Teilen

Bab 4

Nando
Harry sudah bisa melakukan perintah-perintah dasar dengan baik, hanya saja urusan toilet masih sulit diperbaiki. Dia masih sering buang air sembarangan.

Agar bisa menjaganya dengan lebih baik, aku memasang kamera CCTV di rumah.

Dengan begitu, aku bisa memantau kondisi Harry saat bekerja. Apa dia makan dan minum dengan baik, atau apa dia buang air sembarangan lagi.

Hari-hari berlalu dengan tenang, sampai seorang tamu tak diundang menghancurkan kedamaian hidupku.

Aku baru saja merasa mengantuk, k
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 7

    Seiring dengan kalimat itu, pintu terbuka lebar. Cahaya menyeruak masuk memenuhi ruangan, seketika menerangi segalanya. Hatiku pun seolah hidup kembali dan beban di pundakku luruh seketika.“Apa pelakunya Jesika?” tanyaku sambil mencengkeram tangan polisi yang datang.Polisi muda itu hanya mengedikkan dagunya. “Pak Herman yang akan menjelaskannya padamu.”Aku mengikuti langkahnya keluar dari ruangan sempit itu dan diarahkan untuk duduk di ruang pantri.Setelah menunggu dengan gelisah beberapa saat, Pak Herman masuk sambil membawa setumpuk berkas. Ada lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya, tanda bahwa dia telah terjaga semalaman.“Pak Herman ... apa itu benar?”Dia mengangguk lelah, lalu berusaha memaksakan sebuah senyuman. “Setelah interogasi semalaman, kasus ini akhirnya terungkap.”Melalui penjelasannya, aku akhirnya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.Ternyata, Willy memiliki penyimpangan seksual yang aneh. Dia tidak bisa terangsang jika tidak melakukan sesuatu yang ekstr

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 6

    Polisi yang menginterogasiku itu menerima laporan tersebut, membacanya sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya kembali padaku sambil berucap dengan penekanan di setiap katanya, “Di bawah kuku Jesika, ditemukan residu DNA milikmu.”Sekarang bukti fisik dan saksi mata sudah lengkap. Aku benar-benar terpojok tanpa bisa membela diri.Tunggu, dia kan tadi ke rumahku! DNA di bawah kukunya itu pasti berasal dari luka cakaran saat kami bergulat tadi!Segera kusampaikan petunjuk ini kepada polisi dan kuulangi seluruh detail kejadian malam ini tanpa ada yang terlewat.Kerutan di dahi petugas itu tampak semakin dalam, seolah ada beban pikiran yang tak kunjung hilang. Setelah mempertimbangkan masak-masak, dia memintaku untuk menunggu sementara mereka melakukan penyelidikan lebih lanjut berdasarkan keteranganku.Ruang interogasi kembali sunyi senyap. Pikiranku carut-marut.Situasi saat ini sangat tidak menguntungkan bagiku. Sebelum memutuskan untuk menjebakku, Jesika pasti sudah merencanakan segalan

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 5

    Jesika sudah pergi? Apa maksud dari semua drama yang dia lakukan malam ini? Dan kenapa telepon Willy tidak bisa dihubungi? Apakah terjadi sesuatu?Kecurigaan di hatiku semakin dalam. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Willy. Lagi pula, jaraknya tidak jauh. Aku menyambar mantel dan segera keluar. Jalanan tengah malam sangat sunyi, hanya ada aku sendiri, membuat hatiku semakin tidak tenang.Anehnya, semuanya berjalan sangat lancar. Penjaga gerbang bahkan tidak mencatat identitasku dan langsung membiarkanku masuk ke kompleks perumahan. Padahal biasanya kalau aku datang, prosedurnya sangat panjang merepotkan.Sesampainya di depan pintu rumah Willy, aku mendapati pintunya tidak terkunci rapat. Menyisakan celah kecil yang membiarkan cahaya dari dalam merembes keluar.Setelah mengetuk pintu dengan buku jari, aku mendorongnya perlahan.Begitu pintu terbuka, keheningan yang mencekam menyelimuti seisi ruangan.Saat menunduk, aku melihat seseorang tergeletak begitu saja di lantai. Darah yang

