登入
"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur.
Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja, kemarin aku pulang larut malam dari tempat kerja." "Alasan saja!" Dimas menggebrak meja kecil di samping kasur, membuat barang-barang di atasnya bergetar. "Kerja, kerja, tapi uangnya tidak pernah cukup. Kamu yang tidak pandai mengatur uang, ya kan? Atau mungkin kamu menyembunyikannya di belakangku?" "Tidak, Mas... semua uang yang aku dapatkan aku berikan kepadamu dan untuk kebutuhan rumah," jawab Rina lemah. Gajinya sebagai buruh jahit memang tidak seberapa, namun ia berusaha sekuat tenaga agar kebutuhan dasar terpenuhi. Tapi Dimas selalu saja tidak puas. Uang yang ia berikan seringkali habis untuk rokok atau nongkrong bersama teman-temannya, dan saat uang habis, ia kembali marah-marah, menyalahkan Rina karena tidak memberi lebih banyak. Awalnya Rina hanya sedikit berhutang untuk membeli beras atau membayar listrik. Ia berpikir, nanti ia akan lunasi saat gajian. Setiap kali ada tagihan atau Dimas meminta uang untuk keperluannya sendiri, Rina terpaksa kembali meminjam—dari tetangga, dari teman kerja, hingga ke rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi. Hutang-hutang itu kini menumpuk. Surat tagihan sering terselip di balik pintu, atau ada orang yang datang menagih langsung ke rumah. Rina harus berdalih dan berjanji akan membayar nanti, dengan hati yang berdebar ketakutan. Ia tidak berani menceritakan hal ini pada Dimas. Ia tahu, jika Dimas tahu, ia tidak akan merasa bersalah, malah akan makin marah dan menyalahkan Rina karena "membawa masalah" ke dalam rumah tangga mereka. Suatu sore, saat Rina baru saja pulang dengan badan yang lelah dan kantong yang kosong, ia mendengar suara Dimas yang berteriak dari dalam rumah. "Dari mana saja kamu ?! Aku sudah menunggu dari tadi, tidak ada makanan, tidak ada uang! Kamu ini istri macam apa?!" Rina masuk dengan langkah berat. "Maaf, Mas... hari ini pesanan banyak sekali, aku harus menyelesaikannya dulu. Dan uangnya... sebagian dipotong karena aku terlambat kemarin." Dimas berdiri, mendekati Rina dengan tatapan tajam. "Potong? Jadi kamu pulang dengan tangan kosong? Ia mendorong bahu Rina hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Rina menahan tangisnya, rasa sakit di hati jauh lebih perih daripada rasa sakit fisik. "Bukan begitu, Mas. Aku berusaha sekuat tenaga. Tapi gajiku kecil, dan kita juga punya banyak kebutuhan... ditambah lagi hutang-hutang yang harus aku bayar." Dimas berhenti sejenak, lalu matanya membelalak. "Hutang? Hutang apa? Kamu berani-beraninya berhutang tanpa sepengetahuanku?. Kamu benar-benar tidak berguna! Kamu membuat nama aku buruk di mata orang lain!" "Aku terpaksa, Mas!" Rina akhirnya berani bicara lebih keras, air matanya jatuh tak terbendung lagi. "Aku berhutang supaya kita bisa makan, supaya kita bisa bayar listrik dan air! Karena kamu tidak mau bekerja, karena kamu cuma bisa marah-marah dan menuntut ini itu! Aku sudah lelah, Mas... aku sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian." Dimas terdiam sesaat, tapi bukannya merasa bersalah, ia malah makin marah. "Jadi sekarang kamu berani melawanku? Kamu lupa siapa suamimu? Kalau kamu tidak bisa mengurus rumah tangga ini dengan baik, itu salahmu sendiri! Jangan menyalahkanku!" Ia berbalik dan pergi meninggalkan rumah, membanting pintu dengan keras hingga dinding rumah terasa bergetar. Rina jatuh berlutut di lantai, menangis sejadi-jadinya. Di sekelilingnya, ia merasa terperangkap dalam lingkaran setan: suami yang dzalim dan tidak bertanggung jawab, hutang yang makin menumpuk, dan masa depan yang terasa gelap tanpa harapan. Malam itu, saat Dimas belum pulang, Rina duduk sendirian di sudut ruangan. Ia memandangi selembar kertas catatan hutang yang penuh dengan angka-angka yang membuat kepalanya pening. Ia sadar, selama ini ia salah. Ia berpikir bahwa dengan mengalah, bekerja keras, dan menutupi kekurangan suaminya, rumah tangganya akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya, pengorbanannya hanya membuat Dimas makin nyaman dengan kemalasannya dan makin dzalim padanya. Rina mengusap air matanya, napasnya panjang dan berat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Apakah ia harus terus bertahan dalam penderitaan ini, ataukah ia harus berani mengambil keputusan yang sulit demi menyelamatkan dirinya sendiri dari jeratan hutang dan perlakuan dzalim suaminya. Satu hal yang ia sadari malam itu: kasih sayang dan kesabaran saja tidak cukup untuk mengubah seseorang yang tidak mau berubah, dan ia tidak bisa terus-menerus mengorbankan hidupnya demi orang yang tidak pernah menghargainya. Hari-hari Rina berjalan bagai roda yang berputar terus tanpa henti, namun tak pernah membawa ia ke tempat yang lebih baik. Hutang-hutang itu kini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan bayang-bayang hitam yang selalu mengikuti ke mana pun ia melangkah. Setiap kali ada ketukan pintu yang keras, jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu pasti penagih utang. Ada yang datang dengan nada bicara masih sopan, ada pula yang berteriak di depan pagar, membuat tetangga-tetangga keluar dan menatap rumah itu dengan pandangan bertanya. Dan di saat-saat itulah, wajah Dimas berubah. Rasa malunya bukan karena ia tidak bekerja dan tidak menafkahi keluarganya, melainkan karena ia merasa malu dianggap punya istri yang "tidak pandai mengatur uang". Suatu sore, saat Rina baru saja sampai di depan pagar rumah dengan langkah gontai, ia melihat dua orang lelaki berdiri di depan pintu. Itu adalah orang yang dulu meminjamkan uang padanya saat Dimas sakit—padahal saat itu pun Dimas hanya sakit demam biasa dan menolak berobat ke puskesmas karena merasa "rendahan". "Assalamu’alaikum, Bu Rina. Kami datang untuk menagih uang yang dulu Bunda pinjam. Sudah lewat jatuh tempo dua bulan ini," ujar salah satu lelaki itu dengan nada tegas. Belum sempat Rina menjawab, pintu rumah terbuka lebar. Dimas keluar dengan wajah merah padam, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena marah. Ia langsung berdiri di depan kedua orang itu, seolah ia adalah pemimpin rumah tangga yang hebat. "Wah, maafkan saya, Bapak-bapak! Saya benar-benar malu sekali!" seru Dimas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, suaranya cukup keras agar tetangga yang mulai mengintip dari balik pagar bisa mendengar. "Istri saya ini memang begini sifatnya. Diam-diam berhutang ke mana-mana, tidak pernah bilang sama saya. Saya saja baru tahu kalau dia punya utang banyak begini! Dia yang tidak pandai mengelola keuangan, boros, dan selalu saja mempermalukan saya di depan orang lain." Rina terpaku di tempat, kakinya terasa berat seolah tertanam di tanah. Lidahnya kaku, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Hati rasanya disayat-sayat. Dimas berbicara seolah dialah korban, seolah ia adalah suami yang bertanggung jawab yang terbebani oleh kelakuan buruk istrinya. Padahal, setiap rupiah yang dipinjam itu habis untuk beli beras, untuk rokok Dimas, untuk membayar listrik yang sudah lama menunggak—semua kebutuhan yang seharusnya ditanggung oleh kepala keluarga. Rina menelan ludah yang terasa pahit. Ia mendekat, suaranya bergetar saat berkata, "Maafkan kami, Pak. Saya berjanji minggu depan pasti lunas. Saya baru dapat kerjaan jahit banyak, hasilnya akan saya gunakan untuk membayar ini." Setelah penagih itu pergi sambil menggelengkan kepala, Dimas langsung membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah dengan kasar. Begitu pintu tertutup, amarahnya meledak. Ia membanting kursi kayu di ruang tengah hingga terbalik. "Kamu lihat itu? Kamu lihat betapa malunya saya tadi?!" teriaknya, wajahnya merah padam menahan emosi. "Semua orang di kampung ini pasti sekarang mengira saya suami yang sial, dapat istri yang tidak tahu diri, banyak utang, dan boros! Kamu memang tidak pernah bisa bikin saya bangga, yang ada cuma malu dan malu terus!" Rina berdiri di sudut ruangan, air matanya menetes tanpa suara. "Mas... semua uang itu aku pakai untuk kebutuhan kita. Untuk makan, untuk bayar listrik, untuk beli rokok yang kamu minta setiap hari. Kalau kamu mau bekerja sedikit saja, aku tidak perlu sampai berhutang begini..." "Alasan saja!" potong Dimas cepat, berjalan mendekati Rina hingga wanita itu mundur ketakutan. "Tugas istri itu mengatur apa yang ada. Gaji kamu ada, tapi kok bisa kurang? Itu salah kamu, karena kamu yang tidak pandai mengatur! Jangan selalu cari alasan dan menyalahkan saya. Saya laki-laki, saya punya harga diri! Saya malu kalau