Share

Permainan Gila Sean

Penulis: Aksara_Lizza
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 21:58:14

Dhita menahan napas saat suara ketukan keras menggetarkan pintu kayu di belakang punggungnya.

“Profesor Sean? Apakah Anda ada di dalam? Berkas evaluasi semester sudah siap ditandatangani.”

Suara sekretaris dekanat terdengar jelas, diikuti langkah kaki dan gumaman rekan dosen senior. Dhita membeku.

Bola matanya membelalak. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Jantungnya berdetak kencang sampai terasa di telinga.

Sean bergerak cepat tanpa suara. Tangannya memutar gerendel kunci.

Klik.

Pintu terkun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Sudah Terikat Dengannya

    “Kau tidak sendirian lagi di rumah ini, Dhita… karena kita adalah orang yang sama.”Suara Sean masih menggantung di antara mereka ketika kilatan putih menyambar jendela perpustakaan.Dentuman petir menyusul, begitu keras hingga kaca bergetar.Dhita memekik tanpa suara dan tubuhnya langsung jatuh ke depan, menubruk dada Sean.Kedua lengannya melingkar di pinggang pria itu, jari-jari mencengkeram kain kemeja dengan kekuatan yang hampir putus asa.Sean tidak terkejut. Ia langsung mendekap punggung Dhita, satu tangan menahan tengkuknya, tangan lain mengusap tulang belikat dengan gerakan lambat dan stabil. Napasnya hangat di rambut Dhita.“Tidak apa-apa,” bisiknya rendah. “Aku di sini. Tidak ada yang akan terjadi padamu selama aku ada.”Dhita tidak menjawab. Wajahnya terbenam di dada Sean, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur.Bau cologne dan whisky yang samar masih menempel di kulit pria itu. Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang menghantam atap dan napas mereka yang sa

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Memiliki Nasib yang Sama

    "Masuklah, Dhita. Jangan berdiri di pintu seperti orang asing," ucap Sean tenang, memecah keheningan yang menyiksa.Dhita berdiri gemetar di ambang pintu, wajahnya pucat pasi diterpa cahaya lilin yang meliuk-liuk.Hawa dingin malam dan guncangan petir di luar membuat tubuhnya terus menggigil.Mendengar panggilan itu, Dhita melangkah masuk secara perlahan, namun ia berhenti beberapa langkah dari meja kerja Sean.Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, memeluk tubuhnya sendiri sebagai perisai dari intimidasi keberadaan pria itu."Om..." suara Dhita bergetar hebat, bercampur dengan emosi panik, cemas, dan rasa bersalah yang telah menumpuk hingga ke puncaknya. "Tolong, aku mohon, hentikan semua permainan gila ini."Sean tidak menyela. Ia hanya memegang gelas whisky-nya, memperhatikan setiap jengkal perubahan raut wajah Dhita di balik kegelapan."Kita berdua sudah melangkah terlalu jauh, Om Sean!" seru Dhita dengan nada tertekan yang ditahan agar tak terdengar sampai keluar."Ibu akan

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Tak Tahan Lagi

    Sabtu sore tiba membawa badai hujan lebat yang mengguyur seisi kota tanpa henti.Di dalam rumah megah dua lantai itu, suasana terasa sunyi dan hampa bagaikan makam tak berpenghuni.Sarah masih tertahan di luar pulau untuk urusan ekspansi bisnis, sementara Randy masih berada di kota lain untuk urusan dinas luar kotanya.Bi Sumi sudah pulang sejak siang hari sebelum hujan deras turun, menyisakan Dhita dan Sean berdua saja di dalam bangunan luas tersebut.Dhita sengaja mengurung diri di dalam kamar tidurnya di lantai dua sejak pagi.Ia mencoba membentengi diri dengan menenggelamkan pikirannya ke dalam tumpukan buku tebal untuk persiapan ujian komprehensif.Namun, usaha penolakan itu terasa sia-sia. Deru angin kencang yang menghantam jendela kaca dan suara gemuruh air di talang atap terus-menerus memecah konsentrasinya.Setiap kali ia memejamkan mata untuk meredakan pusing, sentuhan kasar Sean di balik pintu ruang dosen dan bisikan intimidatif pria itu di dalam mobil terus berputar bagai

