Home / Fantasi / Kebangkitan Rank Terendah / BAB 4 — Kawannya Si Angka Satu

Share

BAB 4 — Kawannya Si Angka Satu

Author: Noobunagi
last update publish date: 2026-05-06 09:46:20

Nama lengkapnya Wira Dananjaya.

Ayahnya petani di pinggiran Medang Agung lahannya kebetulan di atas tanah berkonsentrasi Bayu tinggi. Tidak ada riwayat Wiku di keluarganya. Laras 1, sama seperti Arka.

Tapi alasannya berbeda.

"Aku mau jadi penjaga desa," katanya suatu pagi. Rutinitas latihan subuh bersama sudah terbentuk tanpa kesepakatan resmi. "Di desaku sering ada gangguan demit dari hutan barat. Wiku yang datang bayarannya mahal. Kalau aku bisa handle sendiri, desa tidak perlu nombok terus."

"Dengan Laras 1?"

"Dengan apa yang aku punya." Wira mengangkat bahu. "Memangnya ada pilihan lain?"

Arka tidak menjawab.

Karena tidak ada.

...

Hari kesepuluh, Bagas muncul di lapangan kecil mereka.

Dengan klepon. Tentu saja.

"Aku bawain sarapan," katanya, duduk di rumput. Menatap api kecil stabil di telapak tangan Wira. "Wah. Api?"

"Sedikit," kata Wira.

"Keren. Aku Bagas. Teman gilanya si Arka."

"Wira. Teman warasnya."

Bagas tertawa. "Aku suka kamu."

"Baru kenal sepuluh detik."

"Aku cepat memutuskan." Bagas mengambil klepon, lalu menatap Arka serius. "Aku bawain info juga. Kemarin di kelas Naga Wiku Hartama bahas Lapisan Bayu."

Arka berhenti mengunyah.

"Teori lama," lanjut Bagas. "Katanya Olah Rasa yang sama kalau dilempar berulang ke titik yang sama meninggalkan residu. Tipis banget. Tapi kalau ditumpuk terus bisa jadi sesuatu." Dia menurunkan suaranya. "Katanya itu cuma teori karena untuk membuktikannya butuh cast ribuan kali tanpa berhenti. Dan tidak ada yang punya Bayu sebanyak itu."

Hening.

Wira menatap Arka.

Arka menatap tangannya.

Lalu tangannya terangkat dan dia mulai cast. Cepat. Ke satu titik di udara di depannya.

"Ark..." Bagas mau bicara.

"Diam dulu."

Seratus cast. Dua ratus. Tiga ratus...

Di titik itu, di udara kosong distorsi mulai terbentuk. Seperti gelombang panas di atas aspal, tapi lebih solid. Lebih nyata.

Bagas tidak jadi makan klepon-nya.

Wira berdiri lebih dekat, matanya menyipit, menganalisis.

Empat ratus cast...

Distorsi itu seukuran kepalan tangan. Bergetar, tapi tidak hilang.

Arka berhenti.

Distorsi bertahan tiga detik.

Lalu hilang.

Ketiganya diam.

"Tiga ratus cast," kata Wira pelan. "Dan itu yang terbentuk."

"Masih kecil," kata Arka.

"Tapi nyata." Wira menatapnya langsung. "Arka , kalau ini bisa dibuktikan di depan pengajar..."

"Tiga ribu cast," potong Bagas suaranya tidak santai lagi. "Tiga puluh ribu. Tidak ada batasnya kalau Bayu-mu tidak pernah habis."

Ketiganya diam lagi.

"Kita belum tahu batasnya," kata Arka.

"Atau," kata Bagas pelan, "tidak ada batasnya."

...

Tiga hari kemudian, rumor itu mulai beredar.

Bukan karena Arka menyebarkannya tapi rupanya ada yang melihat latihan subuh mereka dari kejauhan. Siswa kelas Naga yang kebetulan lewat, yang kemudian cerita ke temannya, yang kemudian cerita ke temannya lagi.

"Katanya anak Laras 1 bisa bikin sesuatu di udara."

