Share

Bab 3

Author: Burung Laut
Setelah kembali dari pemakaman, aku baru menyadari bahwa jiwaku sepertinya hanya bisa mengikuti ke mana pun Yoga pergi.

Rumah Keluarga Manggala yang begitu akrab di ingatan, masih tetap sama seperti yang kukenal.

Aku menatap foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang tamu.

Akan tetapi, di sana, sudah tidak ada lagi bayanganku.

Pada tahun pertama saat aku baru kembali ke Keluarga Manggala, aku menerima hadiah pertama dari Yoga, seekor anjing pudel.

Sementara hadiah pertama dari Ayah dan Ibu adalah mengajakku pergi foto keluarga.

Saat itu, Nenek masih hidup.

Nenek menarikku dari barisan belakang agar berdiri di sampingnya, lalu menatapku dengan penuh kasih sayang.

"Sonia, akhirnya Nenek bisa menunggumu sampai pulang."

"Tenang saja, mulai sekarang, kami nggak bakal biarin kamu hilang lagi."

Aku bersandar di pangkuan Nenek dan menangis.

Kala itu, aku benar-benar mengira kalau aku sudah menemukan keluarga dan kebahagiaanku yang sesungguhnya.

Akan tetapi, tak pernah kusangka, momen itu justru menjadi awal dari mimpi burukku.

Di tahun kelima sejak aku ditemukan, mereka membuangku untuk kedua kalinya.

Hingga akhirnya, hidupku berakhir dengan tragis.

"Kakak, buat acara pertunangan besok, kalau aku pakai gaun yang ini, bagus nggak, ya?"

Aulia keluar setelah berganti pakaian, dia memakai gaun model duyung dengan potongan pinggang tinggi.

Yoga menggodanya, "Buat apa aku bilang bagus, yang penting 'kan tunanganmu suka."

Aulia langsung merengut manja. "Kakak bisa saja, ya, meledekku terus!"

"Awas, ya, nanti kalau Kakak sudah punya pacar, aku bakal ceritain semua aib Kakak dari kecil sampai besar ke dia, tiga hari tiga malam nggak bakal kelar!"

Ayah dan Ibu yang baru turun dari lantai atas kebetulan mendengar percakapan itu.

"Yoga, jangan terlalu memanjakan Aulia. Nanti kalau dia sudah nikah, awas, ya, kalau sampai pulang ke rumah sambil nangis-nangis!"

Aulia berputar di depan cermin. "Nggak mungkin, Dilan itu baik banget sama aku."

Ibu cuma bisa geleng-geleng kepala. "Lihat tuh, belum juga sah jadi istrinya, sudah pinter banget belain dia!"

"Sini, lihat ini dulu!"

Ibu membawa sebuah kotak perhiasan beludru merah dan menyodorkannya ke hadapan Aulia.

"Ini apa?"

"Kotaknya kok kayak nggak asing ya?"

Aku ikut menoleh ke arah kotak itu.

Akan tetapi, pada saat mataku menangkap wujud kotak tersebut, seluruh tubuhku kaku seketika.

Itu adalah peninggalan Nenek untukku!

Dulu, Nenek sendiri yang menyerahkannya langsung ke tanganku di depan seluruh anggota keluarga!

Aulia mengulurkan tangan dan membuka kotaknya.

Begitu melihat satu set lengkap perhiasan zamrud ungu alami di dalamnya, sorot matanya langsung berbinar-binar.

Nenek pernah memberitahuku bahwa set perhiasan ini adalah pemberian Kakek saat beliau masih hidup dulu.

Kala itu, nilai pasarnya sudah melampaui 400 miliar.

Kini, setelah sekian tahun berlalu, harganya pasti sudah melonjak berkali-kali lipat dari angka itu.

"Bukannya ini pemberian Nenek buat Kak Sonia, ya?" tanya Aulia.

Ibu langsung membentaknya dengan tidak senang, "Sudah Ibu bilang berulang kali, kamu nggak punya kakak seperti dia!"

"Karena sekarang kamu anak Ibu, ya otomatis barang ini jadi milikmu."

