Share

Bab 3

Author: Magnus
Menjelang sore, keluarga Fernando sudah menyiapkan mobil untuk pergi ke restoran. Ketiga anak muda itu duduk dalam satu mobil.

Sepanjang perjalanan, Fernando yang duduk di tengah sangat perhatian pada Jennah. Dia mengatur suhu AC, mengambilkan selimut, membantu mengambil air, dan membuka tutup botol.

Clark yang duduk di sebelah kiri melihat mereka berdua asyik mengobrol, lalu diam-diam memalingkan wajah ke luar jendela. Baru setengah perjalanan, hujan deras tiba-tiba turun.

Cahaya di jalan menjadi redup. Mobil di depan menyalakan lampu sorot yang menyilaukan. Saat menurun, sopir tersilaukan oleh cahaya dan tidak sempat berbelok. Mobil langsung menabrak pembatas jalan.

Di detik bahaya itu terjadi, Fernando refleks langsung memeluk Jennah untuk melindunginya.

Prang!

Kaca jendela pecah berhamburan, Clark yang berada di sisi dalam terbanting hingga tubuhnya berlumuran darah. Rasa sakit yang hebat menyebar ke seluruh tubuh. Dia merasa seakan tubuhnya hancur berkeping-keping.

Dalam kesadaran yang mulai kabur, dia melihat pintu mobil di sisi kanan terbuka.

Fernando menggendong Jennah keluar mobil dengan panik, sambil menghubungi rumah sakit dan menenangkannya dengan lembut. Seakan-akan lupa bahwa masih ada satu orang lagi di dalam mobil, dia sama sekali tidak memperhatikan Clark.

Setelah ambulans datang, dokter menyarankan untuk menolong yang lukanya lebih parah terlebih dahulu. Namun di antara Clark yang tergeletak dalam genangan darah dan Jennah yang hanya syok di pelukannya, Fernando hanya ragu beberapa detik, lalu tetap memilih membawa Jennah ke rumah sakit lebih dulu.

Melihat mobil itu semakin menjauh, pandangan Clark perlahan kehilangan fokus. Air matanya tak tertahankan lagi.

'Fernando ... Fernando .... Hubungan puluhan tahun ini, ternyata masih kalah dengan satu tatapan darinya.'

Kelopak mata Clark semakin berat, rasa sakit yang terus menyiksanya perlahan memudar. Dia tidak sempat menunggu ambulans berikutnya. Pandangannya menggelap dan dia benar-benar pingsan.

Entah berapa lama kemudian, Clark mendengar suara orang-orang yang ribut.

Begitu membuka mata, Clark melihat ibunya menepuk dada dengan lega, suaranya penuh kekhawatiran sekaligus bersyukur.

"Syukurlah, Clark, akhirnya kamu sadar saja. Untung ambulans datang tepat waktu. Kalau nggak, kamu bisa kehabisan darah, bahkan bank darah rumah sakit pun nggak akan cukup. Kalian bertiga satu mobil, kenapa si Jennah cuma lecet di tangan, tapi kamu sampai separah ini?"

Ayah Clark juga menghela napas lega, lalu mengangkat gelas air dan meneguknya.

"Itu sudah pasti karena dilindungi Fernando. Dalam kondisi sedang kesulitan, perasaan asli seseorang baru bisa terlihat. Gadis itu sampai sangat terharu. Tadi aku sempat menjenguk ke sebelah, kebetulan Fernando sedang suapin dia bubur. Dari cara mereka saling bertatapan, menurutku sih kemungkinan besar sudah pasti jadi."

Clark hanya mendengarkan dengan tenang. Setelah mereka selesai membicarakan itu, barulah dia membuka suara dengan suara serak, "Aku tidur berapa lama? Urusan imigrasi sudah selesai?"

"Kamu tidur dua hari, kami sampai ketakutan!"

"Kamu nggak usah khawatir soal itu, sekitar 20 hari lagi sudah selesai. Kamu fokus pemulihan saja."

Mendengar waktu yang dibutuhkan tinggal kurang dari sebulan, di hati Clark muncul rasa lega yang sulit dijelaskan. Dalam beberapa hari berikutnya, Clark sesekali mendengar dari para perawat tentang berbagai hal yang dilakukan Fernando untuk Jennah.

Fernando tidak pernah meninggalkan kamar rawat setiap hari. Bahkan kalau mendengar suara batuk di tengah malam, Fernando langsung khawatir dan pergi mencari perawat untuk meminta air hangat.

