ログインRina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti
Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak apa-apa Bu, cuma Rina saja yang sensitif sekali. Aku cuma bilang ke dia supaya dia lebih jaga penampilan dan kebersihan saja." "Kamu bicara apa itu?" Ibu Dimas langsung menatap anaknya dengan tajam. "Meskipun Rina itu tidak punya banyak uang, dia sudah bekerja keras menjaga rumah dan melayani kita selama ini. Kamu kok bisa bicara kasar dan menghina dia begitu? Bau asem apa yang kamu maksud? Dia sudah mandi dan merawat diri seperti biasa." Ibu Dimas kemudian berbalik menghadap Rina dan memegang bahu menantunya itu. "Jangan didengarkan kata-kata kasar anakku ya, Nak. Dia cuma sedang capek dan tidak berpikir panjang. Ibu minta maaf atas perkataan anakku itu." Namun yang tidak diduga oleh
Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukungan dari wanita yang sangat ia inginkan. Saat ia membuka pintu rumah, cahaya lampu ruang tamu masih menyala terang. Rina sudah duduk menunggunya sejak tadi, dengan wajah yang tampak cemas dan menunggu. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Rina segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku sudah siapkan makanannya tadi, sudah dihangatkan lagi. Kamu pasti lelah sekali ya, makan dulu ya supaya tenagamu kembali," ucap Rina dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Namun Dimas hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak terlihat senyum seperti biasa. Ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang.
Setelah berbicara cukup lama di taman belakang kantor, malam sudah semakin larut dan udara terasa semakin sejuk. Sari yang selama ini tampak tegar dan berwibawa, kini terlihat lebih lemah dan lelah dari biasanya. Ia menatap Dimas dengan tatapan yang penuh harap, lalu mengajaknya pulang bersama. “Aku tidak ingin kamu berjalan sendirian di jalan yang sepi ini, Dimas. Lebih baik aku antar kamu sampai perempatan jalan terdekat,” kata Sari dengan suara yang masih terdengar sedikit manja dan lembut. Namun saat mereka berjalan menuju tempat parkir, langkah Sari terlihat semakin berat. Wajahnya mulai pucat dan ia sesekali menghela napas panjang. Dimas yang melihat hal itu merasa khawatir, meskipun di dalam hatinya ia justru merasa penasaran dan tertarik dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Sebenarnya aku… benar-benar lelah sekali malam ini. Kepalaku terasa berat dan tidak kuat menyetir sendiri,” ucap Sari perlahan, lalu menoleh ke arah Dimas. “Apakah kamu mau membantuku? Tolong
Namun apa yang tidak diketahui oleh Dimas, dari hari itu Sari tidak melupakan dirinya. Setiap kali ada kesempatan, Sari selalu bertanya tentang Dimas kepada rekan kerja lainnya, dan setiap kali mendengar bahwa Dimas bekerja dengan rajin dan jujur, rasa simpatinya semakin bertambah. Bagi Sari, Dimas bukan lagi sekadar karyawan biasa, tapi seseorang yang mulai menempati tempat khusus di hatinya. Hari itu, Sari memang sengaja merencanakan semuanya. Setelah mendapatkan kabar dari salah satu staf bahwa Dimas akan melakukan lembur hingga pukul delapan malam, ia tidak langsung pulang seperti biasanya. Sebaliknya, ia menunda kepulangannya, berpakaian dengan gaya yang terlihat sederhana namun tetap anggun, dan berjalan menuju bagian belakang gedung yang dekat dengan gudang tempat Dimas bekerja. Ia memilih tempat yang sunyi: taman kecil yang berisi pohon-pohon bunga dan bangku kayu tua yang jarang dikunjungi orang. Sari duduk di sana dengan posisi menunduk, bahunya terlihat bergetar s
Namun apa yang tidak diketahui oleh Rina adalah, di balik setiap senyum dan kata-kata manis itu, ada rencana jahat yang sedang disusun bersama oleh Dimas dan ibunya. Sementara Rina merasa bahagia dan lega, Dimas dan ibunya sedang berdiskusi lagi tentang masa depan. Saat mereka sedang beristira
Siang itu, di ruang tengah rumah sederhana mereka . Dimas sedang duduk dengan tenang sambil memegang ponselnya. Baru saja ia selesai makan dan kini ia memutuskan untuk menelepon istrinya, Rina yang masih berada di kantornya. Rina mengangkat telepon dengan senyum ringan saat melihat nama Dimas
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar







