MasukTak butuh waktu lama bagi Samuel, menghalalkan hubungannya bersama Bella. Sejak pengumuman pertunangan mereka, segala sesuatunya berjalan begitu cepat, seperti tak ingin menunggu.
Arabella Shevanka putri tunggal dari keluarga Wijaya, salah satu konglomerat terkemuka di Indonesia. Keluarga Wijaya dikenal memiliki berbagai bisnis besar di sektor properti, perhotelan, dan industri lainnya. Tidak mengherankan jika ayah Samuel sangat setuju menjadikan Bella sebagai menantu kedua, demi keuntungan perusahaan. "Adelia! Adel!" suara Devina menggelegar di dalam kediamannya. Adelia yang sedang berkebun, tersentak dan segera meletakkan alat kebunnya, cepat-cepat ia berlari menuju pintu belakang, melangkah masuk ke dalam rumah sambil tergesa-gesa. "Apa-apaan kamu ini!?" mata Devina terbelalak, pakaian Adelia kotor penuh noda tanah rambutnya kusut, wajahnya kusam. Adelia sedikit terkejut, namun ia tetap menjawab dengan tenang, "Seperti yang Mama suruh, saya sudah menanam ratusan bibit bunga mawar, di halaman belakang." Astaga, lihatlah lantai marmer ku! Dipenuhi tanah yang menjijikan!" Devina berteriak, suaranya memekik. Matanya melotot marah saat melihat tanah yang menempel di lantai, hasil dari langkah kaki Adelia yang baru saja masuk. "Maafkan saya, Ma... akan segera saya bersihkan sekarang." Adelia panik ketakutan, takut lagi-lagi menerima tamparan dari mertuanya. Devina mendengus. "Tidak perlu, cepat kamu pergi mandi! Dan segera perbaiki penampilan kamu yang dekil itu! Kita harus menyambut kedatangan Samuel dan istrinya!" perintahnya dengan nada tajam. Kata-kata itu bagai batu besar yang menghantam jiwa Adelia. Suaminya, Samuel, akan kembali hari ini, setelah berbulan madu bersama istri kedua, Arabella. Adelia tidak bisa membayangkan penghinaan apa lagi yang akan ia terima nanti dari Arabella. Meskipun secara hukum ia masih merupakan istri sah Samuel, namun di rumah ini Adelia hanya dianggap sebagai seorang pembantu yang tidak memiliki hak dan kedudukan. Sesampainya di kamar, Adelia segera mandi dan berganti pakaian. Sejenak ia memandangi dirinya di cermin, wajahnya semakin tirus dan tampak lelah, kulitnya kusam, matanya sayu, penampilannya jadi lebih buruk dibandingkan dulu. "Kakak kenapa? Kok kelihatan capek banget?" Amelia masuk, ia baru saja pulang sekolah. Cepat-cepat Adelia mengusap jejak air mata yang baru saja turun ke pipi, "Kakak baik-baik saja, Amel. Sibuk seperti biasanya," jawab Adelia dengan senyum terpaksa. Amelia tidak bodoh, ia tahu kakaknya sedang sedih. "Nenek sihir itu suruh kakak kerjakan apalagi!" ucap Amel nada suaranya terdengar marah. "Pekerjaan biasa kok, bukan pekerjaan berat." Adelia mengelak. "Sudah kak, cukup!" Amelia meraih telapak tangan kakaknya, ia melihat kulitnya banyak tergores, terasa kasar, kapalan pula. Adelia cepat-cepat menarik tangannya dari genggaman sang adik, dan menyembunyikannya dibelakang. "Apa nenek sihir itu belum puas juga, setelah tega menyuruh kakak membersihkan kolam renang dari sore hingga larut malam!" Amelia berdengus kesal. "Jangan bicara seperti itu, Amel. Itu sudah jadi tugas kakak yang menumpang hidup di rumah ini," "Tapi Kak, lihat tanganmu! Banyak bekas luka, itu pasti sakit, kenapa masih terus saja menuruti mereka?" "Amel... jangan bicara seperti itu, kamu tidak tahu apa-apa soal pekerjaan kakak di rumah ini, apa yang mereka suruh bukan masalah besar!" tegas Adelia dengan marah. Membuat Amelia terdiam, adiknya itu tidak mampu lagi menjawab, karena kakaknya sangat keras kepala dalam membela keluarga suaminya yang jahat. Setelah Samuel menikah lagi, Devina, mertuanya, dan Selly, kakak iparnya, semakin sering menyiksa Adelia dengan berbagai tuntutan tugas yang tak masuk akal. Mereka memberikan banyak tugas yang jauh melampaui kemampuan Adelia, seorang wanita yang berbadan kecil, kurus, dan hanya memiliki tinggi 154 cm. **** "Samuel! Bella! Akhirnya kalian tiba juga!" seru Devina dengan penuh kegembiraan, lalu memeluk mereka satu per satu dengan hangat. Jusuf dan Selly pun menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar. Namun, Adelia hanya berdiri di belakang dengan ekspresi datar, layaknya sebuah patung yang terpajang, hanya untuk menyaksikan kebahagiaan orang lain tanpa bisa merasakannya. Arabella menyadari kehadiran Adelia dan segera menghampirinya. Wanita cantik itu tersenyum ramah dan menggenggam tangan Adelia dengan lembut, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia tidak memiliki permusuhan dengan Adelia. "Senang bisa ketemu kamu lagi, semoga kita bisa berteman baik di rumah ini, Adelia." kata arabella, penuh senyum keceriaan. Adelia membalas senyuman Arabella dengan ragu, meski tatapannya masih penuh curiga. Ada sesuatu dalam sikap Arabella yang terasa tidak sepenuhnya tulus. Adelia merasa seperti ada yang disembunyikan, namun dia berusaha untuk tetap tenang. "Aku juga berharap bisa berteman baik, denganmu." jawab Adelia, dengan nada datar.“Bangun… Adelia…”Sebuah suara menembus kegelapan dipikirkan Adelia. Suara yang tak asing. Adelia merasa tubuhnya ringan, seperti sedang mengambang di antara dingin dan sunyi. Suara aliran air mengalun di telinganya.“Adelia, bangun! Sekarang…” suara yang tak asing, makin mendesaknya.Adelia mengerutkan kening, mencoba menggerakkan jarinya. Terasa berat dan dingin.Kelopak matanya bergetar, kelopak matanya mulai menyesuaikan cahaya yang merembes masuk. Dan tepat saat kesadarannya muncul, ia membuka mata dan melihat wajah Satrio terlalu dekat.Napasnya tersentak. Dan Refleks.BUK!“Augh—!”Pukulan itu mendarat tepat di pipi Satrio. Kepalanya terhuyung ke samping, nyaris kehilangan keseimbangan.“Adelia, tunggu!” serunya kaget.Adelia terengah-engah, kedua tangannya mengepal erat, ia merangkak mundur dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik turun dengan cepat, matanya menyapu sekitar dengan kecemasan, ia melihat hari masih siang, tanah basah yang lengket di bawah kakinya, dan hamp
“POSISI AMAN!”“TIM DUA, MASUK DARI SISI KANAN!”Pintu utama didobrak dengan satu hentakan keras.BRAK!“POLISI! SEMUA ANGKAT TANGAN!”Marlan membeku. Wajah yang tadinya penuh amarah kini kosong. Nadia sempat menjerit, tapi langsung menjatuhkan diri ke lantai. Doni refleks mengangkat tangan, lututnya gemetar tak mampu menyangga tubuhnya sendiri.Di belakang barisan polisi, Samuel dan Jusuf berdiri kaku. Napasnya tertahan sejak melihat kondisi tempat penyekapan Adelia.“Adelia…” gumam Samuel lirih. Kedua matanya terus menatap pintu masuk, ia pun melangkah maju.“Adelia!” serunya lebih keras, sambil mencoba menerobos barisan petugas didepannya,“Pak, mohon mundur. Situasi masih berbahaya.” Seorang polisi langsung menghadangnya dengan tegas.“Tapi istriku ada didalam!” bentak Samuel, emosinya pecah. Ia mendorong tangan petugas itu. “Kalian nggak tahu apa yang dia alami di dalam sana!”“Pak! Mohon tenang dulu. Kami masih amankan lokasi. Tolong jangan masuk sebelum kami pastikan aman.”Tap
