Share

Bab 62 Adelia Marah

Penulis: Noona Y
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-11 19:16:51

"Perempuan itu... entah siapa dia. Tapi berani-beraninya menempelkan bibirnya ke bibir suamiku. Sekacau apa pun alasannya, aku tetap tidak bisa terima." Begitu pikir Adelia sambil terus berlari di jalur jogging kompleks perumahannya.

Pemandangan semalam masih membekas jelas di benaknya—Samuel, suaminya, dipeluk erat oleh seorang perempuan muda yang setengah mabuk... di atas ranjang pula.

Samuel sudah coba menjelaskan, menyebut kejadian semalam hanya sebuah kesalahpahaman. Tapi bagi Adelia, penjelasan saja belum cukup. Belum mampu menenangkan gejolak panas di dadanya, dari malam hingga pagi.

Adelia semakin mempercepat larinya. Nafasnya kian memburu. Ia terus berlari, mengerahkan seluruh tenaganya, berlari sampai rasa sesak di dada larut bersama keringatnya.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Adelia akhirnya tiba di rumah.

"Loh... Kak Adel, tumben keluar jogging?" tanya Amelia dengan suara serak khas baru bangun tidur.

Adelia memaksakan senyum, "Iya... Mel, lagi mau banyak bergerak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 74 Jangan Mengelak Mas..

    “Pernikahan ketiga?” ucapannya menatap istrinya dengan tak percaya. “Kamu pikir aku ini pria macam apa!”Adelia mengangkat alis, menahan tawa sinis. “Oh, jadi kamu mau bilang, kalau semalam nggak sengaja minum dengan Niken. Terus nanti juga bilang, nggak sengaja kalau sampai terjadi sesuatu diantara kalian?”“Adel, tolong dengar dulu—”“UDAH CUKUP, MAS!” bentaknya, Tangannya menggenggam lap dapur gemetar.Samuel terdiam. Napasnya tertahan.Adelia menatap suaminya tajam, matanya berapi. “Aku tungguin kabar kamu semalaman, Mas! Aku panik, aku telepon berkali-kali! Nggak tahu kamu di mana, nggak tahu sama siapa. Dan sekarang kamu cuma bilang ‘nggak ingat’ lalu berharap semuanya selesai begitu saja?!”Samuel menunduk, kepalanya penuh pertanyaan. Ia yakin tidak melakukan apa-apa... atau setidaknya, tidak sadar melakukan sesuatu. Tapi pikirannya saat ini sedang sangat kacau. Jangan-jangan memang ada terjadi sesuatu? Pikirnya.“Aku nggak ngelakuin apa-apa, memang semalam sempat ketemu Niken,

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 73 Jujur saja Mas...

    "Uugghh...." Samuel terbangun, kepalanya masih terasa berat.Saat membuka mata, ia melihat ruangan asing. Sunyi, tak ada siapapun. Ia mengerjap pelan—berusaha mengingat—namun hampa. Tak ada kenangan tentang bagaimana dirinya bisa berada di kamar ini.Ia terkejut, menyadari dirinya hanya mengenakan celana kerja. Kemejanya tergeletak di lantai. Dadanya telanjang, dingin terkena AC yang terus menyala.“Gila… Ini apa-apaan…” gumamnya panik. Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur, menemukan jam tangan. Jarum jam menunjukkan pukul 05.02 WIB.“Sial!” Ia melompat dari ranjang, buru-buru mencari ponsel. Sepatu masih menempel di kakinya, seolah ia baru saja tumbang begitu saja.*****Lima belas menit kemudian, Samuel duduk di kursi penumpang taksi, menatap ke luar jendela dengan wajah pucat. Jalanan ibu kota masih lengang, kabut tipis menggantung di atas aspal yang basah sisa embun.Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel. Ia menekan nomor Selly untuk kesekian kali—namun lagi-lagi

