Share

Bab 4

Author: Fortunata
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-19 01:37:57

Tahun ajaran baru telah dimulai, Aveline kembali menginjakkan kaki di akademi.

Suasana hatinya mendadak buruk karena harus berpapasan dengan Ashford.

“Mengapa aku harus melihat wajahnya di pagi hari yang cerah ini?” teriak Aveline dalam hati.

Ashford berjalan keluar dari gerbang utama.

Sial sekali rasanya karena ia tidak melihat Ashford dari kereta kuda tadi. Jika saja ia melihat Ashford, ia bisa memerintahkan kusir untuk berhenti sedikit jauh dari akademi untuk menghindar.

Aveline yang diliputi rasa malas hanya menundukkan kepala sekilas sebagai bentuk penghormatan, lalu langsung melangkah masuk tanpa sepatah kata pun.

Ashford mematung.

Apa yang terjadi dengannya? pikir Ashford.

Bukankah setiap kali melihatnya, Aveline selalu berlari menghampiri dengan mata berbinar?

Bukankah gadis itu selalu mencari cara—bahkan mencuri kesempatan—untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar?

Aveline adalah tipe wanita yang tak segan menyelinap ke asrama pria hanya demi melihat wajah Ashford.

Karena itulah, selama ini Ash selalu meluangkan sedikit waktu setiap hari untuk sekadar “setor muka”, agar Aveline tidak nekat lagi memasuki wilayah terlarang.

Namun sekarang…

Aveline bahkan tidak meliriknya.

Bukan hanya itu—ia juga mengajukan pembatalan pertunangan.

Ashford berniat membalas surat dari Duke Clement setelah berbicara langsung dengan Aveline. Ia ingin memastikan maksud di balik perubahan sikap mendadak ini.

Dulu, saat statusnya masih pangeran, Ashford menyetujui pertunangan dengan Aveline agar gadis itu berhenti merundung Lilia.

Ia tidak gadis yang ia cintai itu terluka.

Dan kini, perubahan Aveline justru membuat Ash merasa waspada.

Jangan-jangan ada rencana busuk di balik semua ini…

“Aku akan menghampirinya saat jam makan siang,” batin Ashford.

“Dia pasti ingin aku yang mengajaknya bicara lebih dulu, bukan?”

Jika ini Aveline yang asli, semuanya akan mudah. Ash hanya perlu menuruti keinginannya dan sedikit bersikap manis.

Namun, yang Ash hadapi sekarang adalah Sarah.

Dan jelas, perhitungannya meleset jauh.

Saat jam makan siang tiba, Aveline menghilang entah ke mana. Setiap ada waktu luang di sela pelajaran, ia langsung berlari keluar kelas—menghindari Ashford secara terang-terangan.

Mulut Ashford sampai ternganga melihat sikapnya itu.

“Ave… mari kita bicara sebentar,” ucapnya ketika bel pulang berbunyi.

Namun begitu suara Ash terdengar, Aveline meninggalkan semua barangnya. Ia berlari menuju asrama putri, tanpa menoleh sedikit pun.

***

“Sepertinya berita itu tidak salah, Nona Aveline benar-benar mengajukan pembatalan pertunangan dengan Duke Muda,” bisik beberapa gadis di koridor.

“Mana mungkin? Nona Aveline cinta mati pada Duke muda. Tidak mungkin ia rela melepaskan Duke setelah mendapatkannya dengan susah payah.”

“Aku curiga itu hanya permainan kotor supaya Duke memperhatikannya.”

Meski terdengar seperti bisikan, suara mereka cukup jelas bagi Aveline yang melintas di dekat sana.

Ia memilih mengabaikannya.

Mereka tidak sepenuhnya salah.

Pemilik tubuh asli ini—Aveline Feliz Clement—adalah gadis ambisius yang akan berjuang mati-matian demi mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

Terutama dalam urusan cinta.

Ia tidak akan pernah rela mengakui kekalahan dari seorang rakyat biasa yang berasal dari perkampungan kumuh—yang ternyata adalah seorang Saintess.

Harga dirinya hancur.

Namun dibandingkan harga diri, Aveline jauh lebih tidak rela kehilangan Ashford.

Penggambaran Ashford dalam novel Lilia ternyata sangat akurat.

Jenius ilmu pedang dengan tubuh kekar, wajah tampan, berkulit putih khas Eropa, serta mata biru yang mencolok.

Tak hanya itu, wajah maskulin dan suara rendah Ashford membuat jantung Sarah berdebar lebih kencang dari yang seharusnya.

Sarah, yang sejak dulu menyukai pria keturunan Barat, benar-benar merasa “cuci mata” di dunia ini—meski itu tak berlangsung lama.

Tak ada yang menyukainya di sini.

Tatapan kebencian terus mengikutinya dari hari ke hari. Aveline selalu sendirian.

Pada akhirnya, Sarah memilih untuk mengasingkan diri.

“Pagi, Nona Aveline. Ada yang bisa kami bantu?” sapa petugas administrasi akademi.

Petugas administrasi terus tersenyum hingga gigi kering karena Aveline tak kunjung bicara.

Aveline pun tersentak dari lamunannya.

“Saya ingin pindah jurusan.”

“K—kau ingin pindah jurusan?” Petugas itu membelalakkan mata.

“Tidak ingin lagi berada di jurusan ilmu pedang?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 50 : Analisa Edser

    Aveline tertawa terbahak-bahak mendengarnya."Berarti aku hanya perlu bekerja dengan baik saja, bukan?""Pergilah selagi aku masih berbaik hati padamu!" hardik Louie lagi."Jika aku tidak ingin pergi, apa yang akan kau lakukan? Memfitnahku?"Aline dan Reya terlihat gugup.Sementara Louie?Tetap dengan wajah datarnya. Hanya saja, Aveline bisa melihat sedikit getaran di sudut matanya.Dia juga terlibat rupanya."Kau! Lihat saja nanti! Kau sudah salah memilih lawan!" teriaknya lgi.Louie pun pergi keluar, diikuti oleh Aline dan Reya.***Beberapa hari kemudian, Aveline mendengar kabar bahwa pajak yang harus disetorkan keluarga Clement kepada kerajaan mengalami kenaikan."Kurang ajar... Bisa-bisanya Louie memanfaatkan jabatan ayahnya sebagai Menteri Keuangan untuk memeras keluarga Clement..." batin Aveline.Miller yang menyadari perubahan wajah Aveline pun segera menghampirinya."Ada apa? Apa ada berita buruk?""Yaaa, sepertinya memang buruk. Namun, tidak seburuk itu juga..."Keluarga Cle

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 49

    “KAU pasti ingin mencobanya, bukaaaannnn? Ini, cobalah... Aaaaaa....” goda Liam dalam hati.[Kau sengaja mengejekku.]“Memang...” sahut Liam dengan senyum tengil.“Apanya yang memang?” tanya Giselle, bingung.“Tidak, tidak ada. Aku hanya merasa sandwich ini benar-benar enak,” kilah Liam.Pria ini memang sangat pandai berkilah. Ia berbohong semudah bernafas.Setelah sandwich itu habis, Altair muncul dari pintu dan menyampaikan informasi yang selama ini ditunggu Liam.Aveline Feliz Clement baru saja mengirimkan permintaan informasi mengenai Liam kepada guild informasi mereka.

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 48

    "Uang memang yang terbaik."Cliff menatap tumpukan emas di hadapannya dengan penuh kepuasan."Semua ini berkatmu..."[Maka dari itu, kau harus membayar hutangmu padaku.]"Ck! Kau sudah seperti pesugihan saja."Cliff menatap layar itu dengan wajah bingung.[Apa itu pesugihan?]Cliff terdiam beberapa saat."...never mind."Belum sempat ia melanjutkan percakapan, suara keras terdengar dari luar.BRAK!Pintu ruang kerja terbuka lebar."Hai, sobat yang seenaknya meminjam namaku!"Seorang pria masuk tanpa permisi."Kapan kau kembali ke Uruk? Mengapa kau tidak mengabariku tentang kepulanganmu?"Cliff langsung menoleh dengan malas."Siapa yang menggunakan namamu?"Ia menghela napas."Kuingatkan sekali lagi, nama kita memang sama."Pria itu adalah Cliff, Perdana Menteri Kerajaan Uruk.Ia berjalan santai memasuki ruangan, kemudian langsung duduk di kursi seolah itu adalah ruang kerjanya juga.Matanya sempat melirik ke arah brankas yang baru saja dibuka Cliff.Senyum tipis muncul di wajahnya."K

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 47

    "Kau benar-benar hobi menyiksaku, sepertinya..." gumam Ash sambil mengusap pantatnya yang masih terasa sakit.Miller, yang sudah terbiasa dengan kehadiran Ashford di ruang klub, memilih mengabaikan pria itu sepenuhnya.Miller kembali melanjutkan aktivitasnya untuk berpacaran dengan buku."Tidak ada hukuman untukmu kali ini. Raja menganggap kejadian ini hanya kesalahpahaman biasa. Beliau hanya berpesan agar kau berdamai dengan Lilia dan Edward. Bagaimanapun, yang bersalah padamu bukan mereka, kan?"Ashford mulai berdiri dan berjalan menuju sofa.Sementara itu, debaran jantung Aveline belum bisa kembali normal.Ia benar-benar tidak ingin menatap Ashford.“Wajahku pasti merah sekali. Arrghhh! Memalukan!” gerutu Aveline dalam hati."Baiklah... Akan saya pikirkan," jawab Aveline akhirnya. "Tapi tentu saja saya tidak akan meminta maaf kepada Catherine Drake. Selain itu, saintess Lilia dan pangeran Edward harus meminta maaf atas kesalahan mereka juga."Aveline kembali menekankan batasannya.

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 46 : Info

    Aveline berharap messenger aneh itu setidaknya bisa memberikan informasi yang berguna tentang Cliff."Kalau memang secanggih itu, kasih tahu aku siapa sebenarnya pria itu."Seolah mendengar pikirannya, layar transparan itu kembali muncul.[Perdana Menteri Clifford merupakan lulusan terbaik Akademi Askeri. Ia adalah salah satu perdana menteri termuda dalam sejarah Kerajaan Uruk. Dengan wawasan yang luas serta hobinya berkeliling dunia, ia berhasil menciptakan berbagai terobosan yang mendorong kemajuan Uruk.]Mata Aveline membesar.Wow!Biasanya sistem tak kasat mata ini hanya memunculkan server error tanpa alasan yang jelas.Kali ini ternyata cukup berguna."Kalau begitu..." gumam Aveline pelan. "Apa Clifford anggota keluarga kerajaan?"[Bukan. Beliau rakyat biasa yang berhasil mencapai posisinya melalui kerja keras.]Aveline semakin bingung."Tunggu dulu..."Bukankah Raja tadi jelas membahas pernikahan keluarga kerajaan?Kalau Clifford bukan bangsawan kerajaan, lalu siapa yang dimaksu

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 45 : Amarah

    “Apa yang kau lakukan?!”Suara Ashford menggema di seluruh kantin begitu ia tiba di lokasi.Seperti biasa.Bahkan tanpa bertanya lebih dulu, tatapan tajamnya langsung tertuju pada Aveline.Aveline hanya mendesah pelan.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengambil semangkuk sup di meja terdekat, lalu menyiramkannya ke seragam Ashford.Ketegangan kian bertambah.“Kau...!” geram Ashford. Wajahnya memerah, antara marah dan tidak percaya.Aveline mengangkat kedua tangannya, seolah sedang mempersembahkan Ashford kepada semua orang yang menyaksikan.“Nah, lihatlah baik-baik!”“Begitulah yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu.”Ia menatap seluruh penghuni kantin satu per satu.“Bahkan Duke Muda yang selalu menjunjung etika pun marah ketika pakaiannya dikotori dan ditertawakan.”“Kalau begitu, mengapa aku tidak boleh marah?&rdq

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 7

    Aveline pun mulai menjalankan rencananya.Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.Ia menutup

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 6

    Namun, Aveline memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.Ia malas berurusan dengan server error yang menjadi jawab di setiap pertanyaan penting.Aveline berjalan melewati Lilia dan para power rangers. Dengan hati yang dongkol, ia mulai menyantap makan siangnya. Hambar.Sepertinya rasa makanan ini me

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 5

    Bahkan petugas administrasi akademi pun tahu bahwa Aveline mengikuti Ashford masuk ke jurusan ilmu pedang.“Ya, saya yakin,” jawab Aveline mantap.“Saya ingin pindah ke jurusan ilmu sihir. Sepertinya ilmu pedang memang tidak cocok untuk saya.”Aveline lalu menyerahkan selembar formulir.“Saya juga

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 3

    [Kau harus membunuh Saintess Lilia dengan tanganmu sendiri. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup.]“Apa?” Aveline menegakkan punggungnya.“Apa kau gila? Mengapa aku harus membunuh Saintess yang baik itu?”“Di novel Lilia yang kubaca—dan di empat kehidupanku sebelumnya—Saintess L

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status