Beranda / Rumah Tangga / Kehidupan Setelah Perpisahan / Bab 39 Masa lalu Yang Menggangu

Share

Bab 39 Masa lalu Yang Menggangu

Penulis: Lin shi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 20:00:33

“Mas…”

Danang menoleh refleks, terkejut oleh suara yang begitu dekat, namun tak ia kenali. Ia menyipitkan mata, berusaha mencari arah datangnya suara itu — dan di sana, tak jauh darinya, berdiri seorang wanita. Ia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya, menyisakan hanya sepasang mata yang tajam dan penuh misteri.

Kening Danang berkerut, rasa penasaran dan kebingungan bercampur aduk dalam pikirannya. “Siapa kamu?” tanyanya, suaranya terdengar hati-hati, seolah takut akan jawaban yang mungkin menyakitkan.

Wanita itu melangkah maju, gerakannya tenang, namun tatapannya seolah bisa menembus jiwa Danang. “Akhirnya… kita bertemu,” ucapnya pelan, dengan nada yang membuat bulu kuduk Danang berdiri. Ada sesuatu dalam suara itu yang mengingatkannya pada masa lalu yang kelam.

Perlahan, wanita itu menurunkan maskernya. Saat masker itu terangkat, bibir merah menyala muncul, disertai senyum yang dulu pernah membuat Danang kehilangan kendali. Senyum yang kini terasa seperti pisau yang meng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 123 Putus asa

    Ruangan kecil di balik bengkel cuci mobil itu terasa pengap, meski pintunya terbuka lebar. Bau sabun mobil bercampur oli samar-samar menguar, namun yang paling terasa justru suasana berat yang menggantung di udara.Yoga mendorong pintu ruang kerja Danu tanpa mengetuk. Begitu melihat sosok sahabatnya duduk membungkuk di kursi, kedua tangan menopang kepala, Yoga langsung mengernyit.“Dan?” panggilnya pelan tapi tegas. “Ada apa, Dan?”Danu tidak langsung menjawab. Bahunya naik turun, napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.Yoga melangkah masuk lebih jauh, lalu menutup pintu di belakangnya.“Suaramu di telepon kayak orang mau pindah alam saja,” katanya setengah bercanda, setengah khawatir. “Serius, ada apa? Apa ada masalah sama usaha ini? Ada yang kurang bayar? Mesin rusak?”Danu menggeleng pelan, masih menunduk.“Bukan itu…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.Yoga menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya.“Kalau bukan usaha, terus apa? Jangan bikin aku nebak-nebak. Kamu tahu

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 122 Kecewa

    Lorong ICU rumah sakit itu kembali sunyi setelah beberapa jam sebelumnya dipenuhi lalu lalang keluarga pasien. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan orang-orang yang berjalan dengan langkah pelan, seolah takut suara mereka mengganggu batas tipis antara hidup dan mati.Di depan pintu ICU, Rima berdiri dengan gelisah. Tangannya menggenggam tas kecil erat-erat, napasnya naik turun tidak beraturan. Wajahnya pucat, namun sorot matanya menyimpan tekad yang keras. Ia baru saja memastikan Rizal pergi ke musala rumah sakit, dan Salman bersama Aida mengantar Rahma pulang untuk beristirahat. Dan,kesempatan itu tak ingin ia sia-siakan.Rima melangkah mendekati pintu ICU, menekan bel. Seorang perawat perempuan keluar."Ada apa mbak?" "Saya ingin membesuk kakek Ahmad." “Maaf, Mbak. Jam besuk sudah selesai,” kata perawat itu sambil melirik papan informasi di dinding.Rima tersenyum tipis, berusaha menenangkan diri.“Sus, saya cuma sebentar. Saya keluarga pasien. Saya cucunya dari