Dia sendiri yang turun tangan untuk mempersiapkan obat yang harus dikonsumsi, menyiapkan manisan agar gadis itu tidak merasa pahit saat minum obat. Lantaran takut Jennah akan merasa bosan di kamar, Fernando juga berusaha mencari berbagai permainan untuk menghiburnya.

Clark hanya mendengarkan dalam diam dan tidak mengatakan apa pun. Saat perawat mendorongnya untuk pemeriksaan ulang, Clark mendengar keributan dari lorong.

Ketika melewati ruangan sebelah, dia menoleh dan melihat Fernando yang memegang seikat besar bunga mawar, sedang menyatakan cinta kepada Jennah.

"Jennah, delapan tahun lalu aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Semua pertemuan itu sebenarnya memang sengaja kuatur. Aku ingat semua yang kamu suka, aku juga tahu mimpimu. Waktu itu aku belum sempat menyatakan perasaan, apa kamu bisa kasih aku kesempatan sekarang?"

Mendengar nada bicaranya yang penuh harap dan gugup, Clark tak bisa menahan diri untuk mengingat bahwa sebulan sebelum Jennah pergi ke luar negeri, Fernando sudah mulai menyiapkan pengakuan cinta ini.

Meski saat itu terlewat karena keadaan, ternyata hanya tertunda beberapa tahun saja. Saat mendengar Jennah mengatakan "aku mau", Clark tersenyum pelan, lalu melangkah menuju ruang pemeriksaan.

Saat dia berbalik, dari kerumunan terdengar tepuk tangan meriah.

Fernando menoleh karena suara itu dan melihat sosok Clark yang tampak sepi dan sendirian. Senyum di wajahnya sempat membeku, di dalam hatinya muncul perasaan aneh. Namun, rasa tidak nyaman itu hanya berlangsung sesaat dan langsung tenggelam oleh kebahagiaan yang meluap.

Fernando mengulurkan tangannya dengan mantap, lalu memeluk Jennah dengan penuh keyakinan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 25

    Musim dingin yang panjang pun berlalu, musim semi kembali menghangat.Keluarga Clark menerima kabar dari pengacara di dalam negeri.Setelah melalui proses panjang seperti sidang pertama, banding dari terdakwa, hingga sidang kedua, fakta bahwa Jennah menghasut tindak kejahatan akhirnya dikonfirmasi dan dia dijatuhi hukuman yang sesuai.Tentu saja, bagi seorang korban, pelaku kejahatan yang menerima hukuman setimpal adalah sebuah penghiburan yang terbaik. Kebetulan, hari itu juga adalah ulang tahun ayah Clark.Ibu Clark turun tangan untuk memasak semeja penuh hidangan dan keluarga itu pun bersulang untuk merayakannya. Hampir setengah tahun sejak datang ke Spanyol, Clark sudah terbiasa dengan kehidupan di sini.Meski masih ada banyak hal yang tidak praktis, Clark tetap menemukan hal-hal menarik yang justru menjadi kesenangan tersendiri dalam proses eksplorasi. Dia juga sudah mengenal banyak teman baru dan perlahan menemukan apa yang benar-benar dia sukai.Di hari yang baik ini, dia juga m

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 24

    Tiga hari kemudian, Fernando kembali ke Kota Edo sendirian. Saat sampai di rumah, vila di sebelah kembali menyala. Kepala pelayan berkata bahwa keluarga Clark sudah menjual semua aset mereka di dalam negeri dan tetangga baru sudah pindah dua hari yang lalu.Mendengar semua itu, Fernando akhirnya benar-benar menyadari bahwa semuanya memang tidak bisa kembali seperti semula. Dia menyendiri di kamar dan tidak tidur semalaman.Keesokan paginya, dia melihat dari jendela bahwa tetangga baru membongkar ayunan di taman, mengganti tirai merah muda putih dengan warna hijau tua, dan lonceng angin dari kerang yang tergantung di pintu juga telah dipotong dan dibuang.Semua hal yang berhubungan dengan keluarga mereka dan Clark, perlahan menghilang dari dunianya. Fernando merasa tidak berdaya untuk menghentikannya. Dia hanya bisa mabuk setiap hari dan menjerumuskan dirinya dengan alkohol.Hatinya yang sudah penuh luka, kini perlahan menjadi kosong dan kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi.Cinta

