Teilen

Bab 2

Nando
Aku menoleh menatap Jesika. Payudara bulat, pinggang ramping, kaki jenjang, dan bokong yang menonjol. Sesaat aku tidak tahu harus menjawab apa dan terdiam dalam pikiran.

“Nggak apa-apa Kak, aku tahu kamu ingin tidur dengannya. Tapi karena kamu menganggapku sahabat, kamu merasa nggak enak untuk melakukannya. Aku ngerti,” kata Willy sambil menyalakan sebatang rokok lagi untukku.

“Katakan saja, aku akan bantu semampuku.”

Penyimpangan seksual semacam ini bukan hal baru. Aku berkecimpung di dunia fotografi, hobi aneh mana yang belum pernah kulihat? Hanya saja, karena ini terjadi pada sahabatku sendiri, aku masih agak sulit menerimanya.

“Aku sudah bicara dengannya. Sekarang tinggal menunggu persetujuanmu. Kamu hanya perlu .…” Willy mendekat ke telingaku dan berbisik.

Saat aku dan Willy masuk ke dalam vila membawa peralatan, aku yang baru saja melangkah masuk, langsung dikejutkan oleh pemandangan di depanku.

Jesika ternyata hanya mengenakan satu set lingerie!

Bahan brokat hitam transparan membuatnya terlihat sangat nakal dan menggoda. Desain garis-garis di bagian dada memperlihatkan tonjolan yang jelas. Terlihat sekali dia sudah melepas penutup putingnya.

Di bagian bawah, selain G-string renda seukuran telapak tangan yang menutupi area intimnya, seluruh bagian bokongnya yang bulat dan padat terekspos sepenuhnya.

“Kak, jangan cuma dilihat, nanti akan ada banyak waktu,” desak Willy tidak sabar.

Aku naik ke lantai atas untuk meninjau lokasi dan memutuskan adegan pertama dilakukan di kamar tidur utama lantai dua.

Kembali ke lantai bawah, aku melihat Willy sedang meremas payudara Jesika sambil membisikkan sesuatu di telinganya. Wajah Jesika merah padam sampai-sampai dia hampir tak berani menatap orang. Sepertinya Willy tidak membisikkan hal-hal yang sopan.

Tangan halus Jesika gemetar sedikit saat ia menunduk membuka sebotol anggur merah dan menuangkannya ke dalam tiga gelas.

Sepanjang waktu, dia tidak berani menatap mataku. Persis seperti pengantin malu-malu yang akan masuk ke kamar pengantin.

Aku menjelaskan rencana pemotretan secara singkat. Sambil berbincang, satu botol anggur telah tandas, dan suasana tampak tidak lagi begitu tegang.

Sesampainya di kamar utama, aku menutup tirai dan memberi isyarat pada Willy untuk mengatur pencahayaan.

Foto pertama. Jesika berbaring telentang di atas ranjang dengan kaki terbuka lebar. Aku mengambil sudut dari samping atas.

“Busungkan dadamu sedikit, masukkan jari ke mulut, lihat ke arah sini … ya, bagus. Bayangkan malam pertama saat kamu dan Willy tidur bersama.”

Jesika masih agak tegang, namun dia mulai berpose sesuai instruksiku.

Saat aku hendak menekan tombol kamera, Willy tiba-tiba menghentikanku. “Tunggu. Sayang, turunkan lagi sedikit celana dalammu.”

Mengikuti instruksi Willy, dengan wajah merona merah, Jesika menarik turun sedikit G-string-nya hingga hampir memperlihatkan "taman rahasianya". Sepertinya dia sudah melakukan waxing sebelumnya.

Dari sudut mataku, aku melihat napas Willy memburu. Jelas sekali, melihat calon istrinya terekspos di depan pria lain, membuatnya sangat bergairah.

Waktu berlalu perlahan. Satu per satu pose nakal dilakukan, satu per satu foto mesum tercipta.

Jesika juga menjadi semakin berani di depan lensa. Dia tidak hanya menanggalkan atasan lingerie-nya dan membiarkan payudaranya yang sempurna terekspos di udara. Tapi seiring kilatan lampu flash, sepertinya aku melihat ada noda basah di G-string rendanya.

Aku tidak tahu "ramuan" apa yang diberikan Willy pada Jesika, hingga dia menjadi begitu patuh.

Atau Jesika sendiri memang memiliki bakat ekshibisionis dan ingin memamerkan tubuhnya di depan pria lain?

