LOGINTekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil.
Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangun di atas penderitaan Rina, perlahan runtuh satu per satu. Rina tahu perjuangannya belum selesa,. hutang masih ada, beban hidup masih berat, dan sifat Dimas belum berubah total. Tapi setidaknya, ia sudah merebut kembali harga dirinya sendiri. Ia tidak lagi menjadi istri yang diam ditindas, tidak lagi menjadi sapi perah tanpa suara, dan tidak lagi membiarkan suaminya menikmati haknya tanpa mengerjakan kewajibannya. Penolakan demi penolakan yang Rina berikan membuat Dimas semakin tidak karuan emosinya. Bagi lelaki itu, Rina yang dulu penurut, lemah, dan selalu ada untuk memenuhi segala keinginannya seolah telah berubah menjadi orang asing yang berani menentang setiap kata-katanya. Ke mana pun ia melangkah di rumah itu, ia hanya menemui pembatasan: tidak ada uang tambahan, tidak ada makanan enak kalau tidak ada hasil kerja, dan yang paling membuatnya geram—tidak ada lagi pelayanan batin yang ia tuntut sebagai hak mutlaknya. Malam itu, amarah Dimas meledak habis-habisan. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, tangannya mengepal kuat. Wajahnya merah padam menahan rasa frustrasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa dikuasai, merasa kehilangan kekuasaan yang selama ini ia nikmati begitu saja. Dan dalam kepalanya yang sempit, satu-satunya cara untuk membalas, untuk membuat Rina merasa bersalah atau cemburu, adalah dengan mengancam akan mencari wanita lain. Ia berhenti berjalan tepat di depan Rina yang sedang duduk tenang melipat baju bekas kerjanya. Ia menatap tajam, lalu berteriak sekeras-kerasnya agar suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah. "Kamu dengar baik-baik ya, Rina! Kamu kira aku butuh sama kamu? Kamu pikir aku akan terus diam saja diperlakukan seperti sampah begini? "Kamu menolak melayaniku, kamu pelit uang, kamu tidak mau tahu rasa suamimu! Baiklah kalau begitu! Ingat kata-kataku ini: aku tidak akan diam saja". "Aku laki-laki, aku punya kebutuhan! Kalau di rumah ini aku tidak dihargai, kalau kamu tidak mau memberiku kepuasan dan hakku, jangan salahkan aku kalau aku mencarinya di luar sana!" "Ada banyak wanita di luar sana yang jauh lebih cantik, jauh lebih penurut, dan jauh lebih tahu diri dibandingkan kamu!" Wanita yang tidak pelit, wanita yang mau melayani suaminya dengan senang hati!" Kamu pikir aku tidak bisa dapat yang lebih baik dari kamu? Silakan saja kamu bersikap keras kepala begini, nanti kamu yang menyesal kalau aku sudah punya wanita lain di luar sana!". Dimas berhenti berteriak, napasnya memburu. Ia menatap Rina tajam, berharap melihat air mata, berharap melihat wajah cemburu, ketakutan, atau setidaknya kepanikan di wajah istrinya. Ia yakin ancaman ini adalah senjata paling ampuh. Ia yakin Rina akan memohon, akan menangis, dan kembali menuruti semua kemauannya demi mempertahankan rumah tangga mereka. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat Dimas merasa seolah dipukul keras di dada. Rina tidak berteriak, tidak menangis, tidak memohon. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tangannya terus bergerak melipat kain dengan tenang, wajahnya datar, tanpa ekspresi sama sekali. Seolah-olah kata-kata ancaman besar itu hanyalah angin lalu yang tak berarti apa-apa baginya. Setelah selesai melipat satu tumpukan baju, baru Rina mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap Dimas dengan tatapan yang sangat dingin, datar, dan lelah—tatapan yang membuat Dimas merasa kecil dan tidak berdaya. Rina tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menyenangkan, melainkan senyum kelegaan yang telah lama ia simpan. "Mas mau cari wanita lain di luar sana? Mau cari kepuasan sama wanita yang lebih cantik, lebih penurut, dan lebih tahu diri katamu?" suaranya rendah, tenang, dan sangat jelas. "Ya sudah... silakan saja, Mas. Aku tidak melarang. Silakan saja kamu cari wanita lain di luar sana, sebanyak apa pun yang kamu mau." Dimas ternganga, mulutnya terbuka sedikit karena kaget. Ia bersiap untuk mendengar tangisan atau pertengkaran panjang, tapi jawaban itu... jawaban itu bukan apa yang ia harapkan. "Kamu... kamu tidak gila? Kamu bilang silakan saja?" tanya Dimas terbata-bata, marah sekaligus bingung. "Kamu tidak takut aku pergi? Kamu tidak takut aku tinggalkan kamu? Kamu tidak takut aku bawa wanita lain ke sini?" Rina mengangguk pelan, lalu kembali menunduk melanjutkan pekerjaannya, seolah pembicaraan ini sudah selesai dan tidak penting lagi. "Memang silakan, Mas. Apa yang harus aku takutkan? Selama ini kamu ada di sampingku, rasanya sama saja seperti tidak ada." " Kamu tidak menafkahiku, kamu tidak membantuku, kamu cuma bikin susah dan malu saja". "Kalau kamu mau pergi mencari wanita lain, atau mau bersenang-senang di luar sana... justru itu kabar baik buatku." Rina berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Dimas yang mulai gelisah. "Mas mau cari wanita yang mau dilayani, mau diberi uang, mau dihargai? Silakan cari". "Tapi ingat satu hal, Mas. Wanita yang cantik dan penurut itu biasanya juga butuh laki-laki yang bertanggung jawab, laki-laki yang punya penghasilan, laki-laki yang bisa memberi mereka makan dan nafkah". "Bukan laki-laki yang malas, yang cuma bisa duduk diam di rumah, yang hidupnya numpang sama istrinya, dan yang punya banyak hutang diam-diam gara-gara kelakuannya sendiri." Rina berdiri, membersihkan debu di bajunya, lalu berjalan melewati Dimas tanpa rasa takut sedikit pun. " Aku malah berterima kasih kalau kamu benar-benar pergi. Setidaknya beban di pundakku akan berkurang satu, dan aku tidak perlu lagi pusing memikirkan makanmu atau hutang-hutang yang timbul gara-gara kamu". Jadi... silakan saja, Mas. Pintu itu terbuka. Silakan cari kepuasanmu di mana saja. Jangan khawatir, aku tidak akan menahanmu sedikit pun." Kata-kata itu menghantam dada Dimas lebih keras daripada pukulan fisik. Ia ingin marah lagi, ingin berteriak lebih keras, tapi kata-kata itu terasa benar dan tajam, menusuk ke dalam hati nuraninya yang sudah mati rasa. Ia sadar, ancamannya itu tidak lagi berharga. Rina tidak lagi peduli. Rina tidak lagi takut kehilangan dia. Justru sebaliknya, Rina seolah berharap ia benar-benar pergi. Dimas berdiri kaku di tengah ruangan, wajahnya merah padam bukan lagi karena marah, tapi karena rasa malu yang membakar dirinya sendiri. Ia merasa kalah telak. Senjata andalannya telah patah di tangan sendiri. Ia tidak punya kuasa lagi atas istrinya. Dengan gerakan kasar dan kecewa karena ancamannya tidak mempan, Dimas menggebrak meja sekali lagi, lalu berjalan masuk ke kamar, membanting pintu sekeras-kerasnya. Ia berteriak dari dalam kamar, suaranya melengking karena kesal: "Tunggu saja! Kamu akan menyesal! Aku benar-benar akan pergi dan tidak akan kembali! Kamu akan menangis minta aku pulang nanti!" Rina yang masih berdiri di ruang tengah hanya menghela napas panjang, lalu tersenyum sendirian. Ia tidak merasa sedih, tidak merasa cemas. Justru ada rasa lega yang luar biasa menyelinap