แชร์

Kejamnya Mulut Suamiku
Kejamnya Mulut Suamiku
ผู้แต่ง: Bilkis29

Bab 1

ผู้เขียน: Bilkis29
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-17 08:08:05

"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur.

Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja, kemarin aku pulang larut malam dari tempat kerja."

"Alasan saja!" Dimas menggebrak meja kecil di samping kasur, membuat barang-barang di atasnya bergetar.

"Kerja, kerja, tapi uangnya tidak pernah cukup. Kamu yang tidak pandai mengatur uang, ya kan? Atau mungkin kamu menyembunyikannya di belakangku?"

"Tidak, Mas... semua uang yang aku dapatkan aku berikan kepadamu dan untuk kebutuhan rumah," jawab Rina lemah.

Gajinya sebagai buruh jahit memang tidak seberapa, namun ia berusaha sekuat tenaga agar kebutuhan dasar terpenuhi.

Tapi Dimas selalu saja tidak puas. Uang yang ia berikan seringkali habis untuk rokok atau nongkrong bersama teman-temannya, dan saat uang habis, ia kembali marah-marah, menyalahkan Rina karena tidak memberi lebih banyak.

Awalnya Rina hanya sedikit berhutang untuk membeli beras atau membayar listrik. Ia berpikir, nanti ia akan lunasi saat gajian.

Setiap kali ada tagihan atau Dimas meminta uang untuk keperluannya sendiri,

Rina terpaksa kembali meminjam—dari tetangga, dari teman kerja, hingga ke rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi.

Hutang-hutang itu kini menumpuk. Surat tagihan sering terselip di balik pintu, atau ada orang yang datang menagih langsung ke rumah.

Rina harus berdalih dan berjanji akan membayar nanti, dengan hati yang berdebar ketakutan.

Ia tidak berani menceritakan hal ini pada Dimas. Ia tahu, jika Dimas tahu, ia tidak akan merasa bersalah, malah akan makin marah dan menyalahkan Rina karena "membawa masalah" ke dalam rumah tangga mereka.

Suatu sore, saat Rina baru saja pulang dengan badan yang lelah dan kantong yang kosong, ia mendengar suara Dimas yang berteriak dari dalam rumah.

"Dari mana saja kamu ?! Aku sudah menunggu dari tadi, tidak ada makanan, tidak ada uang! Kamu ini istri macam apa?!"

Rina masuk dengan langkah berat. "Maaf, Mas... hari ini pesanan banyak sekali, aku harus menyelesaikannya dulu.

Dan uangnya... sebagian dipotong karena aku terlambat kemarin."

Dimas berdiri, mendekati Rina dengan tatapan tajam. "Potong? Jadi kamu pulang dengan tangan kosong?

Ia mendorong bahu Rina hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Rina menahan tangisnya, rasa sakit di hati jauh lebih perih daripada rasa sakit fisik.

"Bukan begitu, Mas. Aku berusaha sekuat tenaga. Tapi gajiku kecil, dan kita juga punya banyak kebutuhan... ditambah lagi hutang-hutang yang harus aku bayar."

Dimas berhenti sejenak, lalu matanya membelalak. "Hutang? Hutang apa? Kamu berani-beraninya berhutang tanpa sepengetahuanku?.

Kamu benar-benar tidak berguna! Kamu membuat nama aku buruk di mata orang lain!"

"Aku terpaksa, Mas!" Rina akhirnya berani bicara lebih keras, air matanya jatuh tak terbendung lagi.

"Aku berhutang supaya kita bisa makan, supaya kita bisa bayar listrik dan air!

Karena kamu tidak mau bekerja, karena kamu cuma bisa marah-marah dan menuntut ini itu! Aku sudah lelah, Mas... aku sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian."

Dimas terdiam sesaat, tapi bukannya merasa bersalah, ia malah makin marah.

"Jadi sekarang kamu berani melawanku? Kamu lupa siapa suamimu? Kalau kamu tidak bisa mengurus rumah tangga ini dengan baik, itu salahmu sendiri! Jangan menyalahkanku!"

Ia berbalik dan pergi meninggalkan rumah, membanting pintu dengan keras hingga dinding rumah terasa bergetar.

Rina jatuh berlutut di lantai, menangis sejadi-jadinya.

Di sekelilingnya, ia merasa terperangkap dalam lingkaran setan: suami yang dzalim dan tidak bertanggung jawab, hutang yang makin menumpuk, dan masa depan yang terasa gelap tanpa harapan.

Malam itu, saat Dimas belum pulang, Rina duduk sendirian di sudut ruangan.

