LOGINTahun ajaran baru telah dimulai, Aveline kembali menginjakkan kaki di akademi.
Suasana hatinya mendadak buruk karena harus berpapasan dengan Ashford.
“Mengapa aku harus melihat wajahnya di pagi hari yang cerah ini?” teriak Aveline dalam hati.
Ashford berjalan keluar dari gerbang utama.
Sial sekali rasanya karena ia tidak melihat Ashford dari kereta kuda tadi. Jika saja ia melihat Ashford, ia bisa memerintahkan kusir untuk berhenti sedikit jauh dari akademi untuk menghindar.
Aveline yang diliputi rasa malas hanya menundukkan kepala sekilas sebagai bentuk penghormatan, lalu langsung melangkah masuk tanpa sepatah kata pun.
Ashford mematung.
Apa yang terjadi dengannya? pikir Ashford.
Bukankah setiap kali melihatnya, Aveline selalu berlari menghampiri dengan mata berbinar?
Bukankah gadis itu selalu mencari cara—bahkan mencuri kesempatan—untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar?Aveline adalah tipe wanita yang tak segan menyelinap ke asrama pria hanya demi melihat wajah Ashford.
Karena itulah, selama ini Ash selalu meluangkan sedikit waktu setiap hari untuk sekadar “setor muka”, agar Aveline tidak nekat lagi memasuki wilayah terlarang.
Namun sekarang…
Aveline bahkan tidak meliriknya.Bukan hanya itu—ia juga mengajukan pembatalan pertunangan.
Ashford berniat membalas surat dari Duke Clement setelah berbicara langsung dengan Aveline. Ia ingin memastikan maksud di balik perubahan sikap mendadak ini.
Dulu, saat statusnya masih pangeran, Ashford menyetujui pertunangan dengan Aveline agar gadis itu berhenti merundung Lilia.
Ia tidak gadis yang ia cintai itu terluka.
Dan kini, perubahan Aveline justru membuat Ash merasa waspada.
Jangan-jangan ada rencana busuk di balik semua ini…
“Aku akan menghampirinya saat jam makan siang,” batin Ashford.
“Dia pasti ingin aku yang mengajaknya bicara lebih dulu, bukan?”Jika ini Aveline yang asli, semuanya akan mudah. Ash hanya perlu menuruti keinginannya dan sedikit bersikap manis.
Namun, yang Ash hadapi sekarang adalah Sarah.
Dan jelas, perhitungannya meleset jauh.
Saat jam makan siang tiba, Aveline menghilang entah ke mana. Setiap ada waktu luang di sela pelajaran, ia langsung berlari keluar kelas—menghindari Ashford secara terang-terangan.
Mulut Ashford sampai ternganga melihat sikapnya itu.
“Ave… mari kita bicara sebentar,” ucapnya ketika bel pulang berbunyi.
Namun begitu suara Ash terdengar, Aveline meninggalkan semua barangnya. Ia berlari menuju asrama putri, tanpa menoleh sedikit pun.
***
“Sepertinya berita itu tidak salah, Nona Aveline benar-benar mengajukan pembatalan pertunangan dengan Duke Muda,” bisik beberapa gadis di koridor.
“Mana mungkin? Nona Aveline cinta mati pada Duke muda. Tidak mungkin ia rela melepaskan Duke setelah mendapatkannya dengan susah payah.”
“Aku curiga itu hanya permainan kotor supaya Duke memperhatikannya.”
Meski terdengar seperti bisikan, suara mereka cukup jelas bagi Aveline yang melintas di dekat sana.
Ia memilih mengabaikannya.
Mereka tidak sepenuhnya salah.
Pemilik tubuh asli ini—Aveline Feliz Clement—adalah gadis ambisius yang akan berjuang mati-matian demi mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
Terutama dalam urusan cinta.
Ia tidak akan pernah rela mengakui kekalahan dari seorang rakyat biasa yang berasal dari perkampungan kumuh—yang ternyata adalah seorang Saintess.
Harga dirinya hancur.
Namun dibandingkan harga diri, Aveline jauh lebih tidak rela kehilangan Ashford.
Penggambaran Ashford dalam novel Lilia ternyata sangat akurat.
Jenius ilmu pedang dengan tubuh kekar, wajah tampan, berkulit putih khas Eropa, serta mata biru yang mencolok.Tak hanya itu, wajah maskulin dan suara rendah Ashford membuat jantung Sarah berdebar lebih kencang dari yang seharusnya.
Sarah, yang sejak dulu menyukai pria keturunan Barat, benar-benar merasa “cuci mata” di dunia ini—meski itu tak berlangsung lama.
Tak ada yang menyukainya di sini.
Tatapan kebencian terus mengikutinya dari hari ke hari. Aveline selalu sendirian.
Pada akhirnya, Sarah memilih untuk mengasingkan diri.
“Pagi, Nona Aveline. Ada yang bisa kami bantu?” sapa petugas administrasi akademi.
Petugas administrasi terus tersenyum hingga gigi kering karena Aveline tak kunjung bicara.
Aveline pun tersentak dari lamunannya.
“Saya ingin pindah jurusan.”“K—kau ingin pindah jurusan?” Petugas itu membelalakkan mata.
“Tidak ingin lagi berada di jurusan ilmu pedang?”Xing-xing menoleh ke arah pak tua yang sejak tadi hanya diam di balik meja. Karena Xing-xing yang ditawari pekerjaan, ia tidak ingin ikut campur lebih jauh.Aveline mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum santai.“Tenang saja,” ucapnya ringan.“Pak tua juga bisa membantu.”Ia menyilangkan tangan di depan dada, terlihat begitu percaya diri.“Akan ada saatnya aku meminta rekomendasi novel romansa. Untuk hal seperti itu… sebaiknya kau yang memilih bukunya untukku.”Aveline menoleh sekilas ke arah pak tua.“Aku tidak terlalu menyukai seleranya,” lanjut Aveline setengah berbisik.Hening sesaat.Kemudian—Xing-xing dan Aveline tertawa bersamaan.Suasana toko yang tadinya kaku perlahan mencair.“Baiklah,” kata Xing-xing akhirnya, masih menyisakan senyum.“Aku setuju.”Namun matanya kembali menyipit, penuh rasa ingin tahu.“Tapi… bagaimana caramu menghidupkan tokoh dalam Bayangan Mata Duke?”Aveline mengangkat satu jari ke bibirnya.“Rahasia.”Kemudian, ia tersenyum tipis. Membayangkan usah
Seni teater di kerajaan ini sebenarnya belum berkembang.Setidaknya… belum untuk dua tahun ke depan.Akan tetapi, Aveline tahu masa depan.Dalam kehidupan sebelumnya, Xing-xing—gadis kecil yang kini menjaga toko buku sederhana ini—akan menikah dengan seorang pedagang kaya. Bersama suaminya, ia menjadi sponsor utama pertunjukan teater adaptasi dari novel Bayangan Mata Duke.Pertunjukan itu meledak.Bukan hanya sukses—tetapi fenomenal.Xing-xing menjadi salah satu orang pertama yang Aveline cari untuk dijadikan koneksi di kehidupan lalu.Dan satu hal yang selalu berhasil memancing percakapan mereka adalah novel Bayangan Mata Duke.Xing-xing sangat mencintai novel itu."Apa maksudmu?" tanya Xing-xing tiba-tiba, matanya menyipit tajam."Apa kau benar-benar tahu apa yang baru saja kau bicarakan?"Ia menutup bukunya perlahan."Novel Bayangan Mata Duke adala
Beberapa jam kemudian, Miller masih berusaha memproses semua ini.Sekarang ia benar-benar berada di dalam kereta kuda sihir yang melaju melewati perbatasan kerajaan. Pemandangan di luar jendela berubah perlahan—hutan, ladang, lalu desa-desa kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Aveline menahan tawa saat melihat ekspresi Miller.Pria itu terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia di luar rumahnya.Miller akhirnya menyadari tatapan itu. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, meluruskan punggung dan merapikan pakaiannya seperti yang diajarkan dalam kelas tata krama."Jangan tertawa," gerutunya kesal.Aveline menutup mulutnya, pura-pura menyesal."Maaf… maaf."Namun mata birunya masih dipenuhi tawa."Tapi ekspresi wajahmu benar-benar lucu."Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Miller dengan menggodanya."Matamu bahkan berbinar-binar."Kali ini Avel
Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline.Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Banyak yang terlihat bahagia menikmati opera sabun ini.Aveline berhenti di depan para power rangers Lilia yang menghadang dengan tidak tahu malu. Bahunya menegang."Saya serius dengan pernyataan saya, Duke Muda," ucapnya dingin. Aveline pun kembali menoleh pada Ashford.Namun, Ashford bahkan tidak terlihat peduli.Tatapannya datar. Seolah ancaman Aveline hanyalah omong kosong yang tidak perlu ditanggapi.Para pengikut Ash dan Lilia langsung bergerak.Beberapa orang menarik lengan Aveline dengan kasar."Berani sekali kau berbicara seperti itu!""Berlututlah!"Tubuh Aveline didorong ke depan.Kesabarannya akhirnya habis.Dalam satu gerakan cepat, api meny
“Apa yang Anda bicarakan? Nona Aveline hanya meminta saya menjadi guru privatnya.”Ash menatap Miller tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Alisnya sedikit berkerut, seolah masih ingin menggali lebih jauh.Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara gaduh terdengar dari luar ruang klub.Ash langsung menoleh.Dari balik kerumunan siswa, terlihat siluet Lilia berdiri di tengah. Tanpa berpikir panjang, Ash segera berlari menghampiri.“Ada apa ini?”Suaranya yang menggelegar langsung membuat kerumunan mendadak sunyi.Di tengah kerumunan itu, Lilia berdiri berhadapan dengan Aveline.Lucy memegang lengan Lilia, seolah menahannya agar tidak jatuh. Wajah sang saintess terlihat pucat, matanya membesar ketakutan.Ash segera mendekat dan merengkuh Lilia ke dalam pelukannya.“Ada apa, Lili? Mengapa kau terlihat sangat ketakutan? Apa yang terjadi?”Dari sisi lain, Aveline memperhatikan mereka dengan saksama.Sial.Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia benar-benar lupa bahwa hari ini ad
Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir setidaknya dia bisa sedikit berbangga diri akan pencapaiannya bukan? Konsisten belajar dan bekerja hingga dini hari bukanlah hal yang mudah.Sebagai hasilnya, Sarah menjadi karyawan kesayangan. Semakin pandai Sarah, semakin besar tanggung jawab yang ditimpakan padanya.Pekerjaan menumpuk tanpa henti.Aveline pun mirip dengannya. Karakter antagonis satu ini konsisten melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dekat dengan Ashford.Dekat dengan Ashford sama dengan memiliki skill yang menguntungkan kerajaan karena Ashford sendiri merupakan seorang pangeran.Karyawan yang cakap memang sering diperas paling keras.Perbedaannya Sarah dan Aveline hanya