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 4

    Harry sudah bisa melakukan perintah-perintah dasar dengan baik, hanya saja urusan toilet masih sulit diperbaiki. Dia masih sering buang air sembarangan.Agar bisa menjaganya dengan lebih baik, aku memasang kamera CCTV di rumah. Dengan begitu, aku bisa memantau kondisi Harry saat bekerja. Apa dia makan dan minum dengan baik, atau apa dia buang air sembarangan lagi.Hari-hari berlalu dengan tenang, sampai seorang tamu tak diundang menghancurkan kedamaian hidupku.Aku baru saja merasa mengantuk, ketika tiba-tiba terbangun oleh suara bel pintu yang berbunyi nyaring.Harry juga terbangun dan menggonggong tanpa henti.Suara bel itu terdengar sangat mendesak, seolah mengejar nyawa, membuat kepalaku berdenyut sakit.Aku melirik jam, sudah pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu selarut ini?Dengan perasaan kesal, aku membuka pintu. Tak disangka, begitu pintu terbuka, seorang wanita langsung menerobos masuk dan memeluk tubuhku erat-erat.Tubuh lembut dan dingin yang menyusup ke pelukanku itu,

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 3

    “Jangan!” Di saat yang paling krusial, aku masih belum bisa melampaui batas moral di hatiku. Aku segera memegang kepala Jesika dan menghentikannya.“Cukup untuk hari ini,” kataku sambil menarik celanaku dan menggelengkan kepala. Aku pun mengabaikan tatapan penuh harap dari Willy.Selesai berkemas dan meninggalkan vila, kami bertiga naik mobilku. Suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung. Saat menyetir, aku melirik melalui spion tengah dan melihat mereka berdua sedang bertautan jari dengan mesra, seolah dunia milik berdua.Aku memantapkan hati. Willy adalah sahabat terbaikku, aku tidak boleh melakukan hal yang mengkhianatinya.Tepat saat aku mulai melupakan kejadian kecil itu, undangan dari Willy datang kembali secara tiba-tiba.Dia bilang ini hanya pertemuan antar teman biasa. Bahasanya terdengar normal, jadi aku tidak berpikir panjang dan langsung pergi memenuhi undangannya.Awalnya, kami membahas hal-hal ringan dan terasa cukup santai. Namun, aku merasa Willy sedang memendam se

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 2

    Aku menoleh menatap Jesika. Payudara bulat, pinggang ramping, kaki jenjang, dan bokong yang menonjol. Sesaat aku tidak tahu harus menjawab apa dan terdiam dalam pikiran.“Nggak apa-apa Kak, aku tahu kamu ingin tidur dengannya. Tapi karena kamu menganggapku sahabat, kamu merasa nggak enak untuk melakukannya. Aku ngerti,” kata Willy sambil menyalakan sebatang rokok lagi untukku.“Katakan saja, aku akan bantu semampuku.”Penyimpangan seksual semacam ini bukan hal baru. Aku berkecimpung di dunia fotografi, hobi aneh mana yang belum pernah kulihat? Hanya saja, karena ini terjadi pada sahabatku sendiri, aku masih agak sulit menerimanya.“Aku sudah bicara dengannya. Sekarang tinggal menunggu persetujuanmu. Kamu hanya perlu .…” Willy mendekat ke telingaku dan berbisik.Saat aku dan Willy masuk ke dalam vila membawa peralatan, aku yang baru saja melangkah masuk, langsung dikejutkan oleh pemandangan di depanku.Jesika ternyata hanya mengenakan satu set lingerie!Bahan brokat hitam transparan mem

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status