orang tahu rumah tangga kita kekurangan. Dan semua ini salahmu!" Bagi Dimas, harga dirinya lebih mahal daripada kenyataan pahit. Ia lebih suka menjelekkan nama istrinya di depan umum, membuat orang lain berpikir bahwa Rina adalah wanita yang boros dan tidak bertanggung jawab, daripada mengakui bahwa ia sendiri adalah lelaki pemalas yang tidak mau bekerja, yang membiarkan istrinya menanggung beban hidup sendirian. Hari demi hari, perlakuan itu makin menjadi-jadi. Setiap kali ada orang datang menagih, Dimas selalu mengulang skenario yang sama. Ia akan keluar dengan wajah sedih dan malu, lalu bercerita ke siapa saja yang mau mendengar bahwa ia sangat kecewa dengan kelakuan istrinya yang suka berhutang diam-diam. Ia bahkan berani berkata pada tetangga, "Saya sebenarnya sudah berusaha memberi nafkah cukup, tapi dia yang tidak puas, dia yang boros. Saya sampai malu bergaul karena ulahnya." Berita itu menyebar cepat. Tatapan tetangga berubah. Dulu mereka kasihan melihat Rina pulang pergi bekerja dari pagi sampai malam, tapi sekarang banyak yang berbisik-bisik, menganggap Rina memang wanita yang tidak pandai mengelola uang atau bahkan boros. Ada yang menasihatinya, ada yang mencibir, ada pula yang menjauh. Rina merasa dunianya sempit dan gelap. Ia sendirian. Suaminya yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi orang yang paling tajam menusuknya dari belakang.Rina masih berdiri terpaku di depan pagar rumah, matanya masih menatap jauh ke arah jalan yang baru saja dilalui mobil hitam itu. Hawa pagi yang sejuk tidak terasa sama sekali, pikirannya penuh dengan tanda tanya yang berputar tak beraturan. Hingga langkah seorang wanita mendekat dan memecah lamunannya. "Rina? Kamu masih di sini saja?" Rina menoleh cepat dan melihat Dita, istri dari Pak Anto, tetangga mereka yang tinggal tidak jauh dari sana. Dita sedang berjalan pulang dari warung kecil di ujung jalan, memegang kantong plastik berisi minuman dan bekal kecil. Wajahnya terlihat sibuk namun ramah seperti biasa. Rina segera menyambutnya dengan sedikit terkejut, lalu memanggil dengan nada terburu-buru, "Bu Dita! Cepat sini dulu, mau ke mana saja pagi begini?" Dita tersenyum sambil menyesuaikan tas di bahunya, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah Rina. "Aku mau belikan minuman buat Pak Anto dan timnya. Hari ini mereka berangkat ke Bandung pagi-pagi sekali buat urusan p
Matahari baru saja muncul di ufuk timur, menyebarkan cahaya lembut ke seluruh perumahan di Bekasi. Udara pagi itu masih terasa sejuk, namun di dalam rumah sederhana milik Dimas dan Rina, suasana terasa tegang dan berat. Rina sudah berdiri di dapur sejak pukul enam pagi. Ia menyiapkan nasi hangat, telur dadar kesukaan Dimas, serta teh manis yang selalu ia buat dengan takaran yang pas. Semuanya disusun rapi di atas meja makan, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari—menunggu suaminya bangun dan menikmati sarapan bersama sebelum Dimas berangkat bekerja. Namun pagi ini, hal itu tidak terjadi seperti biasa. Pintu kamar terbuka perlahan. Dimas keluar dengan pakaian yang jauh lebih rapi daripada hari-hari sebelumnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang terlihat baru, celana kain yang disetrika dengan sempurna, dan sepatu kulit yang ia jarang gunakan sehari-hari. Aroma parfum yang samar namun mewah kembali tercium, jauh berbeda dengan wangi sabun biasa
“Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka
Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.
Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti
Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak a
Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukung
Namun apa yang tidak diketahui oleh Rina adalah, di balik setiap senyum dan kata-kata manis itu, ada rencana jahat yang sedang disusun bersama oleh Dimas dan ibunya. Sementara Rina merasa bahagia dan lega, Dimas dan ibunya sedang berdiskusi lagi tentang masa depan. Saat mereka sedang beristira
Hari itu akhirnya tiba. Matahari baru saja mulai meninggi di langit Bekasi, menyinari jalan raya yang mulai ramai dengan lalu lintas. Udara terasa panas namun Rina tetap tidak peduli. Sejak pagi buta, ia sudah bangun dan sibuk mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti. Kamar tamu yang akan







