MasukHayoh, Beiye udah mulai berani ya :D
"Hailan, apa ada yang menindasmu? Atau orang-orang menjauhimu?" tanya Ming Yue langsung.Hailan langsung mendongak. Kepalanya menggeleng cepat. "T-tidak. Bukan seperti itu.""Lalu?" sahut Ming Yue terus mendesak. "Katakan saja padaku, jangan sungkan."Hailan tersenyum canggung, dia ragu. Namun akhirnya mengutarakan apa yang selalu ia pendam."Saya hanya malu. Saya mana mungkin pantas ikut bersama Yang Mulia di antara para bangsawan kerajaan itu. Saya hanya—"Namun, belum selesai bicara, Ming Yue langsung menyela. Dia tahu apa yang dikhawatirkan Hailan."Jangan bicara seperti itu. Semua di mataku itu sama, aku tidak peduli statusmu atau bukan manusia sungguhan," ucapnya menekankan dengan tegas. "Kau sudah kuanggap seperti putriku sendiri, jangan merasa rendah diri, ya."Mendengar hal itu, seketika membuat kekhawatiran Hailan sedikit memudar. Matanya sedikit berkaca-kaca terharu."Terima kasih, Yang Mulia. Keluarga Anda benar-benar dermawan."Ming Yue ikut tersenyum mendengarnya. Lalu m
Pertanyaan itu seketika membuat An Beiye membeku di tempat. Matanya membelalak, wajahnya sedikit pucat seperti seseorang yang tertangkap basah."Apa yang kau kata—"Tapi belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Qiang Rui langsung menyela."Hei, tingkahmu itu sangat mencurigakan."Langkah Qiang Rui semakin dekat dan tatapannya menyipit. Dia melanjutkan kalimatnya."Saat di gladiator, di pelelangan, di gerbang istana pagi tadi dan sekarang. Jika tak memiliki perasaan apa pun, kau tidak mungkin bersikap seperti ini. Kau seperti pria yang cemburu pada kekasihnya, kau tahu?" jelas Qiang Rui panjang lebar, memojokkannya.An Beiye dibuat bungkam olehnya. Dia langsung celingukan sekitarnya, untung saja dia tak merasakan keberadaan siapa pun di dekat mereka. Jadi mungkin percakapan mereka tak terdengar."Baiklah. Tidak perlu memojokkanku seperti ini, nafasmu bau," katanya dengan nada mengejek.Qiang Rui langsung mendelik kesal dan membantah. "Sembarangan! Aku hanya makan sup ayam kucai dan li
Setelah orang-orang dari Kerajaan Chen akhirnya keluar setelah menyapa Kaisar secara resmi, tampak beberapa utusan tidak terlalu senang dengan sikap Kaisar terhadap putra mahkota mereka.Tapi, Chen Xi sendiri terlihat santai dan senang. Mungkin itu karena lamarannya masih ada harapan untuk diterima.Di aula istana, setelah kepergian rombongan dari Kerajaan Chen, Qiang Suli akhirnya kembali menatap tajam pada sang ayah. Dengan langkah dihentakkan, dia naik tangga menuju kursi singgasana kaisar."Kenapa Ayah tiba-tiba mengadakan sayembara seperti itu?" protesnya sambil berkacak pinggang.Qiang Jun masih terlihat santai. Kedua lengannya dilipat di depan dada."Karena banyak yang melamarmu, lebih baik mengadakan sayembara." katanya, lalu memalingkan wajah sambil mendengus pelan. "Walau sebenarnya tidak ada satu pun yang cocok untuk bisa meminangmu."Suara pria itu seperti menggerutu. Namun Qiang Suli tampak belum menyerah untuk membantah."Memangnya aku tidak boleh memilih orang yang kusu
Kalimat yang diucapkan Chen Xi seketika membuat suasana aula menjadi hening. Wajah Qiang Jun langsung menegang. Matanya melotot, seolah menahan marah.Di sampingnya, Ming Yue perlahan berbisik."Jadi ini sepertinya penyerahan mas kawin, ya."Pria itu menoleh dengan tatapan tajam dan mendesis pelan. "Diam dulu, Yue. Jangan diperjelas.""Memang benar, kan," sahut Ming Yue, dengan santai menaikkan kedua bahunya.Qiang Jun mendengus, lalu kembali menatap ke depan. Sorot matanya tampak serius, menatap Chen Xi dengan lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki."Jadi itu tujuanmu. Apa kau tak mendapat balasan dari putriku yang menolak lamaranmu?" ucapnya, masih berusaha tenang.Chen Xi tersenyum tipis, namun pandangannya sedikit turun, lalu menjelaskan."Saya sudah menerimanya. Tapi, saya rasa itu karena saya hanya mengirim lamaran lewat surat, dan itu tidak sopan. Putri juga belum bertemu dengan saya. Jadi, saya harap Yang Mulia mempertimbangkannya la—"Tapi belum sempat menyelesaikan perkat
Sementara itu, di kediaman permaisuri. Sejak pagi tadi, Ming Yue tak bisa lepas dari suaminya yang terbaring di tempat tidur."Jun, lepaskan dulu pelukanmu, ya. Ada pekerjaan yang harus kulakukan," pinta Ming Yue untuk ke sekian kalinya.Namun pria itu makin mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya. "Nanti saja. Perutku masih tak nyaman, kepalaku juga pening.""Sudah kubilang, minum eliksir yang kubuat, ya," usul Ming Yue.Qiang Jun menggeleng cepat. Dia mendongak dengan tatapan sayu. Wajahnya sedikit pucat dan lesu."Tidak mau. Aku hanya butuh istriku di sini," balas Qiang Jun bersikeras. Dia memang sudah lama menolak untuk menerima eliksir dari istri atau putrinya. Dia hanya meminum obat herbal dari tabib.‘Tapi jika sikapnya terus begini, lama-lama aku jadi kesal,’ pikir Ming Yue, mencoba tetap bersabar."Jun, kalau kau tak mau minum eliksir, biarkan aku keluar. Kau tidak bisa menempel padaku seperti ini," ucapnya sedikit mengomel.Perlahan, Qiang Jun menghembuskan napas lalu me
Qiang Jun membelalak kaget. Dengan cepat dia berlari dan menangkap tubuh istrinya sebelum terjatuh."Yue!"Wanita itu memejamkan mata, seperti tertidur. Qiang Jun mendongak, namun lagi-lagi tak menemukan keberadaan Zimo. Pria tua itu sudah pergi, menghilang tanpa jejak lagi.‘Sialan Zimo. Apa yang kau lakukan pada istriku?’ batinnya mendesis. Dalam hati terasa panik.Tapi, belum sempat Qiang Jun mencoba membangunkan istrinya, Ming Yue tiba-tiba terbangun."Jun?" gumam Ming Yue.Qiang Jun langsung mendekapnya dengan erat. Hatinya kembali merasa lega."Apa ada yang terasa sakit, hm?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Ming Yue kembali bangkit dan berdiri tegap, seperti tak terjadi apa-apa."Aku tidak apa-apa, Jun. Hanya tiba-tiba aku melihat cahaya aneh dan aku tidak kuat melihatnya," jelas Ming Yue dengan santai.Qiang Jun masih memperhatikannya. "Sungguh? Cahaya apa? Dia tak mengatakan sesuatu yang aneh, kan?"Ming Yue menggeleng pelan. "Tidak. Kau tenang saja, dia bukan orang j







