumpuk jadi pertahanan kenapa tidak serangan?...Tengah malam, dia kembali ke bengkel.Spell pertama - Geni Cilik, bola api dasar Laras 1. Normalnya sebesar kelereng, padam dalam dua detik.Dia cast ke satu titik di udara. Terus, tanpa henti.Tiga ratus cast bola api sebesar kepalan tangan. Bertahan lima detik.Seribu cast sebesar kepala manusia. Panas terasa dari dua meter. Cahayanya menerangi seluruh bengkel, orange kemerahan yang membuat bayangan menari di dinding. Bertahan dua puluh detik.Arka mundur dari panasnya.Ini baru seribu cast. Baru Geni Cilik.Masih ada Bayu Dorong, Lemah Pukul, Kilat Cili

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 7 — Tiga Minggu

    Tiga minggu.Arka menulisnya di sudut catatannya bukan dengan tinta, hanya dengan kuku. Goresan kecil yang tidak akan dilihat siapapun kecuali dia sendiri.21 hari.Dia menutup catatannya dan mulai....Minggu pertama untuk satu pertanyaan: apa batasnya?Bukan batas Bayu-nya itu sudah jelas. Tapi batas lapisan itu sendiri. Seberapa banyak cast untuk menahan batu kecil? Seberapa banyak untuk yang lebih besar? Seberapa banyak untuk sesuatu yang lebih berat dari itu?Dia catat semuanya — buku kecil berkertas kecoklatan yang hampir penuh dalam seminggu. Cast ke-berapa lapisan mulai terbentuk. Cast ke-berapa mulai solid. Cast ke-berapa bisa menahan tekanan nyata.Polanya tidak linear.Seratus cast pertama membangun fondasi. Dua ratus cast berikutnya membangun lebih cepat. Tiga ratus lebih cepat lagi. Seperti setiap lapisan baru tidak hanya menambah ketebalan, tapi memperkuat semua lapisan yang sudah ada sebelumnya."Bunga majemuk," kata Bagas saat Arka jelaskan suatu pagi. "Makin banyak mo

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 6 — Surat

    Arka membuka surat itu di lorong keluar lapangan.Tulisannya rapi terlalu rapi untuk sesuatu yang ditulis terburu-buru. Artinya sudah disiapkan. Artinya ada yang sudah tahu apa yang akan terjadi di lapangan sebelum itu terjadi.Isinya pendek:"Saudara Arka Prawirasuta diminta hadir di ruang Dewan Pengajar besok pagi, pukul tujuh."Wira membaca dari sampingnya. "Cepat.""Iya.""Demonstrasi baru selesai sepuluh menit lalu.""Iya." Arka melipat surat itu. "Artinya mereka sudah antisipasi ini dari sebelum aku tampil."Wira diam sebentar. "Pramodawardhana."Bukan pertanyaan....Di koridor menuju gerbang, Arka melewati kelompok siswa Naga yang berhenti bicara saat dia lewat.Bukan karena tidak suka.Tapi karena memperhatikan dengan cara yang berbeda dari kemarin. Bukan tatapan meremehkan. Tapi tatapan orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak masuk di kepala mereka dan belum tahu harus bereaksi bagaimana.Salah satu memberanikan diri: "Hei, tadi itu beneran? Batu itu beneran berhenti

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 5 — Lapangan Utama

    Lapangan utama padepokan berbeda dari lapangan kecil di ujung timur.Lantai batu hitam dipoles licin, tribun batu bertingkat yang bisa menampung seluruh civitas padepokan, dan empat tiang ukiran naga di sudut-sudutnya yang konon berpendar sesuai kekuatan Olah Rasa yang digunakan.Arka berdiri di tepi lapangan, menatap tiang-tiang itu.Belum pernah dia ke sini. Kelas Macan tidak punya jadwal penggunaan lapangan utama."Besar juga," kata Wira."Iya.""Gugup?""Tidak." Jeda. "Sedikit.""Sama."...Tribun sudah penuh. Kelas Garudha di tribun barat paling dekat area demonstrasi. Kelas Naga di timur dan utara. Kelas Macan menemukan dirinya di pojok tribun paling ujung.Tidak ada yang secara resmi menyuruh mereka ke sana.Mereka hanya menemukan dirinya di situ.Saat Arka dan Wira berjalan ke pojok itu, beberapa kepala menoleh dari tribun Garudha, lalu berbisik ke tetangganya. Arka tidak perlu dengar isinya."Yang Laras 1 itu mau tampil juga?""Serius?""Mau lihat apa yang dia bisa."Nada ter

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 4 — Kawannya Si Angka Satu

    Nama lengkapnya Wira Dananjaya.Ayahnya petani di pinggiran Medang Agung lahannya kebetulan di atas tanah berkonsentrasi Bayu tinggi. Tidak ada riwayat Wiku di keluarganya. Laras 1, sama seperti Arka.Tapi alasannya berbeda."Aku mau jadi penjaga desa," katanya suatu pagi. Rutinitas latihan subuh bersama sudah terbentuk tanpa kesepakatan resmi. "Di desaku sering ada gangguan demit dari hutan barat. Wiku yang datang bayarannya mahal. Kalau aku bisa handle sendiri, desa tidak perlu nombok terus.""Dengan Laras 1?""Dengan apa yang aku punya." Wira mengangkat bahu. "Memangnya ada pilihan lain?"Arka tidak menjawab.Karena tidak ada....Hari kesepuluh, Bagas muncul di lapangan kecil mereka.Dengan klepon. Tentu saja."Aku bawain sarapan," katanya, duduk di rumput. Menatap api kecil stabil di telapak tangan Wira. "Wah. Api?""Sedikit," kata Wira."Keren. Aku Bagas. Teman gilanya si Arka.""Wira. Teman warasnya."Bagas tertawa. "Aku suka kamu.""Baru kenal sepuluh detik.""Aku cepat memutu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status