MasukPov Dien.
Aku terus berusaha mengontrol energi aneh yang meledak di dalam tubuhku, sebuah energi yang berasal dari ramuan sihir kebangkitan spiritual. Aku menyebutnya energi spiritual, sesuai dengan nama ramuan yang memicunya, lagipula hanya nama itu yang cocok untuk menjelaskan energi aneh tersebut. Saat aku terus mencoba mengontrol energi spiritual, dalam bayanganku, aku melihat energi spiritual mencoba menyatu dengan pembuluh darah, tulang, jantung, dan setiap sel yang ada di tubuhku. Rasanya begitu menyakitkan, seakan-akan pembuluh darah, jantung, tulang, dan setiap sel di dalam tubuhku diiris dengan parutan kelapa. Rasanya sangat menyakitkan, rasa sakit itu semakin perih dan pedih seiring waktu, seperti luka yang disiram air laut terus-menerus. Rasanya begitu pedih! Sangat pedih! Tiba-tiba energi aneh lainnya (energi alam) menerobos masuk dan memperkuat energi spiritual yang mengamuk di dalam tubuhku. Energi alam perlahan-lahan menyatu dengan energi spiritual, dan membuat tubuhku tidak mampu menahannya. Aku merasa tubuhku perlahan-lahan membesar, akibat kelebihan energi spiritual dan energi alam. Aku dapat merasakan bahwa tubuhku akan meledak jika tidak ditangani dengan baik. Aku sadar nyawaku sudah berakhir, namun senyuman ibu dan ayah, serta senyum penghinaan kedua adikku membuatku sadar bahwa aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh mati sebelum membuat kedua orang tuaku bahagia, dan membungkam dua adik yang meremehkanku. Aku berusaha keras mengontrol energi spiritual, dan membiarkan energi spiritual menyatu ke dalam pembuluh darah, tulang, jantung, hati, dan setiap sel yang ada di tubuhku, sembari mencoba menahan energi alam yang semakin brutal ingin masuk ke dalam tubuhku dan menyatu dengan energi spiritual. Benar saja cara itu berhasil. Aku merasa tidak percaya bahwa aku mampu mengontrol energi spiritual. Aku dengan cepat mengendalikan energi spiritual untuk berhenti menyerap energi alam yang sudah berlebihan, dan mengolah energi alam yang sudah terlanjur masuk menjadi energi spiritual yang baru. Dengan cara itu, aku merasakan bahwa tubuhku berangsur-angsur normal kembali. “Inikah energi spiritual? Rasanya begitu menakjubkan. Aku merasa dapat melakukan apapun.” Ucapku tidak percaya sembari melihat energi aneh berwarna putih yang mengalir di dalam setiap sel tubuhku. Aku merasa seperti terlahir kembali dengan dipenuhi energi spiritual. Aku melihat Marcus dengan mata yang dipenuhi energi spiritual. Samar-samar aku melihat bayangan masa depan Marcus, dimana masa depannya adalah mendekat dan menepuk lembut pundakku, dan mengucapkan beberapa kata. Benar saja, Marcus jalan mendekat dan menepuk lembut pundakku, lalu berbicara dengan senyuman. “Bagus, anak muda. Aku senang kamu berhasil mengendalikan energi spiritual yang sangat ganas itu, bahkan kamu mampu mengolah energi alam menjadi energi spiritual padahal kamu belum mempelajarinya. Aku percaya kamu akan menjadi praktisi spiritual yang hebat.” Ucap Marcus lega, mengusap dahinya yang berkeringat dingin. “Syukurlah bocah ini memiliki kehendak yang cukup kuat, dan mengalahkan kehendak monster sihir tingkat 8. Jika tidak, mungkin dia akan menghancurkan ruangan ini, bahkan menghancurkan markas tersembunyi pasukan malam.” Batin Marcus dalam hati dan menangis diam-diam. “Sekarang kau pergi dari sini.” Ucap Every mendorong Dien keluar dari ruangan alkimia yang hancur sebanyak 90 persen. Dien hanya bisa pasrah diusir secara kasar oleh wanita itu. “Kenapa kamu begitu sensitif kepadanya? Apa dia