Share

Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta
Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta
Author: Magnus

Bab 1

Author: Magnus
"Kamu akhirnya ... mau umumin hubungan kita?"

Fernando mengangkat alis dan meliriknya sekilas, "Umumin apa? Besok aku ada kencan buta di rumah. Kamu datang untuk bantu ramaikan suasana saja, jangan sampai pihak perempuan merasa canggung."

Kata demi kata terdengar jelas ke telinga Clark bagaikan petir yang menyambar.

Jantungnya seakan berhenti berdetak dan pikirannya kosong total. "Kamu mau kencan buta? Lalu aku ini apa?"

Fernando sudah bangkit dan mulai berpakaian. Mendengar ucapan Clark, dia menatap Clark dengan malas dan berkata, "Kamu? Kamu itu partnerku untuk macam-macam hal. Partner makan, partner main game, dan juga ... partner ranjang untuk saling memenuhi kebutuhan fisik."

Sekujur tubuh Clark langsung diliputi hawa dingin. Rona di wajahnya perlahan memudar, bibir dan giginya bergetar pelan.

Melihat ekspresinya, senyum di wajah Fernando perlahan menghilang. Dia mendekat sedikit dan bertanya, "Clark, jangan bilang selama ini kamu mengira kita pacaran?"

Nada bicara yang bercampur candaan itu bagaikan pisau tajam yang langsung menusuk dada Clark. Clark menahan rasa perih di hidungnya, lalu berkata dengan suara yang tak karuan, "Ng ... nggak mungkin, dong. Aku mau mandi dulu."

Clark bangkit dengan panik. Langkahnya goyah saat berjalan ke kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, seluruh tenaganya seolah terkuras hingga habis. Dia jatuh terduduk di lantai. Kata-kata Fernando tadi masih terngiang di telinganya. Melihat tubuhnya yang dipenuhi bekas cupang dari Fernando, air mata Clark mengalir deras.

Mereka sudah saling mengenal lebih dari 20 tahun. Selama ini, mereka tumbuh bersama, pernah minum dari gelas yang sama, dan membaca komik yang sama. Bahkan saat usia 18 tahun, mereka pernah tidur bersama dalam keadaan mabuk.

Setelah terjadinya kejadian itu sekali, kemudian berlanjut untuk kedua kali, ketiga kali, dan selanjutnya ....

Di malam hari, tubuh mereka begitu selaras. Di siang hari, mereka melakukan hampir semua hal mesra yang biasa dilakukan pasangan.

Bergandengan tangan di tengah keramaian, berciuman saat tahun baru sambil berjanji akan bersama di tahun berikutnya, setiap hari menelepon lama untuk menjaga perasaan agar tetap hangat ....

Clark selalu mengira mereka sudah bersama, hanya saja belum mengumumkannya ke publik.

Namun, sekarang Fernando malah mengatakan bahwa mereka ini bukan pasangan?

Hati Clark terasa perih hingga kesulitan untuk bernapas. Dengan tangan gemetar, dia membuka pancuran air sampai paling deras. Setelah itu, dia baru berani menangis dengan keras. Entah berapa lama kemudian, sampai air matanya kering, dia baru membenahi emosinya dan keluar.

Fernando sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil menelepon.

"Besok ada banyak orang yang datang, ruang VIP restoran harus lebih besar. Pihak perempuan seleranya yang nggak terlalu berat. Untuk kue, pesan Black Forest. Bunganya pakai mawar pink putih. Setelah ditata, foto dan kirim ke aku untuk dicek. Lalu siapkan belasan set jas, tunggu aku pulang untuk pilih. Semuanya harus warna hitam, Jennah cuma suka warna itu."

Mendengar nama itu, hati Clark langsung terguncang. Tanpa sadar, dia menoleh dan melihat senyum manis di sudut bibir Fernando.

'Jennah? Jadi orang yang akan dia temui untuk kencan buta ... adalah Jennah?'

Sorot mata Clark langsung meredup. Kalau memang Jennah, Clark mengerti kenapa Fernando bisa sesenang itu.

Waktu SMA, Fernando pernah diam-diam menyukai Jennah. Setiap hari, dia bisa menyebut nama itu puluhan kali di depan Clark. Sayangnya, sebelum sempat menyatakan perasaan, Jennah sudah pergi ke luar negeri.

Sejak itu, Clark tak pernah lagi mendengar Fernando menyebut nama itu. Belakangan, setelah malam kekacauan yang membuat mereka semakin dekat, Clark mengira Fernando sudah benar-benar melupakan Jennah.

Tak disangka, sosok cinta pertama yang tak pernah dia sebut lagi itu, malah tetap masih belum bisa dilupakannya. Rasa sakit yang sempat mereda, kini kembali menyeruak. Clark sampai tak mampu menggenggam ponselnya.

Setelah terdengar bunyi ponsel terjatuh yang keras, Fernando pun menoleh. Senyumnya santai saat berkata, "Sudah selesai mandi? Nanti kamu yang check-out ya? Biaya kamar sudah aku bayar."