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 72 Jebakan Selly

    *Flashback."Kak Sam! Aku mau ke mall, temenin dong, aku gak mau belanja sendiri."Samuel baru saja selesai rapat di kantor dan berencana pulang cepat, seperti yang ia janjikan pada Adelia. Sudah terbayang wajah istrinya dan tawa kecil Isabella saat pintu rumah terbuka nanti. Tapi Selly tiba-tiba muncul di kantornya."Selly? Kamu ngapain ke sini?" Samuel mengerutkan kening, setengah tidak percaya Selly mau datang ke kantor."Mau ngajak kakak lah! Kakak bilang minggu ini ada waktu luang, kan? Ayolah… Kak Sam, gak nemenin aku jalan."Samuel berdiri, mendesah pelan sambil menatap jam tangannya."Gak bisa malam ini, Kakak udah janji mau pulang cepat.""Ih, kakak!" Suara Selly meninggi, sedikit merengek. "Aku kangen jalan bareng kayak dulu! Masa iya nemenin aku bentar aja gak bisa?"Samuel memijat pelipis."Kamu kan sudah dewasa, Sel. Belanja sendiri aja, tinggal pilih, bayar, terus pulang."Selly manyun, tapi tidak menyerah."Nemenin Kak Adel sama Amelia belanja, kakak semangat banget! Ma

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 71 Menanti yang Tak Pulang

    "Kak, kayaknya kebanyakan gula deh," kata Amelia sambil tertawa, jari-jarinya belepotan tepung. "Kita udah manis, nanti malah diabetes,"Adelia tersenyum geli. "Gapapa, kadang manis itu justru yang bikin orang ketagihan," jawabnya sambil mengaduk perlahan. "Lagian ini buat camilan malam, katanya Mas Samuel mau pulang lebih cepat."Selama beberapa bulan setelah perlawanan Samuel pada ibunya, suasana rumah keluarga Widyantara berubah drastis. Devina dan Selly, yang dulu sering kali memperlakukan Adelia bak pembantu, kini memilih diam. Mereka tidak lagi memerintah Adelia dan Amelia sesuka hati, tidak lagi mengomentari cara Adelia berpakaian, memasak, atau merawat bayi Isabella. Meskipun tatapan sinis dan kebencian masih terasa, setidaknya tidak ada lagi bentakan atau sindiran menyakitkan.Amelia memutar bola matanya. "Kakak sama Kak Samuel makin lengket aja. Kapan nih rencana nambah adik buat Isabella?"Adelia tertegun sejenak. Meskipun hubungannya dengan Samuel semakin hangat, tapi me

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 70 Samuel Melawan

    “Sementara?” Adelia mengulang dengan nada yang penuh keraguan, masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Niken bisa bekerja sebagai asisten pribadi suaminya.“Jadi, kamu biarkan dia bekerja dekatmu, setiap hari? Padahal jelas niatnya bukan hanya soal pekerjaan!” Suara Adelia meninggi, penuh emosi yang sulit dibendung.Sambil menyetir, Samuel menelan ludah dengan susah payah, terlihat jelas dia berusaha mengendalikan diri agar tidak kehilangan kendali. Namun, dia tak segera menjawab.“Jangan khawatir. Malam ini, di rumah, aku akan selesaikan ini dengan Mama,” Samuel akhirnya berkata, namun nada suaranya terdengar terburu-buru, seolah-olah kata-katanya hanya sekadar menenangkan, bukan jawaban yang meyakinkan.Adelia mendengus keras, melipat kedua tangan di dada, dan melemparkan tatapan tajam penuh ketidakpercayaan pada suaminya. “Mana mungkin Mama Devina biarkan kamu memecat Niken begitu saja…” Suaranya lirih, tapi penuh keraguan yang menggema di udara.Mimik wajah Adelia tak bisa disem

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 69 Tak di Sangka

    Adelia tertegun. “Foto saya?”“Iya, Bu. Sama bayinya juga. Katanya itu penyemangat Pak Samuel tiap hari.”Pipi Adelia memanas. Ia menunduk sedikit, memeluk Isabella lebih erat. Ada rasa haru yang menghangatkan dada—Samuel tak banyak bicara soal perasaannya, tapi ternyata selama ini ia menunjukkan cintanya dengan cara sederhana yang Adelia tak pernah sangka.Seorang staf wanita menunjuk ke arah ruangan kaca di ujung koridor. “Ruangan Pak Samuel ada di sebelah sana, Bu. Saya antar ya?”Adelia mengangguk, masih dengan senyum malu-malu.Begitu pintu ruangan diketuk lalu dibuka, Samuel sedang duduk di balik meja, ia menoleh. Senyumnya langsung merekah. Ia berdiri cepat, menghampiri mereka dengan langkah lebar.“Sudah kutunggu,” ucapnya, langsung menyentuh bahu Adelia dan mencium keningnya dan pipi Isabella.Tapi Adelia memandangnya penuh kagum.“Sudah lapar belum?” tanya Samuel.Adelia mengangguk, lalu menunjuk ke meja kerjanya.“Itu fotoku…”Samuel mengikuti arah pandangnya dan ikut terse

