Masuk"Ayah, aku mengundangnya bukan berarti aku akan menerima lamarannya," ucap Qiang Suli, masih berusaha membujuk sang ayah.Qiang Jun mendengus, ekspresinya masih masam. "Kalau begitu nanti akan ada banyak pria lain yang mencoba melamarmu."‘Tadi pagi pun memang ada banyak surat lamaran padaku,’ gumam Qiang Suli hanya berani menjawab dalam hati. ‘Mungkin karena aku muncul di pelelangan kemarin.’"Ekhem." Gadis itu berdehem pelan. "Ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Terserah jika Ayah mau mengurungku terus."Kata-kata itu membuat Qiang Jun sedikit tertohok. Salah satu alasan, masa lalu yang jadi awal tragedi itu karena sikap keras kepalanya terlalu mengekang anak-anaknya. Walau sebenarnya itu karena ia khawatir.‘Tapi, cepat atau lambat aku pasti harus menghadapi masalah ini,’ batin Qiang Jun sembari memijat pangkal hidungnya yang pening.Dengan helaan napas panjang, pria itu akhirnya menjawab. "Baiklah. Nanti ibumu akan mengirim surat undangannya ke Kerajaan Chen.""Terima kasih, Ayah."
Mendengar hal itu, rahang Qiang Jun menegang. Dia dengan emosi kembali menampar wajah wanita tua itu sampai sudut bibirnya berdarah."Kau berani mempertanyakan hal itu padaku?" desisnya. "Dalam hukum kekaisaran, siapa pun pelaku di bawah kendali seseorang, dia bisa mendapat keringanan hukuman karena itu bukan keinginannya.""Tapi Putri yang menyebabkan—" Tabib Ailing hendak memprotes, tapi Qiang Jun dengan cepat membantahnya."Putriku juga berjasa menghentikan kehancuran kekaisaran. Dia juga menebus kesalahannya. Apa perlu kusebutkan secara detail?!"Qiang Jun tak terima saat putrinya dipandang rendah dan disalahkan. Sedangkan Qiang Suli tampak tenang, karena sebagian besar memang benar. Tapi dia segera menenangkan ayahnya."Sudahlah, Ayah. Tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang sepertinya."Tabib Ailing sadar dengan hidupnya yang pasti akan berakhir. Karena itu untuk yang terakhir kalinya dia melampiaskan semua yang tertahan dalam hatinya selama ini."Dasar anak tak tahu berteri
Qiang Suli tersentak. Jantungnya langsung berdebar cepat, antara terkejut sekaligus panik. Dia mengenali suara itu.An Beiye, kini berjalan menghampiri mereka.‘Kenapa dia ke sini?’ jeritnya dalam hati, sedikit gelisah. ‘Dia tak mendengar apa yang kukatakan tadi, kan?’Saat An Beiye berada di hadapannya, Qiang Suli tetap bersikap tenang seperti biasa. Dan sepertinya pria itu tak menyadari perkataannya tadi."Hanya lewat. Paman sendiri, kenapa ada di sini? Bukankah harusnya kau bersama calon istrimu?" tanyanya, dengan wajah datar dan terdengar ketus.An Beiye tersenyum kikuk. Tingkahnya sedikit aneh, suaranya pun terbata-bata dan tak jelas."Yah, itu..." An Beiye kemudian beralih menatap Qiang Rui, seolah mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana penangkapan kemarin? Apa pelakunya sudah diketahui?""Ya. Sepertinya sudah ditangkap juga. Kaisar tak memerintahkan apa pun lagi padaku," jawab Qiang Rui.Qiang Suli tampak jengkel, dia tak puas dengan jawaban An Beiye. Dia tak lagi mempedulikannya.
"H-hah?" Ailing tergagap. Wajahnya tampak bingung sekaligus panik. "Apa maksudnya Anda?"Ming Yue masih tetap tenang, namun tatapannya datar. "Lebih baik kau jujur saja, Tabib Ailing. Dan mungkin hukumanmu bisa diringankan."Tabib Ailing menelan ludah, seperti tertangkap basah. Tapi dia masih bersikap tenang."Saya tak paham apa yang Anda katakan, Yang Mulia. Tolong jangan sembarangan menuduh. Saya baru ingat ada yang harus saya lakukan, permisi."Setelah berpamitan, Tabib Ailing berbalik. Namun di belakangnya sudah ada Xin Yan yang mengarahkan pedang ke arahnya. Tabib itu langsung terdiam."Perilakumu yang seperti ini membenarkan perkataanku, kan? Kenapa harus buru-buru pergi?" tanya Ming Yue di belakangnya, perlahan mendekat.Tabib Ailing terlihat sangat panik. Diam-diam dia mengeluarkan sesuatu dari balik lengannya, lalu dengan cepat melemparkannya ke lantai.Boom!Asap putih menyebar dengan cepat di sekitar, membuat pandangan jadi kabur. Xin Yan langsung mengayunkan pedangnya. Tap
Qiang Wangyi hendak menjawab, tapi yang dibicarakan langsung muncul di ambang pintu ruang makan."Suli, kenapa kau baru datang? Ayo duduklah ke mari," panggil Ming Yue.Qiang Suli berjalan dengan sangat lambat dan wajah datar. Dia duduk di samping Hailan dan langsung menyandarkan kepalanya di atas meja. Hal itu membuat mereka yang di sana keheranan."Ada apa, Suli? Apa kau sakit?" tanya Qiang Jun dengan nada khawatir.Gadis itu menggeleng dan kembali duduk tegap."Tidak. Aku hanya lapar," jawabnya mengelak. Kemudian beralih menatap pada seseorang di sampingnya. Qiang Suli baru sadar dengan keberadaan Hailan."Oh, kau si putri duyung itu, ya?" tanyanya.Hailan mengangguk pelan, sungkan sekaligus malu. Tapi dia ingat siapa Qiang Suli."Putri, terima kasih sudah menyelamatkan saya sebelumnya."Qiang Suli menyunggingkan senyuman tipis. Dia kemudian menepuk pundak Hailan."Sama-sama, Hailan," jawabnya dengan ramah. "Tapi sayang sekali, gadis secantik dirimu malah menyukai saudaraku. Dia or
"Siapa?" Ming Yue langsung menoleh, dengan tatapan penuh rasa penasaran.Qiang Jun tersenyum tipis dan hanya menjawab. "Kau akan tahu nanti."Ming Yue mendengus pelan, tak puas mendengarnya. "Katakan siapa! Jangan sok misterius."Pria itu hanya terkekeh pelan, masih belum menjawab. Saat melewati taman utama, muncul sosok putri mereka yang juga kembali bersama Qiang Rui."Suli, kau baru kembali? Apa kau terluka?" tanya Qiang Jun dengan lembut.Qiang Suli hanya menunduk, tapi tetap menjawab dengan singkat. "Tidak."Gadis itu kemudian melangkah pergi menuju kediamannya sendiri. Sikap itu membuat kedua orang tuanya keheranan. Ming Yue akhirnya bertanya pada Qiang Rui yang bersamanya."Kenapa dia seperti itu, Rui?"Qiang Rui hendak menjawab. Tapi melihat ada Qiang Jun, dia jadi ragu. Dalam hati bergumam. ‘Sepertinya akan jadi masalah kalau dugaanku masih belum pasti.’"Em, aku juga tidak tahu," katanya sambil menggaruk belakang rambutnya sambil cengengesan. "Mungkin hanya kesal karena ada






