Teilen

Kehidupan Fotografiku
Kehidupan Fotografiku
Nando

Bab 1

Nando
“Antara aku dan suamimu, siapa yang lebih hebat?”

Dia menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang menggoda. “Sepuluh orang seperti dia pun nggak akan bisa menandingimu .…”

Namaku Vincen Darko. Sejak kuliah, aku sudah terobsesi dengan fotografi anatomi.

Tak disangka, keahlian ini justru menjadi tiket bagiku untuk meniduri banyak wanita cantik dengan kedok pemotretan artistik.

Awalnya, aku sering mondar-mandir di berbagai pameran cosplay untuk mengasah teknik. Seiring meningkatnya kemampuanku, mulai banyak model yang mengajakku bekerja sama. Bahkan mereka menawarkan sistem "barter" alias tanpa biaya.

Saat itulah aku baru tahu bahwa dalam pemotretan foto-foto seksi, ada istilah "barter" di mana model bersedia tidur dengan fotografer sebagai ganti biaya jasa foto yang gratis.

Setelah itu, petualanganku tak terbendung lagi. Hampir semua model ternama di negeri ini sudah pernah aku "cicipi".

Suatu hari, sahabat baikku, Willy Tisna, mengajakku makan dan berpesan secara khusus agar aku membawa perlengkapan kamera .

Begitu aku tiba di restoran dan duduk, sebuah aroma harum semerbak mendekat. Seorang wanita seksi berjalan dari belakangku, payudaranya yang lembut sempat bergesekan pelan dengan lenganku sebelum dia duduk tepat di hadapanku.

Wanita itu adalah Jesika Martha, tunangan sekaligus teman masa kecil Willy. Dia adalah wanita tercantik yang pernah kutemui.

Jesika mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan dadanya agak rendah, memperlihatkan sebagian payudaranya yang putih bersih yang memantul mengikuti gerakannya. Di bawahnya, terdapat pinggang ramping yang seolah bisa dipeluk dengan satu tangan, serta bokong bulat yang sintal bak buah persik.

Siapa pun yang melihatnya pasti akan membatin, 'Kalau wanita ini melepaskan bajunya, seliar apa dia jadinya?'

Baru setelah aku menyadari Willy memperhatikanku dengan tatapan penuh arti, aku tersadar aku telah kehilangan kendali diri. Aku segera menunduk dan minum air untuk menutupi rasa canggung.

Setelah hidangan tersaji lengkap, Willy memesan sebotol minuman keras. Aku melambaikan tangan padanya untuk menolak. “Aku bawa mobil.”

“Nggak apa-apa, nanti biar Jesika yang mengantarmu.”

Karena Willy berkata begitu, aku tidak menolak lagi.

“Kak, bagaimana menurutmu tentang Jesika?”

Di tengah silih bergantinya denting gelas, setengah botol minuman sudah habis. Jesika berdiri untuk menuangkan minuman untukku.

Saat itulah aku menyadari dia ternyata tidak memakai bra. Dia hanya mengenakan penutup puting. Payudaranya yang putih dan kenyal, terlihat jelas dari balik kerah gaunnya yang agak melonggar saat dia membungkuk.

Meskipun sudah agak mabuk, aku berusaha tidak menatap terlalu lama. Aku segera mengalihkan pandangan dan bercanda, “Dia seperti bidadari turun ke bumi. Kamu benar-benar beruntung bisa dapat 'daging berkelas' sepertinya.”

Willy merangkul bahu Jesika sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kak, tolong foto Jesika,” kata Willy dengan nada serius setelah gurauan tadi berakhir.

“Ah, aku kira ada apa. Tenang saja, sekarang juga aku hubungi studio. Kusiapkan penata cahaya terbaik dan kupotret tunanganmu dengan spesifikasi tertinggi,” kataku sambil meneguk minuman.

Namun, Willy menahan tanganku yang hendak mengambil ponsel. Dia pun berkata dengan agak sungkan, “Jangan, jangan di sana. Cuma kita bertiga saja.”

Aku menatapnya dengan tatapan bingung. “Maksudmu foto privat?”

Jesika yang berada di sampingnya, tampak merona merah dan tetap diam.

“Nanti kamu juga akan tahu. Aku sudah sewa vila di pinggiran kota. Peralatanmu kamu bawa, ‘kan?” Willy memberiku kode dengan matanya.

Aku memberi isyarat bahwa semua alat ada di mobil. Meski merasa ada yang aneh dengan kedipan matanya, aku tetap menyetujuinya.

Selesai makan, Willy memanggil sopir pengganti untuk dirinya sendiri, tetapi meminta Jesika menyetir mobilku untuk membawaku ke lokasi pemotretan.

Di dalam mobil, hanya ada aku dan Jesika. Dari sudut mataku, aku bisa melihat sabuk pengaman yang melintang di antara kedua payudaranya. Gaun tipis itu membungkus tubuh moleknya dengan sangat ketat, membuat siapa pun yang melihat ingin sekali meremasnya dengan kasar.

Menyadari tatapanku, Jesika bukannya malu, malah sengaja membusungkan dadanya, membiarkanku puas memandangnya.

Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku tidak bisa menjelaskan alasannya.

Pertama kali aku bertemu Jesika adalah saat kuliah. Dia menempuh perjalanan ribuan km untuk merayakan ulang tahun Willy. Sampai sekarang, aku masih ingat betapa terpukaunya aku melihat kecantikannya. "Kecantikan yang tiada tara" adalah kalimat yang tepat untuk menjelaskan kecantikannya.

Aku juga masih ingat momen di kontrakan dulu, aku melakukan masturbasi sambil mendengarkan suara desahan mereka saat bercinta di kamar sebelah.

“Sudah sampai, Kak Vincen.”

Suara Jesika menarikku kembali ke realita. Aku melihat ke sekeliling dan menyadari kami sudah sampai di depan sebuah bangunan tiga lantai.

Aku pun turun dari mobil dan menghampiri Willy yang baru saja turun dari mobil sopir penggantinya.

Willy tidak terburu-buru masuk. Dia menarikku ke sebuah paviliun di depan pintu, menyodorkanku sebatang rokok, lalu bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri, “Seenak apa pun makanan, kalau dimakan terus pasti akan bosan. Secantik apa pun wanita, kalau ditiduri terus pasti akan bosan juga.”

Aku benar-benar bingung, tapi aku tetap diam menunggunya melanjutkan.

“Kak, sudah berapa lama kita berteman?” tanya Willy.

“Kurang lebih sepuluh tahun.”

“Kak, aku mau memberitahumu sesuatu, tapi jangan tertawa, ya.” Willy mematikan rokoknya, seolah sudah memantapkan hati.

“Akhir-akhir ini, aku selalu kehilangan gairah saat melihat Jesika. Tapi, begitu aku membayangkan dia ditelanjangi dan ditiduri oleh pria lain, hatiku langsung terasa panas dan sangat bergairah. Menurutmu, aku ini kenapa?”

Aku baru menyadari betapa serius masalah ini. Sahabatku ini sepertinya memiliki kecenderungan senang melihat pasangannya berhubungan dengan orang lain.

“Ya sudah, jangan dibayangkan saja, ‘kan?” tanyaku mencoba mengetesnya.

“Masalahnya lebih parah dari itu.” Willy tampak frustrasi. “Sekarang otakku penuh dengan gambaran dia sedang ditiduri pria lain. Aku sampai nggak bisa tidur nyenyak, dan sudah lama aku nggak bercinta dengannya .…”

“Lalu, bagaimana aku bisa membantumu?”

“Apa kamu mau tidur dengan Jesika?”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 7

    Seiring dengan kalimat itu, pintu terbuka lebar. Cahaya menyeruak masuk memenuhi ruangan, seketika menerangi segalanya. Hatiku pun seolah hidup kembali dan beban di pundakku luruh seketika.“Apa pelakunya Jesika?” tanyaku sambil mencengkeram tangan polisi yang datang.Polisi muda itu hanya mengedikkan dagunya. “Pak Herman yang akan menjelaskannya padamu.”Aku mengikuti langkahnya keluar dari ruangan sempit itu dan diarahkan untuk duduk di ruang pantri.Setelah menunggu dengan gelisah beberapa saat, Pak Herman masuk sambil membawa setumpuk berkas. Ada lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya, tanda bahwa dia telah terjaga semalaman.“Pak Herman ... apa itu benar?”Dia mengangguk lelah, lalu berusaha memaksakan sebuah senyuman. “Setelah interogasi semalaman, kasus ini akhirnya terungkap.”Melalui penjelasannya, aku akhirnya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.Ternyata, Willy memiliki penyimpangan seksual yang aneh. Dia tidak bisa terangsang jika tidak melakukan sesuatu yang ekstr

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 6

    Polisi yang menginterogasiku itu menerima laporan tersebut, membacanya sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya kembali padaku sambil berucap dengan penekanan di setiap katanya, “Di bawah kuku Jesika, ditemukan residu DNA milikmu.”Sekarang bukti fisik dan saksi mata sudah lengkap. Aku benar-benar terpojok tanpa bisa membela diri.Tunggu, dia kan tadi ke rumahku! DNA di bawah kukunya itu pasti berasal dari luka cakaran saat kami bergulat tadi!Segera kusampaikan petunjuk ini kepada polisi dan kuulangi seluruh detail kejadian malam ini tanpa ada yang terlewat.Kerutan di dahi petugas itu tampak semakin dalam, seolah ada beban pikiran yang tak kunjung hilang. Setelah mempertimbangkan masak-masak, dia memintaku untuk menunggu sementara mereka melakukan penyelidikan lebih lanjut berdasarkan keteranganku.Ruang interogasi kembali sunyi senyap. Pikiranku carut-marut.Situasi saat ini sangat tidak menguntungkan bagiku. Sebelum memutuskan untuk menjebakku, Jesika pasti sudah merencanakan segalan