Tepat saat itu, satu kalimat dari Willy benar-benar meruntuhkan batas terakhir. “Sayang, biasanya kalau model minta difoto Kak Vincen, mereka harus tidur dulu dengannya. Kenapa kamu nggak ada inisiatif? Cepat lepaskan celana Kak Vincen.”

Setelah melewati serangkaian proses pemotretan, Jesika sepertinya sudah benar-benar melepaskan rasa malunya, atau mungkin memang hasratnya sudah memuncak. Dia merangkak pelan ke hadapanku. Saat ini, selangkanganku tepat berada di depan wajah cantik Jesika.

“Cepat,” desak Willy.

Jesika meliriknya dengan manja. Kedua tangannya sudah memegang pinggangku. Seolah sudah memantapkan tekad, dia mulai melorotkan celanaku perlahan.

“Ah, besar sekali …!”

Begitu celana dalamku turun hingga ke lutut, "milikku" langsung mencuat keluar bak ular raksasa. Wajah cantik Jesika menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus senang. Dia memekik pelan, lalu menjulurkan tangannya yang hangat untuk meraba dan menggerakkannya perlahan.

Dalam situasi seperti ini, tentu saja aku tidak bisa menahannya. Aku menjulurkan kedua tanganku dari tulang selangka Jesika ke bawah, lalu meremas payudaranya yang lembut dengan pelan.

Hanya dalam beberapa remasan, napas Jesika langsung memburu hebat. Kakinya saling bergesekan tanpa sadar, seluruh tubuhnya gemetar karena sensasi nikmat.

Willy sudah tidak sabar lagi. “Sayang, keluarkan cairan Kak Vincen pakai mulutmu dulu.”

“Ba-baiklah .…”

Jesika mendongak menatapku dengan penuh gairah. Bahkan suaranya pun terdengar seperti desahan yang samar. “Kak Vincen, teknikku biasa saja … kalau nanti kena gigiku, jangan marah ya .…”

Selesai bicara, dia menggigit bibirnya sejenak. Lalu akhirnya memajukan leher jenjangnya dan membenamkan kepalanya ke bawah.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 7

    Seiring dengan kalimat itu, pintu terbuka lebar. Cahaya menyeruak masuk memenuhi ruangan, seketika menerangi segalanya. Hatiku pun seolah hidup kembali dan beban di pundakku luruh seketika.“Apa pelakunya Jesika?” tanyaku sambil mencengkeram tangan polisi yang datang.Polisi muda itu hanya mengedikkan dagunya. “Pak Herman yang akan menjelaskannya padamu.”Aku mengikuti langkahnya keluar dari ruangan sempit itu dan diarahkan untuk duduk di ruang pantri.Setelah menunggu dengan gelisah beberapa saat, Pak Herman masuk sambil membawa setumpuk berkas. Ada lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya, tanda bahwa dia telah terjaga semalaman.“Pak Herman ... apa itu benar?”Dia mengangguk lelah, lalu berusaha memaksakan sebuah senyuman. “Setelah interogasi semalaman, kasus ini akhirnya terungkap.”Melalui penjelasannya, aku akhirnya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.Ternyata, Willy memiliki penyimpangan seksual yang aneh. Dia tidak bisa terangsang jika tidak melakukan sesuatu yang ekstr

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 6

    Polisi yang menginterogasiku itu menerima laporan tersebut, membacanya sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya kembali padaku sambil berucap dengan penekanan di setiap katanya, “Di bawah kuku Jesika, ditemukan residu DNA milikmu.”Sekarang bukti fisik dan saksi mata sudah lengkap. Aku benar-benar terpojok tanpa bisa membela diri.Tunggu, dia kan tadi ke rumahku! DNA di bawah kukunya itu pasti berasal dari luka cakaran saat kami bergulat tadi!Segera kusampaikan petunjuk ini kepada polisi dan kuulangi seluruh detail kejadian malam ini tanpa ada yang terlewat.Kerutan di dahi petugas itu tampak semakin dalam, seolah ada beban pikiran yang tak kunjung hilang. Setelah mempertimbangkan masak-masak, dia memintaku untuk menunggu sementara mereka melakukan penyelidikan lebih lanjut berdasarkan keteranganku.Ruang interogasi kembali sunyi senyap. Pikiranku carut-marut.Situasi saat ini sangat tidak menguntungkan bagiku. Sebelum memutuskan untuk menjebakku, Jesika pasti sudah merencanakan segalan