Aulia berusaha sekuat tenaga menekan rasa gembira yang meluap di hatinya, sementara raut wajahnya masih saja dipasang sok polos dan pengertian.

"Bagaimana kalau ... suatu hari nanti dia kembali?"

"Kalau dia berani balik, rumah ini sudah nggak ada tempat buat dia! Bahkan kalau mati pun, dia nggak pantes masuk ke aula leluhur Keluarga Manggala!"

Setiap kali namaku disebut, Yoga selalu meledak-ledak seperti bom yang tersulut api.

Aulia masih tampak ragu-ragu.

Akan tetapi, Ibu sudah terlanjur mengambil perhiasan itu dan memakaikannya pada leher Aulia.

Aulia memang dasarnya punya kulit putih dan wajah cantik, sekarang setelah dandan dan pakai perhiasan mahal, dia kelihatan makin bersinar dan memesona.

Aku menatap pantulan diriku di cermin dengan dingin.

Ini adalah pencapaian yang tak akan pernah bisa kugapai, sekeras apa pun aku berusaha.

Selama Aulia berdiri di sana, sorot mata semua orang akan selalu tertuju padanya.

Dia adalah bintang paling terang di seluruh Keluarga Manggala.

Sedangkan aku ... hanyalah gadis liar yang entah dipungut dari mana.

Keesokan harinya, pesta pertunangan digelar di hotel terbesar di seluruh kota.

Dekorasi ruangan diatur sedemikian megah dan mewah.

Ekspresi setiap orang yang hadir di sana dihiasi oleh rona kebahagiaan.

Selama lima tahun sejak kematianku, kehidupan semua orang tampaknya menjadi jauh lebih bahagia.

Aku melayang di tengah aula yang penuh sesak oleh hiruk-pukuk manusia.

Terus mengikuti Yoga ke sana kemari menyambut para tamu undangan.

Aulia bersandar di bahu Dilan, tersenyum dengan begitu manis.

Entah siapa yang memulai pembicaraan lebih dulu.

"Untung si jelek Sonia itu kabur! Jadi, kalian berdua yang serasi ini bisa bersatu."

Orang-orang di sekitar pun mulai ikut-ikutan cari muka.

"Bener banget! Dia itu nggak ngaca apa, ya? Sudah cacat, masih mimpi mau jadi nyonya muda di Keluarga Yudhistira? Mimpi di siang bolong!"

Mendengar itu, Aulia langsung berakting sok suci.

"Duh, nggak enak tahu ngomong gitu. Bagaimanapun juga, dia itu kakakku."

Dilan yang berada di sampingnya menyahut dengan nada penuh penghinaan, "Mana ada tempat buat pembunuh di Keluarga Yudhistira? Aulia, kamu tuh terlalu baik, sampai sekarang pun masih saja belain dia!"

"Setuju! Orang kayak gitu kalau ketangkap harusnya langsung ditembak mati saja!"

Mendengar itu, Aulia mengatupkan bibirnya dan makin menyandarkan tubuhnya ke pelukan Dilan.

Aku menatap dingin sepasang kekasih yang sedang bermesraan itu.

Dulu, saat kesehatan Nenek masih cukup baik, demi masa depanku, beliau rela membuang harga dirinya demi memohon kepada Keluarga Yudhistira untuk menetapkan perjodohan ini.

Akan tetapi, Aulia tidak terima.

Dia sudah menyukai Dilan selama bertahun-tahun, tetapi karena aku tiba-tiba muncul dan merebut posisinya, kebenciannya padaku makin berlipat ganda.

Demi menggagalkan pernikahan itu, dia sampai tega mengambil pisau dapur dan memotong jariku.

Dilan mungkin tidak keberatan menikahi wanita yang tidak dicintainya, tetapi dia tidak sudi memiliki istri yang cacat secara fisik.

Gara-gara masalah itu, Dilan sampai mendatangi rumah Keluarga Manggala.

Dia bersikeras membatalkan pertunangan kami.

Sekarang, waktu sudah berlalu, dan Aulia akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya.

Sementara aku telah berubah menjadi setumpuk tulang belulang.

Dia merebut kehidupan yang seharusnya menjadi milikku.