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 23

    Hati Fernando terasa dingin mendengar setiap kata yang diucapkan Clark. Setelah melihat Clark pergi dengan mata kepala sendiri, tangannya pun terkulai. Di mata yang penuh kelelahan itu, perlahan-lahan memerah dan dipenuhi air mata.Perasaan tidak berdaya dan putus asa yang mendalam, menyeruak di hatinya. Napasnya pun menjadi semakin terengah-engah. Fernando duduk sendirian di pojokan dalam waktu yang cukup lama.Sampai restoran tutup, pelayan datang untuk mengingatkannya. Baru saat itulah dia tersadar, lalu menyerahkan kantong di tangannya dan memohon bantuan pelayan itu. Kompres telur hangat memang mengurangi bengkak, tapi tetap tidak bisa meredakan rasa sakit.Clark sibuk menangani memarnya sampai bahkan tidak sempat makan malam. Orang tua Clark sengaja mengantarkan seporsi steik. Saat melihat luka di kakinya, mereka merasa sangat khawatir. Kebetulan pelayan datang untuk mengantar handuk, mereka pun sekalian bertanya.Saat mendengar hotel menyediakan obat secara berbayar, mereka pun

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 22

    Keesokan paginya, keluarga Clark membawa koper dan bersiap pergi bermain ski. Saat keluar dan tidak melihat Fernando, Clark menghela napas lega, lalu mendorong koper ke arah belakang mobil. Baru saja dia menaruh barang, dia mendengar ayahnya berseru pelan."Ini barang apa? Clark, kamu ketinggalan hadiah ulang tahun dari tetangga di depan pintu, ya?"Begitu menoleh dan melihat kotak yang tidak asing itu, Clark sedikit mengernyit. Dia berjalan dengan cepat untuk mengambil kotak itu, lalu menyerahkannya kepada kepala pelayan. Kemudian, dia mengirim alamat keluarga Fernando dan menyuruh kepala pelayan untuk mengirimnya kembali ke dalam negeri nanti.Orang tua Clark semakin penasaran. Mereka terus menanyakan siapa pengirim hadiah itu sepanjang jalan. Lantaran tidak bisa lagi menutupinya, Clark terpaksa jujur, sekaligus menceritakan ucapan selamat dari orang tua Fernando kemarin.Suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, lalu ayah Clark mengangguk beberapa kali dengan tegas."Ayah dan Ib

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 21

    Sudah lama Clark tidak pernah bersenang-senang tanpa batas. Jadi di pesta piama ini, Clark minum beberapa gelas alkohol. Setelah itu ditambah pertarungan bantal yang seru, emosinya benar-benar terangkat ke puncak. Dia begitu bersemangat bahkan sampai melihat seekor anak kucing saja dia ingin menyapanya.Keadaan itu terus berlanjut sampai pesta selesai. Setelah mengantar dua tetangga terakhir yang sudah hampir tidak sadar pulang, dia bersenandung sambil berjalan pulang ke rumah.Dari kejauhan, dia melihat sebuah sosok yang samar berdiri di depan pintu. Di tangannya masih membawa sebuah kotak.Sudah selarut ini dan ulang tahunnya juga sudah lewat, kenapa masih ada orang datang?Saat mendekat dan melihat jelas wajah itu, senyum di wajah Clark langsung menghilang. Nada bicaranya pun berubah dingin, "Mau ngapain kamu ke sini?"Menangkap perubahan emosinya, di mata Fernando terlintas sedikit rasa sakit yang nyaris tak terlihat dan suaranya terdengar agak serak, "Clark, selamat ulang tahun."

  • Kehangatan Di Atas Ranjang Tanpa Cinta   Bab 20

    Setelah menerima kabar bahwa kejaksaan telah mengonfirmasi penuntutan, keluarga Clark akhirnya bisa menghela napas lega. Mereka menyerahkan seluruh urusan yang tersisa kepada pengacara, lalu kembali ke Madrid terlebih dulu.Meski jauh dari tanah kelahiran, urusan sosial dan berbagai kekhawatirannya juga ikut menjauh. Clark pun menghela napas panjang.Hari demi hari berlalu, perlahan-lahan dia juga mulai beradaptasi dengan kehidupan di sini.Orang tua Clark menanyakan apa rencananya ke depan. Clark mengambil sepotong buah dan menyuapkannya ke ibunya, lalu mengedipkan mata."Bu, akhir-akhir ini aku juga lagi mikirin hal ini. Sepertinya aku ingin melanjutkan studi, tapi juga ingin istirahat sebentar lagi lalu cari pekerjaan, merasakan kehidupan di masyarakat. Menurut kalian gimana?"Angin di taman agak kencang. Ayah Clark mengambil dua selimut dan menyelimuti istri serta anaknya, sambil tersenyum hangat."Beberapa hari lagi kamu ulang tahun dan baru menginjak 23 tahun. Soal kerja, nanti m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status