ada salah kepadamu?” Tanya Marcus penasaran juga dengan sikap dingin Every Kingston kepada Dien Moretz. “Aku benci orang sumbing.” Balas Every dingin dan melanjutkan kesibukannya. Mendengar itu, Marcus dan Bent hanya bisa menggeleng tidak percaya. “Sebaiknya kamu hati-hati mulai sekarang.” Dengus Bent dingin dan berlalu pergi dari ruangan alkimia. Every dan Marcus terdiam mendengar ancaman Bent yang tiba-tiba. Every tampaknya tidak peduli dan melupakannya begitu saja, lalu lanjut meracik ramuan sihir. Marcus segera mengejar Dien yang sudah keluar ruangan alkimia, karena melupakan sesuatu yang cukup penting bagi praktisi spiritual. “Dien, tunggu!” Panggil Marcus mengejar Dien yang hendak berbelok. Dien yang hendak pergi menemui kapten pasukan malam, segera menoleh saat dia dipanggil Marcus. Pria tua dengan tengah kepala botak itu berlari ringan, lalu memberikan sebuah botol ramuan aneh kepada Dien yang heran. “Apa ini?” Tanya Dien bingung. “Itu ramuan ribuan bahasa. Dengan meminum ramuan itu, kamu akan dapat memahami semua bahasa dan suara yang ada di dunia ini, kecuali bahasa binatang dan suara hati. Ramuan ini juga membuat orang lain mengerti apa yang kamu katakan, meskipun berbeda bahasa. Dengan meminum ramuan ini, para praktisi spiritual bisa berkomunikasi tanpa terkendala bahasa dan suara saat sedang menjalankan misi. Kamu harus meminumnya.” Ucap Marcus dengan senyuman ramah. Dien ragu dan tidak percaya. “Sebagai contoh, kami mengerti apa yang kamu ucapkan meskipun suaramu tidak jelas dan membuat sakit telinga. Hal itu terjadi, karena kami telah meminum ramuan ini.” Ucap Marcus menjelaskan khasiat ramuan, tidak bermaksud menghina. "Meminum ramuan ini tidak akan membuatmu rugi." Tambah Marcus dengan senyuman. “Ini… baiklah. Terima kasih, paman.” Dien sedikit tersinggung, namun karena kenyataannya memang seperti itu, dia hanya bisa mengucapkan terimakasih dan menenggak ramuan tersebut. Markas Tersembunyi, Kantor kapten pasukan malam. Setelah melewati beberapa lorong koridor dan belokan, Dien sampai di depan pintu kantor kapten Medi Gusting. Dia mengetuk lembut pintu kantor kapten pasukan malam yang berada di ujung lorong tersebut. “Masuk!” Balas kapten datar. Dien segera membuka pintu dan masuk ke dalam kantor dengan langkah hati-hati. Dia langsung melihat kapten yang duduk santai di kursinya, sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok dengan ditemani koran mingguan. “Salam hormat, Kapten!” Ucap Dien menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan. Kapten Medi tersenyum kecil, melambaikan tangan mempersilahkan Dien duduk di kursi yang ada di depannya, lalu membuat kopi dengan pengendalian energi spiritual dengan santai dan acuh tak acuh. Dengan pengendalian energi spiritual yang baik, kapten membuat air panas, kopi, dan gula bergerak sendiri di udara, lalu bergabung dan menciptakan satu kesatuan yang dikenal sebagai kopi panas. Cairan hitam pekat itu segera diarahkan untuk tertampung di sebuah gelas. Kapten melambaikan tangan, membiarkan segelas kopi itu melayang dan mendarat di depan Dien Moretz. “Kamu sudah mendapatkan ramuan kebangkitan spiritual yang kamu inginkan?” Tanya kapten menatap lurus dan pura-pura tidak tahu apapun. Dien mengangguk. “Aku sudah meminum ramuan kebangkitan spiritual. Aku mendapatkan kemampuan bawaan melihat masa depan.” Balas Dien apa adanya sembari menyesap kopi. “Ouh. Melihat masa depan, kah?” Kapten tersenyum kecil. Tiba-tiba kapten melempar koran ke wajah Dien hingga membuatnya terjungkal ke belakang dan hidung berdarah. Beruntungnya segelas kopinya tidak tumpah, sebagai gantinya kopi itu melayang di udara karena dikendalikan oleh kapten. Kapten mengendalikan segelas kopi itu untuk mendarat dengan sempurna di meja. “Katanya mendapatkan kemampuan bawaan melihat masa depan, kenapa bisa terkena lemparan koran?” Tanya kapten, tidak memberi Dien kesempatan untuk protes. “Kapten aku belum mengaktifkan kemampuanku, anda sudah melempar koran dan membuat hidungku berdarah.” Balas Dien tidak terima. “Oh… kalau begitu aktifkan kemampuanmu sekarang. Aku ingin melihatnya.” Balas kapten acuh saja. Dien berdiri dan mengaktifkan kemampuan untuk melihat masa depan. Terlihat matanya sedikit bercahaya emas dan mengubah warna pupil mata menjadi warna biru laut keemasan. Sebuah mata yang seakan-akan bisa melihat apapun. Saat itu juga sebuah tinju lurus melayang ke wajahnya dengan kecepatan mengerikan. Dien dengan reflek tinggi cepat mundur menghindari tinju tersebut, namun kapten berhasil mendaratkan tinju energi yang langsung menghempaskannya hingga menghancurkan dinding kantor. “Aku bahkan belum bergerak. Kamu terlalu cepat menghindar dan memberiku kesempatan untuk melancarkan serangan yang paling efektif. Kamu sepertinya belum benar-benar mengendalikan atribut bawaanmu. Ya wajar saja, karena bagaimanapun kamu baru saja membangkitkannya.” Ucap kapten tersenyum dan hampir tertawa karena berhasil mempermainkan Dien si anak baru di dunia praktisi spiritual. Dien mengelap darah di bibirnya dan menatap dendam kapten yang tersenyum. Terlihat dinding kantor yang hancur pulih dengan sendirinya, seakan-akan waktu diputar ulang beberapa detik lalu. “Dien Moretz, kamu harus banyak belajar dan memahami kemampuan atribut bawaanmu. Kamu harus menguasai kekuatan melihat masa depan dan menggunakannya di waktu yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.” Ucap kapten memberikan saran. Kapten Medi melambaikan tangan ringan, membuat sebuah buku melayang di samping kanannya, lalu diarahkan ke depan wajah Dien yang terlihat masih kesal. Buku itu memiliki judul “Dasar-Dasar Dunia Spiritual.” “Bacalah buku ini untuk memahami dunia spiritual lebih jauh. Kamu tidak boleh terlalu buta tentang dunia spiritual.” Ucap kapten Medi penuh perhatian. Dien hanya bisa mengangguk mengerti dan mengambil buku tersebut. “Baguslah jika kamu mengerti.” Ucap kapten tersenyum ramah, mengambil sebuah amplop di laci mejanya. “Ini adalah gaji pertamamu sebagai pasukan malam. Ambillah!” Ucap kapten menyerahkan amplop tersebut. Dien dengan senang hati menerimanya dan segera melihat gaji pertamanya. Ternyata gaji pertamanya berbentuk cek dengan nilai 10 juta kertas emas, sebuah nilai gaji yang sangat fantastis dan tergolong sangat tinggi di kota Selabatu. “Terimakasih, kapten.” Balas Dien tersenyum dan menundukkan kepalanya hormat. Kapten mengangguk saja. “Besok, jam 9 pagi datang kembali ke markas dan menerima misi pertama. Kamu tenang saja, misi untuk pemula sepertimu tidak terlalu berat. Paling-paling hanya menangkap beberapa praktisi liar yang lemah atau baru masuk ke dunia praktisi spiritual.” Ucap kapten tersenyum. Dien mengangguk mengerti. “Itu saja, kamu bisa pergi. Oh iya, besok jangan sampai terlambat." Ucap kapten tegas dan menyemburkan asap rokoknya ke atas layaknya bos mafia. “Aku mengerti, kapten!” Balas Dien singkat, lalu beranjak pergi dari ruang kerja kapten pasukan malam tersebut. Bersambung.GRARGHHH!!! Raung monster kucing menghancurkan rumah-rumah warga disekitarnya. Monster itu menghempaskan bongkahan bangunan ke arah beberapa warga yang berlarian panik, lalu memukul bongkahan lainnya yang langsung terhempas menghancurkan rumah warga. Monster kucing melihat beberapa orang yang bersembunyi di balik tembok rumah. Monster itu meraung lalu berlari menghampiri beberapa orang tersebut, lalu memukulnya dengan cakarnya yang sangat besar dan meninggalkan bekas yang cukup dalam. Monster itu terus mengamuk hingga melihat seorang wanita yang bersembunyi di balik pohon sembari melakukan siaran langsung. Monster kucing memukul sebuah mobil ringsek di sekitarnya. Mobil itu langsung terhempas dan menghantam sang wanita, beruntungnya orang itu berhasil menghindar dan lari menjauh. Monster kucing mengejar wanita itu dengan ganas, layaknya kucing mengejar tikus. Dari kejauhan terdengar mobil patroli polisi yang kebetulan lewat. Mobil itu segera menuju ke lokasi amukan monster kucing
Markas besar pasukan malam, bawah tanah kantor kepolisian, kota Selabatu. Kapten Medi mengangguk-anggukkan kepala membaca garis besar laporan keberhasilan misi pasukan pemburu monster ke-3 yang dipimpin kapten Waden. Kapten Medi menghisap rokoknya dan menatap sekilas lima orang tersebut. "Kerja bagus! Kalian bisa pergi." Ucap kapten Medi menerima laporan kapten Waden, lalu meletakkan dokumen laporannya ke samping meja. Kapten Waden menundukkan kepala hormat, lalu pergi mengundurkan diri dari hadapan kapten Medi yang terlihat sangat kelelahan. Kateline, Eira, Luke, dan Dien juga mengundurkan diri dan pergi keluar dari ruangan sang kapten. "Lagi-lagi monster iblis! Ini adalah kasus ke-17 yang kami tangani bulan ini. Kenapa tiba-tiba banyak monster iblis di wilayah distrik timur?" Gumam kapten Medi mengusap wajahnya dengan kasar setelah tim pemburu monster ke-3 pergi keluar.Kriing!Kring! Kring! Telepon kantor tiba-tiba berdering nyaring di dalam ruangan. Kapten Medi dengan malas
Eira diam menonton kebrutalan klon Freya menusuk Luke yang menolak bantuannya. Eira tidak lagi berniat membantu akibat penolakan sebelumnya, namun mengingat mereka satu tim Eira pada akhirnya mencebikkan bibirnya dengan malas."TOLONG AKU, EIRA!!!" Pekik Luke memohon."Yayaya. Aku mengerti, tidak perlu berteriak!" Balas Eira acuh, mengangkat tangan, dan mengarahkannya ke posisi klon Freya dan Luke.Eira melepaskan sihir tombak tanah dari bawah kaki dua orang tersebut, memaksa Freya mundur menjauh menjaga jarak. Eira dengan cepat melindungi Luke di belakangnya. "Senior lain kali jangan sok kuat jika kamu lemah!" Ucap Eira mengingatkan. Luke hanya bisa terdiam sembari mengeluarkan gulungan segel. "Haha." Klon Freya tiba-tiba tertawa jaim seperti wanita feminim. "Haha. Akhirnya aku mengerti kekuatanmu bocah sialan!" Ucap Freya sangat senang, karena menemukan kelemahan Luke yang terus dia cari di sepanjang pertarungan. Luke muntah darah dan menyembuhkan dirinya sendiri seadanya denga
Monster iblis tingkat 1 membangkitkan energi iblis yang bersifat jahat dan haus darah. Monster iblis tingkat 2 memiliki regenerasi super dan bisa melakukan regenerasi secara otomatis, tanpa perlu diperintah oleh otak. Monster iblis tingkat 3 memungkinkan monster iblis berubah menjadi gumpalan energi iblis yang bisa masuk kemanapun layaknya hantu. Monster iblis tingkat 4 memungkinkan monster iblis dapat meniru dan menyamar menjadi manusia. Monster iblis tingkat 5 membuat monster iblis dapat mengendalikan energi alam dan menggunakannya untuk menciptakan sihir yang berhubungan dengan energi alam. Dan monster iblis tingkat 6 memberikan iblis kemampuan energi iblis tak terbatas saat malam hari. Warga desa melihat petir terus menyambar area yang sedang didatangi kelompok pemburu monster ke-3 yang dipimpin kapten Waden. Dari kejauhan warga desa dapat merasakan betapa mengerikannya tempat tersebut. Beberapa warga desa bahkan berencana untuk memeriksa, namun entah mengapa setiap kali mereka m
