Share

Bab 2

Author: Burung Laut
Aulia adalah anak yang diadopsi orang tuaku dari panti asuhan setelah aku hilang.

Penjelasan Yoga soal kehadirannya adalah untuk mengisi kekosongan batin keluarga karena ketiadaanku.

Secara teknis, dia bisa dibilang sebagai penggantiku.

Akan tetapi, sejak hari pertama aku kembali ke Keluarga Manggala, aku justru selalu merasa iri padanya.

Hanya dengan sepatah kata atau satu gerakan sederhana, dia bisa menarik perhatian semua orang.

Tidak sepertiku.

Meski sudah kembali ke Keluarga Manggala, aku tetap tidak bisa membuang kesan kampungan, sikap sensitif, dan rasa minder yang melekat pada diriku.

Walaupun Ayah, Ibu, dan Yoga sudah berusaha keras menebus tahun-tahunku yang hilang.

Hal itu tetap tidak bisa mencegah kerenggangan yang perlahan tumbuh di antara kami.

Di rumah Keluarga Manggala, aku seolah-olah berubah menjadi sosok yang transparan.

Sementara Aulia, dia justru lebih terlihat seperti putri bangsawan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarga ini.

Tak peduli seberapa keras aku mencoba, sepertinya usahaku hanya membuat mereka makin menjauh dariku.

Bahkan, mereka mulai salah paham dan menganggapku sedang cemburu, lalu merundung Aulia.

Rasa muak mereka terhadapku makin menjadi-jadi.

Terutama saat kejadian itu, ketika aku ingin menyiapkan hidangan ulang tahun untuk Ibu.

Aku diam-diam membeli banyak bahan makanan dan membawanya pulang.

Aulia menghampiriku dengan ekspresi penuh kebaikan, menawarkan diri untuk mengajariku cara memasak iga asam manis kesukaan Ibu.

Aku mengira dia benar-benar tulus ingin membantuku.

Aku bahkan sengaja menyuruh pelayan yang ada di dapur untuk keluar sebentar.

Akan tetapi, saat aku mengeluarkan iga itu, aku baru menyadari kalau penjualnya lupa memotongnya.

Aku menatap potongan iga yang masih utuh itu dengan bingung.

Aulia kemudian mengambil pisau dapur dan berkata dia bisa membantuku.

Aku mengucapkan terima kasih padanya.

Aku bahkan bertanya dengan penuh kerendahan hati, untuk memberitahuku apa lagi hal yang disukai Ibu.

Aku sangat ingin, begitu mendambakan agar bisa diterima kembali di keluarga ini.

Akan tetapi, saat aku lengah, Aulia tiba-tiba mencengkeram tanganku dengan sangat kuat.

Pisau dapur yang amat tajam itu langsung menebas ibu jari tangan kiriku hingga putus.

Aku menjerit, rasa sakitnya begitu menyayat hati dan mengoyak sukma.

Akan tetapi, setelah kejadian itu, yang kudengar hanyalah rentetan cacian dan tuduhan.

"Sonia, kamu sendiri yang nggak hati-hati sampai memotong jarimu, lalu sekarang kamu mau menyalahkan Aulia?"

"Bertahun-tahun di luar sana, apa cuma sopan santun rendahan begini yang kamu pelajari?"

"Kamu sengaja memanfaatkan rasa bersalah kami padamu buat memfitnah Aulia. Apa kamu baru puas kalau sudah begini?"

Sementara itu, Aulia justru berlutut di hadapanku sambil menangis tersedu-sedu.

"Kak Sonia, aku tahu Kakak membenciku karena sudah merebut kasih sayang Ayah dan Ibu darimu."

"Tapi, aku nggak pernah ada niat buat merebut apa pun darimu."

"Kak Sonia nggak seharusnya melukai tubuhmu sendiri cuma buat mencelakaiku!"

Luka fisik pada tubuhku bahkan belum sempat pulih.