Ia memandangi selembar kertas catatan hutang yang penuh dengan angka-angka yang membuat kepalanya pening.

Ia sadar, selama ini ia salah. Ia berpikir bahwa dengan mengalah, bekerja keras, dan menutupi kekurangan suaminya, rumah tangganya akan baik-baik saja.

Tapi kenyataannya, pengorbanannya hanya membuat Dimas makin nyaman dengan kemalasannya dan makin dzalim padanya.

Rina mengusap air matanya, napasnya panjang dan berat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Apakah ia harus terus bertahan dalam penderitaan ini, ataukah ia harus berani mengambil keputusan yang sulit demi menyelamatkan dirinya sendiri dari jeratan hutang dan perlakuan dzalim suaminya.

Satu hal yang ia sadari malam itu: kasih sayang dan kesabaran saja tidak cukup untuk mengubah seseorang yang tidak mau berubah, dan ia tidak bisa terus-menerus mengorbankan hidupnya demi orang yang tidak pernah menghargainya.

Hari-hari Rina berjalan bagai roda yang berputar terus tanpa henti, namun tak pernah membawa ia ke tempat yang lebih baik.

Hutang-hutang itu kini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan bayang-bayang hitam yang selalu mengikuti ke mana pun ia melangkah.

Setiap kali ada ketukan pintu yang keras, jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu pasti penagih utang.

Ada yang datang dengan nada bicara masih sopan, ada pula yang berteriak di depan pagar, membuat tetangga-tetangga keluar dan menatap rumah itu dengan pandangan bertanya.

Dan di saat-saat itulah, wajah Dimas berubah. Rasa malunya bukan karena ia tidak bekerja dan tidak menafkahi keluarganya, melainkan karena ia merasa malu dianggap punya istri yang "tidak pandai mengatur uang".

Suatu sore, saat Rina baru saja sampai di depan pagar rumah dengan langkah gontai, ia melihat dua orang lelaki berdiri di depan pintu.

Itu adalah orang yang dulu meminjamkan uang padanya saat Dimas sakit—padahal saat itu pun Dimas hanya sakit demam biasa dan menolak berobat ke puskesmas karena merasa "rendahan".

"Assalamu’alaikum, Bu Rina. Kami datang untuk menagih uang yang dulu Bunda pinjam. Sudah lewat jatuh tempo dua bulan ini," ujar salah satu lelaki itu dengan nada tegas.

Belum sempat Rina menjawab, pintu rumah terbuka lebar.

Dimas keluar dengan wajah merah padam, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena marah.

Ia langsung berdiri di depan kedua orang itu, seolah ia adalah pemimpin rumah tangga yang hebat.

"Wah, maafkan saya, Bapak-bapak! Saya benar-benar malu sekali!" seru Dimas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, suaranya cukup keras agar tetangga yang mulai mengintip dari balik pagar bisa mendengar.

"Istri saya ini memang begini sifatnya. Diam-diam berhutang ke mana-mana, tidak pernah bilang sama saya. Saya saja baru tahu kalau dia punya utang banyak begini! Dia yang tidak pandai mengelola keuangan, boros, dan selalu saja mempermalukan saya di depan orang lain."

Rina terpaku di tempat, kakinya terasa berat seolah tertanam di tanah. Lidahnya kaku, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Hati rasanya disayat-sayat.

Dimas berbicara seolah dialah korban, seolah ia adalah suami yang bertanggung jawab yang terbebani oleh kelakuan buruk istrinya.

Padahal, setiap rupiah yang dipinjam itu habis untuk beli beras, untuk rokok Dimas, untuk membayar listrik yang sudah lama menunggak—semua kebutuhan yang seharusnya ditanggung oleh kepala keluarga.

Rina menelan ludah yang terasa pahit. Ia mendekat, suaranya bergetar saat berkata, "Maafkan kami, Pak. Saya berjanji minggu depan pasti lunas. Saya baru dapat kerjaan jahit banyak, hasilnya akan saya gunakan untuk membayar ini."

Setelah penagih itu pergi sambil menggelengkan kepala, Dimas langsung membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah dengan kasar.

Begitu pintu tertutup, amarahnya meledak. Ia membanting kursi kayu di ruang tengah hingga terbalik.

"Kamu lihat itu? Kamu lihat betapa malunya saya tadi?!" teriaknya, wajahnya merah padam menahan emosi.

"Semua orang di kampung ini pasti sekarang mengira saya suami yang sial, dapat istri yang tidak tahu diri, banyak utang, dan boros! Kamu memang tidak pernah bisa bikin saya bangga, yang ada cuma malu dan malu terus!"

