LOGINAni sendiri merasa gugup dan ia tidak berani menatap wajah Vina. "Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu!" ucap Vina. Ia tahu betul jika wanita itu memang sedang memiliki masalah besar. "Terima kasih banyak karena sudah membantuku, nanti aku pasti akan ganti uangmu!" kata Ani. "Tidak usah, kamu tidak perlu menggantinya. Aku cuma ingin bertemu sama kamu. Apa benar yang dikatakan ibu tadi, kalau kamu sedang hamil?" balas Vina yang justru bertanya. Ani tampak salah tingkah dan matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa diam? Benar kamu sedang hamil dan kamu mengambil buah mangga ini karena kamu sedang ngidam?" tanya Vina lagi. Sejenak suasana yang hening. Hingga akhirnya tangis Ani pecah. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di hadapan Vina dan lainya. Nyonya Ratna dan Bu Mar. Vina menghela napas dan sudah bisa menduganya. Ucapan Bu Juminten tidak salah. "Ani, jadi benar kamu hamil? Kenapa diam? Ayo jawab?" desak Bu Mar. Ani pun segera menjawabnya dengan anggukan kepala. Sambil me
Akhirnya Vina dan anak-anaknya pergi ke balai desa. Mereka pergi dengan berjalan kaki karena jarak balai desa dari rumah cukup dekat. Di saat mereka sedang berjalan menuju ke balai desa, tanpa sengaja Vina berpapasan dengan Ani yang nampak lesu dan pucat. Vina mengerutkan keningnya, sudah hampir satu bulan ia tidak pernah bertemu dengan janda muda itu, dan sekarang mereka bertemu namun sudah banyak yang berubah dari Ani yang dulu dikenal sebagai janda muda yang cantik dan semok di kampung itu. Tubuh Ani sedikit kurus dan kurang terawat. Di tangannya menggendong sebuah mangga muda kecil yang entah ia dapat dari mana. Sungguh, sangat berbeda dengan keadaan Ani sebulan yang lalu yang masih terlihat cantik dan centil. Ani tahu jika dirinya berpapasan dengan Vina. Wanita itu langsung menundukkan wajahnya seolah ia malu saat orang melihat keadaannya yang sekarang. "Ani, bukankah dia tukang pijat itu, kok sekarang dia keliatan beda, ya!" gumam Vina. Benar saja, saat Ani mulai berjala
Setelah puas menggilir Ani. Agus dan Pras mengancam janda itu agar tidak bicara pada warga. Jika Ani bicara, maka mereka tidak segan-segan akan membunuhnya. "Awas kalau kamu berani ngomong macam-macam! Aku bakal sobek mulutmu ini!" ancam Agus sambil menunjuk ke arah bawah tubuh Ani. "Kalian memang brengsek! Terkutuk kalian semua!" umpat Ani yang tubuhnya nampak lebam dan pucat. Agus dan Pras tertawa terbahak-bahak sambil merapikan baju mereka. "Itu akibatnya kalau kamu sudah berani merendahkan kami. Kamu pikir bisa seenaknya menghina anak lurah, begitu! Ingat, kamu itu cuma janda kampung yang tidak ada harganya. Jadi nggak usah membandingkan kami dengan si Ramli, faham!" kata Pras. Setelah mengatakan hal itu, kedua pria itu pergi begitu saja dan membiarkan Ani sendirian dalam kondisi telanjang. Ani menangis meratapi dirinya yang sudah dirusak oleh dua pemuda anak lurah itu. ***** Beberapa hari kemudian, setelah kejadian itu. Ani menjadi pendiam dan melamun. Janda muda y
Agus dibuat melongo mendengar jawaban Vina. "Kamu hamil? Anak dia! Tapi kalian...!" "Ah sudahlah, Gus. Mending kamu pulang dan jangan mencampuri urusan kami! Maaf ya, aku nggak ada waktu," kata Vina. Lantas ia segera mengajak suaminya masuk ke dalam rumah. "Ayo, Mas!" Ramli dan Vina beranjak masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Nyonya Ratna dan Bu Mar. Tapi Agus sangat tidak terima dengan perlakuan Vina terhadapnya. "Ingat, Vin! Jujur, aku sangat tidak suka kamu mencintai Ramli. Dia itu laki-laki tidak tahu diri. Apa yang kamu lihat darinya. Dia laki-laki kampung dan miskin! Dia nggak pantas buat kamu!" teriak Agus. Vina tidak memperdulikannya, wanita itu tetap membawa Ramli masuk ke dalam rumah. Setelah mereka masuk semuanya, Vina langsung mengunci pintu. Agus semakin emosi. Pria itu nampak memukul apa pun yang ada di sekitarnya. "Brengsek, awas saja kalian!" Dengan menahan amarahnya. Agus langsung pergi dari rumah Bu Mar. Pria itu berjalan dengan mata memerah.
Tapi Agus tidak peduli. Pria itu langsung menunjuk muka Ramli dan langsung menuduhnya telah berbuat mesum. "Hei, Ramli! Aku tahu kamu ini laki-laki brengsek. Kamu sudah berani berbuat mesum di kampung ini. Kamu sudah merusak Vina. Aku tidak terima. Kamu harus pergi dari sini sekarang juga, atau tidak warga akan main hakim sendiri!" teriak Agus dengan sangat menggebu-gebu. Sampai-sampai pria itu tak sadar air ludahnya muncrat dan mengenai beberapa warga. Dengan santainya, Ramli membalas ucapan Agus. Pria itu justru keluar dari kamar mandi dengan kondisi handuk yang menutupi area dada sampai paha. Dengan gaya feminim Ramli seolah-olah tidak ingin ada orang yang mengganggunya sedang mandi. "Mas Agus. Jangan menyebar fitnah. Saya dari tadi sedang mandi sekalian berak. Belum selesai udah diteriaki. Kalau Mas Agus mau mandi sama saya, ayok sini!" kata Ramli. "Halah, tidak usah banyak alasan. Tadi aku lihat kamu dan Vina ada di dalam!" sahut Agus lagi. "Vina? Mana ada dia di dalam.
"Kurang ajar! Ramli sudah berani berbuat mesum dengan Vina. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu agar Ramli diusir dari kampung ini. Aku harus menyelamatkan Vina dari laki-laki bajingan itu!" Agus benar-benar sangat emosi melihat apa yang sedang dilihatnya. Pria itu bergerak untuk memergoki Ramli dengan cara menggedor pintu kamar mandi. Niat hati ingin melabrak Ramli, tanpa sengaja kakinya terpeleset dan membuat pria terjatuh. Bug! "Aduhhh!" pekik Agus sambil memegangi pinggangnya yang sakit. Suara itu langsung membuat Vina dan Ramli yang baru saja menyelesaikan aktivitas mereka. Membuat keduanya terkejut dan buru-buru memakai baju masing-masing. "Ada siapa, Mas?" bisik Vina yang terlihat khawatir. "Kamu tenang saja. Biar aku yang melihatnya. Tetap di sini dan jangan bersuara!" kata Ramli. Vina mengangguk. Lantas, Ramli bersiap untuk melihat luar. Pria itu memakai handuk yang ia lilit pada tubuhnya persis seperti seorang wanita melilitkan handuk pada tubuhnya.