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 68 Tak Akan Mundur

    "Selamat pagi, Bu Adelia. Halo, Isabella," sapa dokter itu hangat. Seorang wanita paruh baya dengan rambut perak yang tergerai rapi menyambut mereka dengan senyum ramah.Adelia membalas dengan anggukan kecil, masih merasa sedikit canggung di ruang praktik yang terang dan sepi itu. Dokter mulai memeriksa Isabella dengan telaten—mengamati detak jantung, mengukur suhu tubuh, dan berat badan."Anak Ibu sehat dan aktif. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dokter sambil menuliskan hasil pemeriksaan di catatan medis.Tak lama kemudian, proses imunisasi dimulai. Saat jarum menyentuh kulit mungilnya, Isabella langsung menangis kencang. Tangisnya melengking, membuat dada Adelia terasa sesak. Ia segera menggendong putrinya erat-erat, membisikkan kata-kata pelan di telinga bayi itu, berusaha menenangkannya."Sudah, sayang… Mama di sini. Sudah, ya…"Isabella masih tersedu, tapi pelukan hangat Adelia perlahan meredakan tangisnya.Setelah pemeriksaan selesai, Adelia duduk di kursi ruang tunggu

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 67 Batas yang Jelas

    "Sayang, aku berangkat dulu ke kantor," ucap Samuel, tersenyum kecil sambil merapikan dasi.Adelia hanya mengangguk, tanpa senyum seperti biasanya. Ia berjalan mendampingi Samuel masuk ke mobil, tapi tidak dengan semangat yang biasa. Tak ada obrolan ringan, tak ada canda seperti pagi-pagi sebelumnya.Samuel membuka pintu mobil, lalu menatap istrinya dalam diam. Adelia belum bicara sepatah kata pun sejak semalam."Selamat bekerja, Mas..." ucap Adelia pelan, bibirnya membentuk senyum—palsu. Tangannya terangkat perlahan, melambai pelan dengan gerakan yang nyaris tanpa tenaga.Begitu mobil Samuel keluar dari teras rumah dan menghilang di tikungan, suara langkah keras berderap dari dalam.Devina muncul, berdiri di ambang pintu, "Adel! Itu rumput di halaman belakang udah panjang semua. Jangan cuma berdiri melamun, tolong di potong sekarang!" bentaknya tajam, berkacak pinggang, dengan wajah ketus.Adelia menoleh perlahan, menghela napas. Ia coba menjawab dengan nada seramah mungkin. "Mama, m

  • Kejutan Mencengangkan Dari Suamiku Tercinta   Bab 66 Makan Malam yang Ternoda

    Di dalam lift, Niken menekan nomor Devina di ponselnya, wajahnya dipenuhi dengan kepuasan yang gelap.Niken: “Semua berjalan seperti yang direncanakan, Tante. Aku sudah berhasil merusak malam mereka. Gaun Adelia sudah kotor, dan aku yakin mereka nggak akan bisa menIkmati sisa malam itu dengan tenang.”Devina: “Bagus sekali, Niken. Kamu memang luar biasa. Rencanamu benar-benar cemerlang, aku tidak salah memilihmu.”Niken: “Adelia itu bukan lawanku, Tante. Aku bisa pastikan, dia nggak akan bisa bertahan lama di sisi Samuel, kalau terus aku ganggu.”Devina: “Untung saja kamu mau bekerjasama. Tidurku bisa nyenyak karena kamu.”Niken: “Tapi, Tante, jangan lupa dengan janji Tante soal investasi di proyek perusahaan ayahku, ya?”Devina: “Tenang, Niken. Begitu Adelia setuju untuk bercerai, Tante akan segera transfer uang yang kamu Minta. Semua akan berjalan sesuai rencana.”Percakapan antara Niken dan Devina berakhir dengan saling menyetujui rencana mereka. Niken menutup telepon dengan senyum

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status