LOGIN[Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]
“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.
“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?” “Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess Lilia selalu menjadi sosok yang benar-benar baik. Tidak ada manusia biasa yang bisa sebaik dan semurni dia!” “Aku punya pilihan untuk tidak mengikuti cerita aslinya dan tidak menjadi tokoh jahat, bukan?”[Tidak bisa. Sekali lagi kuingatkan, kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri.]
[Jika tidak, kau akan terus mati dan hidup kembali seperti sekarang. Tak masalah jika kau tidak ingin menjadi tiran untuk membunuhnya. Kau bisa mengubah jalan cerita novel, asal Saintess Lilia tetap mati ditanganmu.]“Apa alasan di balik semua ini?” suara Aveline bergetar.
“Jelaskan mengapa aku yang harus melakukannya!”[Server error!]
“Mengapa aku yang terpilih untuk membunuh wanita sebaik itu?”
“Aku bukan pembunuh!”[Server error!]
Aveline terdiam.
Dadanya terasa sesak, pikirannya berputar tanpa arah. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menarik nafas panjang.
Aveline terdiam cukup lama.
“Kalau begitu…” ucap Aveline yang akhirnya bersuara, “Apakah aku tetap akan bermasalah jika membatalkan pertunanganku dengan Ash?”
“Dengan catatan… aku tetap membunuh Saintess Lilia.”[Tidak ada masalah dengan tindakan yang Anda ambil selama Anda membunuh Saintess Lilia.]
“Mengapa nyawa seolah tidak berarti di dunia ini? Santai sekali menyuruh orang lain untuk membunuh…” ucap Aveline tak habis pikir.
Kepalanya sangat sakit sekarang. “Andai ada panadol di sini,” gumamnya.
“Baguslah…” Aveline tertawa pendek.
“Aku… membenci tatapannya.”
Tubuhnya merinding ketika ingatan akan penjara kembali menyeruak—rasa sakit dari siksaan, dinginnya dinding batu, dan tatapan Ash yang bengis.
Aveline membenci semuanya.
Air mata kembali jatuh. Mengalir dari sudut mata, melewati pipi dan dagu, menetes ke lantai satu per satu.
Tak ingin terus terjebak di masa lalu, Aveline memaksakan diri untuk bangkit. Ia mengambil kertas dan pena, lalu mulai menulis surat permintaan maaf resmi untuk Ash.
Setelah selesai, ia membawa surat itu ke ruang kerja ayahnya.
“Masuk,” suara Chad terdengar dari balik pintu.
Begitu Aveline melangkah masuk, Chad menghentikan pekerjaannya. Pandangannya tak lagi tertuju pada dokumen di meja.
Aveline menyerahkan surat itu.
“Apakah Ayah sudah menulis surat pembatalan pertunangannya?” tanyanya pelan.Chad menatap surat di tangan Aveline, lalu kembali menatap wajah putrinya.
“Kau… benar-benar serius?”“Aku sudah menduganya,” jawab Aveline tenang.
“Bacalah dulu. Aku sengaja belum merekatkannya dengan lem.” “Kirimkan dengan benar setelah ayah selesai membaca surat ini.” Aveline lalu menarik nafas panjang. Wajahnya terlihat sangat lelah. “Aku bahkan malu pada diriku sendiri di hadapan Ash. Melepaskannya adalah jalan terbaik.”Tanpa menunggu jawaban, Aveline keluar dari ruangan.
Semoga Duke Clement benar-benar mengirimkan suratnya, batin Aveline.
Ia kembali ke kamar dengan suasana hati yang buruk.
Dalam tiga kehidupan sebelumnya, ia tak pernah benar-benar memperhatikan Ash. Namun setiap kali mati, rentang waktu sebelum ia hidup kembali selalu semakin lama.
Kehidupan pertama sebagai Aveline—Sarah diseret dan dipaksa minum racun oleh Edward.
Kehidupan kedua—Sarah memegang pisau berlumuran darah, tepat setelah menusuk Saintess Lilia. Tentu saja, Lilia tidak selamat.
Kehidupan ketiga—Sarah terbangun setelah Aveline lulus dari akademi. Saat itu, Aveline tengah merengek ingin segera menikah dengan Ash. Sarah langsung membatalkan pertunangan dan pergi ke desa.
Kehidupan keempat—Aveline berada di tahun terakhir akademi. Sarah menjalani hidupnya satu tahun lebih awal, mengumpulkan uang, lalu pergi begitu lulus.
Namun tetap saja, Aveline dituduh sebagai pembunuh Saintess Lilia—meski ia hidup jauh di desa kecil di ujung perbatasan. Ia diseret kembali dan dijatuhi hukuman mati.
Yang paling menyebalkan, pada kehidupan keempat itu…
Sarah jatuh cinta pada Ash.Itulah sebabnya ia bangun di kehidupan kelima ini dengan luka yang terasa dua kali lipat lebih dalam.
“Bodoh sekali kau, Sarah…” gumamnya lirih.
“Mengapa kau bisa jatuh cinta pada pria seperti itu?” “Sepertinya… perasaan Aveline yang asli masih melekat di tubuh ini.”Aveline duduk di ruang kerjanya, mengeluarkan kertas dan pena, lalu mulai menyusun rencana. Ia menuliskan kejadian-kejadian penting dari novel Lilia serta detail dari kehidupan-kehidupan sebelumnya—sebelum ingatannya kembali memudar.
Meski samar, ia berusaha menulis semuanya dengan rinci.
Rencana pertamanya jelas.
Ia harus mendekati Saintess Lilia terlebih dahulu.
Bagaimanapun juga, wanita itu adalah sosok yang sangat dicintai Dewa. Kekuatannya pun luar biasa.
Siapa tahu, dengan menjadi akrab dengannya…
Saintess Lilia memiliki cara agar Aveline tak perlu terus mengulang kehidupan yang berakhir dengan kematian.“Aku hanya melihat potensi bisnis yang bagus di bidang ini. Kau tentu tahu, keluargaku memiliki banyak bisnis,” jawab Aveline santai, seolah yang ia bicarakan hanyalah investasi biasa.Miller terdiam. Tatapannya turun ke meja, lalu ia mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.Keheningan menggantung cukup lama, sampai akhirnya Miller menarik nafas dalam.“Berikan aku waktu untuk berpikir…” ucapnya pelan.Miller pun beranjak pergi, meninggalkan Aveline yang kembali menyantap makan siangnya. Hanya saja, Aveline tidak bisa makan siang dengan tenang.Tatapan sinis orang-orang dan bisik-bisik yang menyertainya. Jelas sekali Aveline adalah pusat gosip hari ini.BRAK!Meja tempat Aveline makan terguncang keras.Edward berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam, telapak tangannya masih menekan permukaan meja.“Hal busuk apa lagi yang kau rencanakan?!” bentaknya. “Apa kali ini kau akan melibatkan rakyat tak berdosa ke dalam permainanmu?! Edser hanyalah murid beasiswa! Dia bisa kehilangan beas
Aveline pun mulai menjalankan rencananya.Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.Ia menutup buku dengan gerakan cepat, lalu mengangkat nampannya dan berniat pergi.“Aku berniat merekrut orang sepintar dirimu,” ucap Aveline tanpa basa-basi.“Kau butuh uang, bukan?”Gerakan Miller terhenti.Apa yang barusan dikatakan wanita yang tidak pernah berbicara denganku ini? – batin Aveline.Nampannya kembali diletakkan di atas meja, dan ia duduk perlahan, menatap Aveline dengan penuh kewaspadaan.“Dari mana kau tahu aku membutuhkan uang?” tanyanya curiga.Tentu saja dari novel. Dan dari empat kehidupan sebelumnya.Cerita tentang penyakit ibumu yang bertambah parah di tahun ini bahkan tidak pernah berubah selama empat kehidupan.“Tentu saja,” jawab Aveline tenang.“Rakyat biasa yang bersekol
Namun, Aveline memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.Ia malas berurusan dengan server error yang menjadi jawab di setiap pertanyaan penting.Aveline berjalan melewati Lilia dan para power rangers. Dengan hati yang dongkol, ia mulai menyantap makan siangnya. Hambar.Sepertinya rasa makanan ini mengikuti suasana hatinya yang mendung.Tak lama kemudian, Ashford dan Edward datang dan bergabung di meja Saintess Lilia.Edward melirik Aveline dengan senyum sinisnya, sementara Ashford hanya memandangnya datar.“Tambah lagi dua bodyguard,” gerutu Aveline dalam hati.“Lengkap sudah.”Melihat Lilia dan Ashford tertawa bersama, Aveline justru tidak merasakan apa pun.Dulu, Sarah adalah penggemar berat dua tokoh utama ini. Namun, menjalani empat kehidupan yang berakhir tragis perlahan mengikis rasa kagum itu—hingga tak tersisa apa pun selain kelelahan.Ia benar-benar ingin menjalani kehidupan tenang sebagai nona kaya.Menjadi pengajar di desa juga menyenangkan – pikir Aveline.Jika dipikirkan k
Bahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.”Aveline lalu menyerahkan selembar formulir.“Saya juga sudah mengisi berkasnya.”Petugas administrasi menatap kertas itu lama, seolah memastikan bahwa yang ia baca tidak salah.“Kira-kira… kapan saya bisa mulai pindah ke jurusan sihir?” tanya Aveline.“Proses perpindahan jurusan paling lama satu minggu,” jawabnya akhirnya.“Nanti kami akan menghubungi anda mengenai tanggal pastinya. Di tanggal itu, anda sudah bisa masuk ke kelas sihir.”“Baik. Terima kasih,” ucap Aveline sopan sebelum berbalik pergi.Begitu pintu ruang administrasi tertutup, petugas itu menjatuhkan kertas yang dipegangnya.“Barusan…” gumamnya pelan, masih tertegun,“aku mendengar ucapan terima kasih, bukan?”***Belum sempat Aveline melangkah jauh, sebuah tangan mencengkeram per
Tahun ajaran baru telah dimulai, Aveline kembali menginjakkan kaki di akademi.Suasana hatinya mendadak buruk karena harus berpapasan dengan Ashford.“Mengapa aku harus melihat wajahnya di pagi hari yang cerah ini?” teriak Aveline dalam hati.Ashford berjalan keluar dari gerbang utama.Sial sekali rasanya karena ia tidak melihat Ashford dari kereta kuda tadi. Jika saja ia melihat Ashford, ia bisa memerintahkan kusir untuk berhenti sedikit jauh dari akademi untuk menghindar.Aveline yang diliputi rasa malas hanya menundukkan kepala sekilas sebagai bentuk penghormatan, lalu langsung melangkah masuk tanpa sepatah kata pun.Ashford mematung.Apa yang terjadi dengannya? pikir Ashford.Bukankah setiap kali melihatnya, Aveline selalu berlari menghampiri dengan mata berbinar?Bukankah gadis itu selalu mencari cara—bahkan mencuri kesempatan—untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar?Aveline adalah tipe wanita yang tak segan menyelinap ke asrama pria hanya demi melihat wajah Ashford.Karena
[Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?”“Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess Lilia selalu menjadi sosok yang benar-benar baik. Tidak ada manusia biasa yang bisa sebaik dan semurni dia!”“Aku punya pilihan untuk tidak mengikuti cerita aslinya dan tidak menjadi tokoh jahat, bukan?”[Tidak bisa. Sekali lagi kuingatkan, kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri.][Jika tidak, kau akan terus mati dan hidup kembali seperti sekarang. Tak masalah jika kau tidak ingin menjadi tiran untuk membunuhnya. Kau bisa mengubah jalan cerita novel, asal Saintess Lilia tetap mati ditanganmu.]“Apa alasan di balik semua ini?” suara Aveline bergetar.“Jelaskan mengapa aku yang harus melakukannya!”[Server error!]“Mengapa aku yang terpilih untuk membunuh wanita sebaik itu?”“Aku bukan p