Rina berdiri di sudut ruangan, air matanya menetes tanpa suara. "Mas... semua uang itu aku pakai untuk kebutuhan kita. Untuk makan, untuk bayar listrik, untuk beli rokok yang kamu minta setiap hari. Kalau kamu mau bekerja sedikit saja, aku tidak perlu sampai berhutang begini..."

"Alasan saja!" potong Dimas cepat, berjalan mendekati Rina hingga wanita itu mundur ketakutan. "Tugas istri itu mengatur apa yang ada. Gaji kamu ada, tapi kok bisa kurang? Itu salah kamu, karena kamu yang tidak pandai mengatur! Jangan selalu cari alasan dan menyalahkan saya. Saya laki-laki, saya punya harga diri! Saya malu kalau orang tahu rumah tangga kita kekurangan. Dan semua ini salahmu!"

Bagi Dimas, harga dirinya lebih mahal daripada kenyataan pahit.

Ia lebih suka menjelekkan nama istrinya di depan umum, membuat orang lain berpikir bahwa Rina adalah wanita yang boros dan tidak bertanggung jawab, daripada mengakui bahwa ia sendiri adalah lelaki pemalas yang tidak mau bekerja, yang membiarkan istrinya menanggung beban hidup sendirian.

Hari demi hari, perlakuan itu makin menjadi-jadi. Setiap kali ada orang datang menagih,

Dimas selalu mengulang skenario yang sama. Ia akan keluar dengan wajah sedih dan malu, lalu bercerita ke siapa saja yang mau mendengar bahwa ia sangat kecewa dengan kelakuan istrinya yang suka berhutang diam-diam.

Ia bahkan berani berkata pada tetangga, "Saya sebenarnya sudah berusaha memberi nafkah cukup, tapi dia yang tidak puas, dia yang boros. Saya sampai malu bergaul karena ulahnya."

Berita itu menyebar cepat. Tatapan tetangga berubah.

Dulu mereka kasihan melihat Rina pulang pergi bekerja dari pagi sampai malam, tapi sekarang banyak yang berbisik-bisik, menganggap Rina memang wanita yang tidak pandai mengelola uang atau bahkan boros.

Ada yang menasihatinya, ada yang mencibir, ada pula yang menjauh.

Rina merasa dunianya sempit dan gelap. Ia sendirian.

Suaminya yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi orang yang paling tajam menusuknya dari belakang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 93

    Pagi yang kelabu di rumah keluarga Bu Widya membawa beban yang tak terlukiskan bagi Rina. Sejak kejadian muntah darah dan dilarikannya Casandra ke rumah sakit, keresahan di hati Rina tak kunjung mereda. Meski pemandangan itu begitu mengerikan dan tampak nyata, namun naluri Rina sebagai istri yang selama ini sering melihat kepura-puraan dan kelicikan Casandra terus berbisik bahwa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang belum terungkap sepenuhnya di balik semua penderitaan itu. Rina duduk termenung di sudut ruang tamu yang luas namun terasa dingin. Ia teringat betapa selama berbulan-bulan ia menjadi sasaran kecemburuan, fitnah, dan kebohongan yang disusun rapi oleh Casandra. Pura-pura sakit kanker rahim, membayar dokter dengan harga sangat mahal, menjalani kemoterapi yang sebenarnya tidak perlu, hingga melakukan diet ekstrem yang menghancurkan kesehatannya sendiri—semua itu semata-mata untuk merebut perhatian Rendra dan membuat Rina tersisih. Namun kini, melihat kondisi Casandra yang ma

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 92

    Cerita pagi itu dimulai dengan keheningan yang berat, seolah-olah udara di dalam rumah besar keluarga Bu Widya telah lama dipenuhi ketegangan yang tak terucapkan. Sejak kepulangannya beberapa hari lalu, Casandra memang terlihat semakin murung dan tertutup. Ia jarang berbicara, lebih sering menatap kosong ke arah jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang yang luas, dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Dalam hatinya, Casandra merasa kecewa dan bingung. Ia telah mengerahkan segala cara—berpura-pura sakit parah, melemahkan tubuhnya sendiri dengan diet ekstrem, bahkan rela menjalani kemoterapi yang menyiksa—hanya agar Rendra menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang dan perhatian sepenuhnya. Namun kenyataannya semakin ia berusaha menarik perhatian pria itu, semakin Rendra menjauh. Sikap Rendra tetap sopan namun dingin, jauh berbeda dengan harapan yang ia impikan setiap malam. “Lebih baik aku diam saja,” batinnya menggerutu dengan rasa getir yang meluap-luap, “Semakin aku berusa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 90

