Share

Bab 2

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 08:08:44

Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela.

Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis.

Ia memegang dadanya yang terasa sesak. Apa dosaku sehingga aku harus mengalami ini semua? batinnya menangis.

Aku bekerja keras, aku berkorban, aku menahan malu, tapi yang aku dapat cuma hinaan dan beban yang makin berat.

Namun di tengah keputusasaan itu, ada sedikit api kecil yang mulai menyala di dalam hatinya.

Ia sadar, selama ini ia diam saja karena berharap Dimas akan berubah, berharap kesabarannya akan dihargai.

Tapi kenyataannya, diamnya ia justru membuat Dimas makin berani berbuat dzalim, makin enak melemparkan semua kesalahan padanya

Malam itu, Rina berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan terus begini.

Ia harus mencari jalan keluar, bukan hanya untuk melunasi hutang, tapi juga untuk menyelamatkan sisa harga dirinya yang masih tersisa.

Meskipun ia tidak tahu caranya, meskipun jalan ke depan terlihat sangat sulit, ia tahu satu hal: ia tidak boleh lagi membiarkan Dimas menjadikannya kambing hitam atas semua masalah yang mereka hadapi.

Esok harinya, Rina bangun lebih pagi dari biasanya.

Ada tekad baru yang mulai tumbuh, meski rasa takut masih menghantui. Ia harus berjuang—melawan hutang.

Melawan pandangan buruk orang lain, dan yang paling berat: melawan suaminya sendiri yang lebih memilih memelihara harga dirinya yang palsu daripada bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangganya.

Malam itu, setelah Rina membuat janji teguh pada dirinya sendiri, ia menyusun kembali seluruh niatnya.

Tidak ada lagi pinjaman, tidak ada lagi diam saat disalahkan, dan tidak ada lagi pengorbanan sepihak yang hanya dimanfaatkan Dimas.

Ia akan hidup apa adanya: apa yang ada akan dimakan, apa yang tidak ada ya tidak usah dipaksa.

Ia tidak akan lagi memeras keringat dan air mata hanya untuk menutupi kemalasan suaminya, apalagi sampai menggadaikan masa depan dengan hutang yang tak kunjung selesai.

Perubahan itu terasa jelas sejak pagi berikutnya. Saat sarapan hanya ada nasi dan garam, Dimas langsung cemberut.

"Apa ini? Kamu mau kita mati kelaparan? Tidak ada lauk lain? Kamu dapat uang kemarin ke mana saja?" sergahnya dengan nada tinggi, siap meledak kapan saja.

Rina menatapnya tenang, tidak lagi menunduk seperti biasanya. "Uangnya habis, Mas. Untuk bayar sebagian hutang yang dulu. Sisanya untuk listrik. Sekarang memang tidak ada uang lagi. Kalau mau makan enak, ya cari uang. Aku sudah tidak mau berhutang lagi, cukup sampai di situ saja aku dipermalukan orang gara-gara hutang yang kita pakai berdua."

Dimas terkejut mendengar jawaban tegas itu. Ia hendak marah, tapi melihat tatapan Rina yang tidak lagi luluh, ia hanya mendengus kasar dan pergi meninggalkan meja makan, menggerutu soal nasib sialnya dapat istri pelit dan tidak berguna.

Namun ujian sesungguhnya datang saat malam tiba.

Seperti kebiasaan yang selalu ia tuntut, Dimas masuk ke kamar dengan wajah yang sudah ia ubah menjadi lembut, seolah hari ini ia tidak pernah memaki atau menyakiti hati istrinya.

Ia mendekati Rina yang sedang duduk di pinggir kasur melipat baju, lalu merangkul bahu wanita itu dengan gerakan yang menuntut.

"Rina..." bisiknya, suaranya berubah manja. "Sudah malam, ayo kita istirahat. Suamimu ini butuh perhatian, lho." Tangan Dimas mulai bergerak, mencoba menarik Rina agar berbaring di sampingnya.

Biasanya, Rina akan menurut meski hatinya sedang terluka, meski tubuhnya lelah luar biasa. Ia selalu menganggap itu kewajiban istri, meski suaminya sendiri melalaikan semua kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Tapi malam ini, Rina dengan halus namun tegas melepaskan rangkulan tangan Dimas. Ia memutar badan, menatap lurus ke mata lelaki itu.

"Maaf, Mas. Malam ini aku tidak mau," ucapnya pelan tapi jelas.

Wajah Dimas langsung berubah kejam.

Kelembutan di wajahnya lenyap seketika, digantikan tatapan bingung sekaligus marah. "Apa maksudmu? Kamu istriku! Melayani kebutuhan suami itu kewajibanmu, tahu tidak? Kamu berani menolak aku?"

Rina menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang baru saja ia temukan. "Aku tahu itu kewajiban istri, Mas.

" Tapi aku juga tahu, ada kewajiban suami yang jauh lebih besar dan utama menurut agama dan aturan kita".

"Kewajiban memberi nafkah, memberi makan, memberi tempat tinggal, dan memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak".

" Selama ini, apa yang pernah Mas berikan padaku? Tidak ada".

" Semua yang ada di rumah ini, semua yang kita makan, semuanya hasil keringatku. Bahkan hutang-hutang yang Mas tuduhkan padaku itu pun semuanya untuk kebutuhan kita."

Dimas terdiam, wajahnya memerah menahan amarah yang mulai meluap karena merasa ditegur. "Itu urusanmu! Tugas perempuan itu mengurus apa yang ada. Laki-laki punya harga diri, tidak boleh sembarangan kerja rendahan..."

Rina memotong pembicaraannya, suaranya makin mantap dan tidak lagi gemetar.

"Harga diri? Harga diri macam apa yang membiarkan istrinya banting tulang dari pagi sampai malam? Harga diri macam apa yang diam saja saat orang lain menagih hutang, lalu malah menjelekkan istrinya supaya terlihat bersih sendiri? Mas, dengar baik-baik. Aku melayani suami itu hak Mas, tapi hanya kalau Mas juga menjalankan hakku sebagai istri".

" Kalau Mas tidak mau menafkahiku, tidak mau bertanggung jawab, dan malah menambah beban hidupku, maka jangan harap aku akan memberikan apa yang Mas minta. Kewajiban itu timbal balik, Mas. Bukan satu arah saja."

"Kamu... kamu berani sekali bicara begitu sama suamimu!" Dimas menggebrak kasur, matanya melotot. "Kamu lupa diri ya? Kamu mau durhaka? Kamu mau masuk neraka karena menolak suami?"

Rina menggeleng pelan, air matanya menetes bukan lagi karena takut, tapi karena sedih melihat betapa sempitnya pemikiran suaminya.

"Aku tidak durhaka, Mas. Aku cuma minta keadilan. Aku berani begini karena aku sadar, aku sudah berbuat salah selama ini dengan menuruti semua kemauanmu padahal kamu tidak menafkahi uang sedikit pun".

"Aku sudah menanggung dosa itu cukup lama. Mulai sekarang, aku tidak mau lagi. "

"Kalau Mas ingin dilayani, tolong jalankan kewajibanmu dulu sebagai kepala keluarga. Cari kerja, beri aku nafkah yang halal, jangan biarkan aku hidup susah dan berhutang. Kalau sudah begitu, baru bicara soal hak suami."

Malam itu berakhir dengan pertengkaran hebat. Dimas berteriak, memaki, menyebut Rina istri yang tidak tahu diuntung, pembangkang, dan berbagai kata kasar lainnya.

Ia marah besar karena untuk pertama kalinya, alat kekuasaannya yang paling ampuh—memerintah dan menuntut hak tanpa memberi kewajiban—telah patah.

Ia terbiasa Rina diam, terbiasa Rina menurut, terbiasa Rina ada di sana untuk memenuhi segala keinginannya tanpa syarat. Dan kini, pintu itu tertutup rapat.

Hari-hari berikutnya menjadi medan perang yang dingin.

Dimas berusaha menuntut haknya lagi beberapa kali, tapi jawaban Rina selalu sama, tenang namun tak tergoyahkan:

"Sudah ada nafkahnya belum, Mas? Kalau belum, jangan minta hakmu dulu."

