Share

Bab 279

Penulis: Gekko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 22:49:06

Pertarungan di istana kekaisaran sangat sengit. Tapi saat matahari mulai terbit, sebagian besar orang-orang berjubah merah sudah tumbang.

Kini saat langit mulai terik, hanya tersisa satu orang berjubah merah yang masih bertahan. Atau lebih tepatnya, mereka menahan diri untuk tidak langsung membunuhnya.

Yin, pemimpin Sekte Yuhong yang sebelumnya hampir meruntuhkan kekaisaran, kini terombang-ambing.

An Beiye menendangnya cukup jauh ke langit. Dan Qiang Jun, ikut melompat lebih tinggi kemudian men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 316

    Kalimat yang diucapkan Chen Xi seketika membuat suasana aula menjadi hening. Wajah Qiang Jun langsung menegang. Matanya melotot, seolah menahan marah.Di sampingnya, Ming Yue perlahan berbisik."Jadi ini sepertinya penyerahan mas kawin, ya."Pria itu menoleh dengan tatapan tajam dan mendesis pelan. "Diam dulu, Yue. Jangan diperjelas.""Memang benar, kan," sahut Ming Yue, dengan santai menaikkan kedua bahunya.Qiang Jun mendengus, lalu kembali menatap ke depan. Sorot matanya tampak serius, menatap Chen Xi dengan lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki."Jadi itu tujuanmu. Apa kau tak mendapat balasan dari putriku yang menolak lamaranmu?" ucapnya, masih berusaha tenang.Chen Xi tersenyum tipis, namun pandangannya sedikit turun, lalu menjelaskan."Saya sudah menerimanya. Tapi, saya rasa itu karena saya hanya mengirim lamaran lewat surat, dan itu tidak sopan. Putri juga belum bertemu dengan saya. Jadi, saya harap Yang Mulia mempertimbangkannya la—"Tapi belum sempat menyelesaikan perkat

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 315

    Sementara itu, di kediaman permaisuri. Sejak pagi tadi, Ming Yue tak bisa lepas dari suaminya yang terbaring di tempat tidur."Jun, lepaskan dulu pelukanmu, ya. Ada pekerjaan yang harus kulakukan," pinta Ming Yue untuk ke sekian kalinya.Namun pria itu makin mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya. "Nanti saja. Perutku masih tak nyaman, kepalaku juga pening.""Sudah kubilang, minum eliksir yang kubuat, ya," usul Ming Yue.Qiang Jun menggeleng cepat. Dia mendongak dengan tatapan sayu. Wajahnya sedikit pucat dan lesu."Tidak mau. Aku hanya butuh istriku di sini," balas Qiang Jun bersikeras. Dia memang sudah lama menolak untuk menerima eliksir dari istri atau putrinya. Dia hanya meminum obat herbal dari tabib.‘Tapi jika sikapnya terus begini, lama-lama aku jadi kesal,’ pikir Ming Yue, mencoba tetap bersabar."Jun, kalau kau tak mau minum eliksir, biarkan aku keluar. Kau tidak bisa menempel padaku seperti ini," ucapnya sedikit mengomel.Perlahan, Qiang Jun menghembuskan napas lalu me

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 314

    Qiang Jun membelalak kaget. Dengan cepat dia berlari dan menangkap tubuh istrinya sebelum terjatuh."Yue!"Wanita itu memejamkan mata, seperti tertidur. Qiang Jun mendongak, namun lagi-lagi tak menemukan keberadaan Zimo. Pria tua itu sudah pergi, menghilang tanpa jejak lagi.‘Sialan Zimo. Apa yang kau lakukan pada istriku?’ batinnya mendesis. Dalam hati terasa panik.Tapi, belum sempat Qiang Jun mencoba membangunkan istrinya, Ming Yue tiba-tiba terbangun."Jun?" gumam Ming Yue.Qiang Jun langsung mendekapnya dengan erat. Hatinya kembali merasa lega."Apa ada yang terasa sakit, hm?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Ming Yue kembali bangkit dan berdiri tegap, seperti tak terjadi apa-apa."Aku tidak apa-apa, Jun. Hanya tiba-tiba aku melihat cahaya aneh dan aku tidak kuat melihatnya," jelas Ming Yue dengan santai.Qiang Jun masih memperhatikannya. "Sungguh? Cahaya apa? Dia tak mengatakan sesuatu yang aneh, kan?"Ming Yue menggeleng pelan. "Tidak. Kau tenang saja, dia bukan orang j

