로그인Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela.
Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa sesak. Apa dosaku sehingga aku harus mengalami ini semua? batinnya menangis. Aku bekerja keras, aku berkorban, aku menahan malu, tapi yang aku dapat cuma hinaan dan beban yang makin berat. Namun di tengah keputusasaan itu, ada sedikit api kecil yang mulai menyala di dalam hatinya. Ia sadar, selama ini ia diam saja karena berharap Dimas akan berubah, berharap kesabarannya akan dihargai. Tapi kenyataannya, diamnya ia justru membuat Dimas makin berani berbuat dzalim, makin enak melemparkan semua kesalahan padanya Malam itu, Rina berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan terus begini. Ia harus mencari jalan keluar, bukan hanya untuk melunasi hutang, tapi juga untuk menyelamatkan sisa harga dirinya yang masih tersisa. Meskipun ia tidak tahu caranya, meskipun jalan ke depan terlihat sangat sulit, ia tahu satu hal: ia tidak boleh lagi membiarkan Dimas menjadikannya kambing hitam atas semua masalah yang mereka hadapi. Esok harinya, Rina bangun lebih pagi dari biasanya. Ada tekad baru yang mulai tumbuh, meski rasa takut masih menghantui. Ia harus berjuang—melawan hutang. Melawan pandangan buruk orang lain, dan yang paling berat: melawan suaminya sendiri yang lebih memilih memelihara harga dirinya yang palsu daripada bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangganya. Malam itu, setelah Rina membuat janji teguh pada dirinya sendiri, ia menyusun kembali seluruh niatnya. Tidak ada lagi pinjaman, tidak ada lagi diam saat disalahkan, dan tidak ada lagi pengorbanan sepihak yang hanya dimanfaatkan Dimas. Ia akan hidup apa adanya: apa yang ada akan dimakan, apa yang tidak ada ya tidak usah dipaksa. Ia tidak akan lagi memeras keringat dan air mata hanya untuk menutupi kemalasan suaminya, apalagi sampai menggadaikan masa depan dengan hutang yang tak kunjung selesai. Perubahan itu terasa jelas sejak pagi berikutnya. Saat sarapan hanya ada nasi dan garam, Dimas langsung cemberut. "Apa ini? Kamu mau kita mati kelaparan? Tidak ada lauk lain? Kamu dapat uang kemarin ke mana saja?" sergahnya dengan nada tinggi, siap meledak kapan saja. Rina menatapnya tenang, tidak lagi menunduk seperti biasanya. "Uangnya habis, Mas. Untuk bayar sebagian hutang yang dulu. Sisanya untuk listrik. Sekarang memang tidak ada uang lagi. Kalau mau makan enak, ya cari uang. Aku sudah tidak mau berhutang lagi, cukup sampai di situ saja aku dipermalukan orang gara-gara hutang yang kita pakai berdua." Dimas terkejut mendengar jawaban tegas itu. Ia hendak marah, tapi melihat tatapan Rina yang tidak lagi luluh, ia hanya mendengus kasar dan pergi meninggalkan meja makan, menggerutu soal nasib sialnya dapat istri pelit dan tidak berguna. Namun ujian sesungguhnya datang saat malam tiba. Seperti kebiasaan yang selalu ia tuntut, Dimas masuk ke kamar dengan wajah yang sudah ia ubah menjadi lembut, seolah hari ini ia tidak pernah memaki atau menyakiti hati istrinya. Ia mendekati Rina yang sedang duduk di pinggir kasur melipat baju, lalu merangkul bahu wanita itu dengan gerakan yang menuntut. "Rina..." bisiknya, suaranya berubah manja. "Sudah malam, ayo kita istirahat. Suamimu ini butuh perhatian, lho." Tangan Dimas mulai bergerak, mencoba menarik Rina agar berbaring di sampingnya. Biasanya, Rina akan menurut meski hatinya sedang terluka, meski tubuhnya lelah luar biasa. Ia selalu menganggap itu kewajiban istri, meski suaminya sendiri melalaikan semua kewajibannya sebagai kepala keluarga. Tapi malam ini, Rina dengan halus namun tegas melepaskan rangkulan tangan Dimas. Ia memutar badan, menatap lurus ke mata lelaki itu. "Maaf, Mas. Malam ini aku tidak mau," ucapnya pelan tapi jelas. Wajah Dimas langsung berubah kejam. Kelembutan di wajahnya lenyap seketika, digantikan tatapan bingung sekaligus marah. "Apa maksudmu? Kamu istriku! Melayani kebutuhan suami itu kewajibanmu, tahu tidak? Kamu berani menolak aku?" Rina menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang baru saja ia temukan. "Aku tahu itu kewajiban istri, Mas. " Tapi aku juga tahu, ada kewajiban suami yang jauh lebih besar dan utama menurut agama dan aturan kita". "Kewajiban memberi nafkah, memberi makan, memberi tempat tinggal, dan memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak". " Selama ini, apa yang pernah Mas berikan padaku? Tidak ada". " Semua yang ada di rumah ini, semua yang kita makan, semuanya hasil keringatku. Bahkan hutang-hutang yang Mas tuduhkan padaku itu pun semuanya untuk kebutuhan kita." Dimas terdiam, wajahnya memerah menahan amarah yang mulai meluap karena merasa ditegur. "Itu urusanmu! Tugas perempuan itu mengurus apa yang ada. Laki-laki punya harga diri, tidak boleh sembarangan kerja rendahan..." Rina memotong pembicaraannya, suaranya makin mantap dan tidak lagi gemetar. "Harga diri? Harga diri macam apa yang membiarkan istrinya banting tulang dari pagi sampai