Wanita iblis laba-laba melancarkan tusukan kuku beracun ke leher Dien, namun Dien menunduk menghindar dan melepaskan tinju guntur saketi ke perut bawah sang lawan. Iblis wanita itu menyemburkan racunnya yang sangat kuat dan bersifat korosif, memaksa Dien untuk mundur menjauh dan menjaga jarak. "Cakar petir hitam!" Pekik Dien mengayunkan tangan menciptakan cakar petir hitam. Wanita iblis laba-laba menghentakkan kaki ke tanah menciptakan dinding pelindung, lalu memukul dinding tanah menciptakan tusukan tombak lurus dari dinding tanah tersebut. Dien dengan reflek menghindar ke samping, lalu bergerak cepat dan teleportasi di belakang sang wanita iblis. BANG! Wanita iblis menjadi gumpalan energi, membuat tinju guntur saketi Dien menghantam dinding tanah. Dien mengarahkan tangannya ke samping, petir dari langit langsung turun menghantam tanah yang bertepatan dengan gumpalan energi wanita iblis lewat. Sambaran petir itu membuat sang wanita iblis terluka cukup parah dan keluar dari bawah
Ledakan api raksasa yang menghancurkan gua dan menciptakan kawah besar itu berakhir tanpa meninggalkan jejak apapun. Di tengah kawah besar yang tercipta akibat ledakan terlihat kura-kura bayangan yang terluka cukup parah, tubuhnya seperti kertas yang dibakar. Kura-kura bayangan itu perlahan-lahan menjadi butiran abu, lalu menghilang dan kembali ke dalam buku 100 bayangan. Dien batuk-batuk menghirup asap pekat akibat ledakan. Pria itu melihat sekelilingnya yang rata dengan tanah dan hanya menyisakan beberapa orang saja yang selamat. Dimana mereka semua ditutupi abu debu yang sangat tebal. Kapten Waden yang tidur telungkup segera berdiri dan batuk-batuk sembari memukul-mukul bajunya yang kotor. Kapten melihat Dien dengan tatapan tidak percaya sekaligus lega. "Kamu memang bocah sialan! Jika kami tidak memakai cincin ini, maka kami juga akan hancur menjadi abu akibat sihirmu itu. Sepertinya kamu tidak pernah memikirkan keselamatan kami." Ucap kapten Waden marah. "Untuk apa aku memikir
Setelah ledakan berakhir, kapten Waden menarik sihir ratusan tombak tanah raksasa miliknya, membuat matahari yang tertutup tombak tanah raksasa kembali menyinari area pertarungan, dan terlihatlah area tersebut sudah menjadi kawah besar yang sangat dalam. Dien terlihat terluka bakar parah akibat le
Dien pulang larut malam. Dia bertemu ibu yang menunggunya di ambang pintu, wanita tua itu tersenyum hangat melihat kedatangan Dien. Wajah keriputnya yang pucat pasi menjadi cerah ketika melihat Dien pulang. Melihat ibunya, Dien tersenyum, lalu menyerahkan buah-buahan yang dibelinya kepada ibu yang
Kantor kepolisian, kota Selabatu.Dien Moretz keluar dari markas pasukan malam yang berada di bawah tanah kantor kepolisian kota Selabatu. Dia bertemu beberapa polisi yang berlalu-lalang, melihat beberapa polisi yang bermain judi, melihat beberapa polisi tidur di jam kerja, melihat beberapa polisi
Luke bertahan dengan perisai kura-kura, sebuah senjata sihir tipe pertahanan yang dia miliki. Luke dengan cepat mengambil gulungan segel yang tergeletak di lantai, karena terlalu terburu-buru mengeluarkan perisai kura-kura, lalu memasukkannya ke dalam kantong celana depan.BANG! Dien sudah di depa







