ログインAland merasakan sensasi yang ditarik tapi rasanya sangat nyut-nyutan. "Salah sendiri! Kamu yang mulai duluan!" sahut Vina. "Ya aku kan gemes, aku belum puas mimik cucu kamu. Keburu anak kita lahir, aku mimik apa dong!" jawab Aland yang masih enggan pergi. Ia masih betah menggoda istrinya yang baginya terlihat cantik dan lucu. Apalagi saat itu Vina sedang memakai daster selututyang membuat penampilannya makin gembul. "Ya udah masih banyak susu yang lainnya, Mas. Kamu bisa minum sepuasnya. Tuh, kayak susu kambingnya si Wiwik yang ada di kampung. Malah menyehatkan!" kata Vina sambil menyilangkan kedua tangannya. "Iya juga sih. Tapi aku nggak suka rasanya. Rasanya bau puting kambing!" seloroh Aland tanpa dosa. Kali ini Vina tertawa kecil mendengar pengakuan suaminya. "Memangnya kamu tahu rasanya puting kambing? Pernah minum langsung dari sumbernya?" tanya Vina yang masih penasaran dengan jawaban suaminya. "Hehehe ya nebak-nebak aja sih. Namanya juga susu kambing. Pasti khasiatnya le
Vina tersenyum sumringah mendengar jawaban suaminya. "Bener, dua bulan kamu sanggup bobo sendiri tanpa aku?" goda Vina. "Ya harus bisa. Kamu sendiri yang ngomong tadi kalau kamu minta dua bulan buat aku bisa! Padahal sebenarnya aku nggak mau seperti itu!" Kalimat terakhir yang Aland katakan, seketika membuat Vina melototkan matanya. "Apa katamu?" sahut wanita itu. Aland mendadak terkejut dan ia ingat-ingat apa yang baru saja ia katakan. "Ohhh iya, maksudku aku mau puasa dua bulan kok. Kan semua itu demi kamu dan anak kita!" jawab Aland sambil mengulum senyumnya. Vina memutar bola matanya dan ia tahu jika suaminya sedang putra setuju. **** Sementara itu di tempat lain jauh dari luar negeri. Seorang pria tampan sedang menatap foto seorang wanita. Pria berwajah tegas dan bertubuh proposional itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu. "Aku akan datang. Vina, tunggu kedatanganku!" gumamnya sambil tersenyum miring. Iya, foto yang ia pandangi itu adalah foto Vina saat masih muda
"Mas, stop!" desis Vina sambil menjambak rambut suaminya yang tidak mau berhenti. Sepertinya pria itu sangat menikmatinya apalagi setelah dicukur bersih. Kondisi di sana terasa lebih basah dan nikmat. Lidah, gigi dan hisapan sedang bersatu untuk membuat Vina bahagia. Sungguh, wanita itu mendesah hebat. Tubuhnya menegang saat rasa nikmatnya seperti sedang berada di atas ubun-ubun. Aland mengerang sambil terus memainkan lidahnya ke seluruh permukaan tanpa terkecuali. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Vina merasakan ada sesuatu yang ingin menyembur. "Mas, aku... Aku mau keluar!" rintih wanita itu sering dengan pinggulnya yang ia gerak-gerakkan. Mendengar itu, seketika Aland berhenti dan tersenyum nakal pada istrinya. Tentu saja Vina merasa kecewa karena ia gagal mendapatkan pelepasan nya. "Kenapa berhenti?" tanyanya memelas. Aland tidak menjawabnya. Tapi pria itu justru mulai merambat dan melakukan sesuatu yang tidak terduga. "Ahhhh!" Vina tersentak kaget. Tapi i
Mau tidak mau, Aland harus menuruti permintaan sang istri. Demi istrinya, ia merelakan alat pencukur kumisnya digunakan untuk mencukur kumis bawah.Vina tersenyum sambil berbaring. Dibukanya kedua kakinya untuk memudahkan Aland mencukur bulu-bulu di sana.Pria mulai menyalakan mesinnya, lalu ia menundukkan kepalanya dan langsung mengeksekusinya."Yang lembut ya, Mas. Jangan kasar-kasar!" ucap Vina sambil merebahkan kepalanya di atas bantal."Hmmm!"Aland cuma berdehem. Kembali ia melanjutkan pekerjaannya. Dengan sangat lembut ia mulai mencukur bulu-bulu halus itu. Sejenak pria itu tersenyum menyeringai melihat istrinya yang begitu seksi."So beautiful!" ucapnya sambil menggerak-gerakkan mesin pencukur rambut itu. Ia memulainya dari arah atas turun ke bawah secara perlahan.Memang, Vina termasuk wanita yang memiliki bulu-bulu lebat pada permukaan kulitnya, terutama area intim nya yang tidak pernah terlihat oleh sinar matahari. Terlihat sangat lebat melebihi lebatnya hutan Amazon.Suara
Akhirnya kain tipis berwarna putih itu terjatuh di atas lantai. Aland yang semula mengantuk berat, tiba-tiba kedua matanya jreng seperti lampu stadion yang menyala terang. Apalagi saat ia melihat bentuk perut istrinya yang menggemaskan. Buncit dan pusarnya menonjol, sangat berbeda dengan kehamilan Vina yang pertama. "Udah mas, aku pipis dulu, nggak tahan!" Vina segera duduk di atas closet, Aland terus memperhatikan sang istri untuk memastikan Vina buang air dengan lancar. Tapi benar-benar sulit dipercaya. Air seni yang Vina keluarkan cuma sedikit tidak sebanyak seperti yang akan dikeluarkan. Itu adalah efek hamil besar di mana kepala si jabang bayi sudah sangat menekan kandung kemih sehingga membuat Vina selalu ingin buang air kecil. "Sudah, Mas!" kata Vina. Dengan telaten pria itu membersihkan area intim istrinya sehabis buang air kecil. Tanpa jijik atau geli. Justru ia sangat menyukai pekerjaan itu. "Berdirilah! Biar aku bersihkan!" titah Aland yang sudah memegang semprota
Hari berganti hari, di saat kandungan Vina memasuki usia delapan bulan. Mereka sudah kembali ke kota. Banyak sekali kenangan yang tertinggal di kampung itu. Terutama saat ini Ani juga sedang hamil besar. Tapi Ani tidak sendirian, ia ditemani oleh Nyonya Ratna yang masih tinggal di kampung ikut serta sang suami. Kadang wanita itu masih berhubungan dengan Vina lewat video call. Mereka saling bicara tentang kondisi kehamilan masing-masing. Memasuki bulan ke sembilan. Aland benar-benar membatasi kegiatan istrinya. Karena hanya tinggal menghitung hari saja ia akan kedatangan anggota baru di dalam keluarga. Namun, di saat-saat seperti itu juga ia harus bisa lebih sabar menghadapi sifat cerewet Vina menjelang persalinan. Hampir setiap malam Aland terjaga dari tidurnya karena Vina sering pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aland sangat mengkhawatirkan kondisi sang istri sehingga ia harus menjadi suami siaga dan selalu siap jika sang istri memerlukannya. Meskipun kedua matanya