Akan tetapi, ucapan dari empat pasang bibir anggota keluarga itu telah melubangi hatiku hingga hampa.

Meski hanya untuk melakukan penyelidikan sederhana, atau sekadar bertanya sepatah kata padaku, mereka sama sekali tidak sudi melakukannya.

Di dalam hati mereka, seolah-olah aku hanyalah sosok yang licik dan egois.

Makam Nenek terletak di sebelah barat kota.

Saat Aulia tiba sambil menggandeng mesra lengan Yoga, ayah dan Ibu sudah lebih dulu berada di sana untuk melakukan ziarah.

Aku menatap foto yang terpasang di nisan itu.

Aku berjongkok di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

Jika ditanya siapa di Keluarga Manggala yang benar-benar tulus menyayangiku, jawabannya hanya Nenek.

Akan tetapi, sayangnya, Nenek pun kini telah tiada.

Yoga berlutut di tanah, menyalakan dupa, dan bersujud dengan penuh hormat.

"Nenek, Nenek jangan khawatir."

"Nggak peduli sejauh mana si Sonia itu kabur, aku pasti bakal seret dia pulang buat sujud dan minta maaf sama Nenek!"

"Eh, nggak! Dia bahkan nggak punya kualifikasi buat sujud di depan Nenek!"

"Aku pasti bakal bikin pembunuh itu dapat hukuman atas semua perbuatannya!"

Pandanganku langsung kabur.

Sementara seluruh tubuhku terasa seolah baru saja disambar petir!

Ini adalah kedua kalinya aku mendengar dia menyebutku sebagai pembunuh.

Jadi, selama ini, mereka mengira akulah yang telah membunuh Nenek?

Aku merangkak mendekati mereka, berusaha memberikan penjelasan dengan sisa kekuatanku.

"Bukan aku yang bunuh Nenek!"

"Mana mungkin aku tega bunuh Nenek sendiri?"

"Dia ... dialah pelakunya! Aulia yang mencelakai Nenek!"

Aku menunjuk Aulia yang berdiri di samping mereka, berteriak sekuat tenaga hingga suaraku serak.

Akan tetapi, tetap saja tidak ada satu pun orang yang bisa mendengar suaraku.

Aulia menyalakan tiga batang dupa, lalu menancapkannya ke dalam tungku abu.

Raut wajahnya tampak begitu berduka. "Nenek, di alam sana, jangan salahkan Kak Sonia, ya."

"Dia cuma khilaf waktu itu, pasti dia nggak bermaksud buat menyakiti Nenek, kok."

Yoga menyahut dengan penuh amarah, "Nggak usah belain dia!"

"Aku sendiri yang melakukan autopsi pada jasad Nenek. Ada besi beton yang nembus perutnya sampai ke belakang. Apa orang yang punya rasa kemanusiaan tega melakukan hal sekejam itu?"

"Kalau dia masih punya hati nurani, dia nggak bakal sembunyi terus kayak sekarang. Harusnya dia pulang dan menyerahkan diri!"

Mendengar rentetan perbuatan yang tak pernah kulakukan itu, aku menatap Yoga dengan tatapan tak percaya.

Jadi, Aulia memfitnahku sebagai pembunuh Nenek, lalu mengarang cerita bahwa aku melarikan diri karena takut?

Aulia memeluk Yoga dengan erat.

"Kakak, jangan emosi dulu! Aku percaya suatu hari nanti Kak Sonia akan menyadari kesalahannya. Kita harus tetap percaya padanya."

Akan tetapi, Ayah langsung memotong ucapannya, "Dia bukan kakakmu!"

"Keluarga Manggala nggak butuh pembunuh yang tega menghabisi keluarganya sendiri!"

"Aulia, Ayah tahu kamu itu berhati baik. Tapi, Sonia sama sekali nggak pernah menganggap kita sebagai keluarganya!"

Ibu mengusap air mata di sudut matanya. "Ini semua salahku. Kalau saja dulu aku nggak bersikeras mencarinya, dia nggak akan pernah kembali, dan Nenek nggak akan meninggal dengan tragis!"