"Distorsi? Itu bukan Olah Rasa biasa."

"Paling sugesti. Mana mungkin Laras 1 bisa begitu."

Arka mendengar ini di kantin, tiga siswa kelas Naga yang bicara cukup keras tanpa sadar dia ada di meja sebelah.

Dia tidak bilang apa-apa.

Tapi Bagas yang duduk di seberangnya tersenyum tipis. "Rumor sudah jalan, Ark."

"Bukan rumor," kata Arka. "Belum. Belum cukup besar untuk disebut rumor."

"Tapi sudah mulai."

...

Yang membuat situasi berubah adalah saat evaluasi bersama diumumkan.

Wiku Sambada menyebutnya santai  "tidak wajib, tapi tidak dilarang." Tapi semua orang di kelas Macan tahu artinya: tidak ada yang mengharapkan mereka tampil.

"Kita tidak wajib ikut," kata Lastri. "Tahun lalu kelas Macan dibebaskan."

"Dibebaskan atau dianggap tidak perlu?" tanya Wira.

Tidak ada yang menjawab.

Arka menatap mejanya.

Tiga hari lagi evaluasi. Distorsi yang terbentuk dari tiga ratus cast  masih kecil, masih bisa diabaikan. Belum cukup untuk mengubah apapun.

Tapi rumor sudah mulai.

Dan rumor butuh sesuatu yang nyata untuk jadi kenyataan.

"Aku ikut," katanya.

Ruangan hening.

"Kamu yakin?" tanya Wiku Sambada nadanya bukan meragukan, tapi memastikan. "Ini akan dilihat semua angkatan. Termasuk kelas Garudha."

"Tahu."

Termasuk Pramodawardhana, yang kata-kata tidak terucapnya jelas.

"Aku juga ikut," kata Wira dari sudut ruangan.

Semua kepala menoleh.

"Kalau mau dilihat," kata Wira datar, "sekalian dua orang."

...

Berita itu sampai ke telinga yang tidak mereka duga dalam waktu dua jam.

Bukan Bagas yang cerita, Arka tahu itu. Tapi entah bagaimana, sore itu saat Arka melewati koridor dekat ruang Garudha, dia mendengar namanya disebut dari dalam.

"...Laras 1 yang mau tampil di evaluasi?"

"Katanya bisa bikin distorsi Bayu."

"Tidak mungkin. Paling efek optik."

Lalu satu suara yang berbeda dari yang lain lebih tenang, lebih terukur:

"Pastikan ada yang merekam."

Arka mengenali suara itu.

Pramodawardhana.

Dia berjalan terus tidak memperlambat langkah, tidak menoleh.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang baru saja menyala lebih terang dari sebelumnya.

Bagus, pikirnya. Tonton dengan baik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 44 — Catatan Damar Wangi

    Malam setelah kembali dari titik itu, Rengganis tidak langsung bicara.Menyalakan tungku. Membuat teh. Duduk di lantai dengan cara yang sama seperti selalu — tapi ada sesuatu yang berbeda di cara dia duduk malam ini. Lebih berat. Lebih seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu yang sudah lama ditunda.Arka menunggu."Catatan Damar Wangi," kata Rengganis akhirnya. "Aku tidak bilang aku tidak tahu di mana — aku bilang kita perlu mencarinya.""Bedanya?"

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 43 — Titik

    Mereka berangkat keesokan paginya sebelum langit terang.Bukan karena perlu terburu-buru, tapi karena Rengganis bilang bahwa di Rimba yang sedang berubah, subuh adalah waktu paling stabil. Bayu bergerak paling dapat diprediksi di antara gelap dan terang, sebelum sesuatu yang lebih besar mulai aktif."Seberapa jauh?" tanya Arka saat mereka berjalan keluar."Enam jam kalau jalur biasa. Lima kalau lewat jalur yang aku tahu.""Lebih cepat, tapi tidak nyaman. Akar lebih tinggi, pohon lebih rapat, dan ada bagian yang harus dilalui di bawah air setinggi lutut.""Jalur itu," kata Arka.Rengganis hanya berjalan....Dua jam pertama terasa lebih mudah daripada perjalanan ke Akar Wangi.Bukan karena medannya berbeda, tapi karena Arka sudah tahu cara membaca Rimba. Cara memilih langkah, membiarkan niat terbaca, dan berada di tempat ini tanpa melawannya.Yang berubah adalah Rimba itu sendiri.Makhluk-makhluk yang biasan