“BERHENTI!”Marlan langsung berteriak. Matanya membesar menatap Satrio dan Adelia. nalurinya menghantam lebih cepat daripada pikirannya.Satrio tak menoleh. Langkahnya justru dipercepat.“Kita ditipu!” Marlan berteriak lagi, suaranya dipenuhi amarah. “Kejar mereka!”Devina membeku.“Apa…? Siapa yang menipu!” suaranya tercekat. Wajahnya pucat seketika, tubuhnya mundur setengah langkah."Putramu, nyonya!" teriak Nadia kesal.“Tidak mungkin… itu mustahil.”“MEREKA AKTING! CEPAT KEJAR MEREKA!” Marlan berlari ingin menangkap. Doni dan Nadia ikut bergerak.Devina menoleh ke arah gelapnya jalanan didepan, melihat punggung Satrio yang semakin menjauh dengan tubuh Adelia di pundaknya. Matanya membelalak, dadanya sesak, seolah kenyataan baru menghantamnya tanpa ampun.“Turunkan aku!” seru Adelia panik, suaranya pecah di antara derap langkah Satrio.“Kita lagi dikejar!""Turunkan aku, aku masih bisa lari!”Satrio tak menjawab. Rahangnya mengeras. Langkahnya justru semakin cepat, menembus gelapny
"Hahaha..."Adelia tertawa getir, dipaksakan.“Apa lagi yang tersisa? Kalian sudah ambil semuanya!" katanya frustasi.Devina tersenyum puas. “Bagus. Kalau tak ada yang kau ucapkan. Tak perlu drama.”Satrio mendekat, berjongkok di hadapan Adelia. Dari jarak sedekat itu, wajahnya terlihat kejam. Tapi hanya sepersekian detik, saat mata mereka bertemu, topeng itu retak.Satrio langsung berbisik. “Dengarkan aku baik-baik. Jangan bersuara. Jangan percaya siapa pun selain aku.”Adelia tertegun.Satrio berdiri, sengaja meraih pisau di atas meja dan menghantamkannya keras ke dinding disamping Adelia.CLANG!Suaranya sengaja dibuat gaduh, Devina pun hampir loncat saat mendengarnya.“Kau harus mati malam ini!” ucap Satrio lantang, seolah sedang memainkan peran paling kejam dalam hidupnya.Ia mengarahkannya ke leher Adelia. Adelia mendesis ketakutan.Devina merinding melihat tindakan putra sulungnya. Bukan karena iba—melainkan karena pemandangan itu terlalu dekat, terlalu ekstrem.“Hmm,” gumam De
“Di mana wanita yang kalian sekap? Aku harus segera menghabisinya… sebelum polisi datang." kata Satrio, tanpa memberi kesempatan Marlan berpikir panjang, ia tak ingin membuang waktu.Mendengar itu, wajah Marlan menegang, Nadia tercengang, satu tangan menutup mulutnya, matanya membelalak. Wajah Doni berubah pucat dan spontan mundur setengah langkah, seolah tidak siap mendengar kata menghabisi.Mereka bertiga saling pandang, shock—karena sejak awal tugas mereka hanya menculik, bukan untuk membunuh.Sejak awal Instruksinya jelas. Tidak ada pembunuhan. Namun di tengah kepanikan itu, Devina justru menyeringai puas, wajahnya terlihat lega karena mengira putranya benar-benar sejalan dengan rencananya.“Tunggu apa lagi! Jangan buang waktu,” kata Devina, nada suaranya dingin. “Cepat bunuh Adelia. Biar semuanya selesai malam ini.”Marlan tak langsung bergerak, ia terdiam sejenak. Alisnya berkerut, tatapannya beralih dari Devina ke pria yang berdiri tak jauh darinya—Satrio.“Sebentar,” ucap Marl
“Gang ini sempit sekali…” Devina menggerutu pelan, menyingkirkan sarang laba-laba dari pundaknya.“Memang jalurnya cuma ini, Nyonya,” sahut Doni tanpa menoleh. Doni berjalan di depan, senter kecil di tangannya memantul-mantul di atas jalan tanah yang becek. Gang itu memang sempit—cukup untuk dua orang berdiri berdampingan, tapi gelapnya seperti menelan cahaya senter.“Tempatnya sengaja jauh dari pemukiman, kata bang Marlan biar aman nggak ada yang curiga.” lanjut Doni, sambil terus berjalan dalam gelap.Devina menutup hidungnya dengan syal. Bau lembap, karat, dan sampah menusuk masuk. Tentu saja ia tak pernah mau datang ke tempat seperti ini… kalau bukan karena dendamnya pada Adelia.Dalam hati, ia mendesis, “Perempuan sialan… akhirnya aku bisa memastikan sendiri kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Kau harus membayar semuanya dengan nyawamu.”Dibelakang mereka, Satrio terus mengikuti, cahaya senter sesekali memperlihatkan wajahnya yang menegang, rahangnya mengeras. Ia tidak boleh