Sambil bicara, Fernando mengambil jaketnya dan hendak pergi. Sebelum keluar, dia menoleh lagi dan tersenyum samar dengan penuh arti.

"Clark, aku selalu anggap kamu sebagai saudara. Ke depannya, jangan pasang ekspresi seperti orang mati rasa di depanku. Kalau nggak, aku malah akan mengira kamu punya pikiran aneh sama aku."

"Aku sudah kenal banget sama kamu. Dari satu tatapanku saja, kamu langsung tahu apa yang aku pikirkan. Kamu nggak merasa hidup seperti ini terlalu membosankan? Kalau kita benar-benar pacaran, rasanya hari-hari udah habis dijalani semuanya."

Suara Fernando perlahan menjauh seiring dengan langkah kakinya, tapi terus bergema di dalam hati Clark. Clark duduk di atas ranjang yang dingin, lalu tertawa ... hingga air matanya kembali mengalir.

Ternyata, selama ini Fernando selalu memandangnya seperti itu.

Clark duduk sendirian sampai larut malam, lalu turun untuk check-out.

Di luar sedang hujan deras, tapi Clark seolah tidak merasakannya. Dia berjalan pulang dengan pikiran yang kosong.

Melihat kondisinya yang basah kuyup, ayah dan ibu Clark segera mengambil handuk kering. Mereka bertanya dengan penuh kekhawatiran, "Hujan deras begini kenapa nggak naik taksi?"

Clark menatap kedua orang tuanya dengan ekspresi bengong. Sorot matanya tampak redup dan suaranya serak. "Ayah, Ibu, bukannya kalian selalu ingin pindah ke luar negeri karena perubahan bisnis perusahaan dulu? Aku sudah pertimbangkan dengan baik, kita pindah saja dan jangan pernah kembali lagi."

Setelah membujuk selama setengah tahun dan akhirnya mendengar putri mereka mengalah, ayah dan ibu Clark agak terkejut. "Kamu benar-benar sudah pertimbangkan baik-baik? Kamu putus sama pacarmu, ya?"

Mengingat kata-kata Fernando, hati Clark terasa perih. Dia tersenyum getir sambil menggeleng.

"Nggak ada pacar, dari awal memang nggak pernah ada. Itu cuma aku bohong supaya kalian nggak terus mendesakku menikah."

Meski tidak tahu apakah ucapannya itu benar atau tidak, orang tua Clark tetap merasa senang. Mereka segera menyiapkan prosedur imigrasi sambil menyuruhnya membereskan barang.

Clark mengangguk pelan, lalu kembali ke kamar dan membuang semua hal yang berhubungan dengan Fernando.

Album foto tebal yang disimpannya dengan telaten selama belasan tahun, berbagai perhiasan, pakaian, patung buatan tangan yang diberikan Fernando ....

Semuanya kini dibuang ke tempat sampah.

"Nona, barang sebagus ini mau dibuang semua?"

Melihat rasa sayang di mata asisten rumah tangga, Clark mengangguk dan berkata pelan, "Nggak butuh lagi."

Bukan hanya barang-barang itu, bahkan perasaan ini dan juga Fernando ... semua sudah direlakannya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 25

    Musim dingin yang panjang pun berlalu, musim semi kembali menghangat.Keluarga Clark menerima kabar dari pengacara di dalam negeri.Setelah melalui proses panjang seperti sidang pertama, banding dari terdakwa, hingga sidang kedua, fakta bahwa Jennah menghasut tindak kejahatan akhirnya dikonfirmasi dan dia dijatuhi hukuman yang sesuai.Tentu saja, bagi seorang korban, pelaku kejahatan yang menerima hukuman setimpal adalah sebuah penghiburan yang terbaik. Kebetulan, hari itu juga adalah ulang tahun ayah Clark.Ibu Clark turun tangan untuk memasak semeja penuh hidangan dan keluarga itu pun bersulang untuk merayakannya. Hampir setengah tahun sejak datang ke Spanyol, Clark sudah terbiasa dengan kehidupan di sini.Meski masih ada banyak hal yang tidak praktis, Clark tetap menemukan hal-hal menarik yang justru menjadi kesenangan tersendiri dalam proses eksplorasi. Dia juga sudah mengenal banyak teman baru dan perlahan menemukan apa yang benar-benar dia sukai.Di hari yang baik ini, dia juga m

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 24

    Tiga hari kemudian, Fernando kembali ke Kota Edo sendirian. Saat sampai di rumah, vila di sebelah kembali menyala. Kepala pelayan berkata bahwa keluarga Clark sudah menjual semua aset mereka di dalam negeri dan tetangga baru sudah pindah dua hari yang lalu.Mendengar semua itu, Fernando akhirnya benar-benar menyadari bahwa semuanya memang tidak bisa kembali seperti semula. Dia menyendiri di kamar dan tidak tidur semalaman.Keesokan paginya, dia melihat dari jendela bahwa tetangga baru membongkar ayunan di taman, mengganti tirai merah muda putih dengan warna hijau tua, dan lonceng angin dari kerang yang tergantung di pintu juga telah dipotong dan dibuang.Semua hal yang berhubungan dengan keluarga mereka dan Clark, perlahan menghilang dari dunianya. Fernando merasa tidak berdaya untuk menghentikannya. Dia hanya bisa mabuk setiap hari dan menjerumuskan dirinya dengan alkohol.Hatinya yang sudah penuh luka, kini perlahan menjadi kosong dan kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi.Cinta

