Home / Rumah Tangga / Kehidupan Setelah Perpisahan / Bab 23 Bahagia dan duka

Share

Bab 23 Bahagia dan duka

Author: Lin shi
last update Last Updated: 2025-09-28 17:48:45
Dina menutup telepon dengan wajah berbinar, seolah cahaya matahari baru saja menyinari hidupnya. Senyum bahagia yang menghiasi wajahnya belum juga hilang saat ia menoleh pada bundanya, yang sedang sibuk melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Dengan suara penuh semangat dan antusiasme yang tak terbendung, ia berkata, “Bunda, barusan aku dapat pesanan besar untuk menjahit seragam baju PKK!”

Bunda, yang tengah fokus pada pekerjaannya, langsung menoleh dengan mata berbinar, seolah mendengar berita paling menggembirakan dalam hidupnya. “Alhamdulillah,” ucapnya lega dan gembira, seolah beban yang selama ini menggelayuti hati mereka mulai terangkat. “Itu kabar bagus sekali, Din! Rezeki kamu memang selalu datang di saat yang tepat. Ini adalah tanda bahwa semua kerja keras dan usaha yang kamu lakukan tidak sia-sia.”

Dina merasakan dadanya hangat dipenuhi rasa syukur yang mendalam. Setelah melewati masa-masa sulit pascacerai, di mana setiap hari terasa berat dan penuh tantangan, pesana
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 121 Berharap

    “Bunda…” suara Danu keluar serak, nyaris tak terdengar, suara orang yang sedang putus asa.Aini berhenti beberapa langkah dari mereka, menjaga jarak. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan luka yang dalam yaitu luka seorang ibu yang menyaksikan anaknya hancur, berjuang, dan melahirkan tanpa pendamping.Dalam keheningan yang menegangkan itu, Danu merasakan beratnya tanggung jawab yang ia abaikan selama ini.Tanpa aba-aba, Danu bangkit dari duduknya. Lututnya gemetar, tubuhnya seolah digerakkan oleh penyesalan yang menumpuk terlalu lama. Dalam momen yang tak terduga bagi semua orang, Danu menekuk lutut dan bersimpuh tepat di hadapan Aini. “Bunda…,” katanya lagi, kali ini dengan suara pecah, penuh emosi yang tak bisa ia bendung. “Maafin saya, Bunda. Maafkan saya.”Endang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putranya. Namun, ia membiarkan apa yang dikatakan oleh putranya itu, karena ia tahu kesalahan yang telah dilakukan oleh putranya adalah kesalahan yang fatal bagi suatu pe

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 120 Minta maaf

    Koridor ruang tunggu ICU itu kembali sunyi, setelah jam besuk ruang ICU berakhir. Lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Di salah satu sudut, Rizal duduk sendiri di bangku panjang berbahan stainless, punggungnya bersandar lemah, kedua tangannya saling bertaut tanpa tenaga. Tatapannya kosong, menembus dinding, seolah pikirannya melayang jauh. Suara detak jam yang monoton seakan mengingatkannya akan waktu yang terus berlalu, sementara hatinya terjebak dalam kenangan yang menyakitkan.Restu dari kakeknya, kalimat itu seharusnya membuatnya bahagia. Tapi yang ia rasakan justru hampa. Di luar, hujan mulai turun, menciptakan irama lembut yang seolah menyanyikan kesedihan hatinya.Tidak jauh dari tempat ia duduk, Salman memperhatikan putranya dengan dahi berkerut. Ia mendekat perlahan, lalu duduk di samping Rizal tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu. Kedua pria itu terdiam sejenak, hanya suara tetesan air hujan yang terdengar di luar.“Kamu kenapa duduk

