Home / Fantasi / Kebangkitan Rank Terendah / BAB 22 — Tiga Bulan

Share

BAB 22 — Tiga Bulan

Author: Noobunagi
last update publish date: 2026-05-19 12:00:00

Kabar verifikasi resmi Paguyuban Empu beredar sebelum siang.

Arka tidak tahu bagaimana mungkin dari utusan yang tadi pagi pergi dari bengkel Empu Sardulo, mungkin dari jaringan informasi yang tidak pernah tidur di kota seperti Medang Agung. Tapi saat dia tiba di padepokan untuk kelas siang, beberapa orang sudah menatapnya dengan cara yang berbeda dari kemarin.

Bukan seperti menonton sesuatu yang menarik.

Seperti menghitung ses
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 27 — Keputusan Verifikasi

    Dua minggu setelah malam di bengkel itu, surat dari Paguyuban Empu datang.Bukan diantar utusan kali ini datang langsung ke tangan Arka melalui anggota yang sudah dia kenal, pria tua dengan jubah tanpa lambang yang selalu sudah ada sebelum orang lain tiba. Mereka bertemu di kedai teh yang sama di kota bawah.Cangkir teh. Dua orang. Surat di meja di antara mereka."Baca dulu," kata pria tua itu.Arka mengambil surat itu....Isinya panjang lebih panjang dari yang Arka bayangkan untuk sebuah keputusan. Penuh dengan bahasa formal Paguyuban yang berlapis-lapis, tapi intinya ada di paragraf keempat:Teknik Lapisan Bayu dan Irama Ganda, sebagaimana didemonstrasikan oleh Arka Prawirasuta dalam proses verifikasi yang berlangsung selama tiga bulan, dinyatakan VALID sebagai teknik Olah Rasa yang sah. Pengembangan lebih lanjut diizinkan dan didokumentasikan sebagai preseden pertama dalam kategori teknik berbasis akumulasi iteratif.

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 26 — Tiga Bulan

    Bulan pertama.Verifikasi dimulai dua minggu setelah pernyataan dukungan resmi keluar.Tidak seperti yang Arka bayangkan, tidak ada lapangan besar, tidak ada penonton. Hanya ruangan kecil di sayap timur gedung Paguyuban Empu sementara yang dibuka khusus di Medang Agung, tiga meja, dua pengamat dari Paguyuban, dan satu pencatat yang menulis setiap kata dengan tinta yang tidak pernah habis.Setiap tiga hari, Arka datang. Mendemonstrasikan. Menjawab pertanyaan yang kadang terasa seperti jebakan dan kadang terasa seperti percakapan biasa. Lalu pulang.Lahan bekas pertanian tetap jadi tempat latihan. Empu Sardulo tetap di bangku kayunya. Cangkir teh tetap ada dua, kadang tiga kalau Dyah Arum datang, kadang empat kalau Wira mampir sebelum jadwal Paksa Senapatinya.Wira belum menjawab tawaran itu secara resmi. Tapi dia masih datang ke lahan.Arka tidak bertanya. Wira tidak menjelaskan....Rumah tidak berubah.Ibu memasak. Sari cerewet. Ayahnya bekerja di bengkel sebelum fajar dan selesai set

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 25 — Satu-satunya

    Arka menemui anggota Paguyuban Empu itu sore harinya.Bukan di bengkel Empu Sardulo, di kedai teh kecil di kota bawah yang ternyata sudah jadi tempat pertemuan tidak resmi bagi orang-orang yang tidak mau pertemuan mereka tercatat di arsip manapun. Pria tua itu sudah ada di sana saat Arka tiba, cangkir tehnya sudah setengah, sepertinya dia tidak pernah benar-benar menunggu, hanya selalu sudah ada.Arka duduk di depannya."Kamu perlu menyatakan dukungan resmi sebelum Wiryatama bergerak," kata Arka langsung. "Kalau tidak, tiga anggota Paguyuban yang sudah dia hubungi bisa override posisi Bapak."Pria tua itu tidak terkejut. Hanya menatap cangkir tehnya sebentar."Dari mana kamu tahu ini?""Dari seseorang yang mempelajari aturan Paguyuban Empu kemarin malam.""Siapa?"Arka tidak menjawab itu.Pria tua itu menatapnya lalu mengangguk pelan. Tidak mendesak."Kalau aku menyatakan dukungan resmi sekarang," katanya, "Wiryatama akan tahu dari mana informasi ini bocor. Dan konsekuensinya tidak ha

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 24 — Lahan Terbuka

    Mereka duduk di tanah.Bukan karena ada yang menyuruh hanya karena berdiri terlalu lama terasa seperti sedang bersiap untuk sesuatu yang belum tentu perlu disiapkan. Pramodawardhana duduk dengan cara yang tidak persis sama dengan cara dia duduk di tribun padepokan yang sedikit kurang tegak, sedikit lebih manusia.Arka duduk di sebelahnya dengan jarak yang cukup untuk tidak terasa sengaja.Tidak ada yang bicara dulu.Di sekeliling mereka, lahan bekas pertanian itu diam, pohon-pohon tua di tepi, tanah yang penuh bekas latihan, langit pagi yang belum sepenu

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 23 — Pramodawardhana Datang

    Tiga hari setelah evaluasi besar, Pramodawardhana datang ke lahan bekas pertanian itu.Bukan dengan utusan. Bukan dengan surat. Dia datang sendiri, pagi-pagi, saat Arka baru mulai latihan dan Empu Sardulo baru setengah cangkir teh pertamanya.Arka dengar langkahnya dari jauh. Tidak ada pengawal. Tidak ada siswa Garudha lain. Bahkan tidak ada lambang padepokan di bajunya pagi itu, hanya baju biasa yang ternyata membuat dia terlihat lebih muda dari yang biasanya.Dia datang sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai simbol apapun.Bukan karena berisik, tapi ka

  • Kebangkitan Rank Terendah   BAB 22 — Tiga Bulan

    Kabar verifikasi resmi Paguyuban Empu beredar sebelum siang.Arka tidak tahu bagaimana mungkin dari utusan yang tadi pagi pergi dari bengkel Empu Sardulo, mungkin dari jaringan informasi yang tidak pernah tidur di kota seperti Medang Agung. Tapi saat dia tiba di padepokan untuk kelas siang, beberapa orang sudah menatapnya dengan cara yang berbeda dari kemarin.Bukan seperti menonton sesuatu yang menarik.Seperti menghitung sesuatu....Bagas menemukannya di koridor sebelum kelas.Tanpa klepon, yang berarti situasinya cukup serius untuk Bagas melupakan kebiasaannya."Verifikasi resmi," kata Bagas langsung. "Tiga bulan. Dipimpin anggota Paguyuban Empu.""Wiryatama sudah mengajukan keberatan resmi ke Dewan Padepokan tadi pagi."Arka menoleh. "Secepat itu?""Dia sudah siapkan dari sebelum e

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status