Aku menatap mereka dengan tatapan kosong.

Hatiku yang sudah lama mendingin, kini diselimuti rasa pilu yang kian mencekam.

Akan tetapi, aku sudah mati.

Aku tidak sedang bersembunyi di mana pun.

Aku sudah mati dibunuh oleh putri kesayangan kalian, adik tercinta kalian, sejak lima tahun lalu!

Dadaku terasa sesak dan nyeri yang luar biasa.

Ternyata, meskipun sudah mati, hati pun masih bisa merasakan sakit!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 7

    Begitu aku berlari sekuat tenaga dan merangkul Nenek yang sudah terkapar di tanah, Aulia sudah menghilang entah ke mana.Aku merogoh ponsel, bersiap menelepon polisi untuk melapor.Akan tetapi, aku tidak sadar bahwa Aulia sudah lama bersembunyi di belakangku untuk melakukan serangan mendadak.Karena takut Nenek belum benar-benar mati, Aulia mengambil besi beton itu dan menikam perut Nenek berulang kali secara membabi buta.Juga, demi menutupi identitasku, Aulia memotong tangan kiriku yang kehilangan ibu jari.Dia bahkan mengeluarkan sebuah koper yang ternyata sudah dia siapkan sebelumnya.Dia sudah merencanakan semuanya sejak awal, bertekad untuk melimpahkan semua kesalahan kepadaku.Bahkan koper yang dia gunakan pun adalah milikku.Hanya saja, rencana awalnya adalah menggunakan koper itu untuk menyembunyikan jasad Nenek.Kehadiranku yang tiba-tiba telah mengacaukan rencananya.Juga kemunculan anjingku yang mengikutiku ke sana, benar-benar di luar dugaannya.Anjing itu, yang dengan set

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 6

    "Yoga, apa yang kamu bicarakan?"Ibu segera datang dan langsung pasang badan melindungi Aulia."Lagi pula, kamu tiba-tiba mengamuk di pesta pertunangan tadi, apa kamu tahu betapa malunya Aulia tadi?""Cepat minta maaf padanya sekarang juga!"Dengan penuh amarah, Yoga mengangkat tulang kering itu dan menunjuk tepat ke arah Aulia."Orang yang seharusnya minta maaf itu dia!""Sini kamu! Ngaku! Dulu, kamu sudah bohong, 'kan?"Aulia ketakutan sampai hampir menempel erat ke tubuh Ibu.Mata Aulia melirik ke sana kemari, seluruh gelagatnya menunjukkan rasa bersalah yang luar biasa."Kak, aku harus minta maaf soal apa? Aku nggak pernah membohongi kalian."Aulia masih berusaha berkelit.Akan tetapi, Yoga langsung menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga jatuh ke lantai."Waktu Nenek meninggal, aku sempat meneleponmu. Kamu masih ingat, 'kan?"Aulia merintih kesakitan sambil meringis.Dia menatap ke arah Ibu dengan tatapan meminta tolong."Ibu, Ayah. Kakak sudah gila!"Ayah dan Ibu hanya berdiri

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 5

    Sesampainya di tempat kerja.Yoga langsung bergegas masuk ke dalam lab forensik seperti orang gila.Sang asisten yang melihat kemunculan tiba-tiba Yoga, tertegun selama beberapa saat."Bukannya kamu sedang di pesta pertunangan Aulia?""Anjingnya mana? Mana anjing itu?"Asistennya benar-benar ketakutan melihat kondisi Yoga yang kacau."Di sini nggak ada anjing."Yoga langsung mencengkeram kerah baju asistennya. Yoga benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda."Anjing yang ... yang ditemukan bareng tulang belulang itu.""Aku mau ... anjing itu."Di akhir kalimatnya, suara Yoga tercekat karena tangis, sampai-sampai nada bicaranya sudah tidak jelas lagi.Asistennya akhirnya paham, lalu menunjuk ke arah meja rak di dalam."Aku taruh di sana."Yoga melepaskannya, lalu berlari dengan langkah terhuyung-huyung menuju ruangan di dalam.Dia yang biasanya selalu disiplin dan teliti, bahkan tidak memakai sarung tangan saat menggeledah tumpukan barang di sana.Akhirnya, dia menemukannya.Sebuah