Kasih sayang Ayah dan Ibu, perhatian dari Kakak, restu dari kerabat dan teman, bahkan berhasil menikah dengan pria pujaannya sesuai keinginan.

Tuhan sungguh tidak adil!

Orang yang sudah menghancurkanku, malah bisa hidup sebahagia ini!

Jantungku rasanya seperti disayat oleh ribuan pisau, sakitnya begitu menyesakkan napas.

Tepat saat pesta hampir berakhir, ponsel Yoga tiba-tiba berdering.

Telepon itu dari asistennya.

Yoga melangkah keluar dari kerumunan, mencari sudut yang sepi sebelum mengangkat telepon itu.

Begitu tersambung, suara di seberang sana terdengar ragu-ragu dan terbata-bata.

"Guru, hasil rekonstruksi tengkoraknya sudah jadi."

"Fotonya ... sudah aku kirim ke ponselmu."

"Kalau aku lihat fotonya, kok sepertinya agak mirip ... Sonia."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 7

    Begitu aku berlari sekuat tenaga dan merangkul Nenek yang sudah terkapar di tanah, Aulia sudah menghilang entah ke mana.Aku merogoh ponsel, bersiap menelepon polisi untuk melapor.Akan tetapi, aku tidak sadar bahwa Aulia sudah lama bersembunyi di belakangku untuk melakukan serangan mendadak.Karena takut Nenek belum benar-benar mati, Aulia mengambil besi beton itu dan menikam perut Nenek berulang kali secara membabi buta.Juga, demi menutupi identitasku, Aulia memotong tangan kiriku yang kehilangan ibu jari.Dia bahkan mengeluarkan sebuah koper yang ternyata sudah dia siapkan sebelumnya.Dia sudah merencanakan semuanya sejak awal, bertekad untuk melimpahkan semua kesalahan kepadaku.Bahkan koper yang dia gunakan pun adalah milikku.Hanya saja, rencana awalnya adalah menggunakan koper itu untuk menyembunyikan jasad Nenek.Kehadiranku yang tiba-tiba telah mengacaukan rencananya.Juga kemunculan anjingku yang mengikutiku ke sana, benar-benar di luar dugaannya.Anjing itu, yang dengan set

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 6

    "Yoga, apa yang kamu bicarakan?"Ibu segera datang dan langsung pasang badan melindungi Aulia."Lagi pula, kamu tiba-tiba mengamuk di pesta pertunangan tadi, apa kamu tahu betapa malunya Aulia tadi?""Cepat minta maaf padanya sekarang juga!"Dengan penuh amarah, Yoga mengangkat tulang kering itu dan menunjuk tepat ke arah Aulia."Orang yang seharusnya minta maaf itu dia!""Sini kamu! Ngaku! Dulu, kamu sudah bohong, 'kan?"Aulia ketakutan sampai hampir menempel erat ke tubuh Ibu.Mata Aulia melirik ke sana kemari, seluruh gelagatnya menunjukkan rasa bersalah yang luar biasa."Kak, aku harus minta maaf soal apa? Aku nggak pernah membohongi kalian."Aulia masih berusaha berkelit.Akan tetapi, Yoga langsung menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga jatuh ke lantai."Waktu Nenek meninggal, aku sempat meneleponmu. Kamu masih ingat, 'kan?"Aulia merintih kesakitan sambil meringis.Dia menatap ke arah Ibu dengan tatapan meminta tolong."Ibu, Ayah. Kakak sudah gila!"Ayah dan Ibu hanya berdiri

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 5

    Sesampainya di tempat kerja.Yoga langsung bergegas masuk ke dalam lab forensik seperti orang gila.Sang asisten yang melihat kemunculan tiba-tiba Yoga, tertegun selama beberapa saat."Bukannya kamu sedang di pesta pertunangan Aulia?""Anjingnya mana? Mana anjing itu?"Asistennya benar-benar ketakutan melihat kondisi Yoga yang kacau."Di sini nggak ada anjing."Yoga langsung mencengkeram kerah baju asistennya. Yoga benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda."Anjing yang ... yang ditemukan bareng tulang belulang itu.""Aku mau ... anjing itu."Di akhir kalimatnya, suara Yoga tercekat karena tangis, sampai-sampai nada bicaranya sudah tidak jelas lagi.Asistennya akhirnya paham, lalu menunjuk ke arah meja rak di dalam."Aku taruh di sana."Yoga melepaskannya, lalu berlari dengan langkah terhuyung-huyung menuju ruangan di dalam.Dia yang biasanya selalu disiplin dan teliti, bahkan tidak memakai sarung tangan saat menggeledah tumpukan barang di sana.Akhirnya, dia menemukannya.Sebuah

