เข้าสู่ระบบAland masih bingung, apa gerangan yang terjadi pada dirinya. Padahal tadi ia masih baik-baik saja tapi kenapa hanya dalam hitungan detik saja, mendadak dirinya merasa perutnya kram dan pinggangnya terasa kaku. "Entahlah, aku juga tidak tahu!" Sonya segera beranjak untuk mengambil minum. Aland masih mengeluh perutnya yang seperti mulas tak teratur tapi bukan ingin buang air. Namun cukup membuat keringat membanjiri wajahnya yang tampan. Bahkan pria itu sampai mengerang kesakitan karena rasanya lebih sakit dan semakin intens. "Diminum dulu Tuan!" Sonya sudah membawa segelas air putih untuk Aland. Namun, pria itu justru menepis tangan Solnya sehingga membuat gelas yang dibawanya jatuh, tumpah dan pecah. "Aku tidak mau minum! Aaarrrggghh, sakit sekali!" Sepertinya Aland sangat tersiksa, pria itu bahkan tak mampu membawa tubuhnya sendiri. "Tuan, ya ampun! Ini gimana dong!" Sonya panik, gadis itu segera meminta pertolongan dan mengadu pada Nyonya Ratna. Kebetulan sekali Nyonya Ra
Sonya tercengang, gadis itu tidak menyangka jika Aland mengenal saudara ayahnya yang merupakan ayah dari Vina. "Tuan kenal sama Om Andreas?" tanyanya heran. "Jika aku tidak mengenalnya, mana mungkin aku menyuruhmu ke sini!" sahut Aland. "Memangnya apa hubungan Anda dengan Om Andreas?" Sejenak Aland terdiam, gadis ini masih terlalu muda untuk mengetahui alasan kenapa dirinya membenci pria itu. Lalu ia mengambil laptopnya dan menyodorkannya kepada Sonya. "Tidak usah banyak tanya, aku tahu kamu pasti bisa membantuku. Cari keberadaan pria itu sekarang juga! Karena selama ini anak buahku belum ada yang bisa menemukannya. Pria itu sangat pintar menghindariku, jika kamu berhasil, aku akan memberikan lima milyar untukmu, tapi jika kamu tidak bisa, kau tahu sekarang posisi ayahmu di perusahaan sedang terancam, aku bisa menghancurkannya lebih dalam jika sampai kamu gagal, bagaimana?" Sonya bingung, meskipun ia kesal dengan ayahnya, namun ia tidak mungkin tega melihat ayahnya hancur,
Sadar jika dirinya terlalu dekat dengan sang majikan, Sonya langsung menjauh sambil membalikkan badan. Gadis itu langsung mengatakan apa yang akan dilakukannya untuk sang majikan. "Ma-maaf, Tuan. Sa-saya datang ke sini sesuai perintah Anda, memangnya apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan gugup. Aland menyipitkan matanya sambil tersenyum smirk. Lalu pria itu berjalan mengitari sang gadis yang nampak panik. Sungguh, wajahnya sangat mirip dengan mendiang sang istri yang bernama Aminah. Meskipun Aland menikahi Aminah saat dirinya sedang amnesia, tapi wanita itu adalah yang wanita yang hebat baginya. Seorang janda yang sangat menjunjung tinggi Marwah nya sebagai seorang perempuan. Aland yang waktu itu masih menjadi Ramli, sangat menghormati Aminah sebagai istrinya meskipun selisih usia mereka yang cukup jauh. Aland yang berumur 33 tahun, sedangkan Aminah sudah 38 tahun. Kini, setelah dua tahun Kematian sang istri setelah melahirkan putranya, Rendra, Aland bertemu lagi denga
Sonya berusaha untuk tidak terlalu fokus pada dada Ramli yang besar. Wanita mana yang bisa menolak pesona Aland, dari gadis, janda, bahkan istri orang saja sampai tergila-gila padanya. Pria itu menatap wajah putrinya sambil menggenggam tangan mungil bocah itu. Lalu dengan lembut Aland menciumnya. "Maafkan ayah, ya? Ayah belum sempat ajak kalian jalan-jalan. Ayah sibuk sekali akhir-akhir ini!" kata pria itu. "Nggak apa-apa kok, Yah. Ayu bisa ngerti, ayah kan emang orang penting, jadinya pasti sangat sibuk. Lagipula sekarang udah ada Mbak Sonya kok. Ayu udah nggak kesepian lagi, ada yang diajak main. Tahu nggak, Yah. Mbak Sonya ini pinter banget loh ngerjain soal matematika, Pa, Ayu aja sering diajarin rumus sama Mbak Sonya!" Jawaban polos sang anak seketika membuat Aland memicingkan matanya. "Pintar matematika?" Tiba-tiba Aland menatap serius ke arah wajah Sonya. Seperti dirinya sedang menatap mendiang istrinya yang dulu sering ia goda. "Emmm bukan, Tuan. Sa-saya cuma membant
"Mbak Sonya kenapa megap-megap gitu? Kayak ikan kehabisan napas aja!" Suara mungil itu tiba-tiba mengejutkan sang gadis yang baru saja masuk kamar Ayu. Sonya terkesiap, gadis itu segera menghampiri Ayu yang sedang berbaring di atas tempat tidur. "Hei, nggak apa-apa, tadi Mbak cuma lihat tikus lewat, guwedeee banget dan banyak bulunya, ihhh serem pokonya!" jawab Sonya berbohong, gadis berkulit hitam manis yang masih berusia sekitar dua puluh empat tahun itu. "Tikus! Di rumah ayah yang segede ini ada tikus? Nggak mungkin pah itu, Mbak!" sahut Ayu heran. "Ohhh, iya tadi pas Mbak lewat belakang dapur, di sana kan sepi dan masih berupa tanah, ih pokonya Mbak takut banget! Oh ya, Ayu minum obat dulu, ya!" Sonya tampak mengalihkan pembicaraan dengan mengambil obat yang biasa Ayu minum sebelum tidur sebagai obat terapi untuk kelumpuhan kakinya. Sementara itu di kamar. Aland masih tak percaya jika dirinya melihat wajah seorang perempuan yang sangat mirip sekali dengan mendiang istr
Spontan Aland langsung berdiri dan mengambil piyamanya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Mata tajam pria itu segera melihat ke arah sumber suara. Ia merasa ada seseorang di balik pintu kamarnya. Di sisi lain, gadis itu nampak gugup dan segera pergi agar tidak ada yang curiga. Sayangnya tanpa sengaja ia menabrak Nyonya Ratna yang saat itu sedang mencarinya. "Aduhhh! Nyo-Nyonya... Maaf Nyonya, saya tidak sengaja!" pekiknya sembari menundukkan wajahnya panik. Ia khawatir jika Aland mendengar suara jatuhnya vas bunga itu dan keluar dari kamar. "Kamu kenapa ketakutan gitu, Sonya?" tanya Nyonya Ratna heran. "Dan itu! Kenapa vasnya bisa pecah?" tanyanya lagi seraya melihat pecahan beling yang berceceran di atas lantai. "Ma-maaf Nyonya, tadi saya nggak sengaja jatuhin!" jawab wanita yang biasa dipanggil Sonya itu. "Biar saya bersihkan!" sahut gadis itu lagi dan ia segera berjongkok untuk membersikan pecahan-pecahan beling itu. Siapa sangka, di saat Sonya sedang membersihkan pecahan beling