    Suasana ruang makan malam itu terasa hangat dengan cahaya lampu gantung yang lembut, menyinari meja panjang yang telah tertata rapi dengan piring-piring keramik bersih dan hidangan lezat yang mengundang selera. Aroma masakan rumah yang harum—tumis sayuran segar, sup hangat, dan lauk pauk yang menggugah selera—tercium memenuhi ruangan, namun bagi Casandra, keindahan dan kehangatan itu justru terasa seperti cemoohan yang tajam yang menusuk hatinya yang penuh rasa iri dan dengki. Casandra duduk di kursi roda yang diletakkan di dekat ujung meja, tubuhnya yang kurus kering terasa begitu tenggelam di antara bantal-bantal penyangga. Pakaian yang dikenakannya terasa longgar, seolah-olah tidak lagi memiliki tubuh yang cukup untuk mengisinya. Wajahnya yang pucat pasi tanpa semburat merah muda, dengan tulang pipi yang menonjol tajam dan bibir yang kering kerontang, kontras sekali dengan Rina yang duduk di sisi lain meja, tepatnya di samping Rendra. Mata Casandra bergerak perlahan, seolah te

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 91

    Suara tangis yang tertahan, pilu namun terdengar sengaja dikeraskan, menggema dari balik pintu kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal Casandra. Di lorong rumah yang luas dan tenang itu, Rendra berdiri tegak dengan tangan yang terangkat hendak mengetuk, sementara di sampingnya Rina berdiri diam dengan senyum tenang yang terukir di bibirnya. Hati Rina sama sekali tidak merasa terganggu—ia sudah sangat paham betul pola pikir dan kelakuan Casandra; setiap isak tangis itu hanyalah sandiwara yang disusun rapi untuk memancing perhatian dan rasa iba, terlebih lagi dari Rendra. “Ijinkan aku berbicara padanya sebentar, Rin,” ucap Rendra dengan nada rendah, berusaha menyembunyikan rasa tidak tenang yang sesekali muncul karena kebiasaan lamanya. Rina menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh pengertian namun tegas, lalu mengangguk lembut. “Silakan, Rendra. Aku tidak melarangmu. Hanya saja, hati-hati... jangan sampai terhanyut lagi dalam cerita yang mungkin tak sepenuhnya juju

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 88

    Suasana di ruang tengah rumah Rendra terasa begitu pekat, dipenuhi kebisuan yang berat namun sarat makna. Rendra masih menggenggam erat gawai di tangannya, seolah takut jika ia melepaskannya, kebenaran yang terpampang nyata lewat foto itu akan lenyap begitu saja. Foto itu menampilkan wajah Casandra yang tak lagi bercahaya, tak lagi berhias keangkuhan atau kepura-puraan yang cerdik. Yang terlihat hanyalah sosok manusia yang terperangkap dalam kehancuran fisik yang luar biasa—tulang belulang terlihat jelas di balik kulit yang kering dan kusam, kepala yang gundul tak berpenutup, dan sorot mata yang dulunya tajam kini redup bagai lilin yang hampir habis. Pesan dokter yang menyertai foto itu terngiang kembali di benaknya, menusuk-nusuk kalbu: “Kondisi pasien sangat kritis. Estimasi waktu yang tersisa paling lama satu tahun, dan itu pun dengan perawatan maksimal tanpa jaminan perbaikan.” Belum sempat Rendra mencerna seluruh rasa kaget yang melanda jiwanya, pintu depan terbuka perl

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 89

    Suara roda kursi roda bergesekan halus dengan lantai keramik berkilau di rumah besar itu, menciptakan irama yang terasa begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Di depan sana, Rendra berjalan tegak namun dengan gerakan yang penuh perhitungan, tangannya yang kokoh memegang erat sandaran kursi roda tempat Casandra duduk. Wajah Rendra terlihat tenang, namun jauh di dalam matanya yang tajam, tersembunyi perasaan bercampur aduk—antara rasa iba yang dipaksakan dan ketegasan yang telah lama dipendam. Casandra duduk di sana dengan tubuh yang terlihat begitu ringkih, wajahnya pucat pasi, tulang-tulang pipinya menonjol jelas karena kurus yang luar biasa akibat diet ekstrem dan perlakuan medis yang kini menimpanya sungguh-sungguh. Namun, di balik kelopak matanya yang sering terpejam lemah, ada kilatan lain yang tak mudah terlihat—kilatan kebencian, kecemburuan yang meluap, dan ambisi yang tak kunjung padam meski situasinya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. R

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status