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 5

    Jesika sudah pergi? Apa maksud dari semua drama yang dia lakukan malam ini? Dan kenapa telepon Willy tidak bisa dihubungi? Apakah terjadi sesuatu?Kecurigaan di hatiku semakin dalam. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Willy. Lagi pula, jaraknya tidak jauh. Aku menyambar mantel dan segera keluar. Jalanan tengah malam sangat sunyi, hanya ada aku sendiri, membuat hatiku semakin tidak tenang.Anehnya, semuanya berjalan sangat lancar. Penjaga gerbang bahkan tidak mencatat identitasku dan langsung membiarkanku masuk ke kompleks perumahan. Padahal biasanya kalau aku datang, prosedurnya sangat panjang merepotkan.Sesampainya di depan pintu rumah Willy, aku mendapati pintunya tidak terkunci rapat. Menyisakan celah kecil yang membiarkan cahaya dari dalam merembes keluar.Setelah mengetuk pintu dengan buku jari, aku mendorongnya perlahan.Begitu pintu terbuka, keheningan yang mencekam menyelimuti seisi ruangan.Saat menunduk, aku melihat seseorang tergeletak begitu saja di lantai. Darah yang

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 4

    Harry sudah bisa melakukan perintah-perintah dasar dengan baik, hanya saja urusan toilet masih sulit diperbaiki. Dia masih sering buang air sembarangan.Agar bisa menjaganya dengan lebih baik, aku memasang kamera CCTV di rumah. Dengan begitu, aku bisa memantau kondisi Harry saat bekerja. Apa dia makan dan minum dengan baik, atau apa dia buang air sembarangan lagi.Hari-hari berlalu dengan tenang, sampai seorang tamu tak diundang menghancurkan kedamaian hidupku.Aku baru saja merasa mengantuk, ketika tiba-tiba terbangun oleh suara bel pintu yang berbunyi nyaring.Harry juga terbangun dan menggonggong tanpa henti.Suara bel itu terdengar sangat mendesak, seolah mengejar nyawa, membuat kepalaku berdenyut sakit.Aku melirik jam, sudah pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu selarut ini?Dengan perasaan kesal, aku membuka pintu. Tak disangka, begitu pintu terbuka, seorang wanita langsung menerobos masuk dan memeluk tubuhku erat-erat.Tubuh lembut dan dingin yang menyusup ke pelukanku itu,

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 3

    “Jangan!” Di saat yang paling krusial, aku masih belum bisa melampaui batas moral di hatiku. Aku segera memegang kepala Jesika dan menghentikannya.“Cukup untuk hari ini,” kataku sambil menarik celanaku dan menggelengkan kepala. Aku pun mengabaikan tatapan penuh harap dari Willy.Selesai berkemas dan meninggalkan vila, kami bertiga naik mobilku. Suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung. Saat menyetir, aku melirik melalui spion tengah dan melihat mereka berdua sedang bertautan jari dengan mesra, seolah dunia milik berdua.Aku memantapkan hati. Willy adalah sahabat terbaikku, aku tidak boleh melakukan hal yang mengkhianatinya.Tepat saat aku mulai melupakan kejadian kecil itu, undangan dari Willy datang kembali secara tiba-tiba.Dia bilang ini hanya pertemuan antar teman biasa. Bahasanya terdengar normal, jadi aku tidak berpikir panjang dan langsung pergi memenuhi undangannya.Awalnya, kami membahas hal-hal ringan dan terasa cukup santai. Namun, aku merasa Willy sedang memendam se

  • Kehidupan Fotografiku   Bab 2

    Aku menoleh menatap Jesika. Payudara bulat, pinggang ramping, kaki jenjang, dan bokong yang menonjol. Sesaat aku tidak tahu harus menjawab apa dan terdiam dalam pikiran.“Nggak apa-apa Kak, aku tahu kamu ingin tidur dengannya. Tapi karena kamu menganggapku sahabat, kamu merasa nggak enak untuk melakukannya. Aku ngerti,” kata Willy sambil menyalakan sebatang rokok lagi untukku.“Katakan saja, aku akan bantu semampuku.”Penyimpangan seksual semacam ini bukan hal baru. Aku berkecimpung di dunia fotografi, hobi aneh mana yang belum pernah kulihat? Hanya saja, karena ini terjadi pada sahabatku sendiri, aku masih agak sulit menerimanya.“Aku sudah bicara dengannya. Sekarang tinggal menunggu persetujuanmu. Kamu hanya perlu .…” Willy mendekat ke telingaku dan berbisik.Saat aku dan Willy masuk ke dalam vila membawa peralatan, aku yang baru saja melangkah masuk, langsung dikejutkan oleh pemandangan di depanku.Jesika ternyata hanya mengenakan satu set lingerie!Bahan brokat hitam transparan mem

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status