Setiap kali ada orang datang menagih—dan jumlahnya makin berkurang karena Rina benar-benar berhenti berhutang dan membayar sedikit demi sedikit dari hasil kerjanya.

Dimas kembali mencoba memainkan peran seolah ia korban. Namun kali ini Rina tidak lagi diam di belakangnya.

Suatu hari, tetangga sebelah datang menagih sisa uang yang dulu dipinjam untuk beli beras. Dimas langsung mau bersuara, "Ah, Bu, maafkan saya... istri saya ini..."

Belum selesai ia bicara, Rina sudah berdiri tegak di sampingnya, berbicara pada tetangga itu dengan jujur.

"Ibu, benar saya yang meminjam dulu. Tapi harus Ibu tahu, uang itu dipakai untuk makan kami berdua, karena suami saya sampai sekarang belum ada penghasilan sama sekali",

"Saya berhutang karena terpaksa, bukan karena boros. Sekarang saya kerja keras untuk bayar lunas, dan saya sudah berjanji tidak akan berhutang lagi. Mohon maaf kalau selama ini ada gangguan."

Dimas tertegun, mulutnya terkatup rapat. Ia tidak bisa lagi memutarbalikkan fakta karena Rina sudah berani bicara apa adanya di depan orang lain.

Ia malu, bukan karena kasihan pada istrinya, tapi karena kedoknya terbongkar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 90

    Suasana ruang makan malam itu terasa hangat dengan cahaya lampu gantung yang lembut, menyinari meja panjang yang telah tertata rapi dengan piring-piring keramik bersih dan hidangan lezat yang mengundang selera. Aroma masakan rumah yang harum—tumis sayuran segar, sup hangat, dan lauk pauk yang menggugah selera—tercium memenuhi ruangan, namun bagi Casandra, keindahan dan kehangatan itu justru terasa seperti cemoohan yang tajam yang menusuk hatinya yang penuh rasa iri dan dengki. Casandra duduk di kursi roda yang diletakkan di dekat ujung meja, tubuhnya yang kurus kering terasa begitu tenggelam di antara bantal-bantal penyangga. Pakaian yang dikenakannya terasa longgar, seolah-olah tidak lagi memiliki tubuh yang cukup untuk mengisinya. Wajahnya yang pucat pasi tanpa semburat merah muda, dengan tulang pipi yang menonjol tajam dan bibir yang kering kerontang, kontras sekali dengan Rina yang duduk di sisi lain meja, tepatnya di samping Rendra. Mata Casandra bergerak perlahan, seolah te

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 91

    Suara tangis yang tertahan, pilu namun terdengar sengaja dikeraskan, menggema dari balik pintu kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal Casandra. Di lorong rumah yang luas dan tenang itu, Rendra berdiri tegak dengan tangan yang terangkat hendak mengetuk, sementara di sampingnya Rina berdiri diam dengan senyum tenang yang terukir di bibirnya. Hati Rina sama sekali tidak merasa terganggu—ia sudah sangat paham betul pola pikir dan kelakuan Casandra; setiap isak tangis itu hanyalah sandiwara yang disusun rapi untuk memancing perhatian dan rasa iba, terlebih lagi dari Rendra. “Ijinkan aku berbicara padanya sebentar, Rin,” ucap Rendra dengan nada rendah, berusaha menyembunyikan rasa tidak tenang yang sesekali muncul karena kebiasaan lamanya. Rina menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh pengertian namun tegas, lalu mengangguk lembut. “Silakan, Rendra. Aku tidak melarangmu. Hanya saja, hati-hati... jangan sampai terhanyut lagi dalam cerita yang mungkin tak sepenuhnya juju

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 88

    Suasana di ruang tengah rumah Rendra terasa begitu pekat, dipenuhi kebisuan yang berat namun sarat makna. Rendra masih menggenggam erat gawai di tangannya, seolah takut jika ia melepaskannya, kebenaran yang terpampang nyata lewat foto itu akan lenyap begitu saja. Foto itu menampilkan wajah Casandra yang tak lagi bercahaya, tak lagi berhias keangkuhan atau kepura-puraan yang cerdik. Yang terlihat hanyalah sosok manusia yang terperangkap dalam kehancuran fisik yang luar biasa—tulang belulang terlihat jelas di balik kulit yang kering dan kusam, kepala yang gundul tak berpenutup, dan sorot mata yang dulunya tajam kini redup bagai lilin yang hampir habis. Pesan dokter yang menyertai foto itu terngiang kembali di benaknya, menusuk-nusuk kalbu: “Kondisi pasien sangat kritis. Estimasi waktu yang tersisa paling lama satu tahun, dan itu pun dengan perawatan maksimal tanpa jaminan perbaikan.” Belum sempat Rendra mencerna seluruh rasa kaget yang melanda jiwanya, pintu depan terbuka perl

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 89

    Suara roda kursi roda bergesekan halus dengan lantai keramik berkilau di rumah besar itu, menciptakan irama yang terasa begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Di depan sana, Rendra berjalan tegak namun dengan gerakan yang penuh perhitungan, tangannya yang kokoh memegang erat sandaran kursi roda tempat Casandra duduk. Wajah Rendra terlihat tenang, namun jauh di dalam matanya yang tajam, tersembunyi perasaan bercampur aduk—antara rasa iba yang dipaksakan dan ketegasan yang telah lama dipendam. Casandra duduk di sana dengan tubuh yang terlihat begitu ringkih, wajahnya pucat pasi, tulang-tulang pipinya menonjol jelas karena kurus yang luar biasa akibat diet ekstrem dan perlakuan medis yang kini menimpanya sungguh-sungguh. Namun, di balik kelopak matanya yang sering terpejam lemah, ada kilatan lain yang tak mudah terlihat—kilatan kebencian, kecemburuan yang meluap, dan ambisi yang tak kunjung padam meski situasinya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. R

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 87

    Ruangan rawat mewah itu kini berubah menjadi panggung yang sunyi dan mencekam, namun penonton yang dulu setia—Rendra, Bu Widya, dan Rina—tak kunjung menampakkan diri. Sudah tiga hari sejak percakapan yang penuh tuduhan dan ketegangan itu, pintu kamar Casandra tak lagi terbuka untuk mereka. Hanya perawat dan dokter yang datang silih berganti, namun kehangatan serta perhatian yang dulu ia nikmati telah lenyap sepenuhnya. Casandra duduk di tepi tempat tidur, jari-jarinya meraba kulit kepalanya yang kini benar-benar gundul, halus tanpa sehelai rambut pun. Ia bukan lagi sekadar memakai rambut palsu atau merias wajah pucat. Ia melangkah terlalu jauh, didorong oleh ambisi yang membabi-buta dan ketakutan akan kegagalan rencananya. Demi membuat bukti yang tak terbantahkan, ia rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk menyogok seorang dokter spesialis yang serakah dan terdesak. Dokter itu bersedia mengabulkan permintaan gila itu: mendiagnosisnya seolah menderita kanker rahim ganas, dan

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 86

    Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela kamar rawat Casandra yang biasanya selalu tertutup rapat. Ruangan itu terasa berbeda—tidak lagi suram dan sunyi seperti yang ia inginkan. Rendra duduk di kursi dekat tempat tidur, namun hari ini tatapannya tidak lagi penuh belas kasihan yang tanpa syarat. Ada kilatan tajam yang selama ini coba dihindari oleh Casandra. Ia baru saja mengeluh tentang rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya dan kekakuan pada persendian jari tangannya saat bangun tidur, berusaha meyakinkan bahwa kondisinya semakin memburuk. Namun, jawaban yang ia harapkan berupa kepanikan dan permohonan maaf dari Rendra justru tidak datang. "Kau bilang sakit di seluruh badan dan jari-jari kaku, Cas?" tanya Rendra dengan nada datar, tenang namun menusuk. Ia tidak langsung mendekat untuk memeriksa seperti biasanya. "Aneh sekali. Dokter yang baru saja ke sini tadi pagi mengatakan hasil tes laboratoriummu semalam justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan fungsi tubuh

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 1

    "Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status