Compartir

Bab 9

Autor: Bilkis29
last update Fecha de publicación: 2026-06-20 09:26:50

Hari itu akhirnya tiba. Matahari baru saja mulai meninggi di langit Bekasi, menyinari jalan raya yang mulai ramai dengan lalu lintas.

Udara terasa panas namun Rina tetap tidak peduli. Sejak pagi buta, ia sudah bangun dan sibuk mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti.

Kamar tamu yang akan dijadikan kamar untuk ibu mertuanya sudah dibersihkan hingga bersih. Kasur sudah diganti dengan sprei yang baru dan wangi, bantal dan selimut disusun rapi.

Lantai disapu dan dilap hingga kilap, jen
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 78

    Langkah kaki Rendra terasa berat saat melangkah masuk ke dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling tenang dan damai baginya. Pintu utama tertutup pelan di belakang punggungnya, menyisakan suara tawa dan keramaian dari perayaan tujuh bulanan yang baru saja ia tinggalkan. Udara di dalam rumah terasa hangat, dipenuhi aroma harum bunga dan masakan yang masih tersisa, namun hati Rendra terasa dingin dan sesak, seolah ada batu besar yang menumpuk di sana. Ia berjalan perlahan menuju balkon lantai atas, tempat yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk melepas lelah setelah seharian sibuk. Langit sore itu tampak indah, berwarna jingga keunguan yang memanjakan mata, namun pandangan mata Rendra tak mampu menikmati keindahan itu. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap kosong ke arah halaman rumah yang masih tampak ramai, namun pikirannya melayang jauh—terbawa kembali pada kata-kata yang baru saja diucapkan Casandra kepadanya, dengan suara lemah dan mata yang basah oleh air m

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 79

    Kebenaran di Balik Wajah PucatMalam itu, setelah mereka berdua saling berbagi isi hati dan tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di antara keduanya, suasana hati Rendra jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Rina duduk di sampingnya sambil mengusap lembut punggung tangan suaminya, menatapnya dengan tatapan penuh pengertian dan kasih sayang yang begitu dalam.“Besok pagi, mari kita pergi menjenguknya bersama-sama, Rendra,” ucap Rina dengan suara lembut namun tegas, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Aku tidak ingin kau menghadapi hal ini sendirian. Apa pun yang terjadi, kita adalah satu. Kita hadapi semuanya berdua.”Rendra menatap wajah istrinya yang bercahaya itu, lalu mengangguk perlahan. Rasa syukur kembali memenuhi dadanya—bagaimana ia bisa begitu beruntung memiliki istri yang begitu lembut hatinya namun juga begitu kuat pendiriannya? Ia mencium punggung tangan Rina dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mengerti. Aku tidak tahu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 77

    Malam mulai menyelimuti kota, seiring dengan turunnya matahari di ufuk barat. Langit berubah menjadi perpaduan ungu dan kelam, dihiasi remang bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Di dalam kamar yang hangat dan penuh kasih sayang, Rendra baru saja membantu Rina berbaring nyaman di atas ranjang empuknya. Ia menyelimuti tubuh istrinya dengan penuh perhatian, lalu mengusap lembut wajah cantik itu yang tampak sedikit lelah namun tetap bersinar. Perayaan tujuh bulanan tadi siang memang menyita tenaga Rina, meski senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya. "Istirahatlah yang cukup, sayang. Jangan terlalu lama menatap layar ponselmu," bisik Rendra lembut sambil mengecup kening Rina penuh kasih. Rina tersenyum menggenggam jemari suaminya. "Terima kasih, Mas. Kau juga jangan begadang terlalu lama. Ada pekerjaan yang belum selesai?" "Sedikit saja, sayang. Tak lama. Sebentar lagi aku ikut berbaring di sisimu," jawab Rendra meyakinkan. Ia mengecup kening Rina sekali lagi sebelu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 76

    Hari itu langit tampak cerah bersih, seolah ikut tersenyum menyambut hari bahagia di kediaman keluarga Rendra dan Rina. Rumah yang biasanya tenang itu kini tampak hangat, dipenuhi tawa dan sapaan ramah para tetamu yang datang membawa doa dan kebahagiaan untuk tujuh bulanan kandungan Rina. Meski Rina sendiri menginginkan perayaan yang sederhana saja, tak sanggup menolak kerinduan kerabat dan keluarga dekat yang ingin turut merasakan sukacita bersama mereka. Ruang tamu dan teras rumah dihiasi seadanya namun terlihat sangat cantik dan menyentuh hati—bunga-bunga segar berwarna lembut tersusun rapi, aroma masakan khas rumah yang menggugah selera tercium hingga ke halaman, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajah tuan rumah. Rina duduk di kursi empuk yang disiapkan khusus untuknya, mengenakan gaun longgar berwarna gading yang sangat anggun, menonjolkan kelembutan auranya. Perutnya yang mulai membuncit tampak begitu indah dibingkai kain itu, seolah menjadi lambing kasih sayang yang

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 75

    Kabar kelahiran putra Dimas dan Sari menyebar begitu cepat, seolah angin membawa berita bahagia itu ke setiap sudut kota. Foto bayi mungil yang diposting ibu Dimas di media sosial disebarkan ulang, dibagikan dalam grup kenalan, dan menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai lingkaran pertemanan. Tak terkecuali hingga ke telinga Bu Widya, yang saat itu sedang duduk santai di ruang tengah rumahnya bersama Rina dan Rendra. “Lihatlah ini, Nak,” ucap Bu Widya sambil menyerahkan ponselnya kepada Rina, nada bicaranya santai namun penuh tanda tanya. “Kabarnya Dimas dan istrinya telah dikaruniai seorang putra yang sehat. Semua orang memuji kebahagiaan mereka, mengatakan bahwa itu adalah anugerah yang sangat ditunggu-tunggu.” Rina menerima ponsel itu, menatap foto bayi yang tersenyum mungil dalam selimut lembut. Di sampingnya tertulis ucapan syukur yang panjang, menyebutkan bahwa darah daging Dimas telah lahir ke dunia dengan selamat. Perlahan senyum tipis mengembang di bibir R

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 74

    Keheningan panjang masih menyelimuti kamar itu. Dewa menunduk dalam, tangannya mengepal erat menahan rasa bersalah yang menyayat hati. Ia tahu betapa setianya Lia, tahu betapa wanita itu telah merawat rumah tangga mereka dengan penuh kesabaran selama sepuluh tahun pernikahan yang tidak didasari cinta. Lia tidak pernah menuntut lebih, tidak pernah mengeluh meskipun ia tahu hati Dewa masih menyimpan ruang untuk masa lalu. Melihat air mata mengalir di pipi istrinya, hati Dewa terasa remuk. Ia tidak sanggup melontarkan kebohongan yang akan semakin melukai hati wanita yang telah begitu setia mendampinginya. “Maafkan aku, Lia,” ucap Dewa pelan, suaranya terdengar berat dan penuh kepedihan. “Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi ada hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan sekarang. Aku hanya minta waktu untuk menenangkan diri.” Lia mengusap air matanya dengan punggung tangan, menatap suaminya dengan pandangan yang masih berharap namun mulai pasrah. “Aku tidak akan memaksamu bicara, Ma

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 1

    "Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status