Share

Bab 2

Penulis: Fortunata
last update Tanggal publikasi: 2026-01-18 23:17:43

Namun, Aveline tidak menampar Vivia.

Ia justru memeluk pelayan itu lebih erat dan terus menangis. Untuk saat ini, ia belum sanggup melepaskan diri.

Tangis Aveline baru mereda saat pelayan lain masuk ke kamar, menyampaikan bahwa ayah dan kakak laki-lakinya telah menunggu di ruang makan untuk sarapan.

Tanpa banyak bicara, Aveline menurut saat para pelayan membantunya berganti pakaian dan berdandan. Gerakannya pasif, tatapannya kosong.

Aveline akan percaya jika ia disebut mengulang kehidupan. Mimpi mengerikan tadi terasa terlalu nyata.

Setelah selesai Bersiap-siap, ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan.

“Kenapa wajahmu bengkak seperti itu?” Richard membuka suara sambil menggelengkan kepala.

“Apa Ash mengabaikanmu lagi sampai kau menangis tersedu-sedu?”

Nada suaranya datar, nyaris bosan. Ia sudah hafal dengan tingkah adiknya—menurutnya, tak ada hal lain yang bisa membuat Aveline menangis selain Ashford.

Aveline tidak menanggapi kakaknya. Ia hanya menunduk kecil dan mengucapkan selamat pagi kepada ayah serta kakaknya sebelum duduk.

Chad Clement hanya meliriknya sekilas.

“Mari makan,” ucapnya singkat.

Suasana meja makan terasa dingin. Aveline pun merasa hampa harus kembali ke kediaman ini lagi.

“Hari ini apa kau akan ke kediaman Ash?” tanya Richard sambil menyendok sup.

“Aku tahu kalian bertunangan, tapi bukankah akan sangat mengganggu jika kau setiap hari ke sana? Kalian juga bertemu di akademi. Apa kau tidak bosan?” Ia mendengus pelan.

“Sebentar lagi liburanmu selesai. Setidaknya belajarlah sedikit supaya nilaimu membaik.”

Aveline berhenti mengunyah.

Akademi?

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

“Kak… tahun ini tahun berapa?”

Meski bingung dengan pertanyaan itu, Richard tetap menjawab, “Tahun 890 kalender kekaisaran.”

Jari Aveline mengepal di bawah meja.

“Tolong batalkan pertunanganku dengan Ashford,” ucapnya tenang.

Sendok Chad berhenti di udara, alisnya terangkat.

“Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?” suara Chad terdengar rendah dan tegas. Pembatalan pertunangan bukanlah hal yang bisa dilakukan seenaknya.

“Tentu, Ayah,” jawab Aveline tanpa ragu.

“Dengan begitu, kami tidak akan memiliki hubungan apa-apa lagi, bukan?”

Chad menoleh ke arah Richard. Putra sulung keluarga Clement itu hanya bisa menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak mengerti perubahan sikap adiknya yang mendadak ini.

“Apa Ashford kurang ajar padamu?” Chad kembali bertanya, kali ini lebih serius.

“Atau… apakah dia sampai menyakitimu?”

Aveline menatap ayahnya. Ia baru menyadari bahwa pria itu mampu menunjukkan ekspresi sekhawatir ini. Jelas sekali—Chad benar-benar cemas.

“Aku baik-baik saja, Ayah,” jawabnya pelan.

“Ash tidak melakukan kesalahan apa pun. Justru mungkin aku yang bersalah padanya.”

Ia menarik nafas dalam.

“Aku hanya menyadari bahwa dia tidak mencintaiku. Untuk apa aku membuang waktu bersama pria yang tidak mencintaiku?”

Alasan itu justru terdengar semakin tidak masuk akal bagi Chad dan Richard. Aveline pasti sudah tahu dari awal bahwa Ashford tidak mencintainya. Namun dia tetap memaksa.

Aveline sendiri tidak dalam suasana hati yang bagus untuk menjelaskan lebih jauh.

“Intinya,” lanjut Aveline, suaranya tegas,

“tolong kirimkan surat pembatalan pertunangan. Aku juga akan mengirim surat permintaan maaf.”

“Keluarga kita dan keluarga Duke Egbert memiliki banyak kerja sama bisnis. Aku harap ayah tidak berpikir untuk memutus kerja sama yang telah terjalin.”

Aveline menghembuskan nafas kasar.

“Mulai sekarang, hanya kakak yang akan berurusan dengan Ash terkait bisnis. Aku tidak berurusan dengannya lagi. Toh, kegiatan kami tidak bersinggungan satu sama lain baik di akademi maupun di luar akademi.”

Setelah mengatakan itu, Aveline mengelap mulutnya dengan kain, lalu berdiri dan meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban.

Begitu pintu kamarnya tertutup, sebuah pop-up message muncul di udara—persis seperti sistem dalam dunia game.

[Selamat, Sarah! Kau sedang menjalani kehidupan kelimamu!]

Sarah—atau kini, Aveline—tidak terkejut sedikit pun. Sesuai perkiraanya, ia telah mengulang kehidupan.

Aveline hanya berjalan santai menuju tempat tidur dan menjatuhkan diri di atasnya.

“Aku tidak butuh ucapan selamat,” gumamnya.

“Aku hanya ingin kembali ke Indonesia. Tempat asalku. Dunia novel ini bukan duniaku. Aku ingin pulang.”

Ia menyebut pop-up message itu sebagai messanger. Dalam banyak novel yang pernah ia baca, sistem seperti inilah yang selalu membantu tokoh utama bertahan hidup.

Ironisnya, setelah membaca novel berjudul Lilia, Sarah sama sekali tidak menyangka akan terperangkap di dalamnya. Ia bahkan sudah lupa bagaimana cara ia mati pertama kali.

Mungkin saja karena kelelahan bekerja.

Siapa sangka kini Sarah, sang pekerja kantoran biasa, merupakan putri bangsawan kaya raya.

[Kau sudah tidak bisa pulang. Tubuh aslimu telah dikubur.]

“Ck…” Sarah mendecih.

“Baiklah… baiklah. Kalau begitu, beri tahu aku satu hal saja.”

“Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi wanita kaya raya yang hidup tenang di pedesaan?”

[Bertahan hidup.]

“Hah… benar juga,” gumamnya lirih.

“Lalu bagaimana caraku bertahan hidup di dunia ini?”

“Aku selalu berakhir mati, selalu dituduh atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan.”

“Aku tidak pernah—bahkan sekali pun—membunuh Saintess Lilia.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 18 : Perjalanan Pertama (4)

    Xing-xing menoleh ke arah pak tua yang sejak tadi hanya diam di balik meja. Karena Xing-xing yang ditawari pekerjaan, ia tidak ingin ikut campur lebih jauh.Aveline mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum santai.“Tenang saja,” ucapnya ringan.“Pak tua juga bisa membantu.”Ia menyilangkan tangan di depan dada, terlihat begitu percaya diri.“Akan ada saatnya aku meminta rekomendasi novel romansa. Untuk hal seperti itu… sebaiknya kau yang memilih bukunya untukku.”Aveline menoleh sekilas ke arah pak tua.“Aku tidak terlalu menyukai seleranya,” lanjut Aveline setengah berbisik.Hening sesaat.Kemudian—Xing-xing dan Aveline tertawa bersamaan.Suasana toko yang tadinya kaku perlahan mencair.“Baiklah,” kata Xing-xing akhirnya, masih menyisakan senyum.“Aku setuju.”Namun matanya kembali menyipit, penuh rasa ingin tahu.“Tapi… bagaimana caramu menghidupkan tokoh dalam Bayangan Mata Duke?”Aveline mengangkat satu jari ke bibirnya.“Rahasia.”Kemudian, ia tersenyum tipis. Membayangkan usah

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 17 : Perjalanan Pertama (3)

    Seni teater di kerajaan ini sebenarnya belum berkembang.Setidaknya… belum untuk dua tahun ke depan.Akan tetapi, Aveline tahu masa depan.Dalam kehidupan sebelumnya, Xing-xing—gadis kecil yang kini menjaga toko buku sederhana ini—akan menikah dengan seorang pedagang kaya. Bersama suaminya, ia menjadi sponsor utama pertunjukan teater adaptasi dari novel Bayangan Mata Duke.Pertunjukan itu meledak.Bukan hanya sukses—tetapi fenomenal.Xing-xing menjadi salah satu orang pertama yang Aveline cari untuk dijadikan koneksi di kehidupan lalu.Dan satu hal yang selalu berhasil memancing percakapan mereka adalah novel Bayangan Mata Duke.Xing-xing sangat mencintai novel itu."Apa maksudmu?" tanya Xing-xing tiba-tiba, matanya menyipit tajam."Apa kau benar-benar tahu apa yang baru saja kau bicarakan?"Ia menutup bukunya perlahan."Novel Bayangan Mata Duke adala