di hatinya. Malam itu, Dimas tidak tidur. Ia berguling-guling di kasur, memikirkan nasibnya. Ia ingin pergi, tapi ke mana? Ia tidak punya uang sepeser pun di saku. Ia ingin mencari wanita lain, tapi sadar betul: wanita mana yang mau sama laki-laki pengangguran, pemalas, dan tidak punya apa-apa selain mulut yang besar? Ia terjebak dalam kemalasannya sendiri, dan kini istrinya yang dulu ia injak-injak harga dirinya, telah berdiri tegak dan menatapnya dengan pandangan yang menganggapnya tidak berharga. Sementara itu, Rina tidur dengan tenang malam itu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah, dan tanpa rasa terancam. Ia sudah mengatakan apa yang ada di hatinya, dan ia berarti apa yang ia katakan. Silakan saja cari wanita lain, Mas. Silakan saja pergi. Karena bagiku, kehilanganmu bukanlah kerugian, tapi sebuah kebebasan yang sedang aku nantikan.Pagi yang kelabu di rumah keluarga Bu Widya membawa beban yang tak terlukiskan bagi Rina. Sejak kejadian muntah darah dan dilarikannya Casandra ke rumah sakit, keresahan di hati Rina tak kunjung mereda. Meski pemandangan itu begitu mengerikan dan tampak nyata, namun naluri Rina sebagai istri yang selama ini sering melihat kepura-puraan dan kelicikan Casandra terus berbisik bahwa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang belum terungkap sepenuhnya di balik semua penderitaan itu. Rina duduk termenung di sudut ruang tamu yang luas namun terasa dingin. Ia teringat betapa selama berbulan-bulan ia menjadi sasaran kecemburuan, fitnah, dan kebohongan yang disusun rapi oleh Casandra. Pura-pura sakit kanker rahim, membayar dokter dengan harga sangat mahal, menjalani kemoterapi yang sebenarnya tidak perlu, hingga melakukan diet ekstrem yang menghancurkan kesehatannya sendiri—semua itu semata-mata untuk merebut perhatian Rendra dan membuat Rina tersisih. Namun kini, melihat kondisi Casandra yang ma
Cerita pagi itu dimulai dengan keheningan yang berat, seolah-olah udara di dalam rumah besar keluarga Bu Widya telah lama dipenuhi ketegangan yang tak terucapkan. Sejak kepulangannya beberapa hari lalu, Casandra memang terlihat semakin murung dan tertutup. Ia jarang berbicara, lebih sering menatap kosong ke arah jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang yang luas, dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Dalam hatinya, Casandra merasa kecewa dan bingung. Ia telah mengerahkan segala cara—berpura-pura sakit parah, melemahkan tubuhnya sendiri dengan diet ekstrem, bahkan rela menjalani kemoterapi yang menyiksa—hanya agar Rendra menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang dan perhatian sepenuhnya. Namun kenyataannya semakin ia berusaha menarik perhatian pria itu, semakin Rendra menjauh. Sikap Rendra tetap sopan namun dingin, jauh berbeda dengan harapan yang ia impikan setiap malam. “Lebih baik aku diam saja,” batinnya menggerutu dengan rasa getir yang meluap-luap, “Semakin aku berusa
Suasana ruang makan malam itu terasa hangat dengan cahaya lampu gantung yang lembut, menyinari meja panjang yang telah tertata rapi dengan piring-piring keramik bersih dan hidangan lezat yang mengundang selera. Aroma masakan rumah yang harum—tumis sayuran segar, sup hangat, dan lauk pauk yang menggugah selera—tercium memenuhi ruangan, namun bagi Casandra, keindahan dan kehangatan itu justru terasa seperti cemoohan yang tajam yang menusuk hatinya yang penuh rasa iri dan dengki. Casandra duduk di kursi roda yang diletakkan di dekat ujung meja, tubuhnya yang kurus kering terasa begitu tenggelam di antara bantal-bantal penyangga. Pakaian yang dikenakannya terasa longgar, seolah-olah tidak lagi memiliki tubuh yang cukup untuk mengisinya. Wajahnya yang pucat pasi tanpa semburat merah muda, dengan tulang pipi yang menonjol tajam dan bibir yang kering kerontang, kontras sekali dengan Rina yang duduk di sisi lain meja, tepatnya di samping Rendra. Mata Casandra bergerak perlahan, seolah te
Suara tangis yang tertahan, pilu namun terdengar sengaja dikeraskan, menggema dari balik pintu kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal Casandra. Di lorong rumah yang luas dan tenang itu, Rendra berdiri tegak dengan tangan yang terangkat hendak mengetuk, sementara di sampingnya Rina berdiri diam dengan senyum tenang yang terukir di bibirnya. Hati Rina sama sekali tidak merasa terganggu—ia sudah sangat paham betul pola pikir dan kelakuan Casandra; setiap isak tangis itu hanyalah sandiwara yang disusun rapi untuk memancing perhatian dan rasa iba, terlebih lagi dari Rendra. “Ijinkan aku berbicara padanya sebentar, Rin,” ucap Rendra dengan nada rendah, berusaha menyembunyikan rasa tidak tenang yang sesekali muncul karena kebiasaan lamanya. Rina menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh pengertian namun tegas, lalu mengangguk lembut. “Silakan, Rendra. Aku tidak melarangmu. Hanya saja, hati-hati... jangan sampai terhanyut lagi dalam cerita yang mungkin tak sepenuhnya juju
Suasana di ruang tengah rumah Rendra terasa begitu pekat, dipenuhi kebisuan yang berat namun sarat makna. Rendra masih menggenggam erat gawai di tangannya, seolah takut jika ia melepaskannya, kebenaran yang terpampang nyata lewat foto itu akan lenyap begitu saja. Foto itu menampilkan wajah Casandra yang tak lagi bercahaya, tak lagi berhias keangkuhan atau kepura-puraan yang cerdik. Yang terlihat hanyalah sosok manusia yang terperangkap dalam kehancuran fisik yang luar biasa—tulang belulang terlihat jelas di balik kulit yang kering dan kusam, kepala yang gundul tak berpenutup, dan sorot mata yang dulunya tajam kini redup bagai lilin yang hampir habis. Pesan dokter yang menyertai foto itu terngiang kembali di benaknya, menusuk-nusuk kalbu: “Kondisi pasien sangat kritis. Estimasi waktu yang tersisa paling lama satu tahun, dan itu pun dengan perawatan maksimal tanpa jaminan perbaikan.” Belum sempat Rendra mencerna seluruh rasa kaget yang melanda jiwanya, pintu depan terbuka perl
Suara roda kursi roda bergesekan halus dengan lantai keramik berkilau di rumah besar itu, menciptakan irama yang terasa begitu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Di depan sana, Rendra berjalan tegak namun dengan gerakan yang penuh perhitungan, tangannya yang kokoh memegang erat sandaran kursi roda tempat Casandra duduk. Wajah Rendra terlihat tenang, namun jauh di dalam matanya yang tajam, tersembunyi perasaan bercampur aduk—antara rasa iba yang dipaksakan dan ketegasan yang telah lama dipendam. Casandra duduk di sana dengan tubuh yang terlihat begitu ringkih, wajahnya pucat pasi, tulang-tulang pipinya menonjol jelas karena kurus yang luar biasa akibat diet ekstrem dan perlakuan medis yang kini menimpanya sungguh-sungguh. Namun, di balik kelopak matanya yang sering terpejam lemah, ada kilatan lain yang tak mudah terlihat—kilatan kebencian, kecemburuan yang meluap, dan ambisi yang tak kunjung padam meski situasinya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. R
"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar
Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai







