Compartilhar

Bab 10

Autor: Bilkis29
last update Data de publicação: 2026-06-21 09:09:03

Namun apa yang tidak diketahui oleh Rina adalah, di balik setiap senyum dan kata-kata manis itu, ada rencana jahat yang sedang disusun bersama oleh Dimas dan ibunya.

Sementara Rina merasa bahagia dan lega, Dimas dan ibunya sedang berdiskusi lagi tentang masa depan.

Saat mereka sedang beristirahat sejenak di dapur, Dimas berbisik pada ibunya.

“Bu, lihat kan? Dia sudah percaya sepenuhnya sama kita. Selama dia berpikir kita menyayanginya dan kita butuh dia, dia akan tetap bekerja keras dan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 21

    Rina masih berdiri terpaku di depan pagar rumah, matanya masih menatap jauh ke arah jalan yang baru saja dilalui mobil hitam itu. Hawa pagi yang sejuk tidak terasa sama sekali, pikirannya penuh dengan tanda tanya yang berputar tak beraturan. Hingga langkah seorang wanita mendekat dan memecah lamunannya. "Rina? Kamu masih di sini saja?" Rina menoleh cepat dan melihat Dita, istri dari Pak Anto, tetangga mereka yang tinggal tidak jauh dari sana. Dita sedang berjalan pulang dari warung kecil di ujung jalan, memegang kantong plastik berisi minuman dan bekal kecil. Wajahnya terlihat sibuk namun ramah seperti biasa. Rina segera menyambutnya dengan sedikit terkejut, lalu memanggil dengan nada terburu-buru, "Bu Dita! Cepat sini dulu, mau ke mana saja pagi begini?" Dita tersenyum sambil menyesuaikan tas di bahunya, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah Rina. "Aku mau belikan minuman buat Pak Anto dan timnya. Hari ini mereka berangkat ke Bandung pagi-pagi sekali buat urusan p

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 20

    Matahari baru saja muncul di ufuk timur, menyebarkan cahaya lembut ke seluruh perumahan di Bekasi. Udara pagi itu masih terasa sejuk, namun di dalam rumah sederhana milik Dimas dan Rina, suasana terasa tegang dan berat. Rina sudah berdiri di dapur sejak pukul enam pagi. Ia menyiapkan nasi hangat, telur dadar kesukaan Dimas, serta teh manis yang selalu ia buat dengan takaran yang pas. Semuanya disusun rapi di atas meja makan, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari—menunggu suaminya bangun dan menikmati sarapan bersama sebelum Dimas berangkat bekerja. Namun pagi ini, hal itu tidak terjadi seperti biasa. Pintu kamar terbuka perlahan. Dimas keluar dengan pakaian yang jauh lebih rapi daripada hari-hari sebelumnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang terlihat baru, celana kain yang disetrika dengan sempurna, dan sepatu kulit yang ia jarang gunakan sehari-hari. Aroma parfum yang samar namun mewah kembali tercium, jauh berbeda dengan wangi sabun biasa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 19

    “Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 18

    Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 17

    Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 16

    Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status