malam? Harga diri macam apa yang diam saja saat orang lain menagih hutang, lalu malah menjelekkan istrinya supaya terlihat bersih sendiri? Mas, dengar baik-baik. Aku melayani suami itu hak Mas, tapi hanya kalau Mas juga menjalankan hakku sebagai istri". " Kalau Mas tidak mau menafkahiku, tidak mau bertanggung jawab, dan malah menambah beban hidupku, maka jangan harap aku akan memberikan apa yang Mas minta. Kewajiban itu timbal balik, Mas. Bukan satu arah saja." "Kamu... kamu berani sekali bicara begitu sama suamimu!" Dimas menggebrak kasur, matanya melotot. "Kamu lupa diri ya? Kamu mau durhaka? Kamu mau masuk neraka karena menolak suami?" Rina menggeleng pelan, air matanya menetes bukan lagi karena takut, tapi karena sedih melihat betapa sempitnya pemikiran suaminya. "Aku tidak durhaka, Mas. Aku cuma minta keadilan. Aku berani begini karena aku sadar, aku sudah berbuat salah selama ini dengan menuruti semua kemauanmu padahal kamu tidak menafkahi uang sedikit pun". "Aku sudah menanggung dosa itu cukup lama. Mulai sekarang, aku tidak mau lagi. " "Kalau Mas ingin dilayani, tolong jalankan kewajibanmu dulu sebagai kepala keluarga. Cari kerja, beri aku nafkah yang halal, jangan biarkan aku hidup susah dan berhutang. Kalau sudah begitu, baru bicara soal hak suami." Malam itu berakhir dengan pertengkaran hebat. Dimas berteriak, memaki, menyebut Rina istri yang tidak tahu diuntung, pembangkang, dan berbagai kata kasar lainnya. Ia marah besar karena untuk pertama kalinya, alat kekuasaannya yang paling ampuh—memerintah dan menuntut hak tanpa memberi kewajiban—telah patah. Ia terbiasa Rina diam, terbiasa Rina menurut, terbiasa Rina ada di sana untuk memenuhi segala keinginannya tanpa syarat. Dan kini, pintu itu tertutup rapat. Hari-hari berikutnya menjadi medan perang yang dingin. Dimas berusaha menuntut haknya lagi beberapa kali, tapi jawaban Rina selalu sama, tenang namun tak tergoyahkan: "Sudah ada nafkahnya belum, Mas? Kalau belum, jangan minta hakmu dulu." Setiap kali ada orang datang menagih—dan jumlahnya makin berkurang karena Rina benar-benar berhenti berhutang dan membayar sedikit demi sedikit dari hasil kerjanya. Dimas kembali mencoba memainkan peran seolah ia korban. Namun kali ini Rina tidak lagi diam di belakangnya. Suatu hari, tetangga sebelah datang menagih sisa uang yang dulu dipinjam untuk beli beras. Dimas langsung mau bersuara, "Ah, Bu, maafkan saya... istri saya ini..." Belum selesai ia bicara, Rina sudah berdiri tegak di sampingnya, berbicara pada tetangga itu dengan jujur. "Ibu, benar saya yang meminjam dulu. Tapi harus Ibu tahu, uang itu dipakai untuk makan kami berdua, karena suami saya sampai sekarang belum ada penghasilan sama sekali", "Saya berhutang karena terpaksa, bukan karena boros. Sekarang saya kerja keras untuk bayar lunas, dan saya sudah berjanji tidak akan berhutang lagi. Mohon maaf kalau selama ini ada gangguan." Dimas tertegun, mulutnya terkatup rapat. Ia tidak bisa lagi memutarbalikkan fakta karena Rina sudah berani bicara apa adanya di depan orang lain. Ia malu, bukan karena kasihan pada istrinya, tapi karena kedoknya terbongkar.“Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka
Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.
Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti
Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak apa-apa Bu, cuma Rina saja yang sensitif sekali. Aku cuma bilang ke dia supaya dia lebih jaga penampilan dan kebersihan saja." "Kamu bicara apa itu?" Ibu Dimas langsung menatap anaknya dengan tajam. "Meskipun Rina itu tidak punya banyak uang, dia sudah bekerja keras menjaga rumah dan melayani kita selama ini. Kamu kok bisa bicara kasar dan menghina dia begitu? Bau asem apa yang kamu maksud? Dia sudah mandi dan merawat diri seperti biasa." Ibu Dimas kemudian berbalik menghadap Rina dan memegang bahu menantunya itu. "Jangan didengarkan kata-kata kasar anakku ya, Nak. Dia cuma sedang capek dan tidak berpikir panjang. Ibu minta maaf atas perkataan anakku itu." Namun yang tidak diduga oleh
Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukungan dari wanita yang sangat ia inginkan. Saat ia membuka pintu rumah, cahaya lampu ruang tamu masih menyala terang. Rina sudah duduk menunggunya sejak tadi, dengan wajah yang tampak cemas dan menunggu. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Rina segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku sudah siapkan makanannya tadi, sudah dihangatkan lagi. Kamu pasti lelah sekali ya, makan dulu ya supaya tenagamu kembali," ucap Rina dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Namun Dimas hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak terlihat senyum seperti biasa. Ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang.
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar
Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci
Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai







