Share

Kebisuan dalam Kedalaman Air
Kebisuan dalam Kedalaman Air
Author: Burung Laut

Bab 1

Author: Burung Laut
Segera setelah menerima laporan, Yoga Manggala segera bergegas ke lokasi kejadian bersama asisten barunya.

Di dalam koper berwarna merah tua yang kusam itu, selain dua bongkah batu besar yang berat, terdapat sesosok kerangka manusia yang meringkuk di dalamnya.

Tatapan mata Yoga tampak gelap dan dalam.

Dilihat dari kondisinya, kerangka ini jelas sudah meninggal setidaknya lebih dari dua tahun.

Makin lama waktu berlalu, makin sedikit jejak yang ditinggalkan pelaku.

Itu berarti makin tinggi pula tuntutan keahlian teknis dalam penyelidikannya.

Asistennya memungut salah satu batu, lalu mengambil sepotong tulang putih pendek yang diduga sebagai tulang kering dari dalam koper.

"Ini nggak mungkin tulang anak kecil, 'kan?"

Nada bicaranya yang bercanda dan meremehkan membuat ekspresi Yoga langsung tidak senang.

Yoga meliriknya dengan tajam, ekspresinya sangat serius.

"Bicaralah berdasarkan fakta!"

Wajah asisten itu merah karena malu.

Dia segera membuang pikiran isengnya dan mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti, mengikuti arahan Yoga.

Melihat itu, perasaanku yang semula tegang perlahan mulai tenang.

Lima tahun tak berjumpa, kakakku, Yoga Manggala, masih tetap forensik yang berdedikasi dan bertanggung jawab seperti dulu.

Dengan kemampuannya, aku yakin dia akan segera mengenali identitasku, mencari tahu siapa pembunuhku.

Setelah melakukan pemeriksaan awal yang singkat, Yoga menghampiri Kapten Rusli.

"Kondisi tulangnya sudah mengalami pemutihan yang parah. Aku harus membawanya kembali ke laboratorium untuk identifikasi lebih lanjut."

"Hasilnya akan segera kulaporkan padamu dalam satu atau dua hari ini," lanjutnya dengan profesional.

Kapten Rusli mengangguk paham. "Baiklah, mohon bantuannya beberapa hari ke depan."

"Oh, iya, apa Sonia masih belum menghubungi kalian?"

Jantungku seketika mencelos.

Lima tahun telah berlalu, ternyata masih ada orang yang mengingat namaku!

Akan tetapi, raut wajah Yoga langsung berubah muram dan masam dalam sekejap.

"Emangnya dia masih punya muka buat menghubungi kami?"

"Kamu tenang saja, kalau aku tahu di mana dia, aku pasti akan langsung lapor polisi. Aku nggak akan biarkan pembunuh ini berkeliaran bebas di luar sana."

Aku mendengarkan percakapan mereka dengan bingung.

Pembunuh?

Apa mereka sedang membicarakan diriku?

Kapten Rusli mengerutkan kening. "Sonia itu masih status tersangka. Kasus tahun itu punya banyak kejanggalan, belum tentu Sonia yang melakukannya ...."

Yoga menyela dengan emosi, "Kalau bukan dia, terus siapa lagi?"

"Kalau tahu dia orang yang tega berbuat sekejam itu, dari awal aku nggak sudi jemput dia pulang ke rumah!"

Mendengar ucapan Kakak yang begitu dingin dan tanpa ampun, hatiku rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Lima tahun telah berlalu, ternyata dia masih membenciku sedalam itu?

Aku terpisah dari keluargaku saat usiaku masih lima tahun.

Sepuluh tahun yang lalu aku baru ditemukan dan orang yang menjemputku pulang saat itu adalah Yoga.

Seandainya dia mau memperhatikan dengan saksama, dia pasti akan menyadari sesuatu pada koper yang menjadi tempat pembuangan mayat di hadapannya ini.

Salah satu rodanya rusak, terbentur karena Yoga kurang kuat memegangnya hingga terjatuh dari tangga saat dia membantuku membawakannya pulang ke rumah dulu.

Akan tetapi, kurasa dia sudah melupakan semua detail kecil itu.

Saat tulang-belulangku dibawa kembali ke lab forensik, jiwaku pun ikut terbang mengikutinya.

Asisten forensik mulai melaporkan hasil pemeriksaan awal kepada Yoga.

"Jenis kelamin perempuan, usia tulang sekitar 20 hingga 23 tahun, dengan tinggi badan berkisar antara 164 cm sampai 168 cm."

"Berdasarkan tingkat pembusukan jasad dan kondisi lingkungan di dasar air, diperkirakan korban telah meninggal setidaknya lebih dari tiga tahun yang lalu."

"Tapi, ada yang aneh."

Yoga mendongak, menatap asistennya dengan tajam.

"Katakan."

"Semua tulang-belulangnya cukup utuh, tapi cuma tangan kirinya saja yang hilang."

"Kalau dilihat dari bekas potongan pada permukaan tulangnya, tangan ini sepertinya dipotong paksa tepat di bagian pergelangan dengan menggunakan alat tajam."

Yoga mengangguk puas.

Setelah itu, dia mulai memeriksa kerangkaku dengan sangat teliti.

"Luka mematikannya ada pada tulang ubun-ubun. Ada cekungan yang sangat jelas di sini. Dilihat dari luka robek dan retakan di sekitar tulang, tinggi badan pelaku jelas jauh lebih tinggi daripada korban."

"Tapi, nggak menutup kemungkinan juga kalau korban saat itu sedang dalam posisi jongkok atau duduk sehingga pelaku melakukan serangan mendadak dari arah belakang."

Setelah mengatakan itu, Yoga sengaja melirik asistennya, seolah sedang memberinya pelajaran lapangan secara langsung.

Suaranya terdengar menyindir, "Sekarang, coba lihat lagi anak kecil ini."

Si asisten menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, Guru, jangan meledekku terus, dong."

Yoga tak lagi menggodanya. Sambil tersenyum tipis, dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah objek tersebut. "Ini tulang seekor anjing."

"Penilaian awal menunjukkan ini seekor anjing jenis pudel berusia sekitar tiga tahun."

Begitu menyebutkan jenis anjing itu, tatapan mata Yoga mendadak membeku sesaat.

Hidungku terasa perih, menahan tangis yang tak akan pernah bisa tumpah.

Seharusnya, dia ingat.

Anjing pudel itu adalah hadiah darinya untuk ulang tahun pertamaku sejak aku kembali ke Keluarga Manggala.

"Kakak!"

Sebuah teriakan dari luar pintu seketika membuyarkan lamunan Yoga.

Suara yang sangat kukenal itu menusuk telingaku.

Seluruh tubuhku membeku saat aku menoleh ke arah sumber suara.

Kilasan memori dari detik-detik sebelum kematianku berputar cepat di kepala seperti film rusak.

Dia.

Dialah yang membunuhku!

Yoga menatap Aulia Manggala yang menjulurkan kepalanya dari balik celah pintu.

Yoga pun menegur dengan nada menyalahkan, "Nggak sopan! Siapa yang izinkan kamu masuk ke sini?"

Aulia menjulurkan lidahnya dengan manja. "Pak Dokter Forensik Yoga yang hebat, kamu sudah dua hari dua malam nggak pulang ke rumah."

Sang asisten tertawa sambil mendorong bahu Yoga ke arah pintu.

"Guru, sisanya serahkan padaku saja. Begitu ada hasilnya, aku akan langsung mengabarimu."

Yoga memberikan beberapa instruksi tambahan sebelum akhirnya melangkah keluar dari lab forensik.

Sepasang mata Aulia sempat melirik sekilas ke dalam ruangan itu.

Seolah tidak sengaja, Aulia bertanya, "Ada kasus baru lagi, ya?"

Yoga menanggalkan jubah lab dan sarung tangannya, lalu mendorong dahi Aulia dengan jari telunjuk agar gadis itu mundur ke luar.

"Jangan tanya-tanya yang bukan urusanmu."

Aulia memanyunkan bibirnya, tampak tak puas. "Kalau begitu, Pak Dokter Forensik yang hebat, apa kamu tahu hari ini hari apa?"

Yoga mencubit pipi Aulia dengan penuh kasih sayang. "Hari peringatan kematian Nenek, aku ingat."

"Hmph! Baguslah kalau Kakak masih punya hati. Kakak sudah dua hari nggak pulang, aku takut Kakak lupa, makanya aku sengaja datang menjemputmu."

Raut wajah Yoga berubah serius. "Besok-besok kalau mau ke sini, kabari dulu lewat pesan. Atau tunggu saja di ruanganku."

"Di sini aturannya ketat, orang luar nggak boleh sembarangan masuk."

"Iya, aku tahu. Kakak sudah bilang begitu berkali-kali."

"Sudah dibilang berkali-kali, tapi kamu tetap nggak ingat juga!"

Jiwaku terus mengekor di belakang mereka saat mereka berjalan keluar.

Kebencian yang meluap di sekujur tubuhku terasa sia-sia karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

Jiwaku hanya bisa menembus raga musuhku, tanpa bisa menyakitinya sedikit pun.

Lihatlah dua orang di hadapanku ini.

Yang satu adalah kakak yang paling kuhormati.

Yang satu lagi adalah pembunuh yang merenggut nyawaku.

Selama lima tahun aku menghilang, hubungan Yoga dan Aulia tampaknya menjadi jauh lebih akrab daripada sebelumnya.

Seluruh tubuhku gemetar hebat saat kenangan mengerikan tentang momen terakhir ketika Aulia menghabisiku kembali terbayang.

Ekspresi Aulia tampak mengerikan saat dia mencekik leherku dengan kuat.

"Sonia, kenapa kamu harus kembali?"

"Kenapa kamu harus menghancurkan kebahagiaanku?"

"Kenapa saat kamu kembali, aku harus dikirim lagi ke panti asuhan?"

"Aku nggak mau kembali lagi ke tempat terkutuk itu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 7

    Begitu aku berlari sekuat tenaga dan merangkul Nenek yang sudah terkapar di tanah, Aulia sudah menghilang entah ke mana.Aku merogoh ponsel, bersiap menelepon polisi untuk melapor.Akan tetapi, aku tidak sadar bahwa Aulia sudah lama bersembunyi di belakangku untuk melakukan serangan mendadak.Karena takut Nenek belum benar-benar mati, Aulia mengambil besi beton itu dan menikam perut Nenek berulang kali secara membabi buta.Juga, demi menutupi identitasku, Aulia memotong tangan kiriku yang kehilangan ibu jari.Dia bahkan mengeluarkan sebuah koper yang ternyata sudah dia siapkan sebelumnya.Dia sudah merencanakan semuanya sejak awal, bertekad untuk melimpahkan semua kesalahan kepadaku.Bahkan koper yang dia gunakan pun adalah milikku.Hanya saja, rencana awalnya adalah menggunakan koper itu untuk menyembunyikan jasad Nenek.Kehadiranku yang tiba-tiba telah mengacaukan rencananya.Juga kemunculan anjingku yang mengikutiku ke sana, benar-benar di luar dugaannya.Anjing itu, yang dengan set

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 6

    "Yoga, apa yang kamu bicarakan?"Ibu segera datang dan langsung pasang badan melindungi Aulia."Lagi pula, kamu tiba-tiba mengamuk di pesta pertunangan tadi, apa kamu tahu betapa malunya Aulia tadi?""Cepat minta maaf padanya sekarang juga!"Dengan penuh amarah, Yoga mengangkat tulang kering itu dan menunjuk tepat ke arah Aulia."Orang yang seharusnya minta maaf itu dia!""Sini kamu! Ngaku! Dulu, kamu sudah bohong, 'kan?"Aulia ketakutan sampai hampir menempel erat ke tubuh Ibu.Mata Aulia melirik ke sana kemari, seluruh gelagatnya menunjukkan rasa bersalah yang luar biasa."Kak, aku harus minta maaf soal apa? Aku nggak pernah membohongi kalian."Aulia masih berusaha berkelit.Akan tetapi, Yoga langsung menjambak rambutnya dan menyeretnya hingga jatuh ke lantai."Waktu Nenek meninggal, aku sempat meneleponmu. Kamu masih ingat, 'kan?"Aulia merintih kesakitan sambil meringis.Dia menatap ke arah Ibu dengan tatapan meminta tolong."Ibu, Ayah. Kakak sudah gila!"Ayah dan Ibu hanya berdiri