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 4

    Wajah Yoga seketika pucat pasi. Dia berkata dengan nada tak percaya, "Coba ulangi lagi!"Suara di ujung telepon juga terdengar sangat syok. Asistennya diam cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi, "Aku nggak begitu yakin sih, mending kamu cek dan pastikan sendiri saja."Brak!Ponsel itu terlepas dari genggaman Yoga dan jatuh ke lantai.Dia berdiri terpaku di sana dengan tatapan kosong.Sampai akhirnya, suara denting notifikasi WhatsApp terdengar.Itu adalah pesan dari asistennya yang mengirimkan foto hasil rekonstruksi tadi.Yoga menatap layar ponsel itu dengan linglung.Baru saja dia hendak memungut ponsel itu.Sepasang tangan sudah lebih dulu mendahuluinya."Kakak, sedang apa di sini?""Anak-anak muda dari Keluarga Yudhistira mau mengajakmu minum-minum terus, eh Kakak malah asyik santai sendirian di sini?"Aulia menyodorkan ponsel itu ke hadapan Yoga.Dia memperhatikan wajah kakaknya yang tampak pucat pasi."Kak, kamu kenapa?"Setelah dipanggil beberapa kali, barulah Yoga tersadar da

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 3

    Setelah kembali dari pemakaman, aku baru menyadari bahwa jiwaku sepertinya hanya bisa mengikuti ke mana pun Yoga pergi.Rumah Keluarga Manggala yang begitu akrab di ingatan, masih tetap sama seperti yang kukenal.Aku menatap foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang tamu.Akan tetapi, di sana, sudah tidak ada lagi bayanganku.Pada tahun pertama saat aku baru kembali ke Keluarga Manggala, aku menerima hadiah pertama dari Yoga, seekor anjing pudel.Sementara hadiah pertama dari Ayah dan Ibu adalah mengajakku pergi foto keluarga.Saat itu, Nenek masih hidup.Nenek menarikku dari barisan belakang agar berdiri di sampingnya, lalu menatapku dengan penuh kasih sayang."Sonia, akhirnya Nenek bisa menunggumu sampai pulang.""Tenang saja, mulai sekarang, kami nggak bakal biarin kamu hilang lagi."Aku bersandar di pangkuan Nenek dan menangis.Kala itu, aku benar-benar mengira kalau aku sudah menemukan keluarga dan kebahagiaanku yang sesungguhnya.Akan tetapi, tak pernah kusangka, mome

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 2

    Aulia adalah anak yang diadopsi orang tuaku dari panti asuhan setelah aku hilang.Penjelasan Yoga soal kehadirannya adalah untuk mengisi kekosongan batin keluarga karena ketiadaanku.Secara teknis, dia bisa dibilang sebagai penggantiku.Akan tetapi, sejak hari pertama aku kembali ke Keluarga Manggala, aku justru selalu merasa iri padanya.Hanya dengan sepatah kata atau satu gerakan sederhana, dia bisa menarik perhatian semua orang.Tidak sepertiku.Meski sudah kembali ke Keluarga Manggala, aku tetap tidak bisa membuang kesan kampungan, sikap sensitif, dan rasa minder yang melekat pada diriku.Walaupun Ayah, Ibu, dan Yoga sudah berusaha keras menebus tahun-tahunku yang hilang.Hal itu tetap tidak bisa mencegah kerenggangan yang perlahan tumbuh di antara kami.Di rumah Keluarga Manggala, aku seolah-olah berubah menjadi sosok yang transparan.Sementara Aulia, dia justru lebih terlihat seperti putri bangsawan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarga ini.Tak peduli seberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status