LOGIN"Tolong, bisakah kau pertemukan aku dengan Tuan Aland?" mohon Erick pada anak buah Aland yang ada di ruangan itu. "Maaf, kami tidak bisa membiarkan orang lain untuk menemui bos kami tanpa seizin beliau, apalagi kamu!" jawab salah satu dari mereka. "Aku mohon, hanya sekali saja pertemukan aku dengannya. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi!" balas Erick. Saat ini pria itu sudah terlihat sangat sehat. Namun, anak buah Aland masih menjaganya dengan ketat. Di saat yang bersamaan, datang Romi untuk melihat keadaan Erick setelah mendapat donor dari bosnya. "Selamat pagi, Tuan Erick. Senang bisa melihatmu hari ini!" ucap Romi sesaat dirinya masuk ke dalam ruangan itu. "Di mana Tuanmu? Aku ingin bertemu dengannya!" "Bos kami ada di rumah. Ada urusan apa Anda ingin bertemu? Apa Anda ingin mencelakai beliau lagi? Tidak bisa, Anda harus melangkahi kami dulu sebelum menyentuh bos kami!" jawab Romi. Dengan tegas Erick menjawabnya. "Siapa yang ingin mencelakainya? Ak
Aland duduk di samping Nyonya Ratna. Ia meraih tangan perempuan itu. Tak bisa dipungkiri bahwa Aland sangat menyayanginya. Nyonya Ratna adalah mengganti ibunya yang telah tiada. Nyonya Ratna sendiri melihat kedatangan sang keponakan. Wanita itu tersenyum getir namun kedua matanya terlihat mengembun. Aland harus bersikap biasa dan tenang meskipun ia ingin sekali menangis. Ia mencoba untuk menghibur nyonya Ratna agar kondisi wanita itu semakin membaik pasca operasi. "Tante apa kabar? Maaf aku baru datang! Aku lihat Tante nggak mau makan, ya? Jangan dong, Tan!" Aland mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Nyonya Ratna. Lalu, ia menyendok nasi untuk disuapkan ke mulut Nyonya Ratna. "Mamam, ya! Ayo buka mulutnya, a,a!" Aland ikut membuka mulutnya agar Nyonya Ratna mau makan. Seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya. Sayangnya, Nyonya Ratna menggelengkan kepala. "Hmmmm, kenapa? Tante nggak suka sama makanannya? Apa Tante mau makan yang lain? Katakan saja nanti aku belik
"Hehem, kangen?" Aland menatap istrinya penuh arti sambil mengulum senyumnya yang terlihat menggoda. Seketika Vina salah tingkah dan langsung meralat ucapannya. "Ohhh, enggak! Kamu salah denger. Aku nggak ngomong gitu tadi!" jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. Aland tidak menjawabnya, tapi dari tatapan matanya Vina sudah tahu jika suaminya sudah mengerti apa yang ia pikirkan. Wanita itu segera mengalihkan pembicaraan agar sang suami tidak berpikir hal itu lagi. "Ah, Mas. Sepertinya kamu harus segera minum jamunya. Keburu dingin, nanti nggak enak! Bentar ya aku ambilkan!" Vina segera pergi untuk mengambilkan jamu yang sudah ia buat untuk sang suami. Namun tiba-tiba saja Aland menahan tangan wanita itu. Vina terkesiap dan hatinya benar-benar gugup dan napasnya naik turun seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Padahal mereka sudah menikah dan memiliki banyak anak. "Apalagi, Mas? Aku mau ambilin kamu jamu," tanya Vina tanpa menoleh ke belakang. Benar saja, Aland mendekati is
Vina terkejut mendengar suara suaminya. Wanita itu langsung menoleh dan ia melihat wajah basah sang suami yang terlihat begitu segar dan lebih tampan. "Eh, ini loh Mas. Pak Waluyo nelpon kalau sekarang Tante Ratna udah dipindahin ke ruangan pemulihan. Operasinya berjalan lancar," jawab Vina sambil senyum-senyum melihat wajah suaminya yang dilihat-lihat mirip sekali dengan tokoh manhwa king Isha khan yang gagah dan perkasa. "Syukurlah!" Aland terlihat bahagia dan lega. Sementara itu sambil memegangi gagang telepon, Vina tak berkedip sama sekali melihat suaminya yang begitu tampan hari ini. "Ya Tuhan, kenapa suamiku tampan sekali hari ini. Ah, sayangnya aku belum selesai nifas. Coba aja kalau aku udah selesai. Emmm pasti aku kekepin dia, pingin dipeluk dan dijepit, ahhhh gila!" Vina bermonolog sendiri membayangkan jika saat ini dirinya bebas dari masa nifas. Sementara itu Pak Waluyo bingung karena tak ada suara Vina lagi. "Halo, halo Bu Vina! Bu Vina masih di sana, kan?" Suara
Vina tertawa kecil. Untuk sejenak ia melupakan tentang donor darah yang telah dilakukan oleh suaminya. Kebersamaan mereka selalu hangat dan penuh canda tawa. Belum lagi Aland yang suka menghirup aroma napas bayi mungil itu. "Hmmmm jigong anak ayah wangi sekali!" Vina tertawa mendengarnya. Ah entahlah, suaminya itu memang ditakuti oleh banyak orang, tapi saat berkumpul bersama keluarga. Sifat jenakanya mulai keluar. Sepertinya baby Raisya haus dan ingin menyusu pada sang Mama. Terlihat dari gerakan lidahnya dan ekspresi wajahnya yang seolah sedang mencari puting ibunya. "Eh kamu kenapa sayang? Gendongan ayah nggak enak, ya? Padahal mamamu suka loh digendong ayah!" celetuk Aland. Vina langsung mencubit pinggang suaminya yang selalu bicara absurd. "Apa sih! Nggak sopan ya Anda! Bukannya kamu yang suka minta aku gendong? Bisa-bisanya memutar balikkan fakta!" jawab Vina dengan ekspresi cemberut. Aland terkekeh lalu ia mencium pipi istrinya cepat. "Hih, apa sih!" Vina kaget
Sementara itu, Vina pergi ke kamarnya untuk menemani sang suami tercinta. Di saat ia membuka pintu. Justru wanita itu dibuat terkejut karena ia tidak melihat keberadaan sang suami di atas ranjang. Padahal saat ia tinggal, Aland masih berbaring di sana. "Mas! Kamu di mana?" Vina memanggil-mangggil suaminya yang tiba-tiba hilang. Lalu tiba-tiba ia mendengar suara Aland yang terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang. Wanita itu bergegas menuju ke arah di mana tempat baby Raisya tidur. Box bayi yang diletakkan tidak jauh dari tempat tidurnya. Benar saja, Vina melihat suaminya sedang menggendong baby Raisya yang sudah bangun. Bukannya tidur karena mengeluh capek. Justru Aland terlihat sedang menimang-nimang putri kecilnya yang lucu. Bahkan sempat-sempatnya pria itu mencium aroma mulut si bayi saat sedang menguap. "Hmmmm sedepnya jigong anak ayah!" katanya yang tanpa sadar didengar dan dilihat oleh Vina. Vina geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol suaminya. Setelah m