MasukTamparan di pipi Intan sangat keras dan spontan wanita itu memegangi pipinya sendiri. Seketika di tempat itu menyita perhatian orang-orang yang lewat untuk berbelanja. Suara tamparan itu cukup keras hingga menggema di sudut ruangan. "Kurang ajar kamu, Vin. Kamu udah berani tampar muka aku!" sungut Intan. Dengan santai, Vina langsung membalasnya dengan wajah tegang dan kesal. "Sekali lagi aku ngomong sama kalian, ya! Jangan pernah usik hidupku teruss. Aku sudah nyaman dengan hidup seperti ini, dan Ramli! Kamu tidak berhak menghinanya. Aku dan Ramli hanya sebatas majikan dan pelayan. So, sekarang pergilah sebelum kesabaranku habis!" "Halah! Nggak usah nutup-nutupi borok mu itu. Kita semua udah tahu. Dari kamu kelihatan hamil dan dari bagaimana sikapmu terhadap jongos itu, sepertinya kamu sedang jatuh cinta dan ada hubungan deh! Tapi kenapa harus dengan cowok yang kayak itu sih! Nggak punya channel brondong yang asyik ya? Kok malah mungut sampah jalanan yang nggak guna kayak dia!
Di saat Vina dan Ramli meninggalkan toko itu, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara dari arah belakang. Suara wanita yang sedang memanggil nama Vina. "Hmmm begitu ya, kalau udah jalan berdua sampai lupa sama teman sendiri!" Seketika Vina menoleh ke belakang dan ia melihat tiga temannya. Intan, Mona dan Linda. Ramli pun ikut menoleh dan pria itu tampak menghela napas karena ia bertemu lagi dengan perempuan bernama Intan. Wanita yang paling getol menyebarkan berita perselingkuhan Vina dan pelayannya. Sedangkan baru saja ia tak sengaja bertemu dengan mantan tunangannya, benar-benar hari yang sial untuknya. "Kalian!" Suara Vina keluar ari bibir mungil wanita itu. Vina menanggapinya datar, sejatinya wanita itu sengaja menjaga jarak dengan teman-temannya karena ia tidak ingin tersulut emosi karena apa yang diberitakan oleh teman-temannya itu sudah sangat meresahkan. Ketiga wanita itu nampak tersenyum sinis, si Intan yang semakin antusias mengorek kebenaran dari gosip perselingk
"Tidak perlu repot-repot beliin aku ini, Vin. Jangan dengarkan omongan Bagas!" bisik Ramli saat kedua anaknya sedang tidak melihat mereka. "Ya nggak apa-apa lah. Udah kamu pilih yang mana, ambil saja!" kata Vina seraya melihat beberapa produk celana dalam yang dipajang di etalase. Sejenak Ramli tertarik saat melihat sebuah lingerie berwana hitam yang sangat cantik. Pria itu tersenyum dan berkata pada Vina. "Coba lihat itu, kayaknya kalau kamu yang pakai pasti sangat cantik, warnanya elegan dan sangat mewah, sudah pasti sangat cocok di kulit kamu!" Sontak Vina melihat ke arah benda yang dimaksud oleh Ramli. Wanita itu cukup tercengang saat melihat lingerie yang dimaksud oleh sang pelayan. "Hmmmm bagus sih! Cuma sepertinya terlalu terbuka di aku. Apalagi perut aku mulai gede, jadi kurang cocok aja sekarang. Kelihatan buncit!" jawab Vina sambil menghela napas. Tanpa diduga, Ramli langsung meminta Vina untuk membelinya. "Tapi aku penasaran kamu pakai itu, ambil satu!" Vina m
Sementara itu Bagas menghampiri mereka yang nampak cengar-cengir. Entah kenapa kedua orang itu sedang berhenti di depan toko penjual pakaian dalam. "Ayah, ayo kita pulang! Katanya mau pulang? Kok malah pada ngumpul di depan toko sempak!" tanyanya dengan muka lesu namun kata-katanya langsung membuat Ramli menutup mulut sang anak. "Ehh, jangan ngomong gitu, Bagas! Nggak enak didengar Bu Vina!" bisik Ramli. "Kan Bagas bener, Yah! Itu memang toko sempak, kan? Tuh, pada dipajang di patung?" sahut bocah itu seraya menunjuk ke arah patung manekin cowok yang bersebelahan dengan patung manekin yang memakai lingerie tersebut. "Heh, anak kecil nggak boleh lihat gituan!" Ramli segera menutup mata sang anak dengan telapak tangannya. "Ya nggak apa-apa lah, Yah. Itu kan baju juga namanya, Bagas juga udah pakai sempak kok. Eh, iya, atau mungkin ayah yang mau beli, soalnya ayah kan jarang pakai sempak!" Sungguh, kata-kata bocah laki-laki itu seketika membuat Ramli sangat malu. "Ehh jang
Setelah selesai makan, Monica pamit kepada Vina untuk pulang. "Aku harus pulang, sebenarnya aku masih pingin jalan bareng sama kamu, tapi aku ada janji sama seseorang, makasih banget untuk traktirannya!" ucap Monica sebelum wanita itu pergi. "Sayang banget kamu pulang. Padahal aku masih mau ngajak kamu nonton, habis ini aku mau nonton sama mereka!" kata Vina seraya menoleh ke arah Bagas dan Ayu yang sedang bersama Ramli. "Kamu ajak mereka nonton? Astaga Vina, jadi majikan jangan terlalu baik, Beb! Hati-hati nanti kamu bisa dimanfaatin sama mereka!" bisik Monica. "Ya enggak lah, aku percaya kok sama mereka. Ramli dan anak-anaknya itu baik banget, jadi nggak mungkinlah mereka kayak gitu!" Vina dengan santai menanggapinya. "Aduh Vina! Nggak tahu deh sama pikiran kamu, aku cuma mau bilang aja, tetap hati-hati sama orang lain yang bukan keluarga kita, jangan sampai kamu nyesel!" Monica mengingatkan lagi. Vina cuma tersenyum tipis dan tetap pada pendiriannya. "Ya udah, aku perg
Mendengar namanya disebut, Ramli langsung panik dan berharap Monica tidak bicara macam-macam lagi. Monica menganggukkan kepalanya dan mengiyakan jawaban Vina. Vina menghela napas, ternyata pria bernama Aland itu bukan cuma musuh ayahnya tapi juga penghancur kehidupan sahabatnya. "Jadi, mantan tunanganmu adalah pria itu? Pantas saja brengsek!" Dari raut wajah Vina, jelas menunjukkan bahwa wanita itu sangat marah dengan perbuatan Aland meskipun ia belum pernah berjumpa sekali pun. "Ya, kau tahu nggak sih, aku tuh sayang banget sama dia. Bahkan aku rela melakukan apa pun buat dia, sampai-sampai aku mau tidur dengannya saat dia minta. Karena saking cintanya, aku jadi bodoh!" ungkap Monica yang seketika membuat Vina tercekat. Monica sampai basah melakukan hubungan intim sebelum menikah. "Apa? Jadi kamu dan dia...!" Monica menganggukkan kepalanya. Di sisi lain, Ramli tampak memijit pelipisnya karena akhirnya Vina tahu hubungan Aland Orlando dengan Monica. Meskipun sekarang ia sa






