MasukMendengar kata-kata itu, rasanya ingin sekali Aland keluar dari kamar itu dan memukul apa pun yang ia temui. Tapi ia dipaksa harus bersabar. Ia teringat akan ucapan sang istri untuk bisa mengendalikan emosi dan kini Aland sedang melakukannya. Tangan pria itu cuma mengepal kuat. Tapi ia tidak bisa melampiaskannya. "Tenanglah dirimu, tahan emosimu, Aland. Dengarkan kata-kata istrimu, bahwasanya nafsu amarah tidak akan menyelesaikan apa pun. Luaskan hati, lapangkan dada!" Pria itu membaringkan sendiri sambil menghela napas panjang. Sebisa mungkin ia menarik sudut bibirnya agar tidak terlihat emosi di hadapan nyonya Ratna. "Iya, maaf, Tante! Aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Tentu saja aku ingin sekali melihat Tante bahagia, berkumpul lagi bersama anak Tante. Tapi untuk sekarang mungkin suasananya sudah berubah. Erick masih mengira bahwa Nyonya Rose adalah ibu kandungnya, jadi butuh waktu untuk menyakinkan dia dan aku nggak yakin dia belum bisa mengakui Tante sebagai ibunya.
Pria itu tak mampu bicara. Di depan nyonya Ratna masih anak kecil. Melihat ibunya terbaring sakit, hati anak mana yang tidak bersedih. Saat Aland tertunduk sedih, suara lemah Nyonya Ratna mengejutkan pria itu. "Aland! Kenapa kamu nangis?" Mendengar itu, perlahan Aland mengangkat kepalanya. Kedua matanya memerah dan menatap wajah nyonya Ratna dengan begitu iba. "Tante jangan banyak gerak dulu, Tante harus istirahat!" jawab pria itu. Nyonya Ratna melihat sekelilingnya, wanita itu merasa aneh karena berada di tempat yang menurutnya asing. Suara indikator denyut jantung membuat wanita itu yakin jika dirinya sedang berada di rumah sakit. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku di sini? Aku harus pergi menemuinya, aku nggak mau terlambat!" Aland langsung menenangkan sang Tante. "Tante tenang, Tante tidak perlu ke mana-mana. Tante harus istirahat, oke!" seru Aland. Nyonya Ratna kasih teringat bahwa sebelumnya ia akan bertemu dengan putranya, Erick. Tapi bagaimana bisa ia berada di
"Ratna adalah adik dari almarhum Angelica, mamanya Aland. Jadi, dia adalah kakak sepupumu!" ungkap Nyonya Rose. Erick terdiam sejenak. Jadi ibu kandungnya adalah adik dari mamanya Aland. Lalu, siapa perempuan yang sudah ditabrak oleh anak buahnya? Bukankah itu Tantenya Aland? Jika itu benar, artinya dia sudah menabrak ibu kandungnya sendiri. "Shit!" Erick mulai mengumpat. Nyonya Rose kembali melanjutkan ceritanya. "Mama sudah ketemu sama ibu kandungmu. Ratna, Tante Tuan Aland. Wanita yang sangat disayangi oleh pria itu. Hari ini aku sengaja mengajak Ratna untuk bertemu denganmu. Dia sudah janji tidak akan mengatakan bahwa ia adalah ibumu. Tapi, di saat kami hendak pergi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabraknya!" ungkap Nyonya Rose. Darah Erick kembali berdesir. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. "Tubuh Ratna tergeletak di jalan. Aku nggak tega melihatnya, aku bawa dia ke rumah sakit. Untung saja dokter langsung menolongnya, Ratna mengalami gegar otak ringan dan pata
Nyonya Rose terkesiap. Mungkin seharusnya Erick tahu siapa ibu kandungnya. Wanita itu bergeming dan bingung harus dari mana untuk menjelaskannya. Sedangkan dirinya begitu menyayangi Erick dan tak mau kehilangan kasih sayang dari putranya. "Ma! Kenapa Mama diam? Jawab, Ma?" desak Erick yang mulai curiga. Dari awal pria itu sudah curiga saat ia menemukan foto-foto dan secarik kertas yang berisi tulisan Ratna Tania Orlando. "Ah, Mama... Mama cuma ingin kamu tahu satu hal Erick. Ini, ini adalah sesuatu yang mungkin akan membuatmu terkejut dan shok!" Baru saja nyonya Rose mengatakan demikian. Erick sudah bisa menebaknya. Apa mungkin dugaanya benar jika dirinya bukan anak kandung dari Nyonya Rose. "Apa aku bukan anak kandung Mama? Benar itu, Ma?" Pertanyaan Erick yang tiba-tiba sontak membuat Nyonya Rose membulatkan mata. Bagaimana anaknya langsung menyatakan hal itu sedangkan dirinya tidak pernah memberitahukannya. "Erick! Ka-kamu... Darimana kamu tahu?" tanya Nyonya Rose denga
"Tante saya sudah siuman?" Aland terlihat sangat bahagia mendengar jika sang Tante telah sadar. "Sudah, Tuan. Mari saya antar untuk bertemu beliau. Mohon maaf sebelumnya, Tuan harus memakai baju scrub dulu. Mari ikut saya!" Seorang perawat mengantar Aland untuk bertemu dengan Nyonya Ratna. Akhirnya rencananya untuk mendatangi Erick gagal. Ia lebih memilih untuk bertemu dengan Nyonya Ratna terlebih dahulu sebelum menemui Erick dan memberikan pelajaran pada pria itu. Sementara itu di tempat lain, Erick menunggu kedatangan sang Mama. Di saat itu juga ia mendapatkan informasi bahwa anak buahnya berhasil menabrak Nyonya Ratna yang digadang-gadang sebagai wanita yang sangat disayangi oleh Aland. "Bagus! Aku suka kerja kalian! Lalu bagaimana kondisi perempuan itu? Apa dia sudah mati?" kata Erick sambil tertawa bahagia. "Kami tidak tahu bos. Tapi waktu kami tinggalkan tempat itu, wanita itu tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah. Bisa jadi dia sudah mati!" jawab salah seo
"Oh ya, Tuan. Semoga saja orang itu cepat tertangkap," ucap Nyonya Rose sebelum wanita itu pergi. "Kalau begitu saya permisi dulu, mari!" lanjut wanita Ia pun segera pergi meninggalkan Aland yang masih berdiri di sana. Pria itu cuma menoleh ke samping sambil tersenyum miring. Setelah nyonya Rose pergi, Aland segera melihat kondisi sang Tante yang sudah ditempatkan di ruangan khusus. Pria itu hanya bisa melihat Nyonya Ratna dari luar jendela. Wanita yang selama ini menjadi kekuatan hidupnya terbaring lemas di atas tempat tidur. Dengan berbagai alat medis terpasang pada tubuh lemahnya. Nyonya Ratna memang bukan ibu kandungnya, tapi bagi Aland, Nyonya Ratna adalah segalanya. Wanita yang selalu menyayanginya di saat ia sendirian tanpa kedua orang tua. Tangan yang dulu membasuh kepala Aland dan memeluknya dengan erat. Kini terlihat lemah tak berdaya dengan jarum infus yang menancap. Bagaimana hati pria itu tak sakit melihat wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sedang b