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 121 Berharap

    “Bunda…” suara Danu keluar serak, nyaris tak terdengar, suara orang yang sedang putus asa.Aini berhenti beberapa langkah dari mereka, menjaga jarak. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan luka yang dalam yaitu luka seorang ibu yang menyaksikan anaknya hancur, berjuang, dan melahirkan tanpa pendamping.Dalam keheningan yang menegangkan itu, Danu merasakan beratnya tanggung jawab yang ia abaikan selama ini.Tanpa aba-aba, Danu bangkit dari duduknya. Lututnya gemetar, tubuhnya seolah digerakkan oleh penyesalan yang menumpuk terlalu lama. Dalam momen yang tak terduga bagi semua orang, Danu menekuk lutut dan bersimpuh tepat di hadapan Aini. “Bunda…,” katanya lagi, kali ini dengan suara pecah, penuh emosi yang tak bisa ia bendung. “Maafin saya, Bunda. Maafkan saya.”Endang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putranya. Namun, ia membiarkan apa yang dikatakan oleh putranya itu, karena ia tahu kesalahan yang telah dilakukan oleh putranya adalah kesalahan yang fatal bagi suatu pe

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 120 Minta maaf

    Koridor ruang tunggu ICU itu kembali sunyi, setelah jam besuk ruang ICU berakhir. Lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Di salah satu sudut, Rizal duduk sendiri di bangku panjang berbahan stainless, punggungnya bersandar lemah, kedua tangannya saling bertaut tanpa tenaga. Tatapannya kosong, menembus dinding, seolah pikirannya melayang jauh. Suara detak jam yang monoton seakan mengingatkannya akan waktu yang terus berlalu, sementara hatinya terjebak dalam kenangan yang menyakitkan.Restu dari kakeknya, kalimat itu seharusnya membuatnya bahagia. Tapi yang ia rasakan justru hampa. Di luar, hujan mulai turun, menciptakan irama lembut yang seolah menyanyikan kesedihan hatinya.Tidak jauh dari tempat ia duduk, Salman memperhatikan putranya dengan dahi berkerut. Ia mendekat perlahan, lalu duduk di samping Rizal tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu. Kedua pria itu terdiam sejenak, hanya suara tetesan air hujan yang terdengar di luar.“Kamu kenapa duduk

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 119 Sangat terluka

    Di ruang tamu rumah Dina, suasana terasa hening meski acara akikah masih berlangsung di luar. Tawa tamu-tamu terdengar samar, namun kontras dengan percakapan yang kini terjadi di dalam ruangan. Endang duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan. Tatapannya tak lepas dari Ami, istri Dito, seolah ada ribuan pertanyaan yang menunggu jawaban.Danu duduk di samping ibunya. Tubuhnya kaku, bahunya tegang. Ia tidak lagi menunduk, tetapi menatap lurus ke depan, ke arah dinding tempat foto-foto Rayan, Revan, dan Alya terpajang. Setiap gambar seperti pisau yang mengiris perlahan, namun dalam. Kenangan indah itu kini terasa menyakitkan, mengingatkan pada apa yang hilang dan apa yang harus mereka hadapi.Dinda duduk agak menjauh, bersandar di dekat jendela. Pandangannya sesekali beralih pada foto, lalu kembali ke wajah kakaknya. Ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan, seolah setiap detik berlalu semakin menambah beban di hatinya.Endang akhirnya membuka suara, sua

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 118 Restu merajut cinta

    Rahma melangkah masuk dengan kaki gemetar, mengenakan baju pelindung berwarna hijau muda. Tangannya bergetar saat meraih pintu kaca, matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah di ranjang ICU.Ahmad.Suaminya.Pria yang selama puluhan tahun menjadi sandaran hidupnya kini terbaring tak berdaya, dengan selang dan alat bantu napas menutupi wajahnya. Dadanya naik turun perlahan, dibantu mesin. Rahma menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah.“Yah…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.Ia melangkah mendekat, duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tangannya meraih tangan Ahmad yang dingin, menggenggamnya erat seolah takut kehilangan. Ahmad membuka mata perlahan karena merasakan tangannya digenggaman. Matanya redup, namun sorotnya berubah ketika melihat Rahma.Ahmad menggerakkan tangannya sedikit, memberi isyarat. Matanya melirik ke arah selang di mulutnya, lalu kembali menatap Rahma. Dengan sisa tenaga, ia memberi tanda ingin berbicara.Rahma menggeleng cepat.“Jangan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status