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 23

    Hati Fernando terasa dingin mendengar setiap kata yang diucapkan Clark. Setelah melihat Clark pergi dengan mata kepala sendiri, tangannya pun terkulai. Di mata yang penuh kelelahan itu, perlahan-lahan memerah dan dipenuhi air mata.Perasaan tidak berdaya dan putus asa yang mendalam, menyeruak di hatinya. Napasnya pun menjadi semakin terengah-engah. Fernando duduk sendirian di pojokan dalam waktu yang cukup lama.Sampai restoran tutup, pelayan datang untuk mengingatkannya. Baru saat itulah dia tersadar, lalu menyerahkan kantong di tangannya dan memohon bantuan pelayan itu. Kompres telur hangat memang mengurangi bengkak, tapi tetap tidak bisa meredakan rasa sakit.Clark sibuk menangani memarnya sampai bahkan tidak sempat makan malam. Orang tua Clark sengaja mengantarkan seporsi steik. Saat melihat luka di kakinya, mereka merasa sangat khawatir. Kebetulan pelayan datang untuk mengantar handuk, mereka pun sekalian bertanya.Saat mendengar hotel menyediakan obat secara berbayar, mereka pun

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 22

    Keesokan paginya, keluarga Clark membawa koper dan bersiap pergi bermain ski. Saat keluar dan tidak melihat Fernando, Clark menghela napas lega, lalu mendorong koper ke arah belakang mobil. Baru saja dia menaruh barang, dia mendengar ayahnya berseru pelan."Ini barang apa? Clark, kamu ketinggalan hadiah ulang tahun dari tetangga di depan pintu, ya?"Begitu menoleh dan melihat kotak yang tidak asing itu, Clark sedikit mengernyit. Dia berjalan dengan cepat untuk mengambil kotak itu, lalu menyerahkannya kepada kepala pelayan. Kemudian, dia mengirim alamat keluarga Fernando dan menyuruh kepala pelayan untuk mengirimnya kembali ke dalam negeri nanti.Orang tua Clark semakin penasaran. Mereka terus menanyakan siapa pengirim hadiah itu sepanjang jalan. Lantaran tidak bisa lagi menutupinya, Clark terpaksa jujur, sekaligus menceritakan ucapan selamat dari orang tua Fernando kemarin.Suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, lalu ayah Clark mengangguk beberapa kali dengan tegas."Ayah dan Ib

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 21

    Sudah lama Clark tidak pernah bersenang-senang tanpa batas. Jadi di pesta piama ini, Clark minum beberapa gelas alkohol. Setelah itu ditambah pertarungan bantal yang seru, emosinya benar-benar terangkat ke puncak. Dia begitu bersemangat bahkan sampai melihat seekor anak kucing saja dia ingin menyapanya.Keadaan itu terus berlanjut sampai pesta selesai. Setelah mengantar dua tetangga terakhir yang sudah hampir tidak sadar pulang, dia bersenandung sambil berjalan pulang ke rumah.Dari kejauhan, dia melihat sebuah sosok yang samar berdiri di depan pintu. Di tangannya masih membawa sebuah kotak.Sudah selarut ini dan ulang tahunnya juga sudah lewat, kenapa masih ada orang datang?Saat mendekat dan melihat jelas wajah itu, senyum di wajah Clark langsung menghilang. Nada bicaranya pun berubah dingin, "Mau ngapain kamu ke sini?"Menangkap perubahan emosinya, di mata Fernando terlintas sedikit rasa sakit yang nyaris tak terlihat dan suaranya terdengar agak serak, "Clark, selamat ulang tahun."

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 20

    Setelah menerima kabar bahwa kejaksaan telah mengonfirmasi penuntutan, keluarga Clark akhirnya bisa menghela napas lega. Mereka menyerahkan seluruh urusan yang tersisa kepada pengacara, lalu kembali ke Madrid terlebih dulu.Meski jauh dari tanah kelahiran, urusan sosial dan berbagai kekhawatirannya juga ikut menjauh. Clark pun menghela napas panjang.Hari demi hari berlalu, perlahan-lahan dia juga mulai beradaptasi dengan kehidupan di sini.Orang tua Clark menanyakan apa rencananya ke depan. Clark mengambil sepotong buah dan menyuapkannya ke ibunya, lalu mengedipkan mata."Bu, akhir-akhir ini aku juga lagi mikirin hal ini. Sepertinya aku ingin melanjutkan studi, tapi juga ingin istirahat sebentar lagi lalu cari pekerjaan, merasakan kehidupan di masyarakat. Menurut kalian gimana?"Angin di taman agak kencang. Ayah Clark mengambil dua selimut dan menyelimuti istri serta anaknya, sambil tersenyum hangat."Beberapa hari lagi kamu ulang tahun dan baru menginjak 23 tahun. Soal kerja, nanti m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status