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 42 — Kembali ke Rimba

    Perjalanan kedua ke Rimba Dayak Batin terasa berbeda dari yang pertama.Bukan karena jalannya berubah. Jalan besar yang sama, jalan tanah yang sama, desa kecil yang sama di perbatasan. Tapi ada sesuatu yang berbeda di cara Arka berjalan di dalamnya — lebih sedikit memperhatikan hal-hal yang dulu perlu dia perhatikan, lebih banyak ruang di kepalanya untuk memperhatikan hal-hal yang baru.Seperti perbedaan antara pertama kali masuk ruangan gelap dan kali kedua — gelap yang sama, tapi mata yang sudah tahu cara mulai membacanya....Di warung per

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 41 — Bulan Ketiga

    Bulan ketiga pengobatan Prawira dimulai dengan kabar yang tidak Arka antisipasi.Tabib itu datang sendiri ke rumah — tidak menunggu jadwal kunjungan rutin. Duduk di ruang tamu dengan wajah yang tidak menunjukkan kabar buruk tapi juga tidak menunjukkan kabar baik. Hanya wajah seseorang yang punya sesuatu untuk disampaikan dan ingin menyampaikannya dengan benar.Arka, ibunya, dan Prawira duduk di hadapannya.Sari diusir ke kamar — dengan protes yang cukup keras untuk terdengar dari dua pintu."Siklus kedua," kata tabib itu, "meresp

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 40 — Balasan

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 39 — Surat Kedua

    Surat kedua dari Rengganis datang di akhir bulan kedua.Arka membacanya di teras pagi itu, sebelum sarapan, dengan kopi yang belum habis di tangannya."Rimba berubah lebih cepat dari yang aku perkirakan. Bukan di tepi — di bagian dalam. Senggelong yang biasanya tinggal di sana sudah tidak ada. Bajang Akar di sungai kecil sudah pergi sejak dua minggu lalu. Makhluk yang sudah jadi bagian Rimba selama ratusan tahun tidak pergi tanpa alasan.Bayu di bagian dalam mulai tidak stabil — bergerak dengan pola yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 32 — Empat Hari

    Subuh hari pertama, Rengganis membangunkan Arka sebelum langit terang.Hanya berdiri di dekat tikarnya sampai Arka terbangun sendiri, entah karena kehadirannya atau karena Rimba punya cara sendiri untuk membangunkan orang."Bangun," katanya. Sudah ada dua cangkir teh di mej

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 8 — Bukan Hanya Bertahan

    Malam itu Arka tidak langsung tidur.Dia duduk di tepi ranjangnya, menatap catatannya yang sudah penuh. Semua tentang bertahan. Semua tentang menahan.Tapi ada satu kalimat Wiku Sambada yang terus berputar:"Kamu perlu lebih dari distorsi udara dan satu batu yang berhenti."Arka menutup bukunya. Me

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 7 — Tiga Minggu

    Tiga minggu.Arka menulisnya di sudut catatannya bukan dengan tinta, hanya dengan kuku. Goresan kecil yang tidak akan dilihat siapapun kecuali dia sendiri.21 hari.Dia menutup catatannya dan mulai....Minggu pertama untuk satu pertanyaan: apa batasnya?Bukan batas Bayu-nya itu sudah jelas. Tapi b

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 0 — Sebelum Angka Itu

    Namanya dipanggil urutan dua belas.Arka melangkah ke tengah lingkaran batu Awakening dengan kepala tegak. Sekitar dua ratus orang menonton, teman sekelas, keluarga yang ikut, beberapa Wiku senior yang tugasnya mencatat. Di atas kepala semua siswa yang sudah dipanggil sebelumnya, angka-angka mengam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status