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 5

    Jesika sudah pergi? Apa maksud dari semua drama yang dia lakukan malam ini? Dan kenapa telepon Willy tidak bisa dihubungi? Apakah terjadi sesuatu?Kecurigaan di hatiku semakin dalam. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Willy. Lagi pula, jaraknya tidak jauh. Aku menyambar mantel dan segera keluar. Jalanan tengah malam sangat sunyi, hanya ada aku sendiri, membuat hatiku semakin tidak tenang.Anehnya, semuanya berjalan sangat lancar. Penjaga gerbang bahkan tidak mencatat identitasku dan langsung membiarkanku masuk ke kompleks perumahan. Padahal biasanya kalau aku datang, prosedurnya sangat panjang merepotkan.Sesampainya di depan pintu rumah Willy, aku mendapati pintunya tidak terkunci rapat. Menyisakan celah kecil yang membiarkan cahaya dari dalam merembes keluar.Setelah mengetuk pintu dengan buku jari, aku mendorongnya perlahan.Begitu pintu terbuka, keheningan yang mencekam menyelimuti seisi ruangan.Saat menunduk, aku melihat seseorang tergeletak begitu saja di lantai. Darah yang

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 4

    Harry sudah bisa melakukan perintah-perintah dasar dengan baik, hanya saja urusan toilet masih sulit diperbaiki. Dia masih sering buang air sembarangan.Agar bisa menjaganya dengan lebih baik, aku memasang kamera CCTV di rumah. Dengan begitu, aku bisa memantau kondisi Harry saat bekerja. Apa dia makan dan minum dengan baik, atau apa dia buang air sembarangan lagi.Hari-hari berlalu dengan tenang, sampai seorang tamu tak diundang menghancurkan kedamaian hidupku.Aku baru saja merasa mengantuk, ketika tiba-tiba terbangun oleh suara bel pintu yang berbunyi nyaring.Harry juga terbangun dan menggonggong tanpa henti.Suara bel itu terdengar sangat mendesak, seolah mengejar nyawa, membuat kepalaku berdenyut sakit.Aku melirik jam, sudah pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu selarut ini?Dengan perasaan kesal, aku membuka pintu. Tak disangka, begitu pintu terbuka, seorang wanita langsung menerobos masuk dan memeluk tubuhku erat-erat.Tubuh lembut dan dingin yang menyusup ke pelukanku itu,

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 3

    “Jangan!” Di saat yang paling krusial, aku masih belum bisa melampaui batas moral di hatiku. Aku segera memegang kepala Jesika dan menghentikannya.“Cukup untuk hari ini,” kataku sambil menarik celanaku dan menggelengkan kepala. Aku pun mengabaikan tatapan penuh harap dari Willy.Selesai berkemas dan meninggalkan vila, kami bertiga naik mobilku. Suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung. Saat menyetir, aku melirik melalui spion tengah dan melihat mereka berdua sedang bertautan jari dengan mesra, seolah dunia milik berdua.Aku memantapkan hati. Willy adalah sahabat terbaikku, aku tidak boleh melakukan hal yang mengkhianatinya.Tepat saat aku mulai melupakan kejadian kecil itu, undangan dari Willy datang kembali secara tiba-tiba.Dia bilang ini hanya pertemuan antar teman biasa. Bahasanya terdengar normal, jadi aku tidak berpikir panjang dan langsung pergi memenuhi undangannya.Awalnya, kami membahas hal-hal ringan dan terasa cukup santai. Namun, aku merasa Willy sedang memendam se

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 2

    Aku menoleh menatap Jesika. Payudara bulat, pinggang ramping, kaki jenjang, dan bokong yang menonjol. Sesaat aku tidak tahu harus menjawab apa dan terdiam dalam pikiran.“Nggak apa-apa Kak, aku tahu kamu ingin tidur dengannya. Tapi karena kamu menganggapku sahabat, kamu merasa nggak enak untuk melakukannya. Aku ngerti,” kata Willy sambil menyalakan sebatang rokok lagi untukku.“Katakan saja, aku akan bantu semampuku.”Penyimpangan seksual semacam ini bukan hal baru. Aku berkecimpung di dunia fotografi, hobi aneh mana yang belum pernah kulihat? Hanya saja, karena ini terjadi pada sahabatku sendiri, aku masih agak sulit menerimanya.“Aku sudah bicara dengannya. Sekarang tinggal menunggu persetujuanmu. Kamu hanya perlu .…” Willy mendekat ke telingaku dan berbisik.Saat aku dan Willy masuk ke dalam vila membawa peralatan, aku yang baru saja melangkah masuk, langsung dikejutkan oleh pemandangan di depanku.Jesika ternyata hanya mengenakan satu set lingerie!Bahan brokat hitam transparan mem

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status