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 313

    "Apa itu tadi, Yi?" celetuk Ming Yue dari belakang, wanita itu baru saja turun setelah memastikan barang bawaannya.Qiang Suli sedikit tersentak, sadar dari lamunannya."Iya. Dia langsung membawa Hailan pergi," jawabnya dengan nada menggerutu.Ming Yue terkekeh pelan sambil menggeleng. Keduanya masuk ke istana. Tapi di lorong, terlihat Qiang Rui bersama pria bertubuh tinggi besar di belakangnya."Xin, kau sudah sembuh?" sapa Qiang Suli.Xin, petarung yang sebelumnya diselamatkannya kini terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya.Pria itu membungkuk sopan. "Iya. Terima kasih atas bantuan Anda berdua, Yang Mulia. Kaisar sudah mengizinkan saya pulang.""Syukurlah. Terima kasih juga sudah memberitahu penyelidikan kami, Xin," balas Ming Yue.Pandangan Qiang Suli beralih pada pria di depan Xin. "Lalu, Paman sendiri?""Dia mau bergabung dengan ksatria kekaisaran. Kemampuannya berbeda dari pemula, jadi aku harus membawanya pada An Beiye," jelas Qiang Rui dengan santai.Mendengar hal itu, su

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 312

    "Bukan begitu," seru Jing Ai segera membantah. Namun tingkahnya tampak sedikit malu-malu. "Kami belum benar-benar menikah, hanya tanggal pertunangan saja.""Tidak apa. Yang penting pamanku yang menyedihkan itu akhirnya menikah, haha!" balas Qiang Ruxia sambil tertawa.Qiang Suli makin terdiam. Bibirnya kaku, dan sulit berkata-kata. Matanya sedikit memerah. Namun ia berusaha bersikap sebiasa mungkin."Begitu, ya. Aku sudah mengenalnya. Selamat untukmu, Nona Jing."Jing Ai tersenyum lebar dan membungkuk sopan. "Terima kasih banyak, Putri.""Kalian sudah kenal? Kapan?" tanya Qiang Ruxia penasaran."Di pelelangan," jawab Qiang Suli. Buru-buru dia pun mengalihkan pembicaraan dan mengenalkan Hailan di sampingnya.Mereka berbincang sebentar, sekadar basa-basi. Sampai akhirnya saat obrolan terus mengarah membicarakan An Beiye."Sayang sekali Paman buru-buru pergi ke barak di perbatasan, meninggalkan calon tunangannya di sini," Qiang Ruxia menggerutu.Jing Ai terkekeh pelan. "Sudahlah. Tugas s

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 311

    "Ayah, aku mengundangnya bukan berarti aku akan menerima lamarannya," ucap Qiang Suli, masih berusaha membujuk sang ayah.Qiang Jun mendengus, ekspresinya masih masam. "Kalau begitu nanti akan ada banyak pria lain yang mencoba melamarmu."‘Tadi pagi pun memang ada banyak surat lamaran padaku,’ gumam Qiang Suli hanya berani menjawab dalam hati. ‘Mungkin karena aku muncul di pelelangan kemarin.’"Ekhem." Gadis itu berdehem pelan. "Ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Terserah jika Ayah mau mengurungku terus."Kata-kata itu membuat Qiang Jun sedikit tertohok. Salah satu alasan, masa lalu yang jadi awal tragedi itu karena sikap keras kepalanya terlalu mengekang anak-anaknya. Walau sebenarnya itu karena ia khawatir.‘Tapi, cepat atau lambat aku pasti harus menghadapi masalah ini,’ batin Qiang Jun sembari memijat pangkal hidungnya yang pening.Dengan helaan napas panjang, pria itu akhirnya menjawab. "Baiklah. Nanti ibumu akan mengirim surat undangannya ke Kerajaan Chen.""Terima kasih, Ayah." Q

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status