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Kepanikan Dhita

    "Jangan sampai ada yang melihatmu keluar dari ruangan ini dengan penampilan kacau seperti itu," bisik Sean datar sebelum akhirnya membukakan pintu untuk Dhita beberapa saat lalu.Kini, kabin mobil SUV hitam milik Sean melaju membelah jalanan kota yang mulai basah disiram gerimis sore.Di kursi penumpang, napas Dhita masih belum sepenuhnya teratur.Tangannya gemetar hebat saat ia berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang kusut dan merapikan rok plisketnya yang berantakan seusai kegilaan di balik pintu ruang kerja dosen.Aroma parfum maskulin Sean bercampur hawa dingin dari AC mobil menguar pekat, seolah terus mengikat kesadaran Dhita pada dosa yang baru saja terjadi.Dhita menarik kaca rias di atas pelindung matahari untuk membenahi rambutnya yang kusut. Namun, gerakannya seketika terhenti kaku.Di pantulan cermin kecil itu, ia melihat jejak noda merah keunguan yang tercetak jelas di leher bagian bawahnya, tepat di atas tulang selangka.Tidak hanya itu, saat Dhita membetulkan lenga

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Permainan Gila Sean

    Dhita menahan napas saat suara ketukan keras menggetarkan pintu kayu di belakang punggungnya.“Profesor Sean? Apakah Anda ada di dalam? Berkas evaluasi semester sudah siap ditandatangani.”Suara sekretaris dekanat terdengar jelas, diikuti langkah kaki dan gumaman rekan dosen senior. Dhita membeku.Bola matanya membelalak. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Jantungnya berdetak kencang sampai terasa di telinga.Sean bergerak cepat tanpa suara. Tangannya memutar gerendel kunci.Klik.Pintu terkunci. Dalam satu gerakan, dia menekan tubuh Dhita ke kayu pintu, telapak tangan kirinya yang lebar membungkam mulut wanita itu rapat-rapat.Dhita bisa merasakan aroma cologne Sean yang samar bercampur keringat tipis. Tubuhnya gemetar.Dari luar, gagang pintu ditarik sekali ke bawah. Tertahan.“Mungkin sedang istirahat,” kata suara pria yang lebih tua. “Atau ke ruang rektor. Kita tunggu sebentar saja di bangku luar.”Langkah kaki menjauh sedikit, tapi tidak hilang. Suara obrolan rendah masih terden

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Perintah yang Tidak Bisa Ditolak

    "Bimbingan skripsimu belum selesai, Dhita," ucap suara dingin itu dari balik podium, menahan langkah Dhita yang hendak melarikan diri dari auditorium.Kuliah berakhir saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang.Ketika puluhan mahasiswa berhamburan keluar kelas sambil bersenda gurau, Sean merapikan berkas-berkasnya di meja dosen tanpa memandang Dhita secara langsung.Namun, sebelum Dhita sempat melangkah keluar membaur bersama teman-temannya, suara berat Sean kembali memanggil namanya.Pria itu memerintahkan Dhita membawa draf bab skripsinya ke ruang kerja pribadinya di sayap timur gedung rektorat dalam waktu sepuluh menit.Alasan yang dilontarkan sangat akademis: koreksi metodologi mendesak yang harus segera diperbaiki.Teman-teman sekelas Dhita menganggap hal itu sebagai keberuntungan, bahkan menepuk bahunya pelan untuk memberikan semangat.Dhita hanya bisa mengulas senyum tipis yang dipaksakan.Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada tali ranselnya, menyadari betul bahwa panggil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status