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 4

    Wajah Yoga seketika pucat pasi. Dia berkata dengan nada tak percaya, "Coba ulangi lagi!"Suara di ujung telepon juga terdengar sangat syok. Asistennya diam cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi, "Aku nggak begitu yakin sih, mending kamu cek dan pastikan sendiri saja."Brak!Ponsel itu terlepas dari genggaman Yoga dan jatuh ke lantai.Dia berdiri terpaku di sana dengan tatapan kosong.Sampai akhirnya, suara denting notifikasi WhatsApp terdengar.Itu adalah pesan dari asistennya yang mengirimkan foto hasil rekonstruksi tadi.Yoga menatap layar ponsel itu dengan linglung.Baru saja dia hendak memungut ponsel itu.Sepasang tangan sudah lebih dulu mendahuluinya."Kakak, sedang apa di sini?""Anak-anak muda dari Keluarga Yudhistira mau mengajakmu minum-minum terus, eh Kakak malah asyik santai sendirian di sini?"Aulia menyodorkan ponsel itu ke hadapan Yoga.Dia memperhatikan wajah kakaknya yang tampak pucat pasi."Kak, kamu kenapa?"Setelah dipanggil beberapa kali, barulah Yoga tersadar da

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 3

    Setelah kembali dari pemakaman, aku baru menyadari bahwa jiwaku sepertinya hanya bisa mengikuti ke mana pun Yoga pergi.Rumah Keluarga Manggala yang begitu akrab di ingatan, masih tetap sama seperti yang kukenal.Aku menatap foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang tamu.Akan tetapi, di sana, sudah tidak ada lagi bayanganku.Pada tahun pertama saat aku baru kembali ke Keluarga Manggala, aku menerima hadiah pertama dari Yoga, seekor anjing pudel.Sementara hadiah pertama dari Ayah dan Ibu adalah mengajakku pergi foto keluarga.Saat itu, Nenek masih hidup.Nenek menarikku dari barisan belakang agar berdiri di sampingnya, lalu menatapku dengan penuh kasih sayang."Sonia, akhirnya Nenek bisa menunggumu sampai pulang.""Tenang saja, mulai sekarang, kami nggak bakal biarin kamu hilang lagi."Aku bersandar di pangkuan Nenek dan menangis.Kala itu, aku benar-benar mengira kalau aku sudah menemukan keluarga dan kebahagiaanku yang sesungguhnya.Akan tetapi, tak pernah kusangka, mome

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 2

    Aulia adalah anak yang diadopsi orang tuaku dari panti asuhan setelah aku hilang.Penjelasan Yoga soal kehadirannya adalah untuk mengisi kekosongan batin keluarga karena ketiadaanku.Secara teknis, dia bisa dibilang sebagai penggantiku.Akan tetapi, sejak hari pertama aku kembali ke Keluarga Manggala, aku justru selalu merasa iri padanya.Hanya dengan sepatah kata atau satu gerakan sederhana, dia bisa menarik perhatian semua orang.Tidak sepertiku.Meski sudah kembali ke Keluarga Manggala, aku tetap tidak bisa membuang kesan kampungan, sikap sensitif, dan rasa minder yang melekat pada diriku.Walaupun Ayah, Ibu, dan Yoga sudah berusaha keras menebus tahun-tahunku yang hilang.Hal itu tetap tidak bisa mencegah kerenggangan yang perlahan tumbuh di antara kami.Di rumah Keluarga Manggala, aku seolah-olah berubah menjadi sosok yang transparan.Sementara Aulia, dia justru lebih terlihat seperti putri bangsawan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarga ini.Tak peduli seberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status