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 5

    Sesampainya di tempat kerja.Yoga langsung bergegas masuk ke dalam lab forensik seperti orang gila.Sang asisten yang melihat kemunculan tiba-tiba Yoga, tertegun selama beberapa saat."Bukannya kamu sedang di pesta pertunangan Aulia?""Anjingnya mana? Mana anjing itu?"Asistennya benar-benar ketakutan melihat kondisi Yoga yang kacau."Di sini nggak ada anjing."Yoga langsung mencengkeram kerah baju asistennya. Yoga benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda."Anjing yang ... yang ditemukan bareng tulang belulang itu.""Aku mau ... anjing itu."Di akhir kalimatnya, suara Yoga tercekat karena tangis, sampai-sampai nada bicaranya sudah tidak jelas lagi.Asistennya akhirnya paham, lalu menunjuk ke arah meja rak di dalam."Aku taruh di sana."Yoga melepaskannya, lalu berlari dengan langkah terhuyung-huyung menuju ruangan di dalam.Dia yang biasanya selalu disiplin dan teliti, bahkan tidak memakai sarung tangan saat menggeledah tumpukan barang di sana.Akhirnya, dia menemukannya.Sebuah

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 4

    Wajah Yoga seketika pucat pasi. Dia berkata dengan nada tak percaya, "Coba ulangi lagi!"Suara di ujung telepon juga terdengar sangat syok. Asistennya diam cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi, "Aku nggak begitu yakin sih, mending kamu cek dan pastikan sendiri saja."Brak!Ponsel itu terlepas dari genggaman Yoga dan jatuh ke lantai.Dia berdiri terpaku di sana dengan tatapan kosong.Sampai akhirnya, suara denting notifikasi WhatsApp terdengar.Itu adalah pesan dari asistennya yang mengirimkan foto hasil rekonstruksi tadi.Yoga menatap layar ponsel itu dengan linglung.Baru saja dia hendak memungut ponsel itu.Sepasang tangan sudah lebih dulu mendahuluinya."Kakak, sedang apa di sini?""Anak-anak muda dari Keluarga Yudhistira mau mengajakmu minum-minum terus, eh Kakak malah asyik santai sendirian di sini?"Aulia menyodorkan ponsel itu ke hadapan Yoga.Dia memperhatikan wajah kakaknya yang tampak pucat pasi."Kak, kamu kenapa?"Setelah dipanggil beberapa kali, barulah Yoga tersadar da

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 3

    Setelah kembali dari pemakaman, aku baru menyadari bahwa jiwaku sepertinya hanya bisa mengikuti ke mana pun Yoga pergi.Rumah Keluarga Manggala yang begitu akrab di ingatan, masih tetap sama seperti yang kukenal.Aku menatap foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang tamu.Akan tetapi, di sana, sudah tidak ada lagi bayanganku.Pada tahun pertama saat aku baru kembali ke Keluarga Manggala, aku menerima hadiah pertama dari Yoga, seekor anjing pudel.Sementara hadiah pertama dari Ayah dan Ibu adalah mengajakku pergi foto keluarga.Saat itu, Nenek masih hidup.Nenek menarikku dari barisan belakang agar berdiri di sampingnya, lalu menatapku dengan penuh kasih sayang."Sonia, akhirnya Nenek bisa menunggumu sampai pulang.""Tenang saja, mulai sekarang, kami nggak bakal biarin kamu hilang lagi."Aku bersandar di pangkuan Nenek dan menangis.Kala itu, aku benar-benar mengira kalau aku sudah menemukan keluarga dan kebahagiaanku yang sesungguhnya.Akan tetapi, tak pernah kusangka, mome

  • Kebisuan dalam Kedalaman Air   Bab 2

    Aulia adalah anak yang diadopsi orang tuaku dari panti asuhan setelah aku hilang.Penjelasan Yoga soal kehadirannya adalah untuk mengisi kekosongan batin keluarga karena ketiadaanku.Secara teknis, dia bisa dibilang sebagai penggantiku.Akan tetapi, sejak hari pertama aku kembali ke Keluarga Manggala, aku justru selalu merasa iri padanya.Hanya dengan sepatah kata atau satu gerakan sederhana, dia bisa menarik perhatian semua orang.Tidak sepertiku.Meski sudah kembali ke Keluarga Manggala, aku tetap tidak bisa membuang kesan kampungan, sikap sensitif, dan rasa minder yang melekat pada diriku.Walaupun Ayah, Ibu, dan Yoga sudah berusaha keras menebus tahun-tahunku yang hilang.Hal itu tetap tidak bisa mencegah kerenggangan yang perlahan tumbuh di antara kami.Di rumah Keluarga Manggala, aku seolah-olah berubah menjadi sosok yang transparan.Sementara Aulia, dia justru lebih terlihat seperti putri bangsawan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh keluarga ini.Tak peduli seberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status