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 16 : Perjalanan Pertama (2)

    Beberapa jam kemudian, Miller masih berusaha memproses semua ini.Sekarang ia benar-benar berada di dalam kereta kuda sihir yang melaju melewati perbatasan kerajaan. Pemandangan di luar jendela berubah perlahan—hutan, ladang, lalu desa-desa kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Aveline menahan tawa saat melihat ekspresi Miller.Pria itu terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia di luar rumahnya.Miller akhirnya menyadari tatapan itu. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, meluruskan punggung dan merapikan pakaiannya seperti yang diajarkan dalam kelas tata krama."Jangan tertawa," gerutunya kesal.Aveline menutup mulutnya, pura-pura menyesal."Maaf… maaf."Namun mata birunya masih dipenuhi tawa."Tapi ekspresi wajahmu benar-benar lucu."Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Miller dengan menggodanya."Matamu bahkan berbinar-binar."Kali ini Avel

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 15 : Perjalanan Pertama

    Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline.Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Banyak yang terlihat bahagia menikmati opera sabun ini.Aveline berhenti di depan para power rangers Lilia yang menghadang dengan tidak tahu malu. Bahunya menegang."Saya serius dengan pernyataan saya, Duke Muda," ucapnya dingin. Aveline pun kembali menoleh pada Ashford.Namun, Ashford bahkan tidak terlihat peduli.Tatapannya datar. Seolah ancaman Aveline hanyalah omong kosong yang tidak perlu ditanggapi.Para pengikut Ash dan Lilia langsung bergerak.Beberapa orang menarik lengan Aveline dengan kasar."Berani sekali kau berbicara seperti itu!""Berlututlah!"Tubuh Aveline didorong ke depan.Kesabarannya akhirnya habis.Dalam satu gerakan cepat, api meny

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 14 : Drama Murahan

    “Apa yang Anda bicarakan? Nona Aveline hanya meminta saya menjadi guru privatnya.”Ash menatap Miller tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Alisnya sedikit berkerut, seolah masih ingin menggali lebih jauh.Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara gaduh terdengar dari luar ruang klub.Ash langsung menoleh.Dari balik kerumunan siswa, terlihat siluet Lilia berdiri di tengah. Tanpa berpikir panjang, Ash segera berlari menghampiri.“Ada apa ini?”Suaranya yang menggelegar langsung membuat kerumunan mendadak sunyi.Di tengah kerumunan itu, Lilia berdiri berhadapan dengan Aveline.Lucy memegang lengan Lilia, seolah menahannya agar tidak jatuh. Wajah sang saintess terlihat pucat, matanya membesar ketakutan.Ash segera mendekat dan merengkuh Lilia ke dalam pelukannya.“Ada apa, Lili? Mengapa kau terlihat sangat ketakutan? Apa yang terjadi?”Dari sisi lain, Aveline memperhatikan mereka dengan saksama.Sial.Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia benar-benar lupa bahwa hari ini ad

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 13 : Aku Secantik Ini

    Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir setidaknya dia bisa sedikit berbangga diri akan pencapaiannya bukan? Konsisten belajar dan bekerja hingga dini hari bukanlah hal yang mudah.Sebagai hasilnya, Sarah menjadi karyawan kesayangan. Semakin pandai Sarah, semakin besar tanggung jawab yang ditimpakan padanya.Pekerjaan menumpuk tanpa henti.Aveline pun mirip dengannya. Karakter antagonis satu ini konsisten melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dekat dengan Ashford.Dekat dengan Ashford sama dengan memiliki skill yang menguntungkan kerajaan karena Ashford sendiri merupakan seorang pangeran.Karyawan yang cakap memang sering diperas paling keras.Perbedaannya Sarah dan Aveline hanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status