LOGIN"Dih apa sih! Mending gitu daripada kayak tadi. Yang tadi kayak habis aku acak-acak," sahut Vina. Aland tertawa kecil sambil meraih tangan istrinya. "Memangnya kenapa kamu acak-acak rambutku?" "Ya, nggak apa-apa. Pokonya gitu. Udah ah, sekarang gantian sisirin rambutku!" Vina menyuruh suaminya untuk menyisir rambutnya. Dengan senang hati pria itu akan melakukannya.Aland berdiri dan berganti meminta istrinya untuk duduk di kursi rias. "Oke, silakan duduk Tuan putri!" ucap Aland sambil membungkukkan badannya layaknya pelayan yang sedang mempersilakan majikannya. Vina yang saat itu sudah mengenakan dress elegan warna Navy nampak diam saat sang suami berganti menyisir rambutnya. Lalu Aland mengambil sisir kemudian ia menyisir rambut istrinya dengan pelan. Rambut Vina yang hitam panjang mengingatkan Aland tentang sesuatu. Pria itu menyisir sambil senyum-senyum. Vina mengerutkan keningnya ketika melihat pantulan bayangan wajah sang suami pada cermin. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu
"Tapi, Rick. Mama nggak yakin kamu bisa melakukannya. Justru Mama sangat takut sekali. Tuan Aland Orlando itu bukan pria sembarangan. Dia itu terkenal kejam dan tidak segan-segan membunuh orang yang menyakiti keluarganya. Lebih-lebih kamu ingin mengusik istrinya. Mama mohon, pikirkan sekali lagi tentang rencanamu itu!" ucap Nyonya Rose yang begitu khawatir dengan anak semata wayangnya itu. Erick berdiri dengan tegas. Ia mematikan puntung rokok itu pada asbak. Dalam tatapan matanya ia sudah bertekad kuat untuk mendapatkan Vina. Apa pun rintangannya, dia akan tetap melakukannya. "Tekad ku sudah bulat. Aku tidak peduli dengan pria itu. Yang jadi tujuan utamaku adalah membawa Vina pergi jauh dari sini!" ucap Erick dengan tatapan matanya yang tajam. Obsesinya terhadap Vina sangat besar. Pria itu tidak peduli dengan bahaya. Demi untuk mendapatkan wanita yang dicintainya, ia rela melakukan apa pun untuk mendapatkan Vina. Meskipun nyawa taruhannya. **** Malam yang dinanti pun ti
"Ohhh ya, Mas. Jujur aku sedikit kaget waktu kamu bilang nama laki-laki itu. Soalnya aku dulu pernah punya teman satu kelas yang namanya sama persis dengan nama klien baru kamu itu. Erick Hermawan!" ungkap Vina. Di sini Aland juga tak kalah terkejutnya. Apa mungkin Vina memang teman sekolah Erick?"Masa?" "Iya, Mas! Aku pikir mungkin itu orang lain, tapi kenapa namanya sama persis, Erick Hermawan. Dulu temenku juga Erick Hermawan namanya. Dia cowok yang lucu dan sangat pendiam. Dia juga pinter dan jago matematika. Dia sering kasih aku jawaban secara diam-diam, pokoknya si Erick itu termasuk cowok yang baik banget!" ungkap Vina seperti apa yang ia rasakan tentang temannya yang bernama Erick Hermawan. Aland manggut-manggut, jika benar Erick Hermawan itu adalah teman masa kecil sang istri, itu artinya ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa. "Wah, jika benar dia temanmu. Itu bagus dong! Dengan begitu kerjasama antara perusahaan kita dan perusahaannya bisa semakin lancar!" kata Al
"Lah itu tadi udah jelas. Ayah lama-lama menakutkan. Masa Mama mau dimakan!" ucap Nala dengan ekspresinya yang lucu. Sedangkan ketiga anak laki-laki itu tampak saling menatap. Mereka juga tidak mengerti kenapa ayah mereka ingin makan daging mamanya. "Eh tapi Nala bener loh. Ayah memang aneh!" sahut Nathan, kakak kembar Nala. Aland sendiri tampak salah tingkah. Bagaimana lagi ia menjelaskan pada anak-anaknya jika mereka sudah salah paham. "Eh, eh, bukan begitu maksud ayah. Aduhhh...!" Aland terlihat panik dan hal itu membuat Vina makin tertawa geli. Benar-benar suaminya itu memang agak-agak. Tak berselang lama Ayu datang dengan membawa segelas susu hangat untuk ayahnya. Sesuai permintaan, Ayu mengambilkan segelas susu hangat yang baru saja ia hangatkan. Susu yang langsung diperah dari sumbernya. "Ini susunya sudah datang, ayah!" seru Ayu sambil memberikan segelas susu hangat itu. Aland terkejut, ia sedang tidak ingin minum susu itu, tapi yang ia maksud adalah susunya Vina. "S
Ayu pergi ke dapur untuk mengambil susu permintaan ayahnya. Sedangkan Nala tampak memijit pundak ayahnya. Bagas, Nathan, dan Rendra, memijit kaki ayah mereka. Setiap hari Aland terlihat seperti seorang raja. Ia selalu diperlakukan seperti itu oleh kelima anaknya sebelum ia datang kepada istrinya. Jika ia menolak maka anak-anak itu pasti marah. Kelima anak itu memang sengaja berinisiatif untuk menyambut kedatangan ayah mereka dengan memberikan pijitan dan sedikit layanan sebelum pria itu masuk ke kamar dan tidak keluar-keluar. "Ayah, ayah pasti capek, ya?" ucap Nala sambil memijit pundak ayahnya. "Hmmmm, iya ayah capek sekali!" Aland menjawabnya sambil tersenyum nakal pada Vina yang saat itu masih asyik duduk di atas sofa tepat berada di hadapannya. "Ayah mau diambilkan makanan apa? Bilang saja biar Nala ambilkan!" tawar bocah perempuan itu. "Ayah, emmm mau makan daging!" Jawaban Aland seketika terdengar di telinga Vina. Wanita itu mengerutkan keningnya mendengar jawaban aneh
"Tentu saja, Tuan. Saya pasti datang bersama istri saya!" jawab Aland. Kali ini Erick tersenyum menyeringai, untuk kali pertama ia berhasil mengelabuhi Aland. Pertemuan hari ini memberi kesan bahwa Erick adalah pria yang baik. Bahkan ia bersedia bekerjasama dengan Aland. Tapi di sisi lain Romi tidak melihat ada ketulusan pada pria itu. Entahlah, ia sangat tidak percaya dengan ucapan manis Erick kepada bosnya. Setelah acara rapat selesai, Romi kembali mengingatkan kepada Aland agar terus berhati-hati terhadap pria itu. Karena ia yakin sekali bahwa Erick memiliki sebuah rencana. "Aku lihat Tuan Erick orang yang baik. Apa kamu tidak salah duga, Rom?" kata Aland sambil duduk merebahkan punggungnya pada kursi kebesarannya. "Dia memang terlihat baik. Tapi di mata saya dia seperti laki-laki yang licik. Ah maaf bos, saya tidak bermaksud untuk menjelekkan dia. Tapi entahlah saya sendiri tidak tahu kenapa bisa berpikiran seperti itu," jawab Romi apa adanya. "Yah, aku bisa mengert







