LOGINBegitu aku berlari sekuat tenaga dan merangkul Nenek yang sudah terkapar di tanah, Aulia sudah menghilang entah ke mana.Aku merogoh ponsel, bersiap menelepon polisi untuk melapor.Akan tetapi, aku tidak sadar bahwa Aulia sudah lama bersembunyi di belakangku untuk melakukan serangan mendadak.Karena takut Nenek belum benar-benar mati, Aulia mengambil besi beton itu dan menikam perut Nenek berulang kali secara membabi buta.Juga, demi menutupi identitasku, Aulia memotong tangan kiriku yang kehilangan ibu jari.Dia bahkan mengeluarkan sebuah koper yang ternyata sudah dia siapkan sebelumnya.Dia sudah merencanakan semuanya sejak awal, bertekad untuk melimpahkan semua kesalahan kepadaku.Bahkan koper yang dia gunakan pun adalah milikku.Hanya saja, rencana awalnya adalah menggunakan koper itu untuk menyembunyikan jasad Nenek.Kehadiranku yang tiba-tiba telah mengacaukan rencananya.Juga kemunculan anjingku yang mengikutiku ke sana, benar-benar di luar dugaannya.Anjing itu, yang dengan set
"Yoga, apa yang kamu bicarakan?"Ibu segera datang dan langsung pasang badan melindungi Aulia."Lagi pula, kamu tiba-tiba mengamuk di pesta pertunangan tadi, apa kamu tahu betapa malunya Aulia tadi?""Cepat minta maaf padanya sekarang juga!"Dengan penuh amarah, Yoga mengangkat tulang kering itu dan menunjuk tepat ke arah Aulia."Orang yang seharusnya minta maaf itu dia!""Sini kamu! Ngaku! Dulu, kamu sudah bohong, 'kan?"Aulia ketakutan sampai hampir menempel erat ke tubuh Ibu.Mata Aulia melirik ke sana kemari, seluruh gelagatnya menunjukkan rasa bersalah yang luar biasa."Kak, aku harus minta maaf soal apa? Aku nggak pernah membohongi kalian."Aulia masih berusaha berkelit.Akan tetapi, Yoga langsung menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga jatuh ke lantai."Waktu Nenek meninggal, aku sempat meneleponmu. Kamu masih ingat, 'kan?"Aulia merintih kesakitan sambil meringis.Dia menatap ke arah Ibu dengan tatapan meminta tolong."Ibu, Ayah. Kakak sudah gila!"Ayah dan Ibu hanya berdiri
Sesampainya di tempat kerja.Yoga langsung bergegas masuk ke dalam lab forensik seperti orang gila.Sang asisten yang melihat kemunculan tiba-tiba Yoga, tertegun selama beberapa saat."Bukannya kamu sedang di pesta pertunangan Aulia?""Anjingnya mana? Mana anjing itu?"Asistennya benar-benar ketakutan melihat kondisi Yoga yang kacau."Di sini nggak ada anjing."Yoga langsung mencengkeram kerah baju asistennya. Yoga benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda."Anjing yang ... yang ditemukan bareng tulang belulang itu.""Aku mau ... anjing itu."Di akhir kalimatnya, suara Yoga tercekat karena tangis, sampai-sampai nada bicaranya sudah tidak jelas lagi.Asistennya akhirnya paham, lalu menunjuk ke arah meja rak di dalam."Aku taruh di sana."Yoga melepaskannya, lalu berlari dengan langkah terhuyung-huyung menuju ruangan di dalam.Dia yang biasanya selalu disiplin dan teliti, bahkan tidak memakai sarung tangan saat menggeledah tumpukan barang di sana.Akhirnya, dia menemukannya.Sebuah
Wajah Yoga seketika pucat pasi. Dia berkata dengan nada tak percaya, "Coba ulangi lagi!"Suara di ujung telepon juga terdengar sangat syok. Asistennya diam cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi, "Aku nggak begitu yakin sih, mending kamu cek dan pastikan sendiri saja."Brak!Ponsel itu terlepas dari genggaman Yoga dan jatuh ke lantai.Dia berdiri terpaku di sana dengan tatapan kosong.Sampai akhirnya, suara denting notifikasi WhatsApp terdengar.Itu adalah pesan dari asistennya yang mengirimkan foto hasil rekonstruksi tadi.Yoga menatap layar ponsel itu dengan linglung.Baru saja dia hendak memungut ponsel itu.Sepasang tangan sudah lebih dulu mendahuluinya."Kakak, sedang apa di sini?""Anak-anak muda dari Keluarga Yudhistira mau mengajakmu minum-minum terus, eh Kakak malah asyik santai sendirian di sini?"Aulia menyodorkan ponsel itu ke hadapan Yoga.Dia memperhatikan wajah kakaknya yang tampak pucat pasi."Kak, kamu kenapa?"Setelah dipanggil beberapa kali, barulah Yoga tersadar da
Setelah kembali dari pemakaman, aku baru menyadari bahwa jiwaku sepertinya hanya bisa mengikuti ke mana pun Yoga pergi.Rumah Keluarga Manggala yang begitu akrab di ingatan, masih tetap sama seperti yang kukenal.Aku menatap foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang tamu.Akan tetapi, di sana, sudah tidak ada lagi bayanganku.Pada tahun pertama saat aku baru kembali ke Keluarga Manggala, aku menerima hadiah pertama dari Yoga, seekor anjing pudel.Sementara hadiah pertama dari Ayah dan Ibu adalah mengajakku pergi foto keluarga.Saat itu, Nenek masih hidup.Nenek menarikku dari barisan belakang agar berdiri di sampingnya, lalu menatapku dengan penuh kasih sayang."Sonia, akhirnya Nenek bisa menunggumu sampai pulang.""Tenang saja, mulai sekarang, kami nggak bakal biarin kamu hilang lagi."Aku bersandar di pangkuan Nenek dan menangis.Kala itu, aku benar-benar mengira kalau aku sudah menemukan keluarga dan kebahagiaanku yang sesungguhnya.Akan tetapi, tak pernah kusangka, mome
Aulia adalah anak yang diadopsi orang tuaku dari panti asuhan setelah aku hilang.Penjelasan Yoga soal kehadirannya adalah untuk mengisi kekosongan batin keluarga karena ketiadaanku.Secara teknis, dia bisa dibilang sebagai penggantiku.Akan tetapi, sejak hari pertama aku kembali ke Keluarga Manggala, aku justru selalu merasa iri padanya.Hanya dengan sepatah kata atau satu gerakan sederhana, dia bisa menarik perhatian semua orang.Tidak sepertiku.Meski sudah kembali ke Keluarga Manggala, aku tetap tidak bisa membuang kesan kampungan, sikap sensitif, dan rasa minder yang melekat pada diriku.Walaupun Ayah, Ibu, dan Yoga sudah berusaha keras menebus tahun-tahunku yang hilang.Hal itu tetap tidak bisa mencegah kerenggangan yang perlahan tumbuh di antara kami.Di rumah Keluarga Manggala, aku seolah-olah berubah menjadi sosok yang transparan.Sementara Aulia, dia justru lebih terlihat seperti putri bangsawan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarga ini.Tak peduli seberapa







