로그인Namun, Aveline tidak menampar Vivia.
Ia justru memeluk pelayan itu lebih erat dan terus menangis. Untuk saat ini, ia belum sanggup melepaskan diri.Tangis Aveline baru mereda saat pelayan lain masuk ke kamar, menyampaikan bahwa ayah dan kakak laki-lakinya telah menunggu di ruang makan untuk sarapan.
Tanpa banyak bicara, Aveline menurut saat para pelayan membantunya berganti pakaian dan berdandan. Gerakannya pasif, tatapannya kosong.
Aveline akan percaya jika ia disebut mengulang kehidupan. Mimpi mengerikan tadi terasa terlalu nyata.
Setelah selesai Bersiap-siap, ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan.
“Kenapa wajahmu bengkak seperti itu?” Richard membuka suara sambil menggelengkan kepala.
“Apa Ash mengabaikanmu lagi sampai kau menangis tersedu-sedu?”Nada suaranya datar, nyaris bosan. Ia sudah hafal dengan tingkah adiknya—menurutnya, tak ada hal lain yang bisa membuat Aveline menangis selain Ashford.
Aveline tidak menanggapi kakaknya. Ia hanya menunduk kecil dan mengucapkan selamat pagi kepada ayah serta kakaknya sebelum duduk.
Chad Clement hanya meliriknya sekilas.
“Mari makan,” ucapnya singkat.Suasana meja makan terasa dingin. Aveline pun merasa hampa harus kembali ke kediaman ini lagi.
“Hari ini apa kau akan ke kediaman Ash?” tanya Richard sambil menyendok sup.
“Aku tahu kalian bertunangan, tapi bukankah akan sangat mengganggu jika kau setiap hari ke sana? Kalian juga bertemu di akademi. Apa kau tidak bosan?” Ia mendengus pelan. “Sebentar lagi liburanmu selesai. Setidaknya belajarlah sedikit supaya nilaimu membaik.”Aveline berhenti mengunyah.
Akademi?
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
“Kak… tahun ini tahun berapa?”Meski bingung dengan pertanyaan itu, Richard tetap menjawab, “Tahun 890 kalender kekaisaran.”
Jari Aveline mengepal di bawah meja.
“Tolong batalkan pertunanganku dengan Ashford,” ucapnya tenang.
Sendok Chad berhenti di udara, alisnya terangkat.
“Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?” suara Chad terdengar rendah dan tegas. Pembatalan pertunangan bukanlah hal yang bisa dilakukan seenaknya.
“Tentu, Ayah,” jawab Aveline tanpa ragu.
“Dengan begitu, kami tidak akan memiliki hubungan apa-apa lagi, bukan?”Chad menoleh ke arah Richard. Putra sulung keluarga Clement itu hanya bisa menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak mengerti perubahan sikap adiknya yang mendadak ini.
“Apa Ashford kurang ajar padamu?” Chad kembali bertanya, kali ini lebih serius.
“Atau… apakah dia sampai menyakitimu?”Aveline menatap ayahnya. Ia baru menyadari bahwa pria itu mampu menunjukkan ekspresi sekhawatir ini. Jelas sekali—Chad benar-benar cemas.
“Aku baik-baik saja, Ayah,” jawabnya pelan.
“Ash tidak melakukan kesalahan apa pun. Justru mungkin aku yang bersalah padanya.” Ia menarik nafas dalam. “Aku hanya menyadari bahwa dia tidak mencintaiku. Untuk apa aku membuang waktu bersama pria yang tidak mencintaiku?”Alasan itu justru terdengar semakin tidak masuk akal bagi Chad dan Richard. Aveline pasti sudah tahu dari awal bahwa Ashford tidak mencintainya. Namun dia tetap memaksa.
Aveline sendiri tidak dalam suasana hati yang bagus untuk menjelaskan lebih jauh.
“Intinya,” lanjut Aveline, suaranya tegas,
“tolong kirimkan surat pembatalan pertunangan. Aku juga akan mengirim surat permintaan maaf.” “Keluarga kita dan keluarga Duke Egbert memiliki banyak kerja sama bisnis. Aku harap ayah tidak berpikir untuk memutus kerja sama yang telah terjalin.”Aveline menghembuskan nafas kasar.
“Mulai sekarang, hanya kakak yang akan berurusan dengan Ash terkait bisnis. Aku tidak berurusan dengannya lagi. Toh, kegiatan kami tidak bersinggungan satu sama lain baik di akademi maupun di luar akademi.”
Setelah mengatakan itu, Aveline mengelap mulutnya dengan kain, lalu berdiri dan meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban.
Begitu pintu kamarnya tertutup, sebuah pop-up message muncul di udara—persis seperti sistem dalam dunia game.
[Selamat, Sarah! Kau sedang menjalani kehidupan kelimamu!]
Sarah—atau kini, Aveline—tidak terkejut sedikit pun. Sesuai perkiraanya, ia telah mengulang kehidupan.
Aveline hanya berjalan santai menuju tempat tidur dan menjatuhkan diri di atasnya.
“Aku tidak butuh ucapan selamat,” gumamnya.
“Aku hanya ingin kembali ke Indonesia. Tempat asalku. Dunia novel ini bukan duniaku. Aku ingin pulang.”Ia menyebut pop-up message itu sebagai messanger. Dalam banyak novel yang pernah ia baca, sistem seperti inilah yang selalu membantu tokoh utama bertahan hidup.
Ironisnya, setelah membaca novel berjudul Lilia, Sarah sama sekali tidak menyangka akan terperangkap di dalamnya. Ia bahkan sudah lupa bagaimana cara ia mati pertama kali.
Mungkin saja karena kelelahan bekerja.
Siapa sangka kini Sarah, sang pekerja kantoran biasa, merupakan putri bangsawan kaya raya.
[Kau sudah tidak bisa pulang. Tubuh aslimu telah dikubur.]
“Ck…” Sarah mendecih.
“Baiklah… baiklah. Kalau begitu, beri tahu aku satu hal saja.” “Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi wanita kaya raya yang hidup tenang di pedesaan?”[Bertahan hidup.]
“Hah… benar juga,” gumamnya lirih.
“Lalu bagaimana caraku bertahan hidup di dunia ini?” “Aku selalu berakhir mati, selalu dituduh atas sesuatu yang tidak pernah kulakukan.” “Aku tidak pernah—bahkan sekali pun—membunuh Saintess Lilia.”Aveline berharap messenger aneh itu setidaknya bisa memberikan informasi yang berguna tentang Cliff."Kalau memang secanggih itu, kasih tahu aku siapa sebenarnya pria itu."Seolah mendengar pikirannya, layar transparan itu kembali muncul.[Perdana Menteri Clifford merupakan lulusan terbaik Akademi Askeri. Ia adalah salah satu perdana menteri termuda dalam sejarah Kerajaan Uruk. Dengan wawasan yang luas serta hobinya berkeliling dunia, ia berhasil menciptakan berbagai terobosan yang mendorong kemajuan Uruk.]Mata Aveline membesar.Wow!Biasanya sistem tak kasat mata ini hanya memunculkan server error tanpa alasan yang jelas.Kali ini ternyata cukup berguna."Kalau begitu..." gumam Aveline pelan. "Apa Clifford anggota keluarga kerajaan?"[Bukan. Beliau rakyat biasa yang berhasil mencapai posisinya melalui kerja keras.]Aveline semakin bingung."Tunggu dulu..."Bukankah Raja tadi jelas membahas pernikahan keluarga kerajaan?Kalau Clifford bukan bangsawan kerajaan, lalu siapa yang dimaksu
“Apa yang kau lakukan?!”Suara Ashford menggema di seluruh kantin begitu ia tiba di lokasi.Seperti biasa.Bahkan tanpa bertanya lebih dulu, tatapan tajamnya langsung tertuju pada Aveline.Aveline hanya mendesah pelan.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengambil semangkuk sup di meja terdekat, lalu menyiramkannya ke seragam Ashford.Ketegangan kian bertambah.“Kau...!” geram Ashford. Wajahnya memerah, antara marah dan tidak percaya.Aveline mengangkat kedua tangannya, seolah sedang mempersembahkan Ashford kepada semua orang yang menyaksikan.“Nah, lihatlah baik-baik!”“Begitulah yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu.”Ia menatap seluruh penghuni kantin satu per satu.“Bahkan Duke Muda yang selalu menjunjung etika pun marah ketika pakaiannya dikotori dan ditertawakan.”“Kalau begitu, mengapa aku tidak boleh marah?&rdq
“Aku percaya diri orang-orang akan memperebutkanku,” ucap Miller sambil menyeringai lebar.Aveline menatapnya datar.“Percaya diri sekali…”“Tentu saja!” sahut Miller tanpa merasa malu sedikit pun. “Aku mungkin miskin, tetapi otakku masih bisa diadu. Meskipun aku tidak menjadi orang paling pintar di sana, aku yakin setidaknya masih bisa masuk sepuluh besar.”Aveline hanya mengembuskan napas kasar.Sepuluh besar?Jelas sekali pria ini akan menjadi nomor satu.Miller memiringkan kepala.“Tapi mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?”“Tidak ada.”Aveline membalik halaman bukunya.“Hanya berandai-andai.”Miller menatapnya penuh selidik.“Kau benar-benar yakin akan meninggalkan Duke Muda?”Dalam hati, Miller masih menyimpan sedikit keraguan. Bagaimanapun, dulu Aveline begitu tergi
"Perjanjian kita akan diikat dengan kontrak darah."Cliff mengucapkannya tanpa keraguan sedikit pun."Kau pasti pernah mendengar istilah ‘kontrak darah’ dari kerajaanku, bukan?"Aveline terdiam.Tentu saja ia pernah mendengarnya.Kontrak darah bukanlah selembar perjanjian biasa.Setiap kalimat yang tertulis di dalamnya adalah sumpah yang mengikat nyawa.Selama kedua pihak memenuhi isi kontrak, semuanya akan baik-baik saja.Namun...Akibat yang datang saat melanggar perjanjian ialah kematian."Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menjatuhkan harga dirimu."Cliff menatap Aveline serius."Aku akan selalu mendahulukanmu.""Aku juga tidak akan pernah menusukmu dari belakang.""Selama apa pun yang kau lakukan tidak membahayakan diriku ataupun kedudukanku di kerajaan."Ruangan kembali sunyi.Aveline memutar cangkir tehnya perlahan.Lalu ia tersenyum tipis.
"Anda masih saja berbicara sembarangan,” ucap Aveline sambil menghela napas.Cliff hanya tersenyum santai."Kau pasti akan menjadi istriku."Kalimat itu benar-benar mengalir begitu saja dari mulutnya."Sekarang kau sudah lajang, bukan? Tidak ada lagi yang bisa menghalangiku mendapatkanmu."Ucapan itu membuat seluruh ruangan hening.Rick berdeham pelan sebelum akhirnya membuka suara."Ehem...""Kurasa anda tidak perlu terburu-buru," ucapnya tenang. Berusaha untuk tetap berwibawa."Pernikahan antara keluarga kerajaan dengan bangsawan dari negara lain bukan perkara sederhana.""Banyak hal yang harus dipertimbangkan.""Lagipula, Nona Clement masih harus menyelesaikan pendidikannya."Aveline tahu persis apa maksud Raja.Bukan pendidikannya yang menjadi masalah.Melainkan dirinya.Sebagai penyihir api terkuat generasi muda Elseve, ia adalah salah satu aset militer paling berharga
Fred sontak menghindar.Ia berusaha keras untuk menghindar hingga kursinya sedikit bergeser.Lilia yang semula hendak mengusap kepala anak itu langsung menarik tangannya kembali.Wanita yang memiliki suara lembut itu justru bingung."... maaf," gumam Lilia pelan.Fred buru-buru menundukkan kepala."Aku hanya terkejut.""Aku... tidak terbiasa disentuh."Suara anak itu begitu lirih hingga nyaris tak terdengar.Tubuhnya masih sedikit gemetar.Lalu perlahan ia menoleh ke arah Aveline, seolah meminta izin.Aveline hanya mengangguk kecil."Tak apa..."Melihat isyarat itu, Fred mengumpulkan keberaniannya.Dengan canggung, ia mengulurkan tangan ke arah Lilia."Maaf nona...""Lili," sela Lilia sambil tersenyum lembut."Panggil aku Lili."Fred tampak gugup."Maaf... Lili...."Lilia tersenyum hangat."Tidak apa-apa.""Sekarang lanjutkan makan
Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir s
Aveline pun mulai menjalankan rencananya.Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.Ia menutup
[Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?”“Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess L
“Wahai rakyatku sekalian! Lihatlah!” suara Pangeran Edward menggema, memantul di dinding batu alun-alun.“Inilah wanita hina yang telah membunuh Saintess Lilia! Wanita terkutuk ini telah menghilangkan saintess yang kita sayangi—saintess yang membawa kemakmuran bagi kita semua…!”Pidato itu menjadi