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 119 Sangat terluka

    Di ruang tamu rumah Dina, suasana terasa hening meski acara akikah masih berlangsung di luar. Tawa tamu-tamu terdengar samar, namun kontras dengan percakapan yang kini terjadi di dalam ruangan. Endang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan. Tatapannya tak lepas dari Ami, istri Dito, seolah ada ribuan pertanyaan yang menunggu jawaban.Danu duduk di samping ibunya. Tubuhnya kaku, bahunya tegang. Ia tidak lagi menunduk, tetapi menatap lurus ke depan, ke arah dinding tempat foto-foto Rayan, Revan, dan Alya terpajang. Setiap gambar seperti pisau yang mengiris perlahan, namun dalam. Kenangan indah itu kini terasa menyakitkan, mengingatkan pada apa yang hilang dan apa yang harus mereka hadapi.Dinda duduk agak menjauh, bersandar di dekat jendela. Pandangannya sesekali beralih pada foto, lalu kembali ke wajah kakaknya. Ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan, seolah setiap detik berlalu semakin menambah beban di hatinya.Endang akhirnya membuka suara, sua

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 118 Restu merajut cinta

    Rahma melangkah masuk dengan kaki gemetar, mengenakan baju pelindung berwarna hijau muda. Tangannya bergetar saat meraih pintu kaca, matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah di ranjang ICU.Ahmad.Suaminya.Pria yang selama puluhan tahun menjadi sandaran hidupnya kini terbaring tak berdaya, dengan selang dan alat bantu napas menutupi wajahnya. Dadanya naik turun perlahan, dibantu mesin. Rahma menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah.“Yah…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.Ia melangkah mendekat, duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tangannya meraih tangan Ahmad yang dingin, menggenggamnya erat seolah takut kehilangan. Ahmad membuka mata perlahan karena merasakan tangannya digenggaman. Matanya redup, namun sorotnya berubah ketika melihat Rahma.Ahmad menggerakkan tangannya sedikit, memberi isyarat. Matanya melirik ke arah selang di mulutnya, lalu kembali menatap Rahma. Dengan sisa tenaga, ia memberi tanda ingin berbicara.Rahma menggeleng cepat.“Jangan

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 117 Penyesalan

    Danu berdiri mematung di ruang tamu, seolah waktu berhenti di sekelilingnya. Matanya terpaku pada deretan foto yang tersusun rapi di dinding, menciptakan panorama kenangan yang penuh emosi. Foto-foto itu menggambarkan bayi-bayi yang tampak lucu dan polos dan bukan satu, bukan dua, tetapi tiga. Rayan, Revan, dan Alya. Senyum polos mereka seolah menusuk langsung ke dadanya, mengingatkannya pada masa-masa bahagia yang kini terasa begitu jauh.Napas Danu tercekat, seolah ada beban berat yang menggantung di dadanya. Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya, membuatnya sulit bernapas. Kenangan akan kebahagiaan yang hilang berputar-putar dalam pikirannya, mengingatkan betapa cepatnya waktu berlalu.Sementara itu, Endang, yang berdiri di sampingnya, ikut menatap foto-foto itu. Wajahnya perlahan berubah pucat, seolah menyadari kebenaran yang selama ini terpendam. Bibirnya bergetar saat ia menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah terlintas dalam pikirannya, sebu

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 116 Tamu kejutan

    Tidak… tidak mungkin…Kedua kakinya terasa lemas, seperti bukan miliknya lagi. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Dunia yang tadi ramai mendadak sunyi, seolah hanya ada dia… dan pria itu.Pria yang selama ini hanya hadir dalam ingatan. Pria yang selama ini ia kubur namanya dalam-dalam. Pria yang menjadi ayah dari ketiga malaikat kecilnya, yang hari ini dia akikahkan seorang diri.Dina menelan ludah dengan susah payah.Ini pasti capek… Ini pasti cuma bayangan… Ini cuma perasaan…Namun bayangan itu tidak memudar.Pria itu tetap berdiri di sana, menatapnya. Tatapan itu membuat jantung Dina seperti diremas kuat. Dina bangkit dari tempat ia duduk dan Dina mundur setengah tapak tanpa sadar. Tangannya gemetar saat refleks memeluk erat Alya. Nafasnya semakin tidak teratur.Kenapa dia di sini…? Bagaimana bisa…? Sejak kapan…?Di belakang Danang/Danu, Dina melihat dua sosok lain. Seorang perempuan paruh baya dengan wajah yang jelas ia kenali. Dan seorang perempuan